BAB 9

1146 Kata
Nada berbalik dan melihat Jaehyun yang sudah tidak terlihat batang hidungnya. Dia kembali berbalik menatap Hyunjin yang tengah memegang sisi pintu, “Masuk nggak?” tanya Hyunjin lagi yang masih berdiri di sana. Dia terdiam di sana sejenak, bingung tetap masuk ke kafe atau tidak, pasalnya gadis itu tidak ingin masuk ke sana lantaran ada Hyunjin. “Kalau nggak mau gapapa, kamu bisa pergi.” Hyunjin melontarkan perkataan itu yang membuat Nada agak terheran sekaligus tidak enak. Nada menarik napas, lalu menyahut, “Em, hehe, yaudah gue cabut ya.” Rasanya urat malu Nada sudah hilang begitu saja, detik itu juga. Dilihat dari ekspresi Hyunjin pun, sepertinya cowok itu mengetahui apa yang terjadi barusan, tentang Nada dan Jaehyun tadi. “Silakan,” ujar Hyunjin dengan santai. Nada sempat terheran lagi, biasanya cowok itu sangat menyusahkan, kali ini sangat lancar dan dirinya merasa ada yang kurang. Gadis itu lalu melangkah pergi dari sana, ya dia benar-benar pergi dan tidak ada niat untuk basa-basi pura-pura ingin membeli sesuatu ke kafe Lucas demi reputasinya. Entah kenapa Nada hanya malas saja bertemu dengan Hyunjin, padahal sebenarnya Hyunjin tidak ngapa-ngapain, dia juga tidak seseram yang Nada pikir selama ini. Langit mulai menggelap. Bukan karena ini sudah menjelang malam, namun karena awan hitam yang menutupi kecerahan hari ini, mendung. Kelihatannya air-air di dalam awan itu siap tumpah ke bumi detik itu juga. Nada merutuki dirinya sendiri lantaran gadis itu tidak membawa payung. “Oke Nada siap-siap kehujanan ya. Udah kayak di film-film nih hidup lo dramatis banget,” kata Nada yang berbicara sendiri. Dia tengah berdiri di sebuah taman kota yang jaraknya lumayan jauh dari tempat dia memarkirkan motornya. Sudah sejauh ini dia berjalan kaki tadi. Nada dapat merasakan ada setetes air mulai membasahi lengannya, dua tetes, tiga tetes, hingga banyak tetes terus turun tanpa henti. Semua tempat menjadi sibuk setiap hujan baru saja turun, ada yang sibuk mencari tempat berteduh, sibuk mengamankan benda yang dia bawa, sibuk membuka payung, sibuk bermain di bawah hujan alias anak-anak, dan yang dilakukan Nada sekarang adalah berdiam diri. Sangat menyedihkan, tampaknya gadis itu sedang mendalami peran menjadi orang paling menyedihkan se Jakarta. “Kenapa pasrah banget, sih? Basah semua kan jadinya.” Suara itu muncul beriringan dengan berhentinya air hujan turun, ah, ternyata bukan hujannya yang berhenti, tetapi ada sebuah payung yang membuat air hujan tidak lagi menyentuh tubuh Nada. Gadis itu mendongak melihat ada payung lalu berbalik dan mendapati Hyunjin dengan hoodie hitamnya di sana. “Lo ngikutin gue?!” Hyunjin mengangkat bahu, dengan wajah yang menurut Nada sangat menyebalkan itu dia berkata, “Nggak ngikutin sih, lagi pengen jalan–jalan aja,” ujarnya dengan senyum yang sangat menyebalkan. “Nggak waras,” ujar Nada yang benar-benar kesal di sana. “Nggak mau berteduh nih? Hujannya deras banget lho.” Hyunjin mengajak Nada mencari tempat berteduh. Nada menutup matanya, menarik napas dalam, merasakan apa yang sebenarnya dia rasakan, rasanya dia sangat benci dengan apa yang dilakukan Hyunjin apalagi cowok itu tampaknya mengikuti Nada sedari tadi, tetapi dia menjadi agak sedikit bingung lantaran dia dapat merasakan kelegaan setelah ada Hyunjin di dekatnya. Ya Tuhan, perasaan apa lagi ini?   “Na, ngayal jadi pemain filmnya nanti aja, kita berteduh dulu,” ujar Hyunjin yang langsung membuat Nada membuka mata. Nada agak malu, karena sepertinya dia tadi benar-benar mendalami peran dan mengkhayalkan dirinya seperti tokoh-tokoh di sebuah film. “Ayok,” ujar Hyunjin lagi yang tengan menggandeng tangan Nada, tanpa aba-aba dan tanpa persetujuan cowok itu menarik Nada dan mengajaknya berlari mencari sebuah tempat yang memiliki atap. Di saat begini, seharusnya Nada kesal, tetapi bisa-bisanya dia semakin mengkhayalkan menjadi pemeran wanita dalam sebuah film, berlari bersama cowok di tengah hujan. Mereka terus berlari, dengan payung yang masih setia dipegang oleh Hyunjin. Hingga akhirnya mereka menemukan tempat berteduh, sebuah tempat duduk di taman yang kebetulan terdapat sebuah atap di atasnya. Nada menatap air yang terus saja berjatuhan itu, jika beberapa orang sangat kesal saat hujan turun, Nada justru sebaliknya, mood buruk sekalipun langsung berubah baik jika dia mendengar suara hujan. Sebegitu sukanya Nada dengan hujan, makanya tadi dia terlihat tidak ingin menghindari hujan sebelum Hyunjin datang. “Padahal hujan itu seru, menenangkan, kenapa orang-orang selalu lari saat dia datang?” Pertanyaan itu begitu saja keluar dari mulut Nada. Hyunjin yang sibuk menutup payungnya itu langsung terlihat bersemangat melihat Nada yang mau memulai pembicaraan. Cowok itu terlihat sangat bersemangat. “Suka hujan?” Nada mengangguk singkat, “Lebih dari suka kayaknya.” “Yaudah aku mau jadi hujan aja,” ujar Hyunjin tiba-tiba. Nada langsung menatap aneh cowok di sampingnya itu. “Nggak waras.” Cowok itu tertawa singkat, “Serius,” katanya lagi mencoba meyakinkan cewek di sebelahnya. “Terserah lo deh, terserah.” Nada sudah tidak tahu harus menanggapi apa. “Jadi boleh nih, aku jadi hujan di hidup kamu?” Nada memutar bola matanya, “Eh, lo nggak geli ya ngomong pakai aku-kamu gitu? Gue geli dengernya lho.” “Kenapa?” “Ya geli aja, nggak cocok. Lo-gue aja lah, jangan aku-kamu, kesannya kita kayak dekat banget padahal kan enggak. Nggak enak dengernya.” “Iya enggak, tapi dalam proses menjadi dekat,” sahut Hyunjin dengan santainya. “Nggak waras ni orang,” ujar Nada yang sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Nada melihat anak-anak yang sangat terlihat bahagia di bawah hujan, mereka berlarian sambil tertawa satu sama lain dengan pakaiannya yang sudah basah kuyup. Nada lalu menatap Hyunjin dan berkata, “Mau hujan-hujanan nggak?” Hyunjin terlihat terkejut, “Hah?” “Kalau nggak mau, gue aja sendiri,” ucap Nada yang langsung maju ingin keluar dari lindungan atap di sana. Hyunjin tersenyum dan segera menyusul Nada yang sudah basah diguyur hujan. Dan gadis itu tampak sangat menikmati setiap tetes air yang mengenai tubuhnya dengan menutup matanya. “Kalau liat lo begitu gue rasanya semakin pengen jadi hujan,” kata Hyunjin yang membuat Nada membuka matanya. Nada terlihat girang, bukan karena Hyunjin yang ingin menjadi hujan, tetapi karena, “Lho, udah nggak aku-kamu lagi ya?” tanya Nada dengan nada mengejek. Hyunjin menghela napas, “Katanya lo nggak nyaman kalau gue manggil gitu?” Nada tertawa, melihat ekspresi Hyunjin yang benar-benar seperti orang putus asa. “Baguslah, sadar diri,” ujarnya yang membuat Hyunjin menatap Nada dengan heran. Hyunjin menatap Nada, gadis itu terlihat sangat bahagia karena air hujan. Sepertinya ini pertama kali melihat Nada terlihat begitu bahagia sejak mereka kenal. Biasanya, yang Hyunjin lihat adalah gadis itu hampir tidak pernah mengeluarkan ekspresi senangnya bahkan saat senyum sjaa jarang mencapai matanya. Namun kali ini, untuk pertama kalinya Hyunjin melihat senyum yang begitu teduh di sana. Tanpa sadar, mereka berlarian seperti anak kecil di sana, tertawa bersama di bawah hujan sambil bercanda. Nada akhirnya terdiam, dia menatap Hyunjin yang masih tertawa itu, Nada hanya tidak percaya, bisa-bisanya dia tadi tertawa sangat lepas dan bermain hujan bersama Hyunjin saat ini. Nggak, ini nggak bener. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN