Wine, Nadin, dan Candu

1042 Kata
"Jadi ini pengusaha muda yang sering disebut media, wah Anda terlihat sangat tampan, Bung," puji seorang lelaki pada Iyan yang tampak tampan juga rapi dibalut kemeja putih dengan jas merah yang terlihat cukup mencolok. Aura tampan benar-benar memancar. Lihatlah di pojok sana banyak wanita yang tengah menatap kagum bahkan ada yang terang-terangan mengedipkan mata berniat menggoda. "Anda juga terlihat perfect malam ini," balas Iyan basa-basi. Teman bicara Iyan mengambil dua gelas wine kemudian menyodorkan segelas padanya. "Anda datang sendiri?" Nada suaranya terdengar mengejek, "tidak mungkin pria tampan kekurangan wanita cantik bukan?" Lelaki itu tertawa mencairkan suasana. Iyan memaksa diri untuk tertawa. Dia memutar pelan gelas di tangan, memainkan wine di dalam gelas yang tampak siap diteguk. "I'm not single." Sorot matanya menggelap. Pintu utama terbuka lebar, gerombolan wanita kaya berdatangan masuk mengisi ruang kosong dalam gedung. Pakaian yang mereka kenakan sangat berkelas dan mahal pun dengan perhiasan dan pernak-pernik lain. Sebagian dari mereka datang untuk mencari mangsa, sisanya mencari peluang bisnis siapa tahu dapat ikan besar. "What the f**k, she look so pretty." Decak kagum terlontar begitu saja ketika seorang wanita cantik melenggang masuk. Off shoulder dress warna maron yang melekat di tubuhnya terlihat sangat pas membuat lekuknya terlihat sempurna. Kaki jenjang memakai heels hitam serta rambut di-curly menambah kesan 'cantik'. Wanita cantik itu menatap sekitar lalu tatapannya berhenti saat objek yang ia cari terlihat. Hentakan heelsnya bak irama merdu di telinga Iyan, pria itu mengangkat gelasnya menunggu si wanita sampai. "Wine?" Iyan menyodorkan gelasnya. "Sure." Nadin tanpa ragu mengambil dan meneguk sampai tandas tanpa mengetahui bahwa gelas itu tadinya juga digunakan Iyan. Pria tampan itu melirik lelaki di sebelahnya sambil tersenyum samar. Iyan menyodorkan tangan dan langsung disambut hangat oleh Nadin, mereka berjalan bergandengan mengelilingi gedung sesekali menyapa beberapa kolega bisnis lama yang ingin berkenalan dengan pemimpin baru. Nadin tak keberatan menemani sampai kakinya encok, hanya saja sekarang dia benar-benar merasa lapar padahal acara baru saja dimulai. "Kenapa?" Iyan bertanya karena Nadin terus mencolek pahanya. "I'm hungry." "Simple sekali jawabanmu, baiklah tunggu di sini dan jangan ke mana-mana." Iyan menjawil hidung mancung Nadin lalu beranjak dari kursi mencari penanggung jawab konsumsi. Setelah Iyan pergi Nadin kembali fokus ke atas panggung. Hatinya sedikit tersentil melihat senyum menawan Iyan ditambah lagi pria itu tidak memakai kata 'tante' lagi. Syukurlah karena Iyan tahu kondisi yang tepat untuk bercanda dan serius. Darah pengusaha memang mengalir di tubuh Iyan. Pantas saja Anto banyak menaruh harapan walau presentase keberhasilan Iyan hanya dua puluh persen. Iyan masih teledor. Bodoh. Mudah ditipu. Terlebih lagi dia terlihat agakpolos di mata Nadin. Susah baginya untuk meninggalkan Iyan dalam keadaan seperti ini. Nadin mengangkat tangannya dan pelayan yang membawakan wine langsung datang memberinya segelas. "Bukankah itu Brayen?" Alis Nadin terangkat sebelah. Brayen, salah satu ikan besar yang sulit didapatkan. Untuk bekerja sama dengannya harus memakan banyak tenaga dan waktu karena selain rewel Brayen juga tahu tempat pas untuk melabuhkan saham. Teringat dulu susah payah Nadin berusaha mendapatkan kepercayaan Brayen sampai telat makan dan asam lambung kambuh. Namun, pada akhirnya Brayen tetap menolak kontrak kerja sama dengan alasan tidak masuk akal. Benar-benar sulit diterima nalar. "Wanita itu menatapmu sedari tadi, Tuan." Wanita di sebelah Brayen memberitahu. Brayen mengangkat pandang, terlihat Nadin tengah tersenyum santai sembari menganggukkan kepala dan mengangkat gelas winenya. "Biarkan saja, Tuan, mungkin dia sedang mengagumimu." Wanita itu menempel terus dengan Brayen walau tahu wajah tak suka selalu ditunjukkan untuk ya. Brayen menggedikkan bahunya tak peduli, kembali fokus pada HP yang terus bergetar. "Jika dia benar-benar mengagumi ketampananku, dia tidak perlu tersenyum sinis seperti itu," lirih Brayen. "Lama menunggu?" Suara Iyan mengalihkan tatapan Nadin dari Brayen. Matanya berbinar melihat sepiring makanan penuh dengan daging, nasi, dan sayuran. Iyan mengambil alih wine di tangan Nadin kemudian meneguknya hingga tandas lalu menyerahkan gelas s**u. "Dapat s**u dari mana?" "Sepertinya kamu yang baru pertama kali datang ke tempat seperti ini, bukan aku," sindir Iyan mampu membuat Nadin merotasi bola mata kesal. "Biasanya hanya ada wine." "Ada keponakannya di sini, masih kecil, pelayan menyediakan khusus untuk mereka." Nadin menghentikan kunyahan, "lalu?" "Aku memaksa mereka untuk memberimu segelas." Tangan Iyan terangkat menyingkirkan anak rambut dari wajah Nadin. "Karena aku sudah berusaha memberimu makanan sehat, jadi kamu harus habiskan ini," lanjutnya sembari menyentil dahi Nadin. Wajah Nadin jelas terlihat bingung dan kesal, dia menusuk daging kemudian menyuapnya. "Wine membuatku candu." "Tidak peduli yang penting s**u lebih sehat," sahut Iyan yang kini kembali terpaku pada acara. "Tahu apa anak kecil tentang wine dan sehat, cih," decih Nadin kesal, menumpu satu kaki dan melipat tangan, entah ke mana piringnya tadi tiba-tiba sudah lenyap saja. "Wajahmu seperti wine, membuatku candu." Nadin tertegun. "Berbicara denganku?" Iyan menoleh sambil tersenyum menawan, "menurutmu pada siapa?" 'Tatapannya membuatku merinding saja.' Mereka berdua kembali fokus pada acara sampai pemotongan pita selesai dan sesi dansa dibuka. "Mau ke mana?" "Berdansa bersama Brayen." Nadin menjawab santai. "No, don't go," cegah Iyan berdiri menghalangi jalan Nadin. "Ada apa denganmu pria kecil?" Iyan mencondongkan tubuhnya perlahan, "pria kecil ini juga bisa berdansa, kamu tidak ingin berdansa dengan pria kecil ini?" Senyum Iyan menyiratkan sesuatu yang tidak dapat dimengerti. Lagi. Nadin harus menggagalkan rencananya menggaet Brayen masuk ke dalam pesonanya agar pria itu dengan sukarela menandatangani kontrak. Hanya saja sekarang Iyan cukup merepotkan. Pria tampan itu menyodorkan tangannya disertai senyum manis di bibir. Iyan, pria satu ini mulai menunjukkan kelakuan anehnya membuat Nadin curiga ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Tidak mau membuat Iyan malu. Nadin segera menyambut uluran tangan kasar Iyan, mereka berdansa gerak lambat sesekali saling mendekat dan mendekap. Dua orang ini sangat menikmati suasana, melangkah mengikuti hentakan musik yang semakin lama semakin cepat. Nadin memutar tubuhnya dan tanpa sengaja bertukar pasangan dengan wanita yang tadi bersama Brayen. Sekarang malah Nadin yang berdansa dengan Brayen sedangkan wanita itu terpaksa bersama Iyan. "Kamu lagi." "Ah saya tahu Anda bosan melihat wajah saya." Bibirnya memaksakan senyum meski samar, Nadin melepas pegangan di bahu Brayen kemudian menjauhkan tubuhnya. "Jangan mengacaukan suasana yang sudah dibangun romantis," protes Brayen menahan satu tangan Nadin dan dengan sekali tarik wanita cantik ini kembali ke dalam pelukannya. Iyan yang melihat itu hanya sanggup menggertakkan giginya menunggu momen pas untuk kembali bertukar pasangan. Perasaan tidak rela ketika melihat orang yang sering bersamamu kini malah berdansa dengan orang lain. Apa ini sudah bisa dibilang rasa suka dibalut cemburu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN