BAB 32

1491 Kata
"Find, gue jelasin dulu." Jaehyun menahan lengan Findy yang hendak pergi meningalkannya di kafe itu. "Nggak ada yang perlu lo jelasin dulu, Jae. Gue mau nenangin diri dulu," ujarnya yang langsung menepis tangan Jaehyun dan meninggalkan cowok itu sendirian. Jaehyun mengacak rambutnya frustrasi di sana. Dia juga sangat bingung dengan dirinya sendiri. Bisa-bisanya setiap bertemu Findy dia selalu membahas tentang Nada. Perempuan mana yang tidak sakit jika kekasihnya selalu menceritakan perempuan lain sekalipun dia adalah sahabatnya. Apalagi jika setiap hari. Setiap hari. Benar-benar parah. Findy meninggalkan kafe itu dengan matanya yang memanas. Padahal dia sudah berusaha untuk tidak cemburu dengan Nada, justru dia malah ingin berteman lebih dekat dengan Nada namun jika begini caranya Jaehyun memperlakukan dirinya tanpa sadar diri, tidak akan bertahan kesabarannya. Jaehyun masih duduk di kafe itu, dia menikmati es koppinya perlahan. Lantas pikirannya berkelana di sana. Dia sangat bingung, ada apa dengan perasaannya? Dan anehnya, Sandra juga sahabatnya, namun yang selalu dia ceritakan ke Findy adalah Nada, Sandra paling nyempil beberapa kali saja. Dia lalu menghela napas kesal di sana dan pergi meninggalkan kafe, tidak lupaa untuk membayar pesanannya. Saat keluar kafe, dirinya bertemu Hyunjin yang memang hendak menuju kafe tersebut. Pasalnya ini adalah kafe milik sepupunya, Lucas. “Oi, sendirian aja lo?” tanya Hyunjin yang melihat wajah Jaehyun yang tampak murung. “Eh, Jin. Iya nih sendirian, tapi sih sama Findy tapi dia balik duluan,” sahut Jaehyun. Hyunjin terlihat seperti ada yang ingin dia bicarakan. “Masuk lagi yuk, gue traktir deh,” ucapnya yang mengajak Jaaehyun kembali masuk ke dalam kafe. Jaehyun memiringkan kepalanya. “Boleh deh,” katanya yang langsung berbalik dan bersama Hyunjin kembali masuk ke sana. “Cas, kayak biasa ya, dua!” seru Hyunjin yang langsung berteriak pada Lucas yang sudah memandangnya dengan kesal. “Bikin sendiri aja, Sayang!” teriak Lucas dengan senyumnya yang terpaksa. Hyunjin memutar bola matanya. “Iyadeh,” ujarnya langsung nurut, padahal biasanya cowok itu harus berdebat lama dulu dengan sepupunya. “Lo mau apa, Jae?” tanya Hyunjin yang sudah berdiri. “Terserah deh.” “Dih, kayak cewek aja lo jawabnya terserah.” Hyunjin tampak kesal namun akhirnya dia tertawa bersama Jaehyun. “Samain kayak lo aja udah ah.” Jaehyun tampak pasrah dan benar-benar bingung ingin minum apa. “Yaudah,” ujar Hyunjin mengangguk dan berjalan menuju meja Lucas di depan. *** “Nih, matcha latte sama cheese cake,” ujar Hyunjinyang sudah membawa nampan berisi dua minuman dan dua cake. “Kita nggak kayak gay kan ya duduk berdua gini?” tanya Hyunjin dengan wajah jahilnya. Jaehyun membulatkan matanya. “Lo suka sama gue, ya?!” pekiknya yang membuat Hyunjin ingin menjahit mulut temannya itu. “Kenapa muka lo gitu?” tanya Jaehyun. Hyunjin bernapas kesal. “Muka gue kan emang gini, mau gimana lagi?” “Bukan Bambanng! Itu luka-luka,” kata Jaehyun lagi memperjelas. “Oh … biasa, berantem plus jatuh dari motor.” Bukannya memasang wajah sedih, Hyunjin malah terlihat bangga dengan wajahnya yang luka. “Terus lo bangga?” Hyunjin mengangkat kedua bahunya. “Iyadong, yang penting amarah gue tersampaikan.” “Gila lo.” “Mereka udah bikin ketua kami koma, Jae!” “Terus kalian balas dendam?” “Iya, tapi nggak parah banget lah, kami mah masih manusiawi nggak kayak mereka yang gobloknya nggak ketulungan.” Jaehyun mengangguk. “Alhamdulillah, temen gue masih sadar kalau itu dosa,” ujarnya dengan wajah yang benar-benar serius. “Jae, boleh bilang sesuatu nggak?” Hyunjin seperti ingin memulai pembicaraan serius. “Ngomong aja kali.” Hyunjin menarik napasnya panjang. “Gue suka sama Nada,” ujarnya yang menatap Jaehyun lekat. “Lo dukung, nggak?” Jaehyun terlihat terkejut. “Sudah gue duga!” Pada akhirnya Hyunjin mengatakan hal tersebut kepada dirinya. “Emang Nada mau?” tanyanya yang membuat Hyunjin tampak murung. “Ya kan, diusahain dulu.” Jaehyun tertawa. “Gue kenal banget sama lo Jin, udah tau lah plus minusnya, bahkan sampai kegiatan amal-amal lo gua aja tahu, jadi gue dukung-dukung aja sih kalau lo mau sama Nada.” Hyunjin melihat ekspresi Jaehyun yang benar-benar tampak emndukung, padahal dirinya mengatakan ini kepada Jaehyun adalah untuk melihat apakah dia menyukai Nada atau tidak. “Tapi Nada orangnya sulit banget didapetin, kalau lo berhasil hebat sih lo. Goodluck! Asal jangan macam-macam aja lo, habis lo di tangan gue kalau macam-macam sama Nada.” “Siap, Bro! Berarti dukung nih?” Hyunjin bertanya lagi. “Iya iya dukung lah!” “Sip! Doain gue!” Jaehyun mengangguk lalu meminum matcha latte miliknya. “Eh Jin, gue mau minta pendapat juga dong.” “Apetuh?” Jaehyun menghela napas perlahan. “Tadi kan gue di sini sama Findy. Terus dia marah sama gue makanya dia balik duluan,” ujar Jaehyun dengan raut wajahnya yang benar-benar bingung. “Loh, kalian sudah jadian?” Jaehyun tersenyum tipis di sana. “Sudah.” “Woi! Jaehyun yang super sibuk ternyata punya waktu untuk pacaran gile!” Jaehyun terkekeh malu. “Terus dia kenapa marah?” tanya Hyunjin lagi. Jehyun menghela napasnya. “Katanya gue cerita tentang Nada mulu setiap ketemu dia, dan gue nggak tau kenapa itu menjadi hal yang dia permasalahin, tapi gue merasa bersalah juga, tapi jujur gue ngak sadar karena keseringan kemana-mana sama Nada, kan?” Hyunjin menatap Jaehyun yang sedang kebingungan dengan perasaannya sendiri itu. Dari sana, dia langsung tahu jika Jaehyun juga menyukai Nada, namun cowok itu tidak sadar dengan perasannya sendiri. “Jadi, menurut lo gue beneran salah, Jin?” Hyunjin menyeruput matcha lattenya. Lalu mengangguk. “Seharusnya kalau lo lagi sama seseorang apalagi dia sekarang adalah cewek lo, jangan cerita tentang orang lain sih, apalagi oranglainnya adalah Nada, sahabat lo banget, dan Nada cewek. Ya jelaslah dia cemburu.” Jaehyun lalu membulatkan bola matanya seolah baru menyadari sesuatu. “Oh! Jadi Findy cemburu! Astaga, iya ya bener juga ya. Lucu banget lagi mukanya pas marah tadi,” katanya membayangkan wjaah marah Findy tadi. “Hu, dasar bucin!” Hyunjin mengejek temannya itu. Jaehyun benar-benar terlihat menyukai Findy, tapi di dalam hatinya yang paling dalam sebenarnya cowok itu juga menyukai Nda, namun dia tidak sadar dan tidak tahu sampai kapan akan sadar atau tidak. Dan Hyunjin sudah menyadarinya terlebih dahulu. *** Hyunjin menjatuhkan tubuhnya ke sofa di ruang tamu. Pikirannya terhanyut tentang Nada dan Jaehyun. Dirinya bingung ingin meneruskan rasa sukanya pada Nada atau tidak. Lantaran kedua temannya itu tampak saling menyukai. Nada begitu menyukai Jaehyun, sebaliknya walaupun tidak sadar, Hyunjin sangat tahu jika Jaehyun menyukai Nada sebagai seorang perempuan. Daffa datang dengan ponselnya yang memutar sebuah musik. Aku mengerti Perjalanan hidup yang kini kau lalui Ku berharap Meski berat, kau tak merasa sendiri Kau t'lah berjuang Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah Biar ku menemanimu Membasuh lelahmu Izinkan kulukis senja Mengukir namamu di sana Mendengar kamu bercerita Menangis, tertawa Biar kulukis malam Bawa kamu bintang-bintang 'Tuk temanimu yang terluka Hingga kau bahagia Aku di sini Walau letih, coba lagi, jangan berhenti Ku berharap Meski berat, kau tak merasa sendiri Kau t'lah berjuang Menaklukkan hari-harimu yang tak indah Biar ku menemanimu Membasuh lelahmu Izinkan kulukis senja Mengukir namamu di sana Mendengar kamu bercerita Menangis, tertawa Biar kulukis malam Bawa kamu bintang-bintang 'Tuk temanimu yang terluka Hingga kau bahagia, ha-ha Ha-ah, ha-ha Izinkan kulukis senja Mengukir namamu di sana Mendengar kamu bercerita Menangis, tertawa Biar kulukis malam Bawa kamu bintang-bintang 'Tuk temanimu yang terluka Hingga kau bahagia 'Tuk temanimu yang terluka Hingga kau bahagia Mendengar lagu itu Hyunjin langsung berdiri dan memeluk Daffa. “Tengkyu Adikku! Kaulah penyelamatku!” teriaknya yang lalu langsung masuk ke kamar. “GILA YA LO!” teriak Daffa yang benar-benar syok dengan tingkah Kakaknya. Hyunjin masuk ke kamarnya dengan ekspresi yang benar-benar semangat. “Gue nggak akan nyerah dapatin Nada,” ujarnya pada sendiri di depan cermin. “Sudah sejauh ini, nggak akan mungkin menyerah.” Hyunjin lalu menyanyikan ulang lagu Budi Doremi tadi, dan dia konser tunggal di kamarnya dengan penuh penghayatan. Daffa yang melihat dari luar kamar Hyunjin karena pintunya tidak ditutup itu menggelengkan kepalanya. “Kesambet apa Kakak gue,” ujarnya yang membuat Nino ikut memandang Hyunjin di sana. Nino baru datang, hari ini mereka sudah janjian untuk main PS di rumah Daffa. “Bang Hyunjin lagi galau ya?” tanyanya dengan ekspresi yang benar-benar syok melihat Hyunjin konser dengan memalukan. “Enggak, dia sudah gila,” sahut Daffa dengan santainya. “Yuk ke kamar gue, mending main PS daripada nontonin konser aneh itu.” Nino mengangguk di sana dan mengikuti langkah daffaa. “Oh, iya cemilah ketinggalan di bawah!” serunya yang meninggalkan beberapa snack yang dia bawa di atas meja ruang tamu di bawah. “Gue ambil dulu.” “Oke, gue tunggu di kamar ya!” “Yoi.” “IZINKAN KULUKIS SENJAAAAA ….!” Suara nyanyian Hyunjin semakin kencang hingga membuat Nino yang sedang menuruni tangga itu terperanjat kaget. “Untung jantung gue masih aman,” kata Nino mengelus dadanya di sana. ***      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN