"Kok, nggak di kafe kamu aja?" "Bosan." Renata mencebikkan bibir. Menarik kursi di depanku. "Padahal aku ikut karena ingin mampir ke kafe kamu." "Aku nggak ngajak kamu ikut, lho." "Nggak suka kalau aku ikut?" Tak kurespon lagi, daripada mengundang kesalah-pahaman lagi. Sebenarnya aku bukan seseorang yang tidak peka, dari gerak-gerik Renata sudah cukup menunjukkan bahwa dia memiliki perasaan padaku. Hanya saja, aku tidak bisa menganggapnya lebih dari sekedar teman. Kami memang sudah saling mengenal satu sama lain. Dia juga cantik, cerdas dan dewasa, namun tidak ada hal lain yang bisa membuatku tertarik padanya sebagai seorang pasangan. "Sering nongkrong disini? Mas-masnya sampai notice tadi." Kepalaku terangguk membenarkan. "Pancake disini enak." "Cuma karena pancake? Masa?" Aku h

