BAB 18

1103 Kata
Karena kejadian kemarin, Nada benar-benar selalu menghindar jika berpapasan dengan Hyunjin. Dia benar-benar tidak ingin cowok itu ada dalam hidupnya. Memang, sejak awal seharusnya dia tidak pernah membiarkan Hyunjin  selalu muncul dalam hidupnya, namun apa boleh buat? Jika Hyunjin selalu muncul secara kebetulan. "Na, gue ke ruang BEM dulu, ya!" ujar Jaehyun yang memang sejak tadi bersamanya. Ya, cowok itu tentu saja kembalo menyibukkan diri yang amat dia sukai. "Oke." Setelah Jaehyun pergi, Nada tengah berdiri di depan kulkas minuman di kantin kampus, seperti biasa, Dia sering kali dibingungkan oleh dirinya sendiri ingin minum atau makan apa.  "Thai tea aja," ujar seseorang yang membuat Nada menoleh ke sumber suara. Dan Hyunjin di sana mengulurkan sebotol thai tea yang dia ambil dari kulkas. Bukannya mengambil minuman itu, Nada langsung membuang muka, lalu mengambil minuman bersoda di sana. Menganggap cowok itu tidak ada di sana sekarang. "Nggak capek ngehindar mulu?" tanya Hyunjin pada cewek yang bahkan enggan menatapnya itu. Tentu saja Nada hanya diam dan menutup kulkas, lalu beranjak dan segera membayar minumannya kemudian langsung meninggalkan Hyunjin dan tempat itu. Senyum hambar terukir pada bibir Hyunjin. Ini sudah genap satu minggu Nada hanya menghindar darinya dan benar-benar seolah tidak mengenal dirinya. Cewek yang gigih. Bukan Hyunjin jika gampang menyerah, tentu saja dia membuntuti Nada yang berjalan entah hendak ke mana. Dia hanya mengikuti terus kemana saja langkah kaki cewek itu berjalan. Cowok yang gigih juga. Nada keluar kampus dan menaiki motornya. Hyunjin berniat tetap ingin mengikuti Nada, namun sepertinya ada telepon masuk yang membuatnya membatalkan mengikuti cewek itu. Dia menuju di mana RX-King kesayangannya terparkir dan langsung menuju ke tempat orang yang menghubunginya tadi. Entah ini takdir atau bukan, yang jelas senyum Hyunjin merekah saat berhenti di suatu tempat. Dia melihat Nada sedang membacakan sebuah cerita kepada anak-anak di panti asuhan yang memang juga tempat tujuan Hyunjin sekarang. Hyunjin mendekati Nada dan benar saja cewek itu sangat terkejut dan langsung berpikir buruk tentang Hyunjin. Nada ditambah terkejut lagi ketika anak-anak yang sedang dia bacakan cerita itu tiba-tiba heboh ketika melihat Hyunjin. "Kak! Kak Nata! Yeyy Kak Nata datang!" "Asyik! Kak Nata nanti gambarin Ayu ya!" ujar seorang gadis kecil yang sangat bersemangat melihat Hyunjin. Ah, Hyunjin Adinata, rupanya anak-anak itu memanggil Hyunjin dengan nama belakangnya, Nata. "Kak Nata udah makan? Mama Ira tadi masak udang asam-manis lho, enak!" Mama Ira adalah pemilik panti asuhan yang langsung terjun sendiri mengurus anak-anak yang dia sayangi. "Iya, kesukaan Kak Nata, kan? Ayo, masuk!" Hyunjin tersenyum. "Nanti dulu dong, kalian kan masih mendengarkan sebuah dongeng dari Kakak yang cantik ini?" ujar Hyunjin menatap Nada yang terlihat sangat bingung itu. "Oh iya lupa! Ayo Kakak cantik lanjut dongengnya!" Nada merasa canggung namun dia tetap melanjutkan bercerita di depan anak-anak yang terlihat sangat bersemangat mendengarkan ceritanya itu. "Oleh karena itu, kita tidak boleh sombong seperti kelinci, ya!" Nada mengakhiri kisah Kelinci dan kura-kura. "Iya Kak!" teriak anak-anak itu dengan serentak. Anak-anak itu lalu kompak bubar dari sana, mereka berlarian dan kembali bermain di taman yang memang dibuat di panti asuhan ini. Nada terdiam, dirinya sangat bingung melihat Hyunjin di sini, apalagi anak-anak begitu akrab dengannya. Bahkan sekarang, cowok itu sedang bermain bola dengan anak-anak di sana. Ekspresinya benar-benar riang. "Nada, Nata, ayo masuk dulu, kita makan siang bareng." Seorang wanita yang bernama Mama Ira keluar dari panti dengan senyumnya yang merekah. "Yey makan!" teriak anak-anak yang terlihat bersemangat dan mereka hendak masuk ke bangunan panti dengan rapi, baris terlebih dahulu. "Eit, Jojo! Jangan keluar barisan!" teriak Hyunjin yang membuat semua anak di sana merapikan barisan, padahal yang dia tegur hanya Jojo. "Sekarang, sebelum masuk, harus apa?!" Hyunjin terlihat memimpin di paling depan. "Cuci tangan!" jawab anak-anak itu dengan semangat. Nada yang melihat hal tersebut, merasa ada sesuatu yang menyentuh hatinya. Bisa-bisanya seorang Hyunjin yang sudah dia hindari beberapa hari ini akibat kejadian yang membuat Nada tidak suka itu kini amat sangat berbeda dengan Hyunjin yang dilihatnya saat itu. Benar kata orang, kita tidak bisa langsung menilai seseorang hanya dari melihat satu kejadian yang kebetulan buruk bagi kita, apalagi kita hanya melihat dari sudut pandang kita dan tidak tahu apa sebabnya dia melakukan hal tersebut. Anak-anak itu masuk satu-persatu, disusul Hyunjin yang mengajak Nada. "Ayo, masuk," katanya singkat yang mau tidak mau Nada iyakan. Semua sudah duduk di meja makan dengan rapi. "Sebelum makan, kita ngapain dulu?" tanya Hyunjin lagi kepada anak-anak di sana. "Berdoa!" "Oke, Jojo pimpin doa!" perintah Hyunjin pada anak kelas tiga SD bernama Jojo. Setelah berdoa bersama, semua lalu makan dengan lahap. Nada tersenyum ringan melihat Hyunjin yang sedang menyuapi anak paling kecil di sana, kurang lebih usianya dua tahun. "Nata memang jadi relawan tetap di panti asuhan ini," ujar Mama Ira yang melihat Nada yang terus memandangi Hyunjin. "Hari ini, petugas panti lainnya lagi ada urusan, makanya saya panggil Nata kemari." Nada mengangguk di sana kini dia mengerti kenapa Hyunjin berada di sana. "Oh iya kalau berkenan, Nak Nada gimana kalau setiap minggu bacain dongeng di sini? Anak-anak pada suka soalnya," ujar Mama Ira yang kebetulan memang sengaja mengundang Nada hari itu karena beberapa kali melihat Nada ikut kegiatan-kegiatan amal yang mana dia sering membacakan dongeng maupun cerita menarik pada anak-anak. Tanpa pikir panjang, Nada langsung mengangguk dan mengiayakan ajakan Mama Ira. "Boleh," katanya sambil tersenyum. Pasalnya Nada sudah sering melakukan hal ini, mulai dari di rumah sakit menghibur anak-anak penderita kanker, panti asuhan, TK, hingga anak-anak di permukiman kumuh. "Terima kasih, Nak Nada. Nanti kalau misal kapan-kapan ada kesibukan dan nggak bisa ke sini, nggak usah dipaksa, sebisanya saja." "Siap, Bu. Hehe." "Panggil Mama Ira aja, biar sama kayak yang lain." Nada mengangguk dan tersenyum. Hari ini dirinya benar-benar dikejutkan lagi oleh Hyunjin. Sepertinya sangat banyak hal tersembunyi dari cowok itu yang mana sangat berbeda dari penampilannya. Ketika kemarin Nada menyebutnya sebagai cowok menyeramkan, kini dia menyebutnya cowok misterius, tidak bisa ditebak dan banyak teka-teki. Dan kini dirinya berujung duduk di sebuah kursi taman, dengan Hyunjin di sebelahnya. "Sadar nggak, kita selalu ketemu secara kebetulan," ujar Hyunjin yang menatap Nada. Nada tidak habis pikir itu yang dikatakan Hyunjin sekarang. "Beberapa hari lo ngehindar dari gue, lihat Tuhan mempertemukan kita lagi yang mana lo nggak bisa ngehindar," sambungnya dengan wajah yang benar-benar puas. "Jangan bilang takdir, gue benci sama kata takdir," sahut Nada yang sudah tahu jika Hyunjin akan mengatakan takdir. Hyunjin lalu menatap langit di sana. "Jangan ngehindar lagi, atau lo bakal makin penasaran sama gue." Nada yang sedari tadi tidak menatap Hyunjin kini langsung menatap, tertawa tipis lantaran tak habis pikir bisa-bisanya cowok itu begitu percaya diri di sana. Namun setelah dipikir-pikir, selama Nada selalu menghindari Hyunjin, pikirannya selalu dihantui rasa kecewa bercampur penasaran. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN