[Aku di depan]
Nadin menyimpan HP ke dalam tas kemudian mengambil map dan benda penting lainnya. Saat membuka pintu objek pertama yang ia lihat ialah sepatu hitam mengkilap, tatapannya bergulir naik ke atas, wajah tampan itu tetap terlihat segar meski ada guratan lelahlelah terpahat di kantung matanya.
"Ngapain bawa ini?" Iyan menunjuk benda di tangan Nadin, dahinya berkerut tak suka.
"Kenapa?"
"Kita mau makan malam bukan kerja malam." Iyan mengingatkan.
"Kalau tidak dikerjakan sekarang kapan selesainya Iyaaan?"
"Besok belum kiamat, masih banyak waktu kok. Udah taro lagi sana," suruhnya mendorong pelan bahu Nadin kembali masuk ke kamar.
"Positif thingking sekali kalau besok tidak akan kiamat," dumel Nadin sebal.
"Memangnya Tante mau besok kiamat?" Nadin menggeleng. "Kita aja belum nikah udah kiamat aja," desisnya pelan.
"Apa katamu?"
Iyan nyengir, "tidak."
***
"Kok sepi, cafenya tutup? Kalau tutup pulang aja, order gofood," tutur Nadin menahan lengan Iyan, pria itu hanya dapat menghela napas berat. Susah payah dia mengatur acara makan malam ini Nadin malah merengek minta pulang bak anak kecil yang takut diajak main ke rumah hantu.
"Aku sudah booking Tante, ayo masuk." Iyan menggenggam tangan Nadin di lengannya, menggandeng wanita anggun itu berjalan beriringan masuk ke cafe.
Baru saja kaki menapak masuk, lampu langsung redup digantikan dengan cahaya kemerlap lampu tumblr dan lilin aromaterapi berjejer dari pintu mengarah ke sebuah meja berisi penuh hidangan.
Mulut Nadin menganga melihat apa yang ada di depannya. Menatap Iyan meminta penjelasan tetapi pria itu tak merespon malah menariknya melewati deretan lilin wangi menuju meja persegi panjang. Disediakan dua kursi yang saling berhadapan dari ujung ke ujung.
Nadin semakin terpana tatkala aroma pedas dari masakan laut menari-nari. Perutnya refleks bernyanyi ria di dalam sana meminta tuannya lekas menyantap apa yang disediakan. Nadin harus mengelap air liurnya melihat banyaknya hidangan pedas di depan mata.
"Ini surga makanan."
Iyan tergelak pelan mendengar penuturan Nadin.
Merasa jarinya digenggam erat, Nadin menoleh. Pria jangkung itu juga tengah menatapnya penuh arti, mendekat secara alami, entah kapan tiba-tiba sebelah tangan kekar Iyan sudah melingkar di pinggang ramping Nadin. Tangan satunya menuntun jemari indah Nadin ke bahu.
"Cantik." Hanya itu yang mampu Iyan katakan setelahnya denting piano terdengar entah dari arah mana.
Masih dalam kebisuan, Iyan menarik Nadin semakin dekat, menggerakkan kakinya teratur. Mereka berdansa dengan indahnya, bergerak alami melangkah ke kanan dan kiri kompak.
"Kenapa tiba-tiba sekali." Nadin bergumam pelan.
"Aku cuman pengen memperbaiki hubungan kita, maaf soal kemarin," balas Iyan, ternyata ia mendengar gumaman Nadin.
"Anak kecil sepertimu selalu to the point, ya."
Iyan tidak tahu harus tersinggung atau bahagia saat ini.
"22 tahun apa masih masuk kategori anak kecil?" Akhirnya Iyan memilih untuk merajuk.
"Terus aja anggep anak kecil." Masih berlanjut.
Nadin terkikik pelan, tangannya di bahu berpindah tempat mengelus wajah tampan agak kasar Iyan.
"Aku tidak pernah melakukan hal kekanak-kanakan seperti ini."
Netra pekat Iyan menyelam ke mata jernih Nadin. Ada kasih sayang dan rasa aman di mata itu. Tanpa sadar Iyan makin mendekat membuat napas Nadin tercekat. Iyan menangkap jemari Nadin yang ingin menjauh, mengarahkan tangan hangat juga lembut itu ke pipinya.
"Aku tidak kekanak-kanakan, aku pria nakal yang sering kabur-kaburan dari matkul kampus."
Tanpa sadar Nadin tergelak, "anak nakal ini." Nadin menoel hidung bangir Iyan persis seperti seorang Ibu tengah menggoda anaknya.
"Makan yuk." Iyan mengalihkan pembicaraan, lekas menjauh dan duduk di kursinya tidak membiarkan Nadin melihat pipinya yang memerah.
Nadin mencuci tangannya terlebih dahulu barulah mulai mencicip hidangan di depan mata. Wanita itu benar-benar sudah kelaparan karena pagi tadi hanya sarapan nasi goreng saja, siangnya belum sempat makan apa-apa sudah tancap gas ke bandara.
"Enak gak?"
Kedua alis Nadin naik disertai senyum manis memabukkan. Iyan berterimakasih pada kakak sepupunya dalam hati, sekarang dia dapat melihat Nadin lebih jelas.
"Dari mana kamu tahu aku suka makanan pedas?" tanya Nadin seraya mengupas udang pedas lalu menyuapnya nikmat.
Iyan mengulum bibir sembari mengangkat bahu, "rahasia."
Iyan memindahkan kursi ke sebelah Nadin. Tak segan menatap lekat wajah cantik di depannya. Nadin sendiri tidak merasa terlalu risih. Dekat secara alami memang lebih menyenangkan daripada paksaan.
"Ah iya, sekalian saja membahas itu." Nadin mengingat kembali kerjaanya.
"Wanita ini." Iyan mendesis sebal, "bisa gak sehari aja gak usah mikirin kerjaan? Aku udah capek ngatur jadwal loh biar bisa makan berdua." Pria dengan stelan rapi itu membuang muka, merengut.
"Okeee tidak lagi." Nadin angkat tangan, payah membujuk Iyan kalau dalam mode ngambek. Lama ngambeknya melebihi anak kecil dilarang beli layangan.
"Menyebalkan," dumel pria itu tak suka.
"Iyan aku sudah bilang oke tidak lagi, jadi berhenti marah ya." Nadin mengupas udang dan mengolesinya dengan sambal, "madep sini coba, aaa."
Hatinya tiba-tiba menghangat, Iyan merasa dirinya seperti remaja labil usia lima belasan sedang jatuh cinta. Tanpa ragu membuka mulut menerima suapan Nadin, sembari mengunyah senyum tak lepas dari bibirnya.
"Tante."
"Hmmm?"
"I like you."
Udang di tangan Nadin terjatuh ke piring. Wanita itu membulatkan mata.
***
Menjadi pusat perhatian memang sudah biasa bagi seorang Alfiyan. Tidak hanya di kampus, di acara penting pun tetap ia yang menjadi tujuan pandang tiap mata.
Bak kutukan. Bedanya kali ini Iyan dikutuk menjadi pria tampan dengan bentuk tubuh kekar berotot. Baju yang ia kenakan pun seolah hanya pajangan saja, tubuh Iyan terlalu proposional karena sejak dini sang papa selalu melatih fisiknya.
Sangat serasi dengan Nadin yang cantik dan seksi bukan? Hanya sana wanita itu tidak tertarik padanya.
Usai menyatakan cinta tiba-tiba seseorang menelepon Iyan, mengatakan ada acara penting yang lupa dimasukkan ke schedule, tepat sekali acaranya malam ini. Maka dari itu usai makan Iyan langsung menyeret Nadin yang masih membisu ke tempat ini.
Si pemaksa Iyan akan selalu menang.
"Hai, boleh saya membawa wanita saya pergi?" Iyan menghampiri Nadin dan kolega bisnisnya yang tengah berbincang tak jauh darinya.
"Wanita Anda?" Alis pria paruh baya itu naik sebelah, menggoda Nadin dengan tatapannya.
Nadin mendorong d**a Iyan, menarik lengan Iyan lalu berujar, "dia hanya bercanda. Ayo ke sana, mari Pak, saya tinggal." Nadin menarik paksa Boss-nya menjauh dari pria itu.
"Kenapa Sayang, malu?"
"Iyan!" bentaknya kesal.
Iyan terkekeh, melepas tarikan Nadin kemudian menggenggam jemari lentiknya mesra, "kamu cuma diem pas aku bilang suka, berarti kamu juga suka aku."
Nadin menggeleng. "Tidak ada aturan seperti itu," elaknya dengan ekspresi tak suka.
"Kenapa kamu terus berbicara formal Nadin?" Iyan merengut, "anggap aku sebaya, bisa 'kan?"
"No." Nadin mengangkat telunjuk, "kamu hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Ayo menyapa mereka sebentar lalu pulang, kamu tidak bilang akan ada acara dadakan begini."
Iyan mengatupkan bibirnya rapat-rapat, wajahnya pias tapi lebih didominasi kekesalan. Bisa-bisanya orang tampan seperti dirinya ditolak mentah-mentah, padahal tadi Iyan girang sekali karena Nadin hanya diam menatapnya dalam.
“Saya tidak akan pernah jatuh cinta kepada pria yang lebih muda dari saya, tidak selevel dan pikirannya sangat kekanak-kanakan.”
Suara Nadin membuyarkan lamunan Iyan. Pria itu menatap lurus tepat ke arah Nadin, wanita itu tengah bercanda bersama wanita-wanita lainnya. Entah kenapa hati Iyan sedikit tertusuk mendengar penuturan Nadin.
"Apakah usia benar-benar penting dalam suatu hubungan?" lirihnya.
Tak lama seorang pria datang menyapa Nadin. Mata Iyan membulat ketika si pria dengan santai memeluk Nadin. Mana Nadin tidak menolak lagi, Iyan semakin gondok dibuatnya.
Melangkah lebar Iyan mendekat. Menarik Nadin ke sampingnya memperingati lewat tatapan kalau Nadin adalah miliknya. Milik Alfiyan Antowijaya.
"Saya rasa ini sudah terlalu larut. Kami akan berpamitan." Iyan melenggang sedikit memaksa Nadin untuk ikut.
Nadin masih sempat menoleh dan tersenyum canggung sebelum kepalanya dipaksa menghadap ke depan oleh Iyan.
Mereka berpamitan dan Iyan masih dengan sifat memaksanya membawa Nadin keluar dari gedung acara dan di sinilah mereka berada. Di taman penuh mawar dengan cahaya sedikit temaram.
Iyan masih menarik Nadin, hendak mengajak wanita cantik ini duduk di kursi putih yang disediakan.
"Iyan jangan keterlaluan."
Langkah pria itu terhenti, dia melepas gandengan kemudian berdiri di hadapan Nadin.
"Aku bilang aku suka kamu, tapi kamu malah asik dengan cowok lain, bikin emosi aja," jelasnya lengkap dengan hentakan kaki dan wajah gusar.
"Memangnya kamu siapa dan apa hakmu?" Nadin melipat tangan.
"Aku pacar sekaligus calon suami kalau kamu lupa."
Nadin menggeleng kesal, "kamu hanya mengungkapkan cinta bukan melamar."
"Jadi kamu pengen dilamar?" Baiklah mood Iyan sudah kembali, lihatlah wajah ceria juga jahil itu. Nadin tak sabar membuat wajah mulus Iyan memar karena tonjokan mautnya.
"Bukan begitu maksudku Iyaaan." Nadin memijit kepalanya frustrasi.
"Lalu?"
"Intinya begini. Aku tidak akan jatuh cinta pada pria sepertimu." Telunjuknya terarah ke wajah tampan Iyan, "ah iya, berapa pacarmu?"
Iyan menggaruk tengkuk, mengeluarkan sepuluh jari lalu menghitung membuat Nadin memutar bola matanya sebal.
"Pria playboy, enyah sana, husss."
"Hei tunggu dulu, aku bisa memutuskan mereka semua tenang saja. Aku hanya mencintaimu sekarang."
"Tapi aku tidak," balas Nadin menukik.
“Wait Tante Cantik, jangan tarik ucapanmu ketika kamu benar-benar jatuh cinta kepadaku nanti.”