BAB 12

1162 Kata
Langit-langit ruangan putihlah yang pertama kali Nada lihat saat dia membuka mata. Kepalanya terasa sangat sakit dan berat. Dia menoleh ke kanan dan mendapati Jaehyun yang sedang tertidur di sofa panjang bersama Nino. Nada berusaha bangun dari tidurnya, mencoba memposisikan diri untuk duduk di ranjang rumah sakit itu. “Sudah bangun, Kak?” Nino akhirnya terbangun dan segera membantu kakaknya membenarkan posisi. “Kakak pingsan tadi pagi, terus tidur lama banget sampai sore gini,” ujar Nino menjelaskan sebelum kakaknya itu bertanya. “Lo nggak sekolah?” tanya Nada pada Nino. Nino menghela napas di sana. “Mana sempat, Kak, keburu panik kirain lo udah mau mati tadi,” sahut Nino dengan santainya. Nada menanggapi dengan wajah kesalnya. “Kenapa Jaehyun di situ?” bisiknya agar Jaehyun yang masih tertidur itu tidak bangun. “Mau minta bantuan siapa lagi gue? Bang Jae yang terdekat, kan? Kalau nelpon Mama juga, pasti nunggu lama.” “Oh iya Mama nggak lo kasih tahu, kan?” tanya Nada yang terlihat khawatir jika membuat mamanya bertambah beban pikiran. “Lo gila ya? Gue kan ngira lo udah mau mati gimana gue nggak kasih tahu coba?!” Nada semakin kesal dan mencoba memukul kepala adiknya. “Terus Mama nggak ke sini?” Walaupun tidak ingin membuat mamanya khawatir, Nada juga mengharapkan kehadiran mamanya di sana. “Ke sini tadi, tapi balik kerja lagi dua jam yang lalu,” sahut Nino seraya menuangkan air putih ke gelas untuk diberikan pada kakaknya. “Nih, minum dulu, lo tadi pucet banget kayak mayat tau.” “Bisa sweet juga nih kedondong.” Nino menaikkan satu sisi bibirnya dan berdecih, “Apakah Nona manis butuh sesuatu lagi? Adik tampanmu ini akan mengabulkannya,” katanya lalu tersenyum bak pangeran di negeri dongeng. Kepala Nada langsung terisi pikiran-pikiran untuk mengerjai adiknya, “Gue mau pizza, burger, matcha latte, seblak, cheese cake, kripik kentang, bakso, siomay, mie ayam, hmm apa lagi ya?” Jika saja kakaknya itu tidak sedang sakit, sudah pasti sebuah tamparan mendarat di kepala Nada. “Heh! Lo hari ini cuma boleh makan makanan rumah sakit!” “Emang iya?” tanya Nada tidak yakin. “Iya Bambang!” Nada menghela napas dan terlihat sedih di sana. “Oh iya Jaehyun sejak kapan di sana?” tanya Nada lagi sambil memandang sahabatnya itu yang terlihat sangat lelap dengan mulutnya yang menganga. “Pules banget dia.” “Dari tadi pagi pas lo pingsan, yang ngantar kita ke rumah sakit juga Bang Jae pinjam mobil ayahnya,” ujar Nino menjelaskan. “Iya pules banget kan? Kayak orang nggak pernah tidur aja dia.” Nada masih menatap Jaehyun. “Dia emang jarang tidur, demi mengurus kesibukannya itu, ck.” “Oh iya, tadi Bang Jae sampe nolak hadir rapat tau demi nemenin kita di sini.” Tatapan Nada pada Jaehyun langsung teralihkan, dia kini menatap adiknya. “Yakin? Seorang Jaehyun menolak rapat?” “Iya, Kak! Bahkan kayaknya ada tiga kali panggilan deh tadi dan dia bilang nggak bisa gitu.” Nada kembali menatap Jaehyun. Rasanya dia semakin benci dengan Jaehyun karena dirinya tidak bisa membenci lelaki itu sepenuhya. Nada sangat tidak suka dengan perasaan ini. Gimana gue bisa benci sama lo Jae, kalau lo gini? Nada kembali berbaring, “Gue mau tidur aja, jangan ganggu gue,” ujar Nada pada Nino yang langsung menagangguk. Pasalnya gadis itu tidak ingin tidur, namun suasana hatinya tiba-tiba berubah karena Jaehyun. Dia sangat membenci perasaannya sekarang. Dia ingin membenci Jaehyun namun tidak akan bisa. Nada tidak ingin dan sangat tidak suka jika Jaehyun selalu sibuk dan melupakannya bahkan pada saat dirinya sangat membutuhkan Jaehyun saja lelaki itu tidak ada. Namun saat Jaehyun bersikap baik seperti ini juga membuat Nada merasa kesal, karena rasanya terhadap sahabatnya akan semakin tumbuh. Rasa yang seharusnya tidak dia rasakan, namun siapa yang bisa mengendalikan hati? *** “Nada?! Lo kenapa? Ih, pakek sakit segala! Gue selama kelas kepikiran lo tau!” Suara Sandra yang menggelegar begitu dia masuk ke ruangan Nada itu membuat siapapun yang menutup mata alias tidur pasti langsung terbangun detik itu juga. Cewek itu langsung menutup mulutnya, menyadari dirinya telah membuat satu kesalahan. “Sorry guys, gue kira nggak pada tidur, hehe.” Jaehyun meregangkan tubuhnya, semua orang tahu, meregangkan tubuh setelah tidur adalah hal yang sangat nikmat. “Suara lo ngeri juga ya, San, gendang telinga gue hampir keluar.” “Dih! Biasa aja kali,” ujar Sandra yang memasang wajah kesal pada Jaehyun dan cewek itu langsung mendekati Nada. “Na, ini aku bawain buah, ih muka lo pucet banget kacian … utayang-tayang, sini aku kupasin buah ya? Mau apa? Apel? Jeruk?” “Kak Sandra kesurupan banci ya?” Nino bertanya dengan wajah meledeknya. Jangan ditanya, Jaehyun dan Nada langsung terpingkal di sana. “Tapi serius mirip banci beneran deh,” ujar Nino yang detik itu juga langsung dikejar oleh Sandra. Jaehyun berdiri dan mendekati Nada. Membiarkan Sandra dan Nino yang masih kejar-kejaran bagaikan Tom & Jerry itu. “Sudah agak mendingan?” tanya Jaehyun pada Nada. Nada mengangguk, “Udah kok, paling besok udah bisa pulang ini,” sahut Nada dengan nada yang agak sedikit canggung. Pasalnya cewek itu sedang marah pada Jaehyun kemarin. “Pasti gara-gara kehujanan kemarin nih, lo habis ngapain sih sama Hyunjin?” “Bukan salah Hyunjin kok, emang gue yang ngajak hujan-hujanan.” Nada terlihat membela Hyunjin, tetapi ap ayang dikatakannya benar, dialah yang mengajak Hyunjin untuk membasahkan diri dengan air hujan. Jaehyun mengacak rambutnya, entah kenapa gelagat cowok itu sangat terlihat kesal. Tidak, bukan terlihat lagi, dia benar-benar merasa kesal. Jaehyun merasa, tempatnya sebagai sahabat cowok satu-satunya bagi Nada mulai terancam. Entah kenapa dia tidak suka mendnegar Nada bermain hujan-hujanan bersama Hyunjin lantaran sejak kecil dialah yang selalu menemani Nada menikmati air yang turun dari langit itu membasahi tubuhnya. “Lo kalau sibuk pulang aja,” ujar Nada tiba-tiba yang membuat Jaehyun semakin kesal. Jaehyun tertawa tipis, “Lo ngusir gue?” “Bukan gitu.” Tawa hambar kembali Jaehyun tampakkan. “Oke, gue tahu lo masih marah sama gue, kan? Oke gue pulang.” Tanpa mendengarkan Nada menyahut lagi, cowok itu langsung berdiri dan mengambil tasnya di sofa, tanpa pamit kepada Nino dan Sandra yang langsung berhenti berkelahi karena melihat Jaehyun yang keluar ruangan. Sandra mendekati Nada. “Jaehyun kenapa? Kalian berantem?” Nada langsung kesal dan membenamkan wajahnya ke dalam selimut. Bisa-bisanya Jaehyun malah marah seperti itu, padahal hari ini Nada berniat ingin meminta maaf karena kemarin telah marah-marah pada Jaehyun, namun Nada tidak tahu apa kesalahannya sampai membuat Jaehyun terlihat sangat marah. Perasaan bersalah dan tidak enak mulai merasuki seluruh penjuru tubuh Nada. “Kak, lo ngomong apa sih sama Bang Jae? Padahal dia udah nungguin lo seharian ini tau, kasian dia. Mana ngorbanin beberapa kegiatannya lho tadi.” Kata-kata Nino semakin membuat Nada tenggelam dalam rasa bersalah. “Jadi gue harus apa?!” Nada berteriak hingga membuat Sandra melemparkan potongan apel yang hendak dia makan karena terkejut mendengar teriakan Nada. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN