Ketakutan Ayana semakin membesar, seiring dengan bayangan punggung Altarez yang menjauh dan menghilang di balik tikungan koridor. Ia sadar bahwa ia baru saja memilih jalan yang sangat berbahaya. Menantang seorang pria seperti Alta. Namun, Ayana merasa tidak punya pilihan lain. Obsesi Alta sudah berada di luar nalar; pria itu menganggapnya sebagai barang bukan manusia yang memiliki perasaan. "Auhhh.." Lamunan itu buyar seketika oleh erangan lirih. Ayana tersentak, teringat pada sosok yang masih tersungkur di lantai koridor. Ia segera berbalik badan, rasa bersalah menyerangnya saat melihat Angga mencoba bangkit dengan wajah yang bengkak dan sudut bibir yang mengeluarkan darah segar. Ayana bersimpuh di dekat Angga, membantu pria itu untuk berdiri dan menyandarkannya pada kursi tunggu. "Kam

