BAB 24

1064 Kata
Laptop yang terus menyala itu memutar sebuah tayangan drama Korea yang sedang ditonton oleh Sandra. Matanya hampir dikelilingi lingkaran hitam lantaran cewek itu sedang marathon drama dari pagi hingga pagi lagi. Walau tidak lupa melakukan kewajibannya untuk beribadah, namun tetap saja apa yang dilakukannya adalah bukan hal baik dan dia menyadari itu, namun tetap saja dia lakukan dengan senang hati walau badan mulai meriang. "Sebel! Mau marah sama Park Jae Eon tapi dia ganteng gimana dong," ujar Sandra berbicara sendiri saat menonton Song Kang yang memerankan Park Jae Eon si laki-laki playboy itu. Setelah menghabiskan beberapa episode, dirinya bersandar. Menatap kosong kamarnya di sana. "Kenapa gue jomblo?" ujarnya bertanya pada dirinya sendiri lagi. Dia berdiri dan bercermin di sana. "Enggak kok. Gue enggak jelek-jelek amat. Cantik kok!" Sandra lalu termenung. Dia benar-benar mengingat sesuatu. Dan mengingat betapa menyedihkannya dirinya. Dia lalu tersenyum miris meratapi nasibnya yang benar-benar mengenaskan. Dulu Sandra menyukai Jaehyun saat SMP, namun dia sadar jika Jaehyun terlalu dekat dengan Nada dan dia tahu jika Nada begitu menyukai Jaehyun. Tentu saja apa yang harus dia lakukan yaitu mundur alon-alon. Namun seiring berjalannya waktu dia mulai bisa merelakan karena rasa sayangnya terhadap Nada dan persahabatan mereka lebih besar. Lalu, tentang Hyunjin. Walau sering terlihat bercanda, sebenarnya dia benar-benar menyukai Hyunjin sebagai lelaki walau tidak sepenuhnya karena dia melihatnya sangat mirip dengan biasnya di salah satu grup idol kpop yang dia idolakan. Dan sekarang, sangat jelas jika Hyunjin menyukai Nada. Iya, Sandra tahu, tentang hati siapa yang bisa mengendalikan? Pun hatinya, sekarang sedang tidak bisa dikendalikan mengingat hati kecilnya berkata iri kepada sahabatnya sendiri, Nada. Bukan. Bukan karena dia sekarang benar-benar menyukai Hyunjin. Namun hati kecilnya berkata kenapa harus Nada lagi? Iya, lagi. Untuk sejenak Sandra masih ingin menjernihkan pikirannya. Pesan dari Nada pun masih dia abaikan sekarang. Kalian tahu? Benar apa kata orang-orang, orang yang sangat terlihat ceria itu sedang berusaha keras menutupi sedihnya. "Sandra, lo habis pakai baju Abang lagi, ya?!" Pintu Sandra terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. "ENGGAK! IH KEBIASAAN BUKA PINTU GAK NGETOK DULU!" Sandra sangat emosi kepada Abangnya itu.  Sekarang lelaki itu keluar kamar Sandra tanpa menutup lagi pintu kamarnya. "HEH JONGIN PRATAMA TUTUP LAGI PINTUNYA!" Percuma saja Sandra berteriak, Abangnya itu tidak akan mau berbaik hati untuk kembali ke kamarnya hanya untuk menutup pintu. "Nyebelin! Punya Abang gini amat! Kenapa masih ada yang suka, sih? Terus kenapa gue jomblo?!" Sandra lalu menutup pintu kamarnya dengan kesal. Berniat melanjutkan menonton sebuah tayangan drama Korea di laptopnya. Sudah seperti pengangguran saja hidupnya sekarang. Weekend seorang Sandra pasti dipenuhi dengan marathon drama Korea. Karena dirinya sudah terlalu sering menonton drama bergenre romance, kali ini dia ingin menonton drama The Voice, drama misteri tentang detektif yang menyelidiki beberapa kasus pembunuhan. "Gila gila gila, sudah season 4?" teriak Sandra yang heboh sendiri karena dirinya masih menonton season 2 nya. Nonton drama ini pasti otak ikut mikir, betapa pintarnya dan menyebalkannya para psikopat-psikopat itu. Sandra sampai mengumpat beberapa kali dengan keras hingga Ayahnya yang sedang santai di depan televisi itu menegur putrinya. *** Sandra berbaring di kasurnya. Matanya sudah sangat lelah untuk melanjutkan menonton drama Korea. Tapi naasnya dia tidak bisa tidur walau mata rasanya sangat pegal. Cewek itu lantas membuka layar ponselnya dan mulai berselancar menelusuri beranda twitter. Di mana lagi tempat sambatnya ketika tidak ingin ada yang mengetahui siapa dirinya itu kalau bukan sambat di twitter dengan menggunakan akun yang bukan menggunakan nama aslinya. Sandra terus saja menggulir layar beranda twitternya ke bawah. Hingga dia menemukan sebuah thread yang menarik perhatiannya. Sebuah karya tulis sejenis fanfiction bernama AU alias Alternate Universe. Dia memulai membuka satu-persatu tweet yang ditulis sang pengarang. Tanpa terasa, dirinya terhanyut dalam cerita tersebut. "Aaaaaa, kenapa gue baru menemukan AU sih? Seseru itu, cocok banget dibaca sama gue yang suka halu tentang idol kpop huaaa!" Sandra berbicara sendiri dengan nyaring di kamarnya. "Sandra ... nggak mabok, kan?" tanya Ayahnya dari luar. Sandra tidak habis pikir bisa-bisanya Ayahnya melontarkan pertanyaan tersebut. Namun, bukan Sandra jika tidak jahil. "Iya Yah! Sandra mabok gimana dong?!" Tidak sampai satu menit, Ayah Sandra sudah berdiri di ambang pintu kamar Sandra yang dusah terbuka itu. "Jangan ngadi-ngadi ya lu!" "Mabok visual artis Korea Yah!" Ayah Sandra hanya bisa geleng-geleng dan langsung meninggalkan kamar putrinya itu. Kini, berganti Abangnya yang berdiri di ambang pintu kamar itu. "Sandra, lo udah punya Abang yang gantengnya melebihi artis Korea tau, nggak usah jauh-jauh terpesona sama yang jauh di Korea. Ini, di depan lo sudah ada, sini ayo mau foto sama Abang?" Sandra menghela napas dan memasang wajah kesalnya, lantas saja sebuah bantal melayang menuju wajah Jongin yang ternyata mendarat sangat tepat. "Sandra!" "Apa?!" Jongin masuk ke kamar Sandra dan mulai menjambak rambut adiknya itu. "Ayah! Abang jambak rambut Sandra!" "Jambak balik aja!" teriak Ayahnya yang benar-benar sudah pasrah jika kedua anaknya itu berkelahi, tiada hari tanpa berkelahi memang mereka. Sandra menjambak balik rambut Abangnya. "s**l! Lo habis potong rambut?! Nggak adil!" Kini Sandra menarik baju Abangnya itu serta memukul tanpa henti perut Jongin. Tentu saja, Kakak laki-laki itu tidak mau kalah, dengan gampangnya dia menjepit kepala Sandra di antara ketiaknya. "BAU! LEPAS NGGAK?! AHELAH PUNYA ABANG GINI AMAT!" Mereka terus berkelahi, slaing menjambak dan berteriak, Ayah mereka hanya membiarkan saja sambil santai melanjutkan tontonannya di televisi.  "Satu ...."  Mendengar suara itu, Sandra dan Jongin langsung otomatis menghentikan perkelahian mereka. Jika suara itu sudah keluar, artinya kode darurat menyala. "Dua ...." Sandra dan Jongin saling menatap di sana. "Kalau sampai hitungan ketiga masih belum ada yang keluar, Bunda nggak akan ngurusin kalian selama seminggu. Ti ...." Dengan kekuatan kilat, Sandra dan Jongin berlari keluar kamar dan menemui Bunda mereka yang sudah duduk di sofa depan televisi. "Tau kan apa yang harus kalian lakukan?" tanya Bunda dengan wajah seramnya. Sandra dan Jongin mengangguk lalu saling berhadapan. Mereka berpelukan di sana, lalu bersalaman. "Maaf ya Adikku." Jongin tersenyum terpaksa pada Sandra. "Iya Sandra maaf juga ya Abangku," sahut Sandra dengan senyumnya yang juga terpaksa. Sandra dan Jongin kemudian menghadap Bunda lalu teriak dengan serentak. "Maaf Ayah, Bunda, kami sudah berkelahi dan membuat keributan! Kami tidak akan mengulanginya lagi!" Sangat lantang mereka mengucapkan kalimat itu. Walau setiap hari mereka pasti akan mengulangi perkelahian. Ayah mereka tertawa di sana. Melihat kelakuan dua anaknya yang masih seperti anak delapan tahun itu. Padahal Sandra sudah berumur 20 tahunan dan Jongin sudah 22 tahun. Sedewasa apapun seorang anak, dia tetap seorang anak kecil di mata orangtuanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN