Cuma Kamu Yang Berhak Menemaniku

1816 Kata
"Bawakan mobilnya cepat, saya menunggu di luar." 'Tut!' Iyan membuka jasnya kemudian memakaikan ke tubuh Nadin. Pria itu tampan kurang senang melihat banyak mata melirik minat, Iyan terang-terangan mengusap wajah Nadin yang tengah pingsan dengan gerakan lambat penuh penekanan seolah ia mengatakan dengan tersirat kalau Nadin adalah orangnya. Pria itu mendapat kabar dari salah satu staf yang kebetulan datang di klub ini, mengatakan Nadin hadir dengan Zizi. Iyan tak tahu apa alasannya mengapa ia dengan gilanya menyuruh supir putar balik menuju klub padahal sedikit lagi dia sampai ke rumah dan dapat beristirahat dengan tenang. "Kamu menyusahkan, Tan." Iyan mendumel, "tapi gue gak rela dia nyusahin cowok lain selain gue." Aneh memang. HP Iyan bergetar, telepon masuk dari supirnya. Iyan memiringkan tubuh, menelusupkan tangan di celah belakang leher dan lutut Nadin kemudian mengangkatnya. Nadin masih belum sadar, dia mengalungkan tangan ke leher Iyan mengeratkan pelukannya, entah naluri atau bagaimana Nadin merasa dirinya tengah berada di ketinggian. "Boss!" teriak Zizi, "Nadin?" Ada kerutan di dahi Zizi menandakan kebingungannya. "Dia mabuk," ucapnya dingin. "Aduh maaf Boss, Nadin-nya biar sama saya aja, biar diantar pulang sekalian, Boss tidak perlu repot." Zizi berniat menurunkan Nadin dari gendongan Iyan. Kaki Iyan refleks mundur dua langkah, matanya menyorot tajam. "Dia mabuk, biarkan dia pulang bersama saya." Kata penuh penekanan ini ... bagaimana cara Zizi bisa mengambil alih Nadin selain menyerah karena takut. "Ta—tapi Boss, saya yang mengajaknya ke sini saya juga yang harus memulangkannya. Kalau tidak bagaimana saya berbicara dengan Papa Nadin nantinya." Baiklah, usaha dulu Zizi meski kamu tahu ini tidak akan berhasil. "Tidak. Biar dia pulang bersama saya." Iyan tetap pada pendirian dan Zizi betul-betul menyerah sekarang. "Maaf merepotkan Anda, Boss." "Minggir." Tampaknya suasana hati Iyan mudah berubah-ubah. Dia melewati Zizi dengan gaya angkuh membuat wanita 26 tahun itu bersiap melempari Iyan dengan makian, hanya saja dia tidak berani. "Bisa-bisanya dia bawa Tante ke tempat kayak begini." Iyan melewati pintu keluar, langsung membawa Nadin ke dalam mobil karena suasana di luar sungguh sangat dingin. "Matikan AC," perintahnya. "Baik Pak." Iyan memandangi wajah Nadin, wanita ini tertidur pulas layaknya orang mati. Dilempar ke kandang macan pun tidak akan bangun. "Apa kamu tau di mana rumah Tante Nadin?" "Maksud Bapak Tantenya Bu Nadin?" Supir tidak paham. Giliran Iyan yang merutuki diri sendiri, 'b**o, ngapain juga manggil dia pake embel-embel Tante.' "Maksud saya, rumah Nadin," ralat Iyan membetulkan ucapannya tadi. "Ohhh itu." Iyan berbinar, "saya tidak tahu, Pak." "Shhh, sial." Iyan tadi sudah menaruh harapan. "Jadi bagaimana, Pak?" Supir masih belum tahu ke mana tujuannya sekarang. Ribet memang kalau harus dihadapkan dengan Iyan yang tidak jelas. "Ke hotel." "Hah?" "Mikir apa kamu?!" bentak Iyan kesal. "Ah tidak, Pak." Tanpa banyak bicara supir itu segera melajukan mobil ke hotel yang dimaksud. Iyan terus mengawasi Nadin takut-takut wanita ini bangun dan memberinya bogem mentah karena mengira dilecehkan. "Apa masih lama?" Iyan si cerewet comeback, "malam begini juga masih macet?" "Maaf Pak saya sudah mengganti jalur beberapa kali tetap saja banyak mobil lain, mungkin karena ini malam minggu." Ah si supir jadi ingat masa-masa jaman bahula, di mana dia dan pacarnya harus memberi kabar menggunakan HP N*kia. "Kalau gitu ganti jalur lagi saja, apa susahnya?" 'Matamu Paak Paak!' dumel supir dalam hati. Meski terpaksa dia tetap ganti jalur. Berharap kali ini tidak terjebak macet lagi. Sumpah, dia sudah mengantuk dan butuh kasur serta dekapan hangat istri-istrinya. Maksdunya istrinya, satu kali saja, kalau dua kesannya dia poligami. Supir bersyukur dalam hati karena jalan ini lancar jaya. Mobil parkir di pelataran hotel, Iyan membuka seatbelt kemudian menggendong Nadin bridal style tak memberi izin supir membantunya membawa Nadin. Iyan sampai di lobi, lekas memesan kamar ke resepsionis setelah itu membawa Nadin ke kamar yang telah disiapkan. Susah payah pria itu membuka pintu kamar, menghela napas lega saat sudah sampai di dalam. 'Braak!' Iyan menendang pintu sampai tertutup keras. "Kalau Tante bangun, gue bongkar pintu ini." Dia yang nendang dia yang marah. Orang kaya bebas. Bodo amat. Pintunya yang salah bukan Iyan. Iyan melempar tubuh Nadin ke kasur. "Night." *** Cahaya masuk dari celah-celah ventilasi, gorden sedikit terbuka membuat cahaya menyorot wajah Nadin. Wanita itu masih meringkuk di kasurnya, masih belum ada niatan untuk bangun. Pintu terbuka menampakkan sosok pria dengan tubuh jangkung berotot dibalut kemeja putih dan jas hitam dilengkapi dasi biru garis putih sebagai pemanis. Pria itu menyimpan tangan di saku celana, menatap Nadin tak berkedip. "Dia tidur apa mati?" Bisa ditebak siapa yang datang. Melangkah cepat menyibak gorden, membiarkan sang surya melakukan tugasnya menyinari dunia termasuk kamar temaram ini. "Emmmhhh." Berhasil. Setidaknya Nadin terjaga karenanya. Wanita itu menggeliat pelan, mengumpulkan sisa tenaga dan nyawanya yang tengah beterbangan entah ke mana. Merentangkan tangan kemudian mengucek mata, kegiatan alami yang biasa dilakukan orang pada saat bangun tidur. Menguap. "Masih belum berniat bangun?" Suara berat khas Iyan terdengar membuat Nadin membuka matanya cepat. "Jin mana lagi yang menyerupai suara dia." Refleks yang bagus sekali, Nadin. "Udah ditolongin malah dikatain Jin, emang ya ga tau terima kasih," sindir Iyan saat Nadin menoleh dan membelalakkan mata menatapnya, "apa?" "Kenapa?" "Apanya?" "KENAPA KAMU DI KAMARKU ANAK BODOH!" pekik Nadin membuat kuping pengang. Iyan mengusapi telinganya baru bercakap, "liat dulu ini kamar kamu apa bukan." Wanita itu mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan. Luas, ada TV dan AC, meja rias kosong, lemari putih dan sofa single. Nadin memijit keningnya yang berdenyut. "Di mana?" "Di kamar kamu Tante," ejek Iyan. Nadin menatap kesal, "jangan bermain lagi anak kecil, katakan ini di mana?" Iyan mendekat ke tepi ranjang, mencondongkan tubuh menyisakan jarak sekitar lima senti di antara mereka berdua. "Coba tebak." Matanya mengerling nakal. "Ehhh!" Iyan segera menghindari pukulan Nadin, dia nyengir, "hotel, Tan. Emangnya aku mau bawa Tante ke mana lagi hemmm?" "Hotel? Kamu? Kita?" Nadin bingung ketika Iyan menganggukkan kepala, "be—berdua di kamar ini?" "Tante jangan berpikir kotor, aku tidur di kamar sebelah," protes Iyan tak terima ditatap curiga. "Aishhh kenapa aku bisa di sini." Jemari lentiknya memijit pelipis, mengambil tas kecil yang tergeletak di samping bantal kemudian membaca pesan dari Zizi. [Boss datang] [Tiba-tiba gendong lo] [Bawa lo pergi] [Gue udah bilang gue aja yang bawa lo pulang] [Tapi Boss kekeh mau lo pulang sama dia] [Lo udah di rumah?] [Baik aja, kan?] [Lo mabuk berat tadi malam sampai pingsan] Sekarang Nadin ingat. Tadi malam dia mabuk dan pingsan di dalam dekapan seseorang. Siapa sangka itu Iyan, entah kebetulan atau apa Nadin juga tidak tahu yang ia pikirkan kenapa Iyan membawanya ke sini. "Zizi bila—" "Udah mau bawa tante pulang, tapi aku gak tau alamatnya." Iyan duduk di kasur usai memotong ucapan Nadin, "sarapan dulu, tadi aku udah pesan." Nadin mengangguk, "checkout agak sorean aja." "Iya bawel." Iyan terkekeh. "Ekhem." Iyan menggeser duduknya, "gak mau bilang terima kasih gitu, Tan? Udah ditolongin." Bibir Nadin terkatup rapat padahal sudah siap melontarkan kata makian. Haha, jangan berharap Iyan akan menolong tanpa imbalan. "Makasih." "Kurang jelas." "Terima kasih Iyan." "Tante dehidrasi ya? Suaranya ilang." Iyan mendekatkan kupingnya. Menghela napas pelan guna menabahkan diri. Nadin mengangkat tangannya, menyentuh rambut Iyan disertai usapan kecil. Iyan tertegun. "Terima kasih." Sadar atau tidak bibir Nadin melengkung membentuk senyum lebar. Iyan mengangkat kepalanya perlahan, mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya ikut tersenyum meski samar. Ada kenyaman yang timbul dari usapan kecil Nadin, rasa aman dan tentram yang tidak Iyan dapatkan dari siapa pun selain Mamanya. *** Edward masih terus berusaha menghubungi Nadin tapi syukurnya Nadin bukanlah orang yang gampang luluh. Dia bahkan membuang bunga mawar cantik pemberian Edward ke tong sampah tanpa rasa iba. 'Jadilah jahat ketika baikmu dipermainkan.' Nadin menyukai kata-kata itu. "Acara apa?" "Ga tau sih, katanya kayak peresmian gedung gitu, datang gak lo?" Zizi yang baru kembali dari pantry lekas duduk di sebelah Nadin. "Entahlah, liat aja nanti." Wanita cantik nan elegan itu menyeruput kopinya sambil menikmati suara-suara yang ditimbulkan dari mesin printer. Zizi ikut menyeruput kopinya, "datang ajalah, udah lama lo gak ikut yang beginian, sekalian ngeliat siapa tau ada cowok tajir yang bisa digaet." Sudut bibir Nadin tertarik naik, "menarik." Zizi menatap penuh nyinyiran, "giliran cogan aja lo cepet." Mereka terkekeh bersama. "Tumben lo ngeprint di sini, printer atas rusak?" Memang Nadin jarang sekali mampir ke lantai bawah tempat Zizi bekerja, kadang sekilas lewat saja karena di lantai atas sudah lengkap. "Papa bilang gue punya kesempatan buat lanjutin bisnisnya di Jepang." "Uhuk yang bener ajah loh! Adeh panas." Zizi menjulurkan lidah kepanasan. Nadin terkekeh, "gue masih mikir, belum mutusin setuju." Kembali menyeruput kopi sampai tandas, "tapi di sini gue ngerasa ga etis aja, semenjak gue putus dan nyadar selama ini gue terlalu sering abai sama diri sendiri, gue pengen dilayani bukan melayani terus menerus." Zizi mengangguk paham, bagaimana juga dia mengerti apa yang Nadin maksud hanya saja sekarang bukan waktu yang tepat. "Saran gue jangan sekarang deh, Boss Iyan masih butuh bimbingan, masih sering teledor." Nadin mengangguki ucapan Zizi, "gue dukung lo kok kalau mau lanjut bisnis ke Jepang, lagian lo juga bukan orang susah, Bokap lo ga mungkin kerja sampai tutup usia, 'kan?" Kedua alis Nadin terangkat, bibirnya membentuk garis lurus. "Lo bener," ucapnya kaku. "Gue juga ga bisa biarin ular satu itu ambil alih semua aset rumah atas nama dia, gue takut abis dia dapet semua dia bakalan berbuat yang tidak-tidak, ga lucu demi deh. Gue pernah pergokin dia masukin obat ke kopi Bokap, gila gak?" Zizi mengusap bahu Nadin, "gue yakin ada waktu luang yang pas buat lo keluar dari situasi ini." "Gue harap juga waktunya cepat nyampe, capek gue." Nadin meletakkan cangkir kosong ke meja Zizi. Merapikan lembar F4 yang sudah diprint. "Gue ke atas dulu," pamitnya meninggalkan Zizi. Nadin kembali ke ruang kerjanya. Seperti biasa, Iyan tengah bermain game santai melupakan lagi kerjaan yang seharusnya. Nadin menutup pintu perlahan, dadanya sedikit sesak. 'Gimana caranya aku meninggalkan anak ini dengan prilaku begini?' Makin dipikirkan makin sakit kepalanya. Nadin memilih untuk kembali ke mejanya malas menegur Iyan, otaknya sedang kacau karena kata-kata Irfan tadi pagi. 'Papa harap kamu bisa melanjutkan bisnis yang mangkrak.' 'Bisnis mangkrak? Kenapa bisa mangkrak, gak ada yang handle?' 'Lebih tepatnya papa tidak percaya ada yang bisa meng-handle bisnis satu itu.' 'Memangnya di mana?' 'Jepang. Kalau kamu mau papa bisa urus semuanya.' "Tante?" "Ah iya?" Nadin kembali tersadar. "Ada undangan untuk acara peresmian nanti malam, Tante datang?" Nadin menatap layar ponsel, ternyata Iyan tidak bermain game, pria ini tengah membalas pesan dari kolega bisnis papanya, maklum sedang di luar kota jadi susah bertemu secara langsung. "Entahlah." Nadin mengangkat kedua bajunya tak peduli. "Kok entahlah?" Dahinya mengernyit, "jawab yang pasti, Tan." "Tergantung situasi, kalau sibuk tidak pergi." "Kalau Tante ga pergi aku juga ga pergi." Iyan melipat tangan. Nadin menghela napas, "jangan kekanak-kanakan Iyan." "Aku baru di dunia ini, masih gak tau seluk beluknya. Tante tega biarin aku sendiri mirip orang bodoh di acara itu?" Iyan masih keukeh. "Ajak yang lain aja." "Aku maunya kamu." Nadin terdiam. Aneh rasanya ketika Iyan tidak memakai embel-embel Tante ketika memanggilnya. "Cuma kamu yang berhak." Nadin menelan ludahnya. "Yang lain tidak boleh."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN