Bangkai yang Tercium

1220 Kata
"Aduh sakit Tan." Iyan mengusap tangannya yang baru saja dipukul kencang. Wanita di depannya tampak menatap aneh, alis bertaut dan bibir terbuka siap mencerocos. "Gak sopan kamu main pegang aja," tegur Nadin. Mau bagaimanapun juga Iyan tetap seorang lelaki walau usianya lebih muda, takutnya ada rasa lain dalam dadanya. Nadin hanya mengantisipasi diri untuk tidak terjerumus, itu saja tidak lebih. "Ishhh Tante ga ada romantis-romantisnya." Iyan protes. Setelahnya menghela napas lega ketika dua orang di meja belakang beranjak dari kursinya. "Romantis?" Alis Nadin bertaut lagi. "Becanda Tan jangan dimasukin ke hati." Iyan menyuap steak-nya lagi, menutup mata berpura-pura menikmati kelezatan makanan yang ada. Nadin mendumal dalam diam. Menyuap makanannya lagi meski tak berselera. Nadin merasa sedikit resah entah karena apa. Wanita cantik itu mengambil HP di saku, mengetik beberapa pesan teks pada pacarnya lalu menyimpannya kembali. Nadin merasa seolah ada Edward tapi ketika ia berbalik kursi di belakang sudah kosong melompong. Salahkan Iyan yang menggagalkan rencananya, memang anak ini menyebalkan sekali. "Hmmm, wajah Tante merah, kayaknya mau ngamuk, ayo balik ke kantor, Tan, jam makan siang abis." Sebelum diamuk Iyan memilih mengakhiri sesi makan-makannya usai menghabiskan satu steak sedangkan Nadin tampak masih icip sana sini. "Sabar Pak sabar, mau makan dulu." Nadin menyuap lagi. Iyan menumpu wajahnya dengan kedua tangan, menatap Nadin yang makan dengan lahapnya dan tetap terlihat anggun dan elegan. Helai rambutnya melambai-lambai ditiup angin, pun dengan bibir yang terus bergerak mengikuti irama kunyahan. "Kamu makan kayak badak, Tan." "Uhuk! Anak sayton sialan!" Nadin mengamuk. *** Hari ini Nadin tampil dengan blazer dan celana dasar berwarna maron, ditambah high heels hitam dan rambut curly, make up tipis dilengkapi bibir seksi diberi lipstik ombre membuatnya terlihat segar. Nadin membuka pintu ruangan, hal pertama yang ia lihat ialah meja kerja Iyan yang berantakan. Dia menggeleng frustasi dengan keadaan. "Kenapa susah sekali menaruh semua kembali ke tempat semula, Iyan memang ughhh!" Nadin mengepalkan tangan gemes. Ujung-ujungnya dia juga yang merapikan meja kerja bossnya padahal sudah diingatkan untuk membereskan semua usai bekerja. Kalau diingatkan dan Iyan lupa, pria itu hanya berkata, 'saya Boss, tante Sekretaris. Sekretaris melayani Boss termasuk bersih-bersih meja kerja, sip?' "Untung anak itu tidak masuk hari ini, kalau iya sudah kudorong dia ke lantai dasar. Kalau mati pesta tiga hari tiga malam." Nadin masih mendumel tak jelas. 'Ting!' Satu pesan masuk menghentikan aktivitas Nadin. Wanita itu meraih HP-nya kemudian membaca pesan yang masuk. Alisnya bertaut sebab nomor tidak dikenal mengirimkan sebuah foto. "Damn." Buru-buru Nadin mengambil tas dan berlari menuju lift menuju lantai bawah. "Arghh sial!" Nadin menabrak beberapa karyawan yang ingin masuk ke lift. Wanita itu berlari cepat mencari taksi kosong. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang walau bibirnya sudah berulang memaki tanpa henti. Nadin menjambak rambutnya frustrasi. Sebuah sedan merah parkir di depannya. Nadin melihat pemiliknya yang tak lain adalah Iyan. Tanpa banyak bicara dia langsung masuk membuat Iyan kaget. "Tante jangan marah karena saya masuk kerja, harusnya Tante sena—" "Ke hotel Ayu, sekarang!" perintah Nadin serius. Iyan tak lagi bercanda. Dia langsung mencari alamat yang dimaksud di google maps kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tampaknya Nadin dalam kondisi tidak baik, Iyan jadi takut ingin menegurnya. Mobil belum sepenuhnya parkir tapi Nadin sudah membuka pintu membuat Iyan menggeram tertahan. Pria itu cepat membuka seatbelt menyusul Nadin yang sudah jauh di depannya. "Tante!" panggil Iyan. Nadin tak menoleh membuat Iyan geram sendiri. Akhirnya ia menyusul masuk ke hotel bintang lima itu. Dia terus berlari mengejar Nadin yang sudah sampai di depan lift. Tak paham dengan apa yang terjadi, Iyan mencegat Nadin yang hendak masuk ke lift. "Tante kenapa? Mau ke mana?" "Sttt, kamu anak kecil, diam." Nadin memerintah. Dia langsung masuk berniat meninggalkan Iyan tapi pria itu kekeh ingin ikut. Bisa Iyan simpulkan Nadin sedang emosi tingkat dewa. Wajah cantik itu berkeringat, matanya menatap tajam pun bibir terus bergerak mengucapakan sumpah serapah pelan. Lift berdenting. Nadin dengan gerakan cepatnya berlari menghindari pengunjung yang tengah berebut hendak masuk ke lift. Wanita itu mengeluarkan HP kemudian menghubungi nomor Edward. "Hallo, kamu di mana?" 'Aku kerja sayang, banyak yang harus kuatur lagi, ah iya, sketsa juga masih banyak yang belum rampung.' Entah kenapa jawaban Edward yang biasanya membuat Nadin bersemangat bekerja kini menjadi belati yang menggores hati. Nadin berhenti di depan kamar paling ujung, menundukkan kepalanya menahan air mata yang tiba-tiba ingin lolos dengan sendirinya. Iyan berdiri jauh dari tempat Nadin berdiri. Dia tak mau terlihat ikut campur urusan pribadi seseorang meski seseorang ini adalah sekretarisnya. Mungkin nanti Iyan di bagian support dan ejek saja. 'Sayang?' "Semangat kerjanya, ya. Aku dipanggil Boss, see u." Buru-buru Nadin memutus sambungan. Kini matanya menatap tajam ke arah pintu seolah ia bisa menghancurkan pintu dengan tatapan mematikannya. Nadin maju selangkah, dengan gerakan anggun mengetuk pintu sampai akhirnya kenop pintu diputar. "Sia ... pa?" Mata pria itu membulat melihat wanita anggun di depannya. "Lagi kerja? Sketsanya udah selesai buat berapa persen?" Nadin bertanya tanpa beban, bibirnya masih sempat melengkungkan senyum khas. Melihat tak ada reaksi apa-apa. Kepala Nadin miring, melihat wanita berpakaian seksi di dalam sana, tampilan acak-acakan bahkan Edward pun tampak kacau. Nadin terlihat santai saja tak ada raut kaget, malah dia tersenyum pada wanita itu. Nadin kembali berdiri tegak, Edward masih tak bisa berkata-kata dia hanya mampu menatap Nadin penuh arti. "Semangat kerjanya, Edward. Aku pamit dulu, byeee." Di luar ekspektasi. Nadin tidak melabrak wanita di dalam sana juga tidak marah pada Edward. Hanya saja hal itu yang membuat Edward tak dapat bergerak banyak. Ada rasa bersalah menelusup di hatinya hanya saja sudah terlambat untuk menyesal. Nadin melewati Iyan tanpa bicara. Pria itu menatap Edward dengan tatapan yang ah entahlah. Edward menatap Iyan yang menunjukkan senyum anehnya. "Saya sudah menyelamatkan Anda tempo hari, tapi tampaknya Anda memang tidak ditakdirkan bersama Nadin. Dia single sekarang dan saya akan mengambil langkah awal." Iyan menaruh telunjuk di ujung alis kemudian tersenyum ceria. Memang pada dasarnya kebohongan yang ditutupi serapat apa pun akan terbongkar juga. Toh Iyan sudah mencegah adegan lempar piring tempo hari, Edward malah ke-gep di hotel. Edward belum bereaksi apa-apa sampai Iyan berlalu dengan senyum misteri. Pria itu menggenggam tertahan kemudian masuk ke kamar. "KAU JALANG! KAU YANG MEMBERITAHU NADIN?" Wanita itu menatap sok polos, "sayang, aku hanya ingin dia tahu hubungan kita." "Sialan!" 'Plaaak!' *** "Tan?" Iyan mengusap bahu Nadin lembut, "saya gak ngerti masalahnya apa, tapi kalau Tante butuh sandaran, saya siap." Iyan menutup kaca mobil tak ingin ada yang melihatnya bersama Nadin, apalagi Nadin dalam kondisi tidak baik. "Kalau mau nangis ya nangis, gak usah sok kuat Tan." Iyan menegur karena Nadin masih diam tidak berekspresi. Nadin menundukkan kepalanya, menangis dalam diam. Iyan melihat HP di genggaman Nadin terus bergetar, tangannya gatal mengambil HP dan mengangkat telepon. "Halo?" 'Mana Nadin?' "Ada, sama saya." 'Tut!' Iyan mematikan telepon. Menyimpan HP ke dashboard mobil kemudian menarik pelan kedua bahu Nadin menghadapnya. Dengan gerakan perlahan juga lembut Iyan menarik Nadin ke dalam dekapan, walau dia agak gengsi tapi Nadin butuh tempat bersandar sekarang. "Nangis aja Tan ga papa." Iyan mengompori, tangis Nadin makin pecah, wanita itu mengelap ingusnya di jas Iyan tanpa dosa kemudian lanjut menangis histeris membuat Iyan ragu untuk menerjang Nadin keluar dari mobil. "Yan." "Apa?" "Tau tempat seblak yang paling pedes gak?" Iyan bungkam tak habis pikir. "Biar apa Tan makan pedes?" Nadanya terdengar marah. "Biar kayak cewek pada umumnya, putus cinta nyeblak." Nadin menjawab mantap. "MENCRET MAMPUS!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN