Nino membuka ponselnya yang mendapat sebuah notifikasi w******p dari nomor yang tidak dia kenal.
Nino, Nada baik-baik aja, kan? Tadi gue lihat di kelasnya dia kok ga masuk?
Nino mengernyitkan alisnya, memikirkan siapa yang tiba-tiba mengirim pesan w******p padanya dan bertanya tentang Nada.
Siapa lo?
Orang itu langsung menjawab secepat kilat.
Hyunjin.
Nino menghela napas, dirinya semakin dibuat curiga jika ada apa-apa antara Kakaknya dan kakak temannya itu, Daffa.
Kenapa nggak tanya langsung aja sih, Bang?
Bisa-bisanya Hyunjin selalu menghubungi Nino yang mana membuat anak itu merasa sedikit kesal.
Gue ga punya nmr wa Nada.
Jika tadi Nino kesal, kali ini dia terpingkal. Bisa-bisanya Hyunjin dan Nada yang beberapa kali terlihat olehnya sedang bersama tetapi ternyata dua orang itu malah tidak saling menyimpan nomor w******p.
“Ape lu ketawa-ketawa sendiri Nin?” Sandra mendekati Nino dan hendak mengintip isi ponsel anak itu, Sandra memang tidak pandai menyembunyikan jiwa-jiwa keponya.
Nino langsung menjauhkan ponselnya dari jarak pandang Sandra mengingat pesan terakhir Hyunjin berisi : Jangan bilang Nada kalau gue tanya.
“Dih, pelit banget!” pekik Sandra yang kesal lantaran Nino tidak ingin berbagi apa yang membuatnya tertawa.
Nino tidak menghiraukan Sandra dan langsung keluar ruangan serta membalas kembali pesan dari Hyunjin yang padahal tidak penting-penting amat baginya.
Kak Nada masuk rumah sakit, tadi pagi pingsan di rumah.
Kurang dari satu detik setelah tanda centang abu berubah menjadi biru, sebuah panggilan suara langsung masuk ke ponsel Nino. Jangan ditanya lagi, sudah pasti Hyunjin yang menelepon dari seberang sana.
Walaupun tidak bersemangat, Nino langsung mengangkat telepon tersebut. “Ya, halo?”
“Rumah sakit Yulje, ruang Mawar.”
Setelah Nino memberitahu di mana Nada dirawat, Hyunjin langsung memutuskan sambungan telepon tanpa kata-kata apapun. “Dasar!” ujar Nino yang mengumpat lantaran Hyunjin berlaku seenaknya dan langsung pergi tanpa pamit atau terima kasih. "Tau gini nggak gue kasih tahu tadi, ck."
Bola mata anak itu berputar, semakin bingung dan kesal dengan situasi ini.
***
Nada, Sandra dan Nino dibuat terkejut dengan kemunculan Hyunjin dengan sekeranjang buah di tangannya.
Lelaki itu tersenyum canggung apalagi melihat ekspresi Sandra yang tidak bisa menyembunyikan wajah syoknya.
"Yaampun Hyunjin, padahal gue sudah berkali-kali liat lo langsung deh, kenapa tetap ganteng, sih?!" celetuk Sandra yang membuat Nino merasa mual di sana.
Hyunjin tertawa. "Iya sih bener, gue aja heran kenapa bisa setampan ini?"
Bukan mual lagi, Nino benar-benar ingin memuntahkan seluruh isi perutnya sekarang. "Uwelk!"
Semua menoleh ke Nino, "Nino, lo nggak hamil, kan?" Sandra bertanya dengan wajah super tidak merasa bersalah sama sekali. "Nggak mungkin, kan?"
"Ih, gila!" Nino menatap dengan pandangan tidak percaya bisa-bisanya Sandra mengeluarkan pendapat tersebut. "Kak, lo punya temen gini amat sih?!" katanya lagi yang memang sangat terheran-heran dengan tingkah Sandra.
Sandra menarik napas, "Nino, temen kayak gue ini langka lho!" katanya dengan senyumnya yang menyebalkan.
Nino hanya bisa menghela napas pasrah di sana. "Iya, iya langka kayak badak bercula satu."
"Nino!"
"Apa?!"
Selagi Sandra dan Nino berdebat, Nada menatap Hyunji yang sudah menatapnya terlebih dahulu.
"Dikasih tahu Jaehyun?" tanya Nada pada Hyunjin yang sedari tadi tidak membuka pembicaraan dengan Nada. Dia mencoba mencairkan suasana yang memang terlihat cair namun nyatanya sangat beku.
"Enggak. Nino," jawab Hyunjin yang membuat Nada langsung melemparkan tatapan mematikan pada Adiknya itu. Dan Nino yang berujung kembali menghela napas pasrah lantaran tahu setelah ini dia akan mendapat semprotan dari Kakaknya.
"Oh iya, kemarin maaf ya, gue jadi lupa bilang makasih sudah ngantar." Nada mengingat waktu itu yang membuat Hyunjin terabaikan lantaran dirinya sebal dengan Jaehyun.
Hyunjin tersenyum. "Santai aja, gue ngerti kok."
Nada mengangguk dan dapat merasakan hawa-hawa canggung yang tidak dapat lagi dipungkiri. Walau Nino dan Sandra sedang ribut berdua entah apa yang mereka debatkan itu namun Nada merasa ini sangat sunyi dan amat beku.
***
Nino menelan ludah dan menatap Kakaknya yang memasang ekspresi mengerikan. "Dia kok yang tanya duluan! Ya gue masa harus bohong, sih?" ujar Nino sebelum Nada bertanya, pasalnya dia sudah tahu apa yang akan hendak keluar dari mulut Kakaknya.
Hyunjin dan Sandra sudah pulang tadi dan sekarang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Nada memiringkan kepalanya, baru saja mulutnya hendak dia buka dan menanyakan sesuatu pada Nino, Adiknya itu sudah terlebih dahulu mengeluarkan suara lagi.
"Lagian, kalian aneh banget sih! Masa nggak saling save-save an nomor WA?!"
"Buat apa?" tanya Nada yang membuat Nino tidak habis pikir dengan Kakaknya.
"Buat apa? Astaga Kak! Lo udah ketemu Bang Hyunjin berapa kali, sih? Banyak, kan? Kalian dekat kan? Bukan sekedar teman, kan?"
Nada menggeleng. "Sering sih, tapi nggak sengaja! Dan ya terjadi gitu aja. Oh iya! Dia selalu ngikutin gue kali ya? Eh, tapi nggak juga, ketemu mulu tapi nggak sengaja--"
"Takdir." Nino melemparkan senyum menyebalkannya saat menyebut kata yang singkat tersebut.
"Diam!"
"Ciye!"
"Diam gue bilang!"
"Bukannya lo suka Bang Jae, ya?!" ledek Nino lagi pada Kakaknya.
"Sekali lagi lo ngomong, gue sentil ginjal lo!"
"Kenapa sih, ribut-ribut," ujar Rina yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia sudah datang beberapa saat yang lalu.
"Ini, Ma! Nino nyebelin!"
Nino membuka bungkusan nasi goreng yang dibelikan Mamanya itu. "Bohong, dia lebih nyebelin, Ma! Masa nggak save-save an nomor WA sama gebetannya, terus si cowoknya malah ngechat Nino! Kan ganggu ya!"
Nada melebarkan kelopak matanya, rasanya dia ingin menendang Adiknya sekarang juga. "Enggak, Ma! Nada nggak punya gebetan!"
Rina tersenyum dan mengambil sebuah apel dan hendak mengupasnya. "Yang bawain buah ini, ya?" tanyanya masih sengan senyum yang membuat Nada merasa malu.
"Bukan gebetan, Ma."
"Ngaku aja lo Kedondong!" teriak Nino sambil mengunyah nasi goreng.
"Diem nggak lo!"
Nino masih meledek Kakaknya dan membuat gerakan seolah-olah mengunci mulutnya. "Oke Tuan Putri!"
Rina menaruh beberapa apel yang sudah terkupas dan terpotong di atas piring. "Enggak papa kok, kalau Nada punya gebetan," katanya seraya menyerahkan piring berisi potongan apel pada Nada.
"Mama!"
"Dih, sok malu-malu lagi lo!" Nino kembali meledek Kakaknya.
Tentu saja, sebuah bantal mendarat tepat di wajah Nino ketika anak itu hendak menyuapkan sesendok telur goreng terakhirnya. Tentu saja telur goreng itu melayang bebas.
"Kak! Ih! Itu surga dunia gue!" teriak Nino memungut kembali telur yang terlempar ke lantai itu. "Yang paling enak selalu gue makan terakhir, ah elah pakai jatuh segala lo telur!"
Nada tertawa puas melihat Adiknya yang mencoba membersihkan telur gorengnya itu.
***