BAB 21

1184 Kata
Sandra sudah pulang dari rumah Nada dan apa yang ada di pikirannya sekarang tentu saja adalah Hyunjin. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan Nada. Bukan, bukan tidak percaya dengan Nada, namun tidak percaya jika Hyunjin benar-benar orang yang seperti digambarkan Nada. Dia sangat yakin karena sepertinya ada kesalahpahaman di antara mereka.  Kini dia berjalan di kampus seorang diri menuju perpustakaan untuk mencari bahan tugas kuliahnya. Fokusnya teralihkan saat melihat Hyunjin yang juga berjalan seorang dari kejauhan, lantas Sandra langsung berlari menghampirinya. Bodo amat dengan rasa malunya yang penting rasa penasarannya terbayar. "Hynjin!" Hyunjin berbalik dan mendapati Sandra yang tengah terengah karena telah berlari. "Sandra?" "Iya gue Sandra." Mata Sandra terlihat berbinar saat mendengar Hyunjin memanggil namanya. Wajah Hyunjin mengingatkannya kepada member idol kpop yang sangat dia sukaai dan akhirnya dia membayangkan jika idol kpop tersebut yang memanggil namanya. "Kenapa, ada apa?" tanya Hyunjin lagi. Sandra menggelengkan kepalanya mencoba menyuruh dirinya untuk kembali sadar. "Kita cari tempat duduk yang nyaman dulu gimana? Ini serius banget," kata Sandra dengan ekspresi yang benar-benar serius. "Oke." Mereka berdua menuju taman kampus yang terdapat berbagai tempat duduk di sana. Sandra bahkan melupakan niat utamanya untuk ke kampus ini apa.  "Nada sudah cerita semuanya tentang lo akhir-akhir ini. Tapi gue ngerasa ada yang nggak beres." Sandra menatap Hyunjin dengan lekat, sangat mengharapkan apa yang di pikirannya sekarang benar-benar tidak nyata. "Kenapa?" tanya Hyunjin dengan wajahnya yang bahkan tidak bersemangat itu. Sandra menghela napas di sana. "Gue yakin kok, lo bukan orang seburuk itu," katanya dengan mata yang berbinar. "Yakin banget." Hyunjin tertawa tipis. "Gue nggak sebaik yang lo kira kok. Tapi gue pasti nggak seburuk yang Nada kira." Kata-kata Hyunjin benar-benar dalam. "Nahkan! Pasti ada yang nggak lengkap nih. Pasti." Sandra sangat terlihat yakin dan pikirannya sudah kemana-mana. "Apanya?" "Ceritanya," ujar Sandra. "Gue cuma denger dari versi Nada. Sekarang ceritain ceritanya dari versi lo." "Penting?" "Pentinglah! Demi meluruskan semua ini!" "Tapi Nada terlihat enggak peduli sama sekali." Hyunjin tertawa miris. "Ah, itu urusan belakangan. Pokoknya lo ceritain dulu." "Dari mana?" "Dari Nada pertama kali ngejauh dari lo." Hyunjin mengingat-ingat. Dirinya ingat ketika Nada marah saat dirinya habis berkelahi dengan beberapa preman. Namun niatnya mengurungkan diri untuk bercerita pada Sandra. "Nggak ada yang perlu gue jelasin San," ujar Hyunjin yang lalu berdiri di sana. "Ih! Kenapa? Gue yakin ini semua salah paham, Jin!" Hyunjin tersenyum di sana. "Nggak papa, biarin semesta aja yang ngasih tahu semua seiring berjalannya waktu." Kata-katanya membuat Sandra terdiam. "Gue cuma nggak mau terlalu membela diri padahal gue emang nyatanya nggak sebaik itu," ujar Hyunjin lalu melangkahkan kaki meninggalkan Sandra. "Gue ke sana dulu, salam sama Nada jangan terlalu mikirin gue nanti kangen." Sandra lalu menggaruk kepalanya yang bahkan tidak gatal itu dan mulai memikirkan kenapa dirinya berada di kampus saat ini. "Gue tadi mau ngapain, ya?" tanyanya berbicara sendiri di sana. "Oh iya! Perpus!" Sandra memekik dan juka ikut meninggalkan taman itu. Hyunjin benar, menjadi terlalu membela diri tidak akan baik apalagi jika dia juga melalukan kesalahan. Dan cowok itu benar-benar menjadi orang yang misterius sekarang. Susah ditebak. *** Dengan tatapan emosinya Hyunjin mendatangi teman-teman geng Kingnya. "Gimana keadaan Bang Johan?" tanyanya pada Tirta, orang yang duduk di sampingnya. "Kerusakan kepalanya lumayan parah, masih koma di ICU," jawab Tirta dengan napasnya yang pendek, terlihat sangat emosional jika membucarakan orang yang bernama Johan tersebut. Mata Hyunjin sangat menyiratkan amarah di sana. "Awas aja, kalau gue ketemu mereka lagi, kali ini nggak bakal gue kasih ampun," ujar Hyunjin dengan napasnya yang ikut pendek akibat emosi yang berlebihan. "Gue denger mereka nyerang lo ke kampus kemarin?" tanya Tirta setelah beberapa menit mereka berdua hanya saling diam. "APA?! Kenapa lo nggak bilang?!" Orang yang duduk awalnya duduk lesehan itu langsung bangkit. "b*****t!" teriaknya yang benar-benar kesal dengan geng pantura yang terus saja menyerang mereka. Hyunjin tertawa tipis. "Kali ini dia nuduh gue yang rebut pacarnya," katanya menjelaskan alasan kenapa dirinya diserang di kampus kemarin. "Pacar dia yang b*****t kita diserang. memang b**o banget tuh orang. Awas aja kalau gue ketemu habis tuh orang!" Budi yang baru bangkit dari lesehan tadi langsung menuju motornya. "Kemana lo?" tanya Hyunjin. "Jangan sekarang," ujarnya lagi karena sekarang bukan saat yang tepat untuk menyerang lawan. "Ke rumah sakit," katanya yang membuat semua orang di sana ikut berdiri dan menuju motornya masing-masing. Tentu saja ingin ikut ke rumah sakit untuk melihat perkembangan kondisi ketua mereka. Mereka bergantian untuk melihat orang yang adalah ketua mereka sedang terbaring tak berdaya di dalam ruangan walau hanya melihat dari luar karena mereka tidak diijinkan masuk. "Saat kondisinya beginipun, nggak ada keluarganya yang peduli." Hyunjin menatap Raka, yang sedang koma di dalam ruang ICU itu. "Tenang aja Ka, kami akan selalu ada untuk lo. Kita keluarga. Dan si b*****t itu, pasti habis di tangan kita." *** "Siap?" tanya Budi pada delapan temannya yang sama-sama menyiratkan tatapan kemarahan di sana. Semua tampak siap untuk pergi ke suatu tempat semalam ini. Sekarang waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Semua menangguk dan menaiki motornya masing-masing dan menuju ke sebuah tempat sunyi dengan markas di ujung sana. Malam ini, mereka bertekad menyelesaikan semuanya. Membalas kejahatan mereka terhadap Raka yang masih terbaring di ranjang ICU dengan beberapa alat yang menempel pada tubuhnya. Senjata tajam bahkan tidak mereka lupakan untuk dikantongi masing-masing. Suasana benar-benar menjadi tegang. Keadaan sangat ricuh saat anggota king datang dan disambut dengan anggota pantura yang mencium kedatangan mereka. Semuanya saling melemparkan tatapan amarah. "Mana bos kalian? Jangan beraninya di belakang doang!" Budi berteriak begitu dia turun dari motornya. Dari dalam keluarlah seseorang dengan tubuh kekarnya dan wajah kerasnya itu. Dia tertawa tipis melihat siapa yang datang ke markasnya malam-malam begini. "Berani sekali kalian datang ke sini," ujarnya dengan senyum yang amat meremehkan. "Lo tahu? Sekarang Raka koma gara-gara kelakuan busuk lo!" Budi mendekati orang itu dengan matanya yang memanas. Orang itu kembali tersenyum picik. "Kenapa nggak mati aja sekalian," ujarnya yang benar-benar membuat semua anggota king ingin segera lekas menghabisi orang itu. "Lo yang harus mati, b*****t!" Semua anggota pantura, mendekat dan ingin menyerang Budi lantaran cowok itu sudah hampir kehabisan kesabaran dan ingin menyerang bos mereka. "Cewek lo yang ini yang kurang ajar! Bukan Raka, g****k!" Budi menunjuk seorang wanita yang sedang berdiri dengan tegang  di pojok markas. Tangannya gemetar melihat apa yang terjadi di hadapannya. Orang yang bernama Gata itu langsung emosi dan mencekik Budi di sana. Langsung saja, Hyunjin dan teman-temannya yang lain langsung maju kemudian anggota pantura tidak mau kalau dan langsung terjadi kericuhan. Mereka saling baku hantam dengan bengisnya. Perempuan yang sangat gemetar di ujung sana mencoba membuka ponselnya. Dia terlihat menghubungi seseorang dengan suara takutnya. Semua orang babak belur namun belum ada yang menyerah di sini. Untungnya, anggota king yang membawa s*****a tajam itu tidak sampai mengeluarkannya lantaran ingat apa kata ketua mereka, "Apapun yang terjadi, jangan sampai kita jadi pembunuh. Apalagi sama dengan sampah seperti mereka." Suara sirine polisi membuat semuanya langsung menghentikan perkelahian seketika dan berusaha melarikan diri dari sana bagaimanapun caranya, namun terlambat, ternyata markas pantura sudha terkepung oleh beberapa polisi yang siap membawa mereka. Hyunjin langsung mengumpat di sana. Dia hanya khawatir, setelah ini pasti orangtuanya bakal dihubungi oleh petugas kepolisian. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN