"Hai." Kepalaku terdongak mendengar sapaan dari Kahfi. Tubuhnya menyelinap diantara sofa dan meja, kemudian duduk di depanku. "Saya nggak nyangka kamu datang. Udah sarapan?" "Udah." "Oke," Ia menyilangkan tungkai, mengaitkan jari-jarinya di atas lutut, "ada yang mau dibicarakan?" "Enggg," aku menggumam gugup. "Aku kesini sebenarnya ingin minta maaf soal kesalahpahaman kita. Nggak seharusnya aku menuduh kamu nggak serius sama aku." "Saya mengerti, meskipun saya sedikit kecewa mendengarnya." "Maaf," kugigit bibir khawatir. "Tapi, aku nggak mau hubungan kalian jadi jauh karena aku. E, maksudku...duh...gimana menjelaskannya, ya?" Aku menggaruk pelipis. Bingung. "Aku tahu kamu sudah menganggap Prof. Syamsyir dan Renata sebagai keluarga. Aku nggak akan salah paham lagi, jadi please jang

