Hari ini Nada mendapat panggilan lagi untuk bercerita di panti asuhan amanah. Dengan pakaian sederhananya, dia menuju ke sana.
Nada berakhir duduk di kursi taman panti asuhan amanah. Suasananya begitu canggung mengingat kini Hyunjin tepat berada di sebelahnya. Sepertinya akan terjawab semua hal yang mengusik pikiran Nada selain yang diceritakan Nino kemarin.
"Cuma buat berjaga-jaga, gue mau denger penjelasan lo." Nada menatap Hyunjin, kini bukan tatapan benci lagi yang dilontarkan cewek itu.
"Mau penjelasan yang mana?" tanya Hyunjin dengan senyumnya yang merasa seperti tidak ada apa-apa.
"Semua," ujar Nada.
Hyunjin menghela napasnya, "Gue cuma negur Nino waktu itu yang kebetulan gue lihat dia mau ngerokok di samping rumah lo, habis dari rumah Jaehyun itu gue."
Nada menelan ludah, oke kisahnya sama dengan yang dijelaskan Nino. Sepertinya Hyunjin benar-benar bukan orang yang mengajarkan Nino untuk merokok seperti dugaan Nada sebelumnya.
"Terus, yang lain?" Nada bertanya lagi, menunggu penjelasan Hyunjin lagi.
Hyunjin menggeleng di sana. "Nggak ada yang perlu dijelasin lagi, apa yang gue lakuin ya begitulah adanya," kata Hyunjin yang menatap Nada lekat.
Nada tidak habis pikir, ketika dirinya memberi Hyunjin kesempatan untuk menjelaskan tetapi cowok itu malah enggan.
"Gue nggak mau membela diri demi terlihat baik di depan lo, Na. Padahal gue memang ngelakuin hal itu. Berkelahi dengan geng pantura kan yang buat lo penasaran?"
Entahlah apa itu, ternyata lawan berkelahi Hyunjin kemarin adalah anggota geng pantura.
"Apapun pikiran lo, gue ngelakuin itu semua ada alasannya yang belum bisa gue jelasin."
Nada tertegun dan menurut saja kali ini. Dia benar-benaar merasa bersalah atas sikapnya kepada Hyunjin beberapa hari lalu.
"Oh iya, kalau kebetulan lo dengar gosip, gue nggak ngerebut pacar orang kok. Lo tahu, siapa yang menarik perhatian gue."
Nada terdiam, tidak mau geer namun pikirannya terus saja menebak itu adalah dirinya.
"Nggak mau tanya, siapa?" ujar Hyunjin bertanya pada Nada yang bukannya menjawab namun malah diam.
Nada tersenyum tipis, "Siapa?"
"Nada."
"Ya?" Nada malah menyahut seolah-seolah dirinya dipanggil.
Hyunjin tertawa. "Nada, orangnya Nada," katanya yang membuat suasana semakin canggung di sana.
Nada menggaruk kepalanya yang bahkan tidak gatal, sangat bingung dengan situasi ini.
"Kak Nata! Kak Nada!"
Beruntung ada anak-anak yang memanggil mereka, menyelamatkan kecangungan ini.
Ngomong-ngomong, lucu juga kalau nama mereka disandingkan Nata dan Nada.
***
Nada dapat melihat dengan jelas Hyunjin yang benar-benar terlihat tulus menyanyikan sebuah lagu dengan gitarnya. Anak-anak di sana pun sangat menikmati hiburan itu dan mereka terlihat sangat akrab.
"Nata memang terlihat seperti anak nakal, tapi hatinya benar-benar seperti malaikat." Mama Ira mendekati dan duduk di samping Nada.
Nada tersenyum menyapa Mama Ira di sana.
"Nata cerita sama Mama Ira, kalau kamu adalah perempuan yang dia sukai," ujar Mama Ira lalu menatap Nada yang merasa kikuk.
Mama Ira tersenyum. "Entah apa yang membuat dia sesuka itu sama kamu, padahal Nata hampir nggak pernah memikirkan perempuan manapun. Banyak yang suka aja dia nggak peduli sama sekali."
Nada merasa malu di sana. Tidak tahu harus menyahut apa.
"Nggak usah bingung, menerima atau enggak itu hak kamu, Mama Ira cuma mau menyampaikan, kamu sepertinya sangat spesial di mata Nata," ujar Mama Ira yang kembali mengembangkan senyumnya.
Nada hanya mengangguk, dan dapat dia rasakan hal aneh di dalam hatinya. Seperti ada yang menyentuh entah apa.
Hyunjin masih sibuk bernyanyi. Ini sudah lagu ketiga yang dia nyanyikan untuk anak-anak. Sangat terlihat dia amat sayang kepada anak-anak di sana.
Nada menarik napas dalam-dalam. Dan tanpa dia sadari dia ikut tersenyum melihat Hyunjin yang bernyanyi. Senyum yang sudah lama tidak Nada lakukan. Senyum yang menjadi pertanda, ini adalah awal yang baik untuk mereka.
"Kak Nada ayok nyanyi bareng!" Anak bernama Jojo menarik tangan Nada dan membawanya mendekat ke Hyunjin dan anak-anak yang sedang berkumpul.
Terlihat di sana, Hyunjin sempat melemparkan senyumnya pada Nada. Senyum yang benar-benar membuat Nada kembali merasakan aneh di hatinya.
***
Sekarang giliran Nada bercerita.
“Aduh, tolong! Tolong aku,”
Sapi mendengar rintihan dari balik batu. “Siapa dan di mana kamu?”
“Aku, si Buaya. Sekarang aku ada di bawah tumpukan batu-batu ini, aku terjebak dari pagi. Aku sedang berjalan, dan tiba-tiba sejumlah batu menimpaku, sampai tubuhku pun berdarah.”
Sapi merasa ragu-ragu sejenak, ia berniat untuk meninggalkan tempat itu segera. Tetapi berpikir bahwa Buaya memerlukan pertolongan, akhirnya Sapi setuju membantu mengangkat bebatuan itu.
“Aaah, terimakasih Sapi. Tanpamu aku tidak akan terlepas dari batu-batu itu.” Kata Buaya. Terlihat wajahnya terluka dan kakinya pun mengeluarkan darah.
“Sama-sama, Buaya,” jawab Sapi sambil beranjak hendak pergi. “Aku, pergi dulu, ya.”
“Eeeh, mau kemana, Sapi? Kamu tega meninggalkanku di sini, sementara kakiku tidak bisa berjalan?” tanya Buaya dengan air mata meleleh. Sapi merasa iba.
“Kumohon bantulah gendong aku dan antarkan ke sungai.” Kata Buaya. “Aku tidak bisa kemana-mana dengan kaki berdarah begini.
Sapi berlutut, dan Buaya menaiki punggungnya. “Terimakasih, Sapi.”
Mereka berjalan menuju ke sungai. Sesampainya di sana, Buaya menolak turun. “Aku lapar, Sapi, kelihatannya daging punggungmu ini enak juga.”
Sapi mulai ketakutan dan menangis, “Jangan, Buaya, aku sudah menolongmu. Mengapa kamu jahat?” Buaya tetap tidak peduli, dia membuka mulut dan bersiap menggigit punggung sapi.
“Loh, Sapi, kenapa kamu menangis?” tanya Kancil yang tiba di sungai yang sama. “Kenapa Buaya ada di gendonganmu?”
Sapi pun bercerita tentang bagaimana bisa Buaya ada di gendongannya dari awal sampai akhir.
“Hmm, tapi, memang betul, sih, pertolongan harus diberikan sampai tuntas.” Kata Kancil sambil merenung. Air mata si Sapi semakin deras dan Buaya semakin senang.
“Tapi, aku tidak percaya Buaya ini memang tertimpa batu saat kau datang, Sapi. Kenapa Buaya sehebat ini tidak bisa bergerak sampai kamu harus menolongnya?”
Buaya kesal. “Ayo, Sapi, tunjukkan tempat di mana batu-batu itu berada, supaya Kancil melihat besarnya seperti apa.”
Mereka bertiga kembali ke tempat itu. Batu-batu besar itu masih ada.
“Di mana si Buaya itu tadinya berada? Dan bagaimana batu-batuan itu menimpanya?” tanya Kancil.
Lalu Buaya turun dan merangkak menuju tempatnya semula. Lalu Sapi meletakkan bebatuan di atasnya, persis seperti saat ia menemjukan Buaya.
“Begini, loh, tadi aku terjepit seperti ini,” kata Buaya dengan suara samar-samar karena batu-batu di atasnya. “Percaya, kan, sekarang, jika aku benar-benar tidak bisa bergerak?”
“Ooh, begitu. Ya, aku percaya sekarang,” kata Kancil. Lalu berkata kepada Sapi, “Ayo, Sapi, kita tinggalkan dia di sini.”
“Hey, tunggu! Kalian mau kemana? Hey, aku masih di sini.”
Semua anak-anak tertawa mendengar kisah akhir yang diceritakan Nada, terlebih cewek itu membawakannya dengan asyik. "Jadi, kita tidak boleh seperti buaya yang tidak tahu terima kasih ya adik-adik!"
"Iya Kak Nada!" seru semuanya serentak.
"Dalam hidup ini, jangan lupa selalu mengatakan tiga kata ajaib! Ada yang tahu hayo apa saja tiga kata ajaib?" tanya Nada kepada adik-adik yang masih diam dan tidak ada yang mengangkat tangan.
"Saya Kak tahu!" Ternyata Hyunjin yang mengangkat tangan dengan tawanya yang cengengesan.
Nada ikut tertawa. "Iya, boleh, apa?"
"Maaf, tolong, sama terima kasih, Kak!" seru Hyunjin yang mendapat tatapan takjub dari anak-anak di sana.
"Iya, betul sekali! Jadi kalau kita melakukan kesalahan jangan lupa berkata maaf! Kalau mau minta bantuan jangan berkata tolong. Terus kalau sudah dibantu orang lain, jangan lupa berkata?"
"Terima kasih, Kak!"
"Nah, betul. Tadi kalian sudah bilang terima kasih belum sama kak Nata sudah nyanyiin?" Nada menatap Hyunjin yang ternyata sudah menatapnya sejak tadi.
"Belum!"
"Sekarang ayo bilang terima kasih dulu!"
"Terima kasih Kak Nata!" teriak anak-anak serentak.
"Eits ada yang ketinggalan!" ujar Hyunjin dengan wajahnya yang dibuat sok marah.
"Terima kasih Kak Nata ganteng!" teriak anak-anak di sana lagi yang membuat Nada terpingkal.
***