BAB 19

1038 Kata
"Na, Na. Na! Gila gila gila!" Sandra mendekati Nada yang duduk tenang dengan laptopnya di kelas. Napasnya masih tersengal lantaran berlari menuju ke sana. "Kenapa, sih? Tenang dulu, napas dulu," ujar Nada seraya menyerahkan botol minum miliknya. "Hyunjin berantem sama orang dari kampus sebelah! Ngomong-ngomong orang itu terkenal banget di kampus sebelah dan ketua geng motor gitu." Nada mengerutkan alisnya. "Hyunjin bener-bener babak belur, tapi orang banyak banget, gue mau bantuin mana berani!" "Dimana?" "Depan pohon beringin dekat fakultas psikologi. Katanya Hyunjin lagi anteng main gitar di sana tiba-tiba orang itu datang sama rombongannya dan langsung nonjok Hyunjin! Aduh .. gimana dong, kasian Hyunjin ... kita harus apa ini, Na!" Nada terdiam, lalu tertawa hambar." Saa, gue bingung deh Hyunjin tuh orang baik apa bukan sih." Nada mengingat tentang kemarin yang mana dirinya bertemu Hyunjin di panti asuhan. "Semua orang baik, Na. Cuman lagi salah jalan aja pas nggak baik." "Hmmm." "Eh, tapi tadi katanya orang itu jadi nyerang Hyunjin karena dia rebut ceweknya katanya." "Lo kok tau sih?" "Gimana nggak tau, orang di sana tadi pada ngomongin itu!" "Sudahlah San, gue nggak peduli."  "Ih, tapi kan Hyunjin udah bantuin lo beberapa kali." "Terus?" "Terus sekarang lo harus bantuin dia!" "Gue harus ngapain?" "Lah iya ya, ngapain ya. Ah udahlah gue juga bingung. Kadang ngeliat Hyunjin ngeri juga deh, temen-temennya preman semua. Takut!" Nada menarik napas kemudian melanjutkan fokusnya pada laptop di hadapannya. Dia memang tidak terlalu memikirkan Hyunjin yang mana kejadian ini semakin membuatnya bingung, Hyunjin ini sebenarnya apa?Baik atau tidak? Manusia atau bukan? Hehe, bercanda. Sangat susah ditebak kenyataannya. "Ah, laper. Kantin yuk!" Sandra merengek pada Nada yang tengah fokus dengan laptopnya. Nada mengiyakan Sandra karena tidak tega sekaligus kesal melihat sahabatnya itu merengek kelaparan. Jika tadi Nada berkata tidam terlalu memikirkan Hyunjin. Kejadian ini justru membuatnya semakin kepikiran. Semakin bingung manusia jenis apa Hyunjin itu. "Nggak mau nengok, Na?" tanya Sandra saat perjalanan mereka menuju kantin. "Nengok apa?" "Hyunjin." "Ngapain?" katanya yang benar-benar heran Sandra yang menanyakan hal tersebut. Mereka berdua lalu memesan siomay di sana. "Gila, Jaehyun keren juga ya, berani bantuin Hyunjin." Nada yang hendak menyuap sesendok siomay ke dalam mulutnya terhenti saat dia mendengar orang mengatakan kalimat tersebut saat lewat di belakangnya. Sontak cewek itu berdiri seketika. "San! Denger nggak?" Sandra yang juga mendengar itu langsung ikut berdiri. "Iya denger!" Tanpa aba-aba mereka langsung berlari menuju pohon beringin di depan fakultas psikologi yang jaraknya lumaya jauh dari sana. "Neng! Belum bayar, aduh!" Mas-mas penjual siomay berteriak begitu menyadari Nada dan Sandra yang berlari itu. Namun, mereka tetap berlari tidak menghiraukan teriakan Mas-mas siomay yang terdengar pasrah. Dengan napasnya yang tersengal, Nada dan Sandra tiba di depan pohon beringin yang mana keadaan sudah sepi. "Aduh, capek banget lari." Sandra masih mengatur napasnya yang belum beraturan. "Udah habis nih?" Nada melihat sekeliling dan tidak ada tanda-tanda keberaad Jaehyun maupun Hyunjin di sana. "Ini acaranya udah habis, ya?" tanya Sandra kepada orang yang lewat sana. Orang tersebut terlihat bingung. "Hah? Acara apaan?" "Berantem tadi!" "Oh ... udah. Dibubarin security tadi. Jaehyun sama Hyunjin di ukk kayaknya." "Ukk apaan?" Kini Sandra yang terlihat bingung. "Unit Kesehatan Kampus, San! Ah elah begonya nggak usah diliatin napa." Nada berbisik pada sahabatnya itu. "Oh iya. Hehe. Makasih ya btw," ujar Sandra kepada orang tersebut yang melanjutkan langkahnya. "Aduh, San. Ukk di mana ya?" Kini Sandra yang menggelengkan kepala melihat Nada. "Lo mahasiswa sini bukan, sih?" Nada hanya mengangkat bahunya dan masih mengatur napasnya yang berantakan. "Tapi gue juga lupa, deh," ujar Sandra dengan tawanya yang cengengesan. Nada mendengus. "Sama aja." Baru saja mereka berdua berusaha menemukan jalan menuju UKK, Jaehyun lebih dulu menemukan mereka di sana. "Na, San, kok di sini?" tanyanya yang mendekati dua cewek yang mana adalah temannya sejak smp. Nada berbalik dan langsung mendapati Jaehyun yang sedang meringis merasakan sakit di bibirnya yang agak memar. "Lo kenapa sih, ikut-ikutan segala." Nada tampak marah di sana. "Aduh, sakit banget pasti," kata Sandra yang ikut meringis melihat Jaehyun. "Temen gue dihajar, masa gue harus diem doang?" Jaehyun mencoba membela diri. "So sweet." Sandra tersenyum sambil menatap langit di sana. "Tapi kalau lo kenapa-kenapa kan nggak lucu, Jae! Mending lo jangan dekat-dekat Hyunjin deh." Nada menyodorkan air minum pada Jaehyun. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memerhatikan dan mendengar semua percakapan itu. Orang itu lalu berbalik dan meninggalkan area dekat sana. Dia lalu tersenyum hambar tanpa bumbu sedikitpun. Wajahnya pun terlihat banyak memar dan lebam akibat pukulan seseorang. Dengan wajahnya yang seperti itu, Hyunjin terus berjalan sejauh mungkin hingga dirinya tidak bisa lagi melihat tiga orang yang dia dengar percakapannya barusan. Hyunjin lalu melajukan RX-Kingnya dan meninggalkan kampus. Dan tanpa rasa takut sedikitpun, dia menuju kampus sebelah tempat Reno, orang yang menghajarnya tadi berkuliah. *** Sandra dan Nada dikejutkan oleh kedatangan seorang cewek. Dia terlihat mendekati Jaehyun dan memasang wajah khawatir. "Jae, lo nggak papa?" katanya seraya menyentuh pipi kanan Jaehyun yang agak memar. "Nggak papa kok, Ndy ...," ujar Jaehyun lalu tersenyum pada cewek itu. Nada melihat interaksi mereka yang sangat dekat. Keduanya saling menunjukkan gerak-gerik yang membuat siapapun yang melihatnya pasti berpikir mereka lebih dari sekedar teman. "Ehem, siape nih?" tanya Sandra yang mulai merasa dirinya dan Nada tidak dianggap keberadaannya. "Findy." Cewek itu tersenyum pada Nada dan Sandra. Merasa keadaan semakin canggung, Nada berniat pergi dari sana. "Yaudah San, kita ada kelas kan habis ini?" "Emang ada?" Sandra mulai kebingungan dan masih belum memahami kode dari temannya itu. "Ada, lo lupa? Jae, kami pergi dulu ya. Bentar lagi ada kelas," ujar Nada dan beralih menatap Sandra. "Yuk, San." "I-iya yuk." Sandra mengangguk dan mengikuti saja langkah Nada walau dia masih belum ingat kelas apa yang dimaksud Nada. Mereka berdua berjalan meninggalkan Jaehyun dan berduaan dengan Findy. "Na, Jaehyun dekat sama Findy itu ya?" tanya Sandra yang benar-benar terkejut tadi melihat Findy yang begitu khawatir pada Jaehyun. Nada hanya menaikkan bahunya, tidak menjawab pertanyaan Sandra karena pada dasarnya dia juga tidak tahu yang sebenarnya. Sandra menghentikan Nada yang terus berjalan. "Lo nggak cemburu, Na?" Pertanyaan Sandra membuat Nada tertawa seketika. "Kok ketawa?" "Lagian lo nanya aneh-aneh, San. Ngapain gue cemburu?" Sandra masih menatap Nada dalam. "Gue tahu, Na. Lo pasti suka sama Jaehyun. Bukan sebagai sahabat, tapi sebagai laki-laki," katanya yang membuat tawa Nada berhenti. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN