BAB 31

1015 Kata
Aroma khas rumah sakit begitu menyeruak di ruangan ini. Nada tidak bisa mempercayai sekarang menemani Tasya bermain di ruang Papanya itu. Tasya terlihat sedang menyisir rambut barbie, sedangkan Nada menyusun rumah-rumahan barbie itu.  "Kakak salah! Yang bener bikin rumahnya, nanti roboh," ujar Tasya dengan suaranya yang sangat imut. Bagaimana Nada bisa membenci gadis kecil yang tidak tahu apa apalagi seimut ini? Nada selalu melihat layar ponselnya, menunggu pesan dari Nino yang tidak kunjung datang. Ini sudah beberapa hari Nada tahu Papanya masuk rumah sakit, dan Nino masih sama sekali belum pernah datang ke sana. Padahal setiap malam, Dion selalu memanggil nama Nino. Semenjak kejadian itu, Nino belum pernah mengobrol santai dengan Papanya lagi. Dion sedang tertidur di sana dan tidak ada siapa-siapa lagi selain Nada dan Tasya. Ibunya Tasya alias istri baru Papanya itu sedang pulang kerumah menyiapkan dan mengganti keperluan. Tasya tiba-tiba menangis dan hal itu tentu saja membuat Nada terkejut. "Kenapa?" tanya Nada dengan wajah paniknya yang tidak bisa dia sembunyikan. "Tasya masih mau main sama Kakak, tapi Tasya ngantuk! Huhuhu ...." Tasya terus saja menangis di sana. Nada hampir kewalahan menenangkan Adik tirinya itu. "Yaudah nggak papa, besok lagi mainnya, ya, Tasya bobok aja dulu," ucap Nada dengan lembut. "Nggak mau!" Lantas Nada menggendong Tasya, mencoba menenangkannya. "Jangan nangis, kasian nanti Papa bangun." Tasya berusaha menyembunyikan suaranya yang masih sesenggukan. "Tapi janji ya, Kakak besok harus nemuin Tasya?" "Iya, janji." Nada benar-benar tidak percaya dengan dirinya, bisa-bisanya dia berjanji pada Tasya dengan gampangnya. Dia tidak mengerti kemana hatinya itu, jujur dia snagat benci dengan Papanya sekarang, dengan keluarga barunya pun, namun dia bahkan tidak tahu kenapa bisa begini. Dia bingung antara benci atau hanya kecewa sebentar dan mulai bisa menerima keadaan. "Yaudah Tasya tidur, ya, mau Kakak bacain dongeng nggak?" tanyanya pada Tasya yang sudah dia baringkan di sofa panjang. "Mau!" seru gadis kecil itu. Nada tersenyum dan bersiap menceritakan dongeng andalannya. Si kancil dan Siput. Si kancil merasa kalau dirinya paling hebat. Kancil yakin paling cerdik dan pandai di antara semua binatang hutan. Saking yakinnya, suatu hari Kancil menyombongkan diri di depan binatang lainnya. “Kalian tidak akan menemukan binatang secerdik dan sepintar aku!” serunya sambil melompat-lompat di depan teman-temannya yang sedang mencari makan. Si Kancil berseru-seru terus dengan penuh semangat menyombongkan diri. Semua temannya merasa kesal dengan kelakuan Kancil yang mendadak jadi sombong. Mereka memang mengakui kecerdikan si Kancil, tapi tidak suka dengan tingkahnya hari ini. Siput juga mendengar tentang kesombongan Kancil. Ia menunggu-nunggu Kancil lewat di depannya. “Hai, Kancil. Kamu kelihatan senang sekali hari ini,” tegur Siput ketika Kancil lewat. Kancil menghampiri Siput dengan penuh percaya diri. “Tentu saja, kawan. Karena aku adalah binatang paling cerdik!” serunya. Siput mendengus kesal. “Kamu salah, Kancil! Akulah yang paling cerdik!” bantah Siput tegas. “Untuk membuktikannya aku menantangmu lomba lari,” ucap Siput. Kancil tertawa keras. “Mana mungkin kamu lebih cerdik dari aku. Mana mungkin juga kamu yang sekecil itu menang lomba lari,” hinanya sambil tertawa. Tapi Siput bersikeras untuk lomba lari. Akhirnya Kancil menyanggupi tantangan itu sambil tak henti tertawa. Si Siput membiarkan Kancil tertawa senang. Padahal ia telah merencanakan sesuatu yang cerdik. Siput mengumpulkan saudara dan teman siputnya. Kemudian ia meminta agar besok mereka berbaris sepanjang jalur lomba lari. “Ingat. Setiap Kancil memanggil aku, kalian yang harus menjawab!” perintahnya pada semua siput. Keesokan harinya si Kancil berlomba dengan senang hati. Pada saat hitungan ketiga diteriakkan oleh wasit, si Kancil dan siput langsung berlari kencang. Tentu saja larinya siput tidak akan mungkin kencang. Kancil pun meyakini hal itu. itu sebabnya ia berlari kencang dengan gembira. Kancil berhenti ketika yakin sudah jauh meninggalkan Siput. “Hei, Siput kamu di mana?” teriaknya ke arah belakang. “Aku di sini!” jawab Siput dari arah depan. Kancil terkejut ketika mendengar jawaban Siput dari arah depan. Kemudian bergegas berlari secepat mungkin lagi. Padahal ia yakin kalau Siput ada di belakangnya tadi. Setelah berlari cukup jauh, si Kancil berhenti lagi. “Hei, Siput! Kamu pasti di belakang, ‘kan?” teriaknya memanggil-manggil. “Tidak. Aku di depan!” jawab Siput lagi. Kancil terkejut, bagaimana mungkin Siput ada di depannya terus? Kancil lalu berlari lagi sekuat tenaga. Ia sama sekali tidak menyadari kalau yang menjawab adalah siput-siput yang lain. Kejadian itu berulang beberapa kali, sampai akhirnya garis finish terlihat. Kancil berlari sekencang mungkin untuk melewati garis finish. Ia yakin Siput telah kalah. “Lihat aku menang!” Si Kancil berseru-seru kegirangan. Tiba-tiba terdengar suara Siput yang membuat Kancil jatuh terduduk karena kaget. “Kamu salah! Aku sudah dari tadi di sini.” Si Siput menghampiri Kancil yang tengah terkejut. “Kamu mengalahkanku!” seru Kancil tak percaya. “Tentu saja. Jadi aku lebih cerdik darimu bukan?” tanya Siput, senang melihat Kancil yang tengah kecewa. “Iya, kamu lebih cerdik dari aku,” jawab Kancil sedih dan malu. Kancil kemudian meminta maaf pada Siput karena telah sombong. Siput memaafkannya, dan berkata pasti ada yang lebih cerdik dari mereka berdua. Itu sebabnya sombong itu tidak baik. Karena setiap binatang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tasya benar-benar mendengarkan Nada bercerita hingga habis. Dirinya sangat menyukai cara Nada bercerita yang mahir membuat anak-anak merasa nyaman. "Besok Kakak harus cerita lagi, ya!" ujar Tasya yang benar-benar menyukai hal tersebut.  "Iya," sahut Nada singkat. "Yaudah sekarang Tasya tidur dulu." "Janji dulu!" Tasya menyodorkan jari kelingkingnya meminta Nada untuk menyilangkan kelingkingnya di sana. Nada menghela napas pasrah. "Iya, janji," katanya seraya menyilangkan kelingkingnya pada kelingking Tasya. Tanpa disadari, Tasya mulai menutup mata perlahan dan tertidur lelap di samping kakak tirinya itu. Kini Nada menatap kosong ke depan namun tetap ada yang dia pikirkan. Bisa-bisanya dia tadi membacakan sebuah dongeng kepada Tasya. Dan anehnya, ada perasaan senang saat dia melihat respon Tasya yang benar-benar suka dengan caranya bercerita. Nada memang masih belum sepenuhnya ikhlas dengan apa yang telah dilakukan Papanya, namun sekarang melihat Tasya yang tidak tahu apa-apa itu membuatnya sedikit merasa bersalah jika dulu sempat benar-benar membenci anak kecil itu. Bahkan dalam hatinya sangat tidka ingin melihat anak itu ada di dunia ini. Tuhan memang Maha membolak-balikkan hati manusia. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN