Keheningan yang ditinggalkan oleh rombongan Tuan John mampu membuat tubuh Ayana mematung di tengah ruangan, hatinya terguncang begitu hebat. Intimidasi yang diberikan pria botak tadi benar-benar mampu membuatnya goyah dan ingin menyerah. Terutama saat Alta tidak ada di sisinya. Namun, detik berikutnya, kesadaran Ayana kembali pulih. Ada satu nyawa yang jauh lebih berharga daripada harga dirinya yang terluka. Di lantai dingin itu, Nek Ratmi masih tergeletak tak berdaya. Ayana segera berlari mendekat ke arah sang nenek. Ia bersimpuh, mencoba merengkuh tubuh tua itu. "Nenek... Nenek, Ayana di sini. Kita sudah aman sekarang. Nenek harus bangun," bisiknya dengan suara parau yang sarat akan kepedihan. Alta, yang sejak tadi berdiri di belakang Ayana, ikut mendekat. Raut wajahnya yang biasanya

