Pagi-pagi sekali Iyan sudah siap dengan setelan kerjanya, Nadin juga sudah stand by berdiri menghadap jendela menikmati suasana tenang di pagi hari.
Iyan menyibak tirai jendelanya lebih lebar lalu melangkah mundur, ia menatap Nadin yang berdiri membelakanginya, tampak sangat menikmati objek di depan mata.
Ide jahil tiba-tiba muncul di kepalanya. Iyan berdehem.
"Can you help me?"
Nadin langsung berbalik. Melangkah sigap ke arahnya.
"Ada apa?"
"Aku lupa cara memasang dasi." Pria itu menunjukkan cengiran khasnya.
Meskipun Nadin tahu ini hanyalah akal bulus semata, tetapi Nadin tetap mendekat dan berjinjit kecil agar tinggi mereka setara.
Iyan dengan segala pengertiannya lekas mencondongkan tubuh. Tanpa banyak bicara Nadin memasang dasi Iyan ringkas, tak mau berlama-lama dekat dengan Iyan, mana tadi malam sudah mengakui cinta, Nadin jadi canggung sendiri karena itu.
"Sudah." Nadin menepuk kedua bahu Iyan dan mundur. "Berangkat sekarang aja biar cepat pulang," usul Nadin diangguki Iyan.
"Baiklah ayo."
"Hei!"
Nadin terperanjat saat sebelah tangan kekar Iyan menarik pinggangnya, tubuhnya langsung bertubrukan dengan d**a bidang milik Boss tampan agak kurang ajarnya itu.
Mata Nadin membulat sempurna. Dia meronta tetapi Iyan seperti batu kokoh, sulit digeser meski sesenti.
"Iyan jangan macam-macam!" tegur Nadin tak suka, bagaimana jika pria ini kembali melakukan hal yang tidak-tidak?
Nadin menggeleng takut, menyingkirkan pikiran kotor yang terus menari dan menggoda otaknya.
"Hanya memeluk tidak lebih."
Kini kedua tangan Iyan mendekap erat Nadin. Menikmati tiap detik yang terlewat walau terkadang Nadin meronta tak nyaman.
Prinsip Iyan. Ambillah kesempatan sebanyak-banyaknya.
Ya, pria sialan satu ini memang ulung dalam menaklukkan wanita. Hanya saja Nadin agak sulit karena kali ini Iyan yang lebih dulu menaruh rasa.
"Iyan lepas!" Nadin memohon, "jika orang lain melihat, gosip gak enak bisa nyebar ke mana-mana, ingat kamu masih baru, mudah tersandung skandal." Nadin masih berusaha membujuk.
Akhirnya Iyan sedikit melonggarkan dekapannya. Tatapan keduanya bertemu, sebelum Nadin berhasil lolos Iyan sudah lebih dulu mengunci pergerakan Nadin ke tembok sebelah pintu.
"Skandal?" Nada bicaranya terdengar mengejek, "aku pria lajang kalau kamu lupa, jika aku sudah beristri baru boleh mereka ngebacot."
"Tapi tetap saja Iyan, hubungan Sekretaris dan Boss itu selalu dipandang miring. Aku tidak mau terkena masalah pun denganmu. Awas!"
"Sebentar doang kok, gak lama. Cuma mau peluk aja masa gak boleh."
"Gak boleh!"
"Kenapa?" tanya Iyan menantang.
"Jangan biarkan rasa gila dalam hati kamu menyebar, kita gak akan mungkin. Ingat batasanmu Iyan."
Iyan mengurung kedua sisi tubuh Nadin dengan tangan, netranya menatap lekat manik jernih Nadin, ketenangan kembali menyeruk.
"Aku cuma nyari kenyamanan dan kenyamanan itu ada di kamu." Tangan Iyan bergerak mengusap lembut wajah Nadin, "salah sendiri kenapa cantiknya gak manusiawi, wajar aku suka."
"Bacot!" Nadin menyela.
"Astaga Nadin, mulutmu." Iyan menepuk bibir Nadin pelan, "siapa yang ngajarin ngomong gitu?"
Nadin berdesis kecil, saat ingin melanjutkan perang HP-nya tiba-tiba berdering nyaring.
"Awhhh aduh!"
Menggunakan segala kekuatan akhirnya Iyan terdorong mundur. Nadin merapikan tatanan rambutnya barulah mengangkat telepon.
"Kenapa?"
'Bilangin ke Boss suruh cepat kelarin tugas di sana, kami agak kewalahan ngurus semuanya, lo berdua disuruh pergi buat kerja ya bukan buat kencan.'
"Kencan jendul lo!" Nadin melirik Iyan dibalas kedipan mata.
'Tapi di postingan IG Boss ....'
"Maksud lo posting apa?" Nadin tak paham, dia membuka aplikasi yang dimaksud dan mencari nama Iyan, benar saja ada fotonya sedang tersenyum menatap Iyan yang juga sedang menatapnya. Foto diambil secara candid tapi terlihat sangat natural.
"What the f**k!" Nadin menyumpah lekas memutus sambungan. Berjalan garang ke arah Iyan lalu menunjukkan layar ponsel ke depan mata pria itu.
"Hapus!" bentak Nadin.
"Why? Kita keliatan serasi kok ngapain dihapus." Iyan memajukan bibirnya disertai gelengan kepala tanda tidak setuju.
Tak habis pikir dengan kelakuan gila Iyan. Nadin mengusap wajahnya kasar, menghela napas berulang kali seraya menggeram kesal.
"Jangan main-main Iyan, ini bisa merusak reputasi kita berdua."
Iyan menyentil dahi Nadin, "terlalu banyak berpikir negatif juga ga baik Nadin."
Suara serak basah menyebut namanya. Nadin merinding tatkala Iyan menunjukkan senyum kemenangan. Sekarang semua orang tahunya mereka berpacaran, Nadin tak akan membiarkan ada gosip tentang mereka berdua.
Buru-buru Iyan merampas HP dari tangan Nadin lalu menyimpannya di balik jas kerja.
"Mau apa hah mau apa?" Iyan bertanya galak.
"Klarifikasi Iyan, balikin!" pinta Nadin.
Tentu saja Iyan tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Jangan ngarep, wleee!" Lidahnya menjulur kentara tengah mengejek. Nadin mengepalkan tangan kemudian memukul bahu Iyan kesal.
"Balikin!"
"No!"
"Iyan!"
"Apa!"
"Bawa sini HP-nya! Jangan sembarangan Iyan kariermu masih baru!"
"Gak peduli gak peduli!" Iyan menutup telinga tak acuh.
"Iyan!"
"Nadin!"
"Apa?!" Wanita itu semakin kesal.
"I love you!"
Nadin melebarkan matanya, "SIALAN!"
***
"Jangan ngambek terus nanti makin cantik." Bujukan Iyan walau tak dihiraukan sama sekali.
"Aku membencimu." Hanya itu yang keluar dari bibir Nadin tetapi kata itu tidak bisa membuat Iyan tersinggung, justru dia tertawa kencang entah bagian mana yang lucu.
"Jalani aja dulu, kalau gak cocok ya putus."
"Kita gak cocok. Ayo putus."
Rahang Iyan mengeras, "belum! Kita baru nyoba!"
Nadin agak terkejut mendengar bentakan itu. Sejurus kemudian mobil senyap keduanya tak sudi buka suara. Nadin dalam diam berdoa semoga semuanya berjalan sempurna agar dia dapat pulang secepatnya.
Berdua dengan Iyan seperti ini membuat pria itu besar kepala dan merasa dirinya bisa melakukan apa saja.
Iyan si pria sialan ini ketiak dia diam dan serius ....
Mengganggu ketenangan hati Nadin.
***
Semilir angin menerpa tubuh keduanya. Nadin menikmati tiap momen yang ia lewati ... tentunya bersama Iyan karena sejak mereka keluar dari tempat rapat sedetik pun pandangan Iyan tidak teralih.
"Malam ini kamu istirahat aja, besok pagi kamu boleh chek out pulang duluan ke Jakarta, aku harus ngurus beberapa lagi."
Nadin tertegun mendengarnya. Letupan bahagia pecah di dadanya tetapi jujur ada sedikit rasa tidak enak dalam hati. Nadin melenyapkan rasa aneh itu dan tanpa ragu mengangguk setuju.
"Lagi pula yang di Jakarta agak kewalahan."
"Hmmm." Akhirnya Iyan membuang muka setelah hampir dua jam menatap gerak gerik Nadin.
"Tapi ... kamu yakin bisa sendiri?" Nadin bertanya basa-basi.
"Tidak yakin." Iyan kembali memusatkan pandangan ke Nadin, "kalau kamu pengen tinggal sebentar lagi—"
"Aku pulang." Nadin mengangkat tangannya seraya tersenyum canggung.
"Hmmm." Entah berapa kali Iyan berdehem hari ini.
Nadin merasa kurang nyaman dengan situasi saat ini tetapi ia juga tidak mau memperpanjang urusan selagi Iyan bisa kenapa dia ikutan repot. Lagi pula Iyan harus belajar mandiri mulai sekarang agar Nadin tidak ragu melangkah lebih jauh.
"Pulang duluan sana," cetus Iyan memalingkan muka, "aku udah suruh supir jemput bentar lagi datang, langsung istirahat aja."
Pria itu berlalu begitu saja tanpa berpaling melihat Nadin meski sedetik. Mobil silver itu datang tepat di depan Nadin. Tanpa memedulikan raut wajah murung Iyan, Nadin masuk ke mobil dan dengan gembira menyuruh supir mengemudi pulang.
Saat mobil silver itu telah lenyap dari pandangan barulah Iyan keluar dari balik dinding toko, matanya menatap sayu dalam satu tarikan napas dia mendesah kesal.
"Kenapa dia anak orang kaya?! Kenapa dia pengen ke Jepang! Arghh!"
Siapa yang memberi tahu Iyan tentang rencana keberangkatan Nadin?