"Perjalanan bisnis? Tiba-tiba sekali." Wanita itu, Nadin Anatasya mematikan sambungan telepon lalu meletakkan HP-nya di atas meja.
Padahal Nadin sudah menyiapkan banyak cara untuk menghukum kelakuan Iyan padanya tadi malam. Wanita itu memeriksa jadwal kerjaan Iyan, mengangguk paham karena di situ tertera tambahan berupa perjalanan bisnis keluar kota satu minggu lamanya. Bisnis yang berkembang di sana ternyata mendapat masalah karena ada yang curang.
Baru saja Nadin menjatuhkan p****t ke kursi, terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Siapa?"
"Gue, Zizi temen paling cantik lo."
Mendengar nama itu Nadin tak heran lagi, tanpa menyuruh masuk juga Zizi pasti akan masuk. Namun, kali ini dia datang membawa sebuah Map berwarna coklat. Nadin menerawang isi di dalamnya tapi dia bukan peramal.
"Apa itu?" Dagu Nadine bergerak ke depan, menunjuk map.
Zizi mengangkat benda itu tinggi-tinggi lalu melemparnya tanpa rasa bersalah ke meja Nadin.
"Gue lupa ngasih tau sesuatu, berkas ini harusnya dibawa Bos tadi pagi tapi malah ketinggalan." Zizi menunjukkan senyum polosnya, "gue udah ngasih tau bos kalau lu yang bakalan nganterin map ini ke Bandung."
Mata Nadin membelalak saking kagetnya, padahal dia sudah bersiap menonton drakor pulang nanti tetapi malah ada jadwal dadakan seperti ini. Nadin belum ada persiapan apapun selain baju selembar di badan dan kartu ATM.
"Lo kok nyuruh gue sihhh kan masih banyak staff sukarela siap disuruh ke sana." Adin mengacak rambutnya frustrasi, semalam dia dan Iyan tidak bertegur sama sekali dan pagi ini tiba-tiba dia dapat berita kalau Iyan sudah berangkat ke Bandung seorang diri tanpa memberitahunya.
"Hubungan lu sama Bos lagi gak baiik. Harusnya lu berterima kasih sama gue karena udah ngasih kesempatan buat baikan." Zizi bersungut sebal karena niat baiknya disalahartikan.
Nadin menghela nafas berat, "masalahnya ...."
"Masalahnya apa?" Zizi melipat tangan galak, "udah mending buruan siap-siap gue udah siapin tiket penerbangan jam 10. GPL awas lo kalau ga berangkat, potong gaji!" tekan Zizi menirukan gaya Iyan menekan karyawannya dengan ancaman potong gaji.
"Baju gue gimana?" Nadin masih mencari alasan untuk tetap di Jakarta.
"Boss kita kaya BTW, baju satu lemari dia beli buta lu juga gak bakalan ngurangin hartanya."
Nadin kalah telak.
Walau sedikit tidak ikhlas Nadin memberi kabar kepada Papanya kalau dia tidak pulang malam ini. Wanita itu lekas mengemas barang-barang yang mungkin akan diperlukan ketika di Bandung nanti, dalam hati menyalakan kecerobohan Iyan karena meninggalkan map penting untuk urusan bisnis begini.
"Cari taksi deh, gue nggak bawa mobil hari ini."
Zizi mengangguk dan keluar dari ruangan Iyan dengan senyum aneh terukir di bibirnya.
***
Tiba di bandara hampir jam 10, Nadin belum sempat makan apa-apa dia lekas masuk ke dalam pesawat dan mengambil tempat duduk siap lepas landas.
Sebelumnya Nadin sudah mengabari an kalau dia akan datang kemungkinan akan sampai sore menjelang. Ntahlah Nadin tidak dapat memperkirakan kapan.
***
"Dia datang?"
Iyan dapat mendengar suara tawa dari sambungan telepon.
'Iya, siang tadi udah berangkat. Kemungkinan sebentar lagi nyampe, lo udah kasih alamat hotelnya, 'kan?'
"Sudah."
'Oke. Selamat berjuang.'
"Hmmm."
'Nadin sangat suka makanan pedas, jika ingin merayunya coba ajak makan.'
"Iya berisik." Iyan mematikan sambungan, duduk termenung di kasurnya yang langsung berhadapan dengan cermin. Iyan memandang pantulannya di cermin. "Gue udah 22 tahun, bisa-bisanya dia nganggep gue adik," rutuk Iyan mengingat kemarin malam Nadin mengatakan kalau dia menganggap Iyan sebagai adik saja.
Mengambil HP yang tergeletak di samping, Iyan menghubungi seseorang.
"Tolong carikan cafe untuk saya nanti malam. Pastikan menunya pedas."
'Baik Pak.'
"Ah iya jangan lupa suruh supir jemput Nadin di bandara. Sudah sore kurasa dia sudah sampai dari tadi."
***
"Iyan sialan."
Nadin bersumpah akan membunuh Iyan jika bertemu nanti, bayangkan dia sudah menunggu setengah jam di bandara yang panas, ia seperti orang bodoh yang tidak tahu arah tujuan.
Bisa saja Nadin pergi dengan taksi tapi tadi Iyan sudah bilang kalau akan ada yang menjemputnya nanti. Sudah setengah jam, Nadin hampir saja menyerah ketika sebuah mobil sedan silver terparkir di sebelahnya.
"Mbak Nadin, ya?"
"Iya saya. Supirnya Iyan?" Nadin menunjuk si supir.
"Iya Mbak saya. Mari saya bantu." Si supir ingin keluar tetapi lebih dulu ditahan Nadin.
"Tidak usah repot saya hanya membawa koper kecil."
Isinya map dan benda-benda penting lainnya.
Tidak ada baju bahkan dalaman.
Arghh.
Nadin masuk ke dalam mobil, menutup matanya ketika dinginnya AC menyapu kulit. Memasang sabuk pengaman lalu menyandarkan kepala memperingatkan subur untuk membangunkannya ketika sampai di hotel. Nadin memang perlu beristirahat sekarang, badannya serasa remuk.
***
"Sudah sampai?"
'Sudah Pak tapi Mbak Nadin-nya malah tidur, saya ragu ingin membangunkannya Pak, Mbaknya keliatan capek sekali.'
"Tunggu saja saya di bawah dan jangan bangunkan dia, biarkan dia beristirahat." Lekas menyimpan HP ke saku, Iyan berlari kecil keluar dari kamar hotel ke lantai dasar. Mencari keberadaan supir dan mobilnya.
"Pak saya di sini!"
"Ini dia."
Bukannya menyapa supir Iyan malah langsung membuka pintu mobil, melepas seatbelt perlahan menggendong Nadin ala bridal style.
"Tolong bawakan kopernya." Tanpa menoleh Iyan berlalu meninggalkan supir yang tengah melongo melihat adegan uwu di depannya.
"Atuh berasa kayak siaran langsung Ujang Kasep gentle man uluuh, meni ceweknya geulis pisan." Supir itu senyum-senyum sendiri, mengeluarkan koper ringan milik Nadin lalu membawanya ke dalam.
Iyan memang sudah memesan kamar Nadin yang bersebelahan dengan kamarnya. Pria itu menendang pelan pintu yang tidak terkunci, masuk dan menaruh tubuh Nadin ke kasur perlahan takut mengusik tidur lelapnya.
Perlahan jemari kekarnya mengusap rambut Nadin, terpancar jelas aura kasih sayang lewat mata elang Iyan. Berkali-kali ia menghela nafas berat, kalau saja bukan karena rencana Zizi ingin mendekatkan keduanya, mungkin ia tidak akan membiarkan Nadin kelelahan seperti ini.
Padahal pria ini sudah berusaha menghindari sekretarisnya tetapi tetap saja mereka kembali bertemu. Ide gila Zizi yang ingin membantu Iyan mendapatkan hati Nadin membuat adegan sekarang terjadi.
Jujur awalnya Iyan menolak karena dia masih ragu akan perasaannya saat ini, tetapi ketika Kakak sepupunya menceritakan tentang Nadin dan betapa banyak pria yang mendekatinya membuat Iyan merasa sedikit kesal. Hal itulah yang membuat Zizi yakin dan percaya kalau Iyan menyukai Nadine hanya saja gengsinya terlalu tinggi.
'Lebih baik kejar sekarang atau nanti jadi tamu undangan.'
Helaan napas berat Nadin membuat Iyan melepaskan usapannya, ia bangkit dan berjalan keluar dari kamar perlahan menutup pintu takut Nadin terjaga.
"Gue ga bakalan jadi tamu undangan," desis Iyan pelan.
***
Nadin terbangun karena suara dari HP-nya Nadin meraba kasur dan menemukan tas kecil yang tergeletak di sampingnya.
'Baru bangun lo?!' tanya Zizi terdengar sedikit kesal.
"Kenapa?" Nadin masih mengumpulkan kesadarannya yang masih kocar-kacir.
'Ini udah jam berapa bego.'
Menyipitkan mata melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat beberapa menit. Nadin langsung duduk menatap sekitar, berusaha mengingat apa yang terjadi.
Tanpa sadar Nadin mematikan sambungan. Dia berdiri sempoyongan efek masih ngantuk, berjalan kecil ke jendela kemudian menyibaknya sedikit. Pemandangan di luar sangat indah, kemerlap lampu dari rumah-rumah dan jalan tampak indah dilihat dari atas sini.
"Ah iya aku di Bandung sekarang." Wanita itu menepuk dahinya, "dasar pelupa."
"Nadin."
Mendengar namanya dipanggil, Nadin lekas berbalik dan menemukan Iyan yang sedang duduk tenang di kursi tak jauh dari kasur Nadin. Pria itu hanya memakai kemeja putih dengan dua kancing atas terbuka dan celana hitam panjang membuatnya terlihat seksi dan tampan sekaligus.
"Bengong?" Iyan melambaikan tangan barulah Nadin sadar dan lekas mendekat.
"Sejak kapan kamu di sana?"
"Dari HP kamu bunyi trus lari ke jendela seperti orang yang akan terjun bebas ke bawah, aku sudah ada di sini." Iyan merengut, "apa aku tidak terlihat?"
Nadin menggigit bibir bawahnya, memilih duduk di kasur karena ia sendiri bingung harus bicara apa. Semalam mereka tidak saling bertegur sapa sekarang Nadin maupun Iyan kebingungan mencari topik obrolan.
"Aku udah suruh orang beli baju, ga tau ukuran kamu berapa tapi coba aja siapa tau muat." Iyan menunjuk paper bag di meja rias dengan kerlingan mata.
Nadin meringis, "terima kasih."
"Jangan canggung, suasana jadi tidak nyaman." Pria tampan itu menunduk dalam, "aku akan keluar."
Nadin mengantar kepergian Iyan menggunakan tatapannya. Wanita itu hanya dapat menghela napas berat, dia sendiri bingung ingin bicara apa karena sejak kejadian kemarin Nadin sedikit terganggu.
Lebih tepatnya hatinya yang terganggu.
Mengambil paper bag, lekas membersihkan diri sebab tubuhnya terasa sedikit lengket. Nadin bersenandung kecil di kamar mandi, saat mencuci wajah terbayang kembali ekspresi lucu Iyan tadi.
"Pria itu kenapa sering sekali bermain di mataku." Nadin bersungut tak kuasa menahan diri untuk tidak mendumal.
Selesai mandi tubuh terasa segar. Nadin mengernyit melihat dress di bawah lutut berlengan panjang yang dibelikan Iyan tadi. Ini lebih terlihat seperti gaun untuk kencan buta, alih-alih akan bekerja Nadin malah merasa seperti sedang bersiap bertemu pacar.
"Apa-apaan?!" Nadin menggeleng, "ingat Nadin jangan sampai kamu jatuh hati atau memiliki rasa tertarik meski sedikit, tidak boleh kalian tidak setara." Nadin menampar dirinya dengan kata-kata pedas.
Namun, ketika jangkar benar-benar sudah jatuh dan kapal cinta siap berlabuh. Apa Nadin tetap berkata 'tidak' untuk rasa di dadanya?