BAB 26

1045 Kata
"Na gue mau curhat, deh." Jaehyun sedang naik ayunan yang memang terletak di belakang rumah Nada. Cowok itu sudah berada di sana sekitar satu jam lalu. Dan hari ini adalah hari minggu yang mana cowok itu tidak sibuk seperti hari kerja. "Biasanya juga langsung cerita." Nada sibuk memakan cemilan yang terbuat dari kentang buatan Bu Ning. "Menurut lo gue nembak Findy atau enggak, ya?" tanya Jaehyun yang membuat Nada tersedak makanan kentang. Nada benar-benar terkejut. Pantas saja kemarin dia sangat terlihat biasa saja saat melihat dirinya dengan Hyunjin, ternyata dia benar-benar sedang dekat dengan cewek bernama Findy. "Nih minum," kata Jaehyun yang menyodorkan air es di sana. "Kok nanya gue, sih?" Nada terlihat sedikit kesal. Jaehyun menghela napasnya. "Gatau, kalau lo bilang enggak usah gue bakal lakuin apa kata lo, sih. Kalau lo bilang iya, ya bakal gue lakuin." Nada terheran dan terbahak di sana. "Aneh banget sih, Jae! Yang punya hati kan lo, ngapain tanya gue! Dasar Kecoa Jerman!" "Dih elite banget gue jadi kecoa Jerman." "Tetap aja kecoa." Jaehyun kambali mengehela napas. "Jadi gimana nih, Na? Tembak atau enggak?" Nada memukul kepala sahabatnya itu. "Sekali lagi nanya gue, gue botakin rambut kece lo ini!" "Yes! Rambut gue kece berarti ya!" Nada mendengus. "Terserah lo deh." "Hai guys!" Tentu saja yang berteriak sangat ceria itu adalah Sandra. Yang seperti biasa dia selalu membawa banyak makanan. "Wah, Sandra manis bawa makanan nih! Apaan tuh, San?" Jaehyun mendekati Sandra dengan wajahnya yang tidak lepas dari tentengan yang dibawa cewek itu. "Dih, muji gue ada maunya doang." "Iyadong," jawab Jaehyun sangat jujur. "San gue mau curhat deh sama lo." Jaehyun kini menatap Sandra penuh harap. "Kenape nih kecoa Jepang?" Sandra terheran-heran melihat Jaehyun. Nada langsung terbahak di sana mengingat dia tadi menyebut Jaehyun dengan kecoa Jerman, dan bisa-bisanya sekarang Sandra menyebutnya kecoa Jepang padahal tidak janjian dan Sandra tadi belum datang. "Tau tuh, lagi galau," ketus Nada yang benar-benar masih kesal dengan Jaehyun bisa-bisanya meminta saran seperti itu pada dirinya. "San, menurut lo gue nambak Findy atau enggak?" Yang benar saja, Jaehyun benar-benar bertanya hal tersebut pada Sandra. Tentu saja bukan kebingungan lagi, Sandra benar-benar terkejut hingga tersedak makanan kentang yang dia ambil dari meja di sana. Nada terkekeh seperti melihat dirinya tadi, dejavu. Bukannya memberi jawaban, Sandra malah bertanya balik. "Lo beneran dekat sama Findy?!" Jaehyun terkekeh. "Enggak ah nggak, enggak suka gue. Kenapa nggak sama Nada aja lo?" Sandra benar-benar membuat Jaehyun dan Nada menjadi kikuk di sana. "Gila ya lo!" Nada menepuk pundak Sandra di sana. Jaehyun menggelengkan kepala di sana. "Iya, kayaknya sudah gila dia. Carikan obat Na cepet!" Nada berdiri, benar-benar hendak mencarikan obat Sandra. "Di mana ngambilnya, Jae?!" "Di pasar ikan gimana?" "Oh iya! Ah, males tapi gue!" "Yaudah besok aja, gue anter ya lo, kita carikan obat Sandra." "Oke." Sandra hanya menatap kedua sahabatnya itu bergantian. "Kalian yang benar-benar gila," katanya seraya menggelengkan kepala dengan ekspresi yang benar-benar tidak habis pikir. "Nggak Abang gue, nggak temen gue gila semua ya Tuhan!" *** "Guys, gue undang Findy ke sini boleh nggak?" Jaehyun tiba-tiba bertanya pada Nada dan Sandra yang sibuk memakan camilan. Kedua cewke itu saling berhadapan. "Gue sih terserah," kata Sandra singkat. "Gue sih nggak suka kalau ada orang lain saat kita quality time gini, tapi kalau dia gebetan lo nggak papa deh, siapa tahu dia bisa akrab sama kita, ya kan, San?" Sandra hanya mengangguk di sana. Benar-benar tidak peduli dengan Jaehyun yang ingin membawa siapa. "Tapi kalau sampai dia nggak bisa nyambung sama kita, jangan harap gue restuin lo ya!" ujar Sandra yang kini sangat terlihat menggebu, sangat beda dengan sikapnya beberapa detik lalu yang terlihat tidak peduli. "Oke," ujar Jaehyun yang lalu mengangguk. "Yaudah gue jemput dia," katanya yang seraya berdiri dan ingin keluar. "Uhuy akhirnya sang pangeran menjempput sang putri!" teriak Sandra dengan nada seperti dia membacakan cerita kepada anak-anak. "Lalu mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih yang bahagia!" sahut Nada dengan nada yang sama seperti Sandra. Jaehyun tidak menghiraukan kedua temannya itu dan terus berjalan ke luar rumah Nada dan mengambil motornya di sebelah. Kedua cewek itu lalu tertawa bersama di sana, hingga beberapa menit kemudian tawa tersebut lenyap. Sandra menghela napas. "Yakin Na, lo restuin Jaehyun sama Findy?' tanya Sandra takut-takut. Nada mengerutkan alisnya. "Kenapa?" tanyanya yang bingung dengan pertanyaan Sandra. "Lo nggak cemburu?" Nada tersenyum. "San, kayaknya gue cuma bisa mendam aja deh dan nggak akan pernah gue ungkapin selamanya ke Jaehyun sampai kapanpun pokoknya," katanya yang memasang wjaah benar-benar serius. "Rumit, San. Gue nggak mau kita jadi orang asing dan nggak sedekat ini lagi, lebih sakit lho," katanya lagi. Sandra mengangguk. Dia sangat tahu perasaan Nada, karena itulah yang dia rasakan ketika pernah menyukai Jaehyun dulu. "Terus lo mulai membuka hati ke Hyunjin? Ngaku nggak lo!" Nada terdiam. "Nggak tahu, San, gue bingung," jawab Nada yang membuat Sandra benar-benar senang.  "Na, itu tandanya lo sudah mada niat mau membuka hati buat dia!" teriak Sandra sangat heboh di sana. Walau hatinya berkata iri kepada Nada, namun cewek itu benar-benar merasa turut bahagia dengan apa yang dirasakan sahabatnya. Nada menggigit bagian bawah bibirnya. "Bingung, San." "Fix, lo mulai mau membuka hati! Yeay, astaga temen gue bentar lagi nggak jomblo lagi!" Nada menggaruk kepalanya. Bingung ingin berbicara apa lagi llantaran dirinya benar-benar merasa bingung sekarang. Sekarang, Nada yang mengalami, tetapi Sandra yang benar-benar senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. "Ya Allah kirimkan saya cowok juga ya Allah supaya kami bisa double date! Eh tripple date deh sama Jaehyun!" teriak Sandra dengan iringan tawanya yang menular. "Aamiinin nggak nih?" tanya Nada dengan wajah jahilnya. "AAMIIN!" Bukan Nada dan Sandra yang berkata barusan, namun Bu Ning yang baru saja mendekati mereka dengan dua mangkuk sup buah di tangannya. "Nih,makan sup buah! Seger! Dulu Bu Ning pernah jualan sup buah, dijamin enak deh ini!"  Tentu saja mata Sandra membulat melihat hal-hal berbau makanan apalagi sup buah itu terlihat sangat segar dan menggiurkan. "Pas banget Bu Ning, lagi panas-panas gini! Ah, makasih!" Nada menyambut sup buah itu. "Makasih Bu Ning, Ibu nggak makan juga? Ayok sini bareng-bareng sambil cerita-cerita." "Siapp! Yaudah Bu Ning ambil supp buah lagi dulu!" ujarnya seraya berbalik dan mengambil sup buah untuk dirinya dengan semangat. Nada memang tidak pernah memperlakukan Bu Ning dengan rendah di sana. Dia menganggap seperti keluarganya sendiri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN