"Putus?"
'Plak!'
"Ma, sudah Ma kasihan Nadin Ma." Irfan menahan tangan istrinya, menatap sayu putri semata wayangnya. "Kamu ke kamar," titahnya langsung dituruti.
Nadin bergegas ke kamar, mengunci diri di ruangan mewah ini lagi seorang diri, mendengarkan suara amukan ibu tirinya yang tak senang kalau Nadin putus dengan Edward.
Mengapa demikian? Ibu Edward adalah teman glamour Dewi—ibu tiri Nadin—jika Nadin dan Edward putus otomatis Dewi akan kehilangan muka sebab dialah yang mengenalkan dan berencana menikahkan anak mereka.
"Edward sialan." Nadin menjatuhkan tubuh ke ranjang, menangis dalam diam menunggu sampai amarah Dewi reda.
Nadin ialah putri seorang pengusaha, hanya saja dia kurang percaya diri membantu papanya mengelola kantor sampai terbesit rencana untuk bekerja menjadi sekretaris di perusahaan lain. Nadin harus banyak bersabar sebab Dewi selalu berbuat semaunya. Ingin menendang Dewi dari rumah ini sebenarnya bisa saja, tapi mengingat sang Papa sangat mencintai wanita bengis itu hati Nadin tak tega.
[Nadin km di mn? Aku di dpn rmh syg, ayo keluar]
Nadin memasang wajah flat menatap layar HP, menyebalkan memang pria b******n satu itu. Nadin beranjak menyibak tirai jendela benar saja ada Edward di bawah sana tengah menatap ke lantai dua tepatnya ke kamar Nadin.
"Bajingan." Nadin berdesis menyumpah dalam diam. Dia mengambil gerak cepat menutup tirai dan mengunci kamarnya dari dalam.
"Nadin keluar kamu Nak Edward sudah ada di depan!" titah Dewi mutlak, wanita itu menggedor pintu kamar anak tirinya kencang tapi Nadin seolah tuli dan tidak peduli.
"Keluar Nadin! Edward di depan sana menunggu kamu! Hargai dia!"
Nadin geram, dia berdiri membelakangi pintu, punggungnya tersandar santai membiarkan ibu tirinya menjerit bak orang kesetanan di depan sana.
"Kalo kasian Mama aja yang ke sana, jadian sama Edward, Nadin rasa dia juga masih doyan Tante-tante girang kok!"
"Biadab!"
Nadin terkikik mendengar sumpah serapah Dewi. Wanita itu menyerah, Nadin tak lagi mendengar suara dari luar. Segera menuju jendela melihat Edward masih berdiri di bawah sana. Tak lama terlihat Dewi datang menghampiri, entah apa yang mereka bincangkan yang jelas Dewi tampak menunjuk-nunjuk arah kamar Nadin.
"Dua manusia kurang obat kalau disatuin cocok juga ternyata," cibir Nadin. Dulu mungkin ia akan cemburu jika Edward berbincang dengan ibunya sebab ia merasa Dewi bisa kapan saja mengambil Edward. Sekarang malah dia sangat mendukung dua couple parasit itu.
Nadin tak ambil pusing. Dia berbaring di ranjang menatap langit-langit kamar. Nadin tersenyum pahit dalam hati meratapi nasibnya.
"Katanya, orang baik itu selalu gagal dalam dunia percintaan."
Setidaknya Nadin bisa menganggap dirinya baik. Itu sudah cukup menghibur.
***
[Tante tidak perlu ke kantor hari ini, diam di rumah saja]
[Orang galau kerjanya tidak becus]
[Ciee galau]
"Anak sialan ini." Nadin menatap nyalang HP di tangan. Gemas sendiri karena tingkah Iyan.
"Aku heran, bagaimana bisa Pak Anto memiliki anak minim otak begini." Wanita itu memandang HP-nya seolah itu adalah Iyan.
Kini tatapan Nadin beralih ke cermin. Wajah kusam, mata sembab, bibir kering dan rambut acak-acakan. Wanita itu tertawa kecil.
"Sejak kapan seorang Nadin galau ketika putus cinta." Kepalanya menggeleng lucu.
Nadin beranjak dari kasur. Men-charge kembali laptop yang ia gunakan semalaman untuk menonton drakor dan sialnya ending drakor malah sad, Nadin nangis kejer.
Selesai mandi dan berbenah kamar. Nadin keluar kamar menuju dapur. Jam segini kedua orangtuanya tengah bekerja, jarang ada di rumah dalam satu waktu kecuali malam hari itu pun jika masing-masing tidak merasa lelah.
Nadin mengambil bahan makanan di kulkas dan mulai mengeksekusi semuanya, menyulap bahan mentah menjadi makanan lezat mengundang lapar, Nadin segera melahap makanannya sesekali memuji diri sendiri.
Baru saja bernapas lega, dering telepon mengganggunya. Nadin mendengkus kesal melihat nama yang tertera di layar ponsel.
'Boss Setan'
"Apa?"
'Tante, saya butuh bantuan. Saya tau Tante itu orangnya baik dan manis.' Nada suara dilembut-lembutkan ala Iyan sukses membuat makanan yang baru dicerna siap keluar.
Memutar bola matanya sebal, Nadin menjawab, "bukannya tadi Bapak menyuruh saya istirahat saja?"
'Tadi dan sekarang beda waktu.'
"Setan."
'Saya denger.'
"Ya kan Bapak Iyan yang terhormat gak budeg."
'Jangan ngajak berantem, buruan datang.'
'Tut!'
Sambungan terputus
"Anak sialan ga tau sopan santun!" maki Nadin tak kuasa menahan amarah, "bener-bener arghhh!" Wanita itu melampiaskan amarahnya dengan meninju udara dengan tenaga penuh. Andai Iyan di depan, mungkin pria itu harus dilarikan ke rumah sakit secepatnya karena tinjuan Nadin.
[Telat semenit saja]
[Potong gaji]
"Argghh bajiangan laknat!" Nadin buru-buru berlari ke kamarnya. Membenahi barang yang perlu di bawa, memakai foundation tipis, blush on serta lipstik merah.
Memerhatikan penampilan dari atas sampai bawah, Nadin tak mau terlihat norak atau katrok kesannya putus cinta membuatnya kacau.
"Awas saja biang keladi itu, kalau tidak penting kupatahkan lehernya." Nadin mendumal kesal, meraih heels yang senada dengan dress di bawah lututnya yang dipadu dengan blazer hitam.
Dengan cekatan Nadin mengendarai mobil keluar dari bagasi rumah menuju jalan raya. Kalau tak ingat janjinya pada Anto, Nadin ogah bekerja sama dengan Iyan.
Jalanan macet parah karena berpapasan dengan waktu makan siang.
"Sekarang aku menyesal bangun kesiangan." Nadin bermonolog bak orang gila di mobil sendirian.
Dia mencari celah yang tepat untuk menyalip mobil lain. Dalam hati meminta maaf karena ia tahu semua orang terburu-buru tapi Nadin juga tak bisa mengabaikan nasib gajinya. Garis bawahi, Iyan adalah orang yang selalu serius ketika membahas tentang pekerjaan.
"Kalau dia kusumpahin jadi batu kira-kira terkabul tidak, ya?" tanya Nadin pada diri sendiri. Bagaimana tidak Iyan terus spam chat WA bahkan berulang kali menelepon. Nadin jadi gagal fokus dibuatnya.
Akhirnya mobil parkir di depan kantor. Nadin segera keluar dan melemparkan kunci pada satpam yang berjaga. Tak banyak bicara dia langsung berlari menuju lift.
[2 menit lagi]
"b******n. Ah sudah berapa kali aku mengumpat?" Nadin frustrasi karenanya. Mengacak rambut yang sudah ditata rapi. Wanita itu bersandar ke dinding lift menunggu hingga lift sampai ke lantai di mana ruangan Iyan berada.
Sesampainya di ruangan Iyan. Nadin tanpa permisi membuka pintu setengah membanting sih lebih tepatnya. Iyan berdiri dengan raut polos di depan mesin kopi yang memang tersedia di pojok ruangan. Pria bodoh sialan itu memiringkan kepala dengan senyum menawan.
"Apa yang penting?" Nadin menghampiri Iyan.
Tanpa dosanya Iyan menunjuk mesin kopi, "bagaimana cara menggunakan mesin ini?" Iyan kembali menatap mesin, mengetuk bagian atas berharap ada yang keluar.
Jemari lentiknya bergerak memijat pelipis yang berkeringat, wanita itu terlihat stress berat karena Iyan. Nadin mengembuskan napas berat kemudian memegang pundak Iyan.
"Sampai tikus dan kucing tidak saling menerapkan hukum rantai makanan juga kopinya tidak akan keluar kalau Bapak cuma melihatnya saja! Bapak pikir mata Bapak bisa menghidupkan yang mati, hah? Colok dulu ke listrik, nyalain, gitu!" jelas Nadin penuh penekanan serta ungkapan depresinya, sesekali meremas bahu Iyan sampai pria itu meringis sakit.
Nadin mendorong Iyan menjauh, mencolokkan kepala kabel ke stop kontak lalu menyeduh kopi nikmat untuk Iyan.
"Tan, jangan ditambahin sianida. Kita kan udah jadi friend, jadi tolong dong dendamnya dihilangkan dulu." Iyan dapat melihat raut garang Nadin, tangan sekretarisnya tampak terkepal kuat seolah kapan saja bisa menghancurkan rahangnya.
"Minum!" Nadin menyodorkan cangkir berisi kopi panas pada Iyan. "Jangan ditiup, langsung minum!" titahnya sukses membuat biji mata Iyan hampir keluar.
"Yang bener aja Tan?!"
"MINUM!"
"Iya."
Ujung-ujungnya Iyan kalah juga dengan pelototan mematikan Nadin. Dia ragu-ragu menyeruput kopi. Namun, baru saja menyeruput beberapa teguk Iyan sudah tidak tahan.
"Panas aduh!"
"Mati aja sekalian, hajatan tujuh komplek saya sumpah," sarkas Nadin lengkap dengan ekspresi judes andalannya. "Jangan dilanjutkan," larang Nadin mengambil alih gelas kopi. Melihat bibir Iyan agak memerah membuatnya tak tega, lagian siapa yang mau menyeruput kopi yang baru diseduh kecuali Iyan si pria bodoh.
Nadin menarik dasi Iyan menuju meja kerja.
"Tan tolong dong jangan main tarik menarik, saya bukan do—"
"Mulutmu ini enaknya disumpel pake apa? Besi panas?" Nadin kesal sendiri dibuatnya.
"Disumpel pake bibir coba, Tan." Iyan nyengir kuda mendapati pelototan mematikan Nadin.
"Bercanda." Pria itu mengangkat dua jarinya sok imut.
"Kekanak-kanakan," dumel Nadin sembari membuka lembaran kontrak kerja sama antara dua perusahaan ternama. Membaca dengan teliti sesekali mengernyit mendapati typo di beberapa tulisan.
Melihat Nadin berdiri, Iyan berinisiatif mengambilkan kursi pada akhirnya mereka duduk menghadap meja yang sama. Iyan fokus memerhatikan Nadin dan Nadin sibuk dengan pekerjaan. Sepertinya wanita ini tengah melampiaskan kekesalan hatinya dengan bekerja.
"Tan."
"Hmmm?"
"Boleh ngomongnya pake aku-kamu?" Nadin menoleh lengkap dengan tatapan tajam, buru-buru Iyan menjelaskan, "lagian kita cuma beda 3 tahun Tan bukan tiga abad, jangan terlalu formal bisa kan?"
Dahi Nadin berkedut, "tetap saja saya lebih tua."
Iyan berpikir keras, "biar akrab, Tan. Di depan orang gak papa deh saya-kamu tapi kalau di dalam ruangan aku-kamu aja ya. Sayang juga boleh." Iyan memberi cengiran tak berdosa sebagai respon dari tatapan mematikan Nadin.
"Dengar anak kecil." Nadin menunjuk Iyan menggunakan penanya. Iyan waspada, "jangan menggodaku, semua pria sama saja, minim otak."
"Siapa suruh Tante pacarin semuanya."
"Ngejawab?"
Iyan segera menunduk ngeri, "becanda Tan becanda, sensian amat."
Hening lagi.
"Tan beneran gak mau ngomong non formal nih?"
Nadin diam.
"Kalau lagi di dalam ruangan panggil nama aja, Tan. Iyan gitu, biar akrab." Iyan seperti sedang berbicara dengan angin.
"Kalau ga mau manggil Iyan, manggil Sayang aja Tan biar romantisan dikit."
"IYAN KALAU BOSAN HIDUP JANGAN GINI YA!"
Endingnya singa mengamuk.
***
"Jadi lo digodain sama Boss baru itu?" Mawar menunjuk Iyan dengan gerakan dagu.
"Mungkin hanya bercanda, jangan dibawa serius." Nadin menjelaskan, rada menyesal karena keceplosan berbicara tentang kelakuan Iyan pada Mawar si biang gosip.
"Bisa aja dia beneran suka sama lo, Din. Manfaatin duitnya." Mawar menggesek ujung ibu jari dan telunjuk khas cewek mata duitan.
"Aishhh jangan mulai ya."
Mawar cekikikan. Nadin kembali fokus menunggu kapan kira-kira meeting selesai karena perutnya sudah berdemo minta makan karena siang tadi dia hanya makan satu piring saja, entah kenapa jika sedang haid nafsu makan Nadin naik.
"Baiklah kita selesai sampai di sini dulu, jika ada yang kurang tolong lapor secepatnya." Iyan berlalu usai memberi kode agar Nadin mengikutinya.
Nadin bergegas mengintili dari belakang. Iyan berbicara tentang kontrak dan untung rugi sedangkan Nadin menyimak serius. Jika dilihat mereka memang pasangan yang serasi hanya saja kenyataan mengungkapkan bahwa mereka tak ubah Tom dan Jerry.
Sampai di dalam ruangan. Iyan kembali ke kursi kebesarannya sedangkan Nadin ke meja kerjanya. Awalnya peran Nadin sebagai asisten pribadi tetapi semenjak Iyan datang Nadin juga berubah profesi sebagai sekretaris khusus untuk Iyan. Jujur awalnya Nadin menolak tapi mau bagaimana juga ia segan mengatakan langsung pada Anto.
Iyan memutar kursinya, mata tak lepas menatap Nadin yang terlihat fokus dengan pekerjaannya. Melirik jam mahal yang melingkar di pergelangan tangan, Iyan paham Nadin sedang mempercepat waktu pulangnya.
Benar saja selang beberapa menit kerjaan Nadin selesai. Wanita yang mengenakan dress cantik itu mengatur ulang mejanya kemudian berlalu keluar dari ruangan Iyan tanpa pamit.
'Kira-kira mau ke mana dia?' batin Iyan penasaran.
Sebelum pergi Iyan sengaja memberantaki kembali mejanya, senang saja melihat Nadin mengamuk di pagi hari, itu cukup membangun moodnya.
Iyan memasang jasnya lengkap dengan ekspresi angkuh. Iyan mengikuti Nadin dari belakang, mengikuti sekretaris cantiknya itu hingga ke sebuah restoran sushi tak jauh dari kantor.
Pria dengan setelan rapi itu tersenyum kecil, "emang aneh si Tante, gue fikir mau ke mana. Eh, ngapain juga gue peduli?" Iyan mengernyit dahinya tak paham, heran sendiri dengan perasaan senang yang muncul dalam dadanya karena tahu Nadin buru-buru pergi karena lapar bukan disebabkan janji bersama pria.
"Kayaknya gue mulai senewen gara-gara kerjaan kantor." Iyan geleng-geleng heran dan melajukan mobilnya meninggalkan restoran. Dia hanya ingin tahu ke mana Nadin pergi, tak berniat mengganggu waktu bahagia Nadin karena ia tahu Nadin sedang dalam kondisi patah hati.
***
"Dugem?"
"Iyalah udah lama kan lo gak dugem, ayo dong sesekali doang kok." Rayuan maut Zizi sukses.
Di sinilah Nadin berada. Di tempat penuh cahaya gemerlap dan musik DJ seolah akan merusak gendang telinga. Banyak yang menari dan berdansa ria, ada yang terang-terangan berciuman membuat Nadin refleks mengalihkan tatapan.
"Ups, 18 plus."
Zizi terkikik mendengar lontaran jenaka Nadin.
"Jogetlah capek gue jadi batu di sini!" Zizi meninggalkan Nadin seorang diri.
"Jangan terlalu mabuk lo!" peringat Nadin diberi tanda OK dari Zizi.
Nadin menikmati segelas wine, menatap pantulan dirinya di gelas yang ia pegang. Nadin terlihat sangat dewasa karena tubuhnya dibaluti dress di atas lutut berwarna merah gelap plus bentuk tubuhnya yang mendukung. Banyak pasang mata melihat tetapi Nadin tak minat dihinggap.
Teriakan Zizi yang memintanya ikut berjoget tak bisa ditolak. Nadin meneguk sisa wine lalu ikut berjoget. Gila saja Nadin baru menghabiskan dua gelas wine tapi dia mulai mabuk. Tubunya sempoyongan tapi tetap bergerak sesuai musik yang ada.
Tiba-tiba tubunnya disenggol dan terjatuh tepat di dalam pelukan seorang pria. Nadin tak bisa mengenali siapa karena lampu disko berubah warna menjadi gelap. Hanya samar terlihat wajah tak asing sebelum akhirnya pingsan dalam dekapan pria tersebut.
"I got you, Tante."