Wanita Milik Alfiyan Antowijaya

1075 Kata
"Baru beberapa bulan lalu kamu mengejar saya, sekarang sudah bersama pria lain." Brayen melirik Iyan sekilas, pria itu juga memerhatikan mereka sedari tadi. Mendengar itu Nadin tertawa pelan, mengalungkan kedua tangan ke leher Brayen kemudian bergerak sesuai dengan irama musik. "Anda salah tanggap, dia Boss baru saya." Nadin tahu Brayen menyisipkan unsur menghina di kata-katanya tadi. "Sedikit aneh melihatmu mengontrol Boss." Brayen tentu saja melihat Iyan datang membawakan piring berisi makanan tadi. Pria ini memang tidak akan melepaskan Nadin dengan entengnya sebelum berhasil membuat wanita yang dulunya sedikit mengganggu ini tersinggung. Namun, kenyataannya Nadin hanya menarik sudut bibirnya tak peduli. Brayen memutar tubuh Nadin sebelum bertukar pasangan kembali Nadin menyempatkan diri menginjakkan hak heelsnya ke ujung sepatu Brayen. "Arghh s**t!" "Ups I'm sorry." Nadin mengatupkan telapak tangan di depan d**a lalu kembali berdansa dengan Iyan. "Ngomongin apa?" "Tidak ada yang penting." Nadin menarik Iyah menjauh dari lantai dansa. "Aku sedikit mengantuk, ayo pulang," ajaknya diangguki Iyan. "Pamitan dulu." Tangan kekarnya menggamit jemari Nadin, menarik perlahan mengikuti langkahnya. Usai berpamitan Iyan menggandeng Nadin keluar dari gedung. Iyan dapat menebak Nadin tidak terlalu nyaman di acara itu, sedikit menyesal karena memaksanya ikut. Mereka melangkah beriringan menuju mobil, tak saling bicara hanya hening yang menemani. "Tunggu di sini, aku keluarin mobilnya dulu," ucap Iyan memecah kesunyian. "Hmmm." Nadin mengangguk. "Awhhh!" Nadin meringis karena rambutnya dicengkram kuat, ia menoleh kaget, "Anda?" "Penggoda," desis wanita itu melepas jambakannya kasar agak mendorong kepala Nadin. Dia melipat tangan di depan d**a sembari menatap Nadin dari atas sampai bawah, "pantas saja Tuan Brayen tidak menyukai Anda, lihatlah." Wanita itu menunjuk Nadin dengan dagunya. Nadin yang merasa tidak ada konflik apa pun langsung angkat bicara, "Anda datang, tiba-tiba menjambak saya lalu mengatakan hal yang sama sekali tidak saya pahami, maksud Anda apa? Mencari masalah karena tadi saya bertukar pasangan dansa? Itu kecelakaan dan kebetulan saja, Anda jika merasa Tuan Brayen tidak menyukai saya kenapa Anda harus repot mencari saya sampai ke sini?" Nadin melangkah maju, "atau malah kebalikannya, Tuan Brayen menyukai saya karena itu Anda bertindak kasar seperti ini." Melipat tangan di depan d**a, angkat dagu pongah, itulah gaya terbaik menghadapi wanita semacam ini. "Wanita murah sepertimu tidak pantas!" 'Plak!' Tamparan mendarat mulus ke pipi wanita itu. Nadin mengangkat tangan sejajar dengan mulut kemudian meniupnya seolah baru saja menyentuh kuman berbahaya. "Beraninya!" "Anda menjambak saya, maka saya ada hak untuk menampar Anda." Nadin mencondongkan tubuh karena tinggi mereka tidak setara, "Anda menghina saja, maka saya akan membalas dengan tindakan yang lebih. Saya bukan orang baik, tidak akan menangis ketika diperlakukan buruk, Anda punya tangan? Saya juga punya." Nadin tertawa pelan, ia merapikan rambut yang berantakan karena jambakan kuat tadi. "Anda baru saja menyakiti wanita Brayen Damanson!" pekik wanita itu dengan nada tinggi. "Anda juga baru saja menyakiti dan meneriaki wanita milik Alfiyan Antowijaya." Nadin berbalik, mendapati Iyan sudah berdiri tegap tak jauh dari tempatnya berdiri. Pria itu terlihat serius, rahangnya mengeras serta tangan terkepal. Iyan melangkah maju dan berdiri tepat di depan Nadin. "Anda." Iyan menunjuk wajah wanita itu, "hanya sampah yang mengaku sebagai berlian." Pria tampan bermulut pedas, Iyan memang patut mendapatkan julukan itu. "Jaga ucapanmu anak kecil!" tekan wanita tersebut tak terima dikatai, "pada dasarnya wanita yang kamu anggap berlian itulah sampah yang sesungguhnya!" Sudut bibir Iyan tertarik naik, "hanya seonggok sampahlah yang mengakui bahwa dia adalah berlian." Iyan melirik Nadin, "sedangkan berlian yang sesungguhnya akan terus bersembunyi karena takut diambil harga dirinya." "b******n ini!" Ketika hendak melayangkan tamparan, Nadin cekatan menarik Iyan ke belakang tubuhnya lalu menahan tangan si wanita gila. "Saya tekankan sekali lagi, jika Anda berani mengganggu ketenangan saya, maka—" "Saya gak akan segan melapor ke polisi," potong Iyan tersenyum manis saat Nadin meliriknya kesal. "Kita hidup di negara yang menjunjung tinggi hukum kalau Anda tidak lupa, Bu." Di akhir kalimat Iyan menekan kata Bu diiringi senyum menawannya. Entah tak kuat atau apa, wanita itu berbalik masuk sambil menghentakkan kaki juga makian yang tak lepas dari bibir. Jika tak ingat sedang di mana dan bersama siapa, Nadin pasti melempar heels mahalnya ke muka wanita itu. "Kamu gak apa-apa, 'kan?" Iyan menarik bahu Nadin menghadapnya, memeriksa tangan juga membetulkan tatanan rambut Nadin yang berantakan, "wanita tadi pasangan dansa pria itu?" "Iya, hanya saja dia terlihat sedikit gila." Nadin mendengkus kesal, "padahal aku menata rambut hampir setengah jam, ck menyebalkan!" Iyan hanya bisa tertawa hambar karena terlambat datang karena mobilnya agak jauh. Nadin sudah dijambak tapi syukurnya Nadin membalas bukannya mengadu padanya. "Ayo!" pekik Nadin menyadarkan Iyan. "Tunggu." Iyan berlari ke mobilnya lalu masuk. "Masih lapar?" tanyanya ramah. "Masih, tapi nanti aku makan di rumah saja, lebih bervariasi lauknya." Nadin memasang seatbelt selang beberapa detik mobil melaju dengan kecepatan standar melintasi jalan raya yang tidak terlalu padat. Iyah mengantar Nadin sampai dengan selamat. Dia membukakan pintu dan terus tersenyum sepanjang jalan membuat Nadin keheranan. "Kurasa psikismu mulai kena, aku yang dijambak kamu yang gila." Nadin membetulkan tasnya. Menggaruk tengkuk meski tak gatal, Iyan hanya bisa menunjukkan cengiran khasnya. "Dan ya terima kasih karena sudah membantuku tadi." Nadin berdiri di depan Iyan yang bersandar pada mobil. "For what?" Alit tebalnya terangkat sebelah. Tangan Nadin terangkat mengelus rambut Iyan, "terima kasih karena sudah membelaku tadi, kurasa aku-kamu juga tidak masalah selagi tidak didengar orang kantor." Melihat senyum manis Nadin rasanya Iyan ingin melayang jauh, tak kuasa Iyan menahan senyum, belum pernah ada rasa menggebu dalam dadanya seperti sekarang ini. Iyan hampir gila karena ledakan meletup saat Nadin kembali mengusap rambutnya. "Aku mas—aduh, Iyan?!" Iyan menarik pergelangan tangan Nadin dan beginilah posisi mereka sekarang, saling peluk dengan perasaan aneh satu sama lain. Iyan meneguk salivanya susah payah, diam-diam memarahi diri karena tidak dapat dikontrol. Perlahan Iyan mengurai pelukannya, tak berani memandang wanita ini, Nadin terlihat kaget terbukti jelas dari ekspresi wajahnya. Tanpa berpamitan Iyan masuk ke mobil dan pergi. "Wow." Nadin membulatkan matanya, "dadanya bidang." Dasar wanita ini! Lihatlah! Sekarang Nadin sedang tertawa cekikina mengingat ekspresi salah tingkah Iyan, kembali terbayang hangatnya pelukan tadi walau hanya sebentar. "Hmmm, kurasa dia juga punya six pack." Baiklah Nadin mulai menggila sekarang. Nadin memeluk tubuhnya sendiri lalu masuk ke rumahnya. Senyum tak lepas dari bibir tipisnya. Nadin menggunakan kesempatan tadi untuk merasakan bentuk tubuh Iyan. Memang otak konslet wanita ini sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Hanya saja Nadin mengira rasanya saat ini hanya kekonyolannya saja tanpa memastikan lebih saat berpelukan tadi jantungnya berdebar lebih kencang dari yang biasanya. Kapan dua orang ini akan sadar ada benih cinta yang mulai tumbuh di hati masing-masing?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN