Aren menatap Nada dan sepenuhnya lupa pada mangkuk baksonya yang masih separuh penuh.
“Itu sih bukan indigo lagi, Nad, tapi plot novel fantasi!” dan ia nyaris berteriak.
“Memang betul. Apalagi setelah kamu lihat ini.”
Ponsel Aren berbunyi. Gadis itu mengeceknya dan menemukan ada pesan baru dari Nada, hanya memuat sebuah foto. Di situ nampak Nada berswafoto bersama Nathan dan Pak Yamto satpam sekolah.
“Cek jam dan menit waktu foto itu kuambil!”
Aren membuka foto itu dengan aplikasi Galeri, yang membuat ia bisa melihat perincian berkas termasuk waktu saat foto diambil.
“Ini kan tanggal hari ini,” desis Aren. “Jam 9 lewat 13 menit.”
“Persis. Dan hari ini tadi, pada jam 9 lewat 13, apa yang terjadi?”
Alis Aren berkernyit, mengingat-ingat. “Jam segitu tadi bukannya kita sama Radit dan Benu ke kantin ya?”
Nada mengangguk. “Dan tepat pada waktu yang sama, aku bareng Nathan dan Pak Yamto di kantor satpam.”
Aren mendelik. “KOK BISA!?”
Dan ia benar-benar berteriak, membuat pemilik dan pengunjung kedai bakso yang berlokasi tepat di seberang jalan SMA 29 itu menoleh heboh.
“Itu namanya Bilokasi—berada di lebih dari satu tempat pada saat yang bersamaan,” Nada menyahut dengan suara rendah. “Inget nggak tadi aku mampir bentar ke toilet pas kita jalan ke kantin? Itu pas aku ‘memisahkan’ diri. Aku yang satu balik lagi ke kantin bareng kalian, dan yang satunya lagi ngelencer menemui Nathan di kantor satpam.”
Aren melongo dengan wajah pucat. “I-itu trus masuk akalnya di mana...?”
“Memang nggak masuk akal. Dan jangan dilogika! Pasti nggak ketemu. Aku aja belum bisa ngejelasin semuanya sekarang ini. Dan kayaknya emang nggak akan bisa dijelasin. Sekali lagi, emang nggak masuk akal.”
“Tapi... lantas hubungannya apa urusan yang paling awal tadi?”
“Soal aku ke salon? Mungkin, ini baru mungkin, semua perubahanku terjadi gara-gara aku nemu satu-satu kekuatan indigo aneh-aneh ini, berawal sejak aku datang ke rumah Benu. Dan memang persis habis itu Benu kepo nanya-nanya apa aku baru saja perawatan ke salon.”
“Dan Nathan nabrak kamu tapi malah dia yang mencelat nabrak tempat sampah.”
“Ya. Tadi kan aku ke kantor Pak Yamto karena Nathan mau nunjukin rekaman kamera CCTV di dekat koperasi. Emang bener dia yang nabrak.”
“Trus, trus?”
“Ya mereka jelas bingung. Pak Yamto malah mengira aku ikut latihan pencak silat sampai level tenaga dalam. Apa tadi ya istilahnya? Oh, iya, kanuragan. Ilmu kanuragan.”
“Lantas ini semua sebenernya apa?” sekarang Aren ikut-ikutan bicara dengan suara pelan. “Itu kan kayak keajaiban-keajaiban para wali. Memangnya kamu mau jadi wali?”
“Iya, wali murid,” Nada menukas sekenanya. “Kayaknya sih cuman biar bisa nolong orang lain aja. Sama lah kayak para superhero Avengers atau Justice League. Makanya sekarang ini aku sedang berusaha nolong kamu pakai kekuatan superheroku itu.”
Aren berkerut kening. “Nolong aku? Emang aku kenapa?”
“Kamu kan terlalu gampang sakit. Padahal posturmu kelihatan sehat bugar gini.”
Mata Aren melebar. “Maksudmu, aku ada yang nyantet?”
“Belum bisa dipastikan, but who knows? Dan entah kenapa kekuatan indigoku mengarahkanku ke alamat itu, Alamanda 108, yang ternyata adalah rumah mantan pacar ayahmu. Kalau ada masalah masa lalu antara mereka, bisa saja kemudian urusannnya belok ke ilmu hitam, tapi yang kena ternyata malah kamu.”
“Serius!?”
“Baru dugaan. Penyelidikan belum selesai. Makanya habis ini aku harus ke rumahmu untuk lihat di sana ada apa.”
“Kayak pas nolong Benu tempo hari?”
“Iya,” Nada melihat sekilas ke ponselnya. “Pas Radit bawa mobil dan bisa antar. Bilang aja ntar kita ke rumahmu untuk mengumpulkan buku.”
“Oh, ya, ya, bagus. Betul juga. Kebetulan kemarin aku udah ngumpulin beberapa. Nathan nggak ikut diajak sekalian?”
“Nggak tahu. Udah sejak dari kantor satpam tadi nggak kontak-kontak sama dia. Eh, lha ini malah orangnya ujug-ujug nelpon!”
Memang tiba-tiba muncul wajah Nathan mendominasi layar ponsel Nada, dalam bentuk panggilan suara. Dengan cepat jempol Nada bergerak menggeser ikon telepon ke atas.
“Halo, Kak? Ada apa?”
“Kamu di mana, Nad?”
“Warung bakso Bu Titin, yang di seberang sekolahan itu, sama Aren. Kenapa emang?”
“Hasil penyelidikan udah keluar nih. Yuk, ketemuan! Aku akan cerita semua soal Om Gading ke kamu.”
“Kamu sendiri di mana ini?”
“The Village. Baru aja nyampai. Emh... kalau nggak keberatan, kamu ke sini aja. Tapi kalau repot ya kita ketemuan di mana saja bisa. Aku bisa langsung cabut habis ini.”
“Masalahnya, ini aku mau ke rumah Aren, tinggal nunggu Radit. Dia mau antar pakai mobilnya. Sekarang masih ekskul basket. Setengah jam lagi mungkin baru kelar.”
“Radit antar kalian?”
Entah kenapa, Nada menangkap intonasi muram dari suara Nathan saat menyebut Radit.
“Iya. Kalau kamu bisa, ntar nyusul aja ke Aren. Aku kasih lokasi alamatnya.”
Nathan terdiam sesaat. “Kamu sampai sore di rumah Aren?”
“Kayaknya gitu. Soalnya ntar kan kita ngumpulin buku.”
“Oh, oke deh kalau gitu. Ntar kukabari lagi.”
Nada mengangguk. “Oke, oke.”
Mata Aren mencorong ke arahnya saat ia taruh ponsel kembali ke meja.
“Ngapain Nathan malah nelepon kamu?”
“Penyelidikan kasus lainnya lagi, soal Om Gading.”
“Om Gading kenapa?”
“Aku udah sejak awal curiga Om Gading playboy. Lagian berapa umur dia? Udah 40-an lebih kan? Tapi kok masih belum punya istri? Itu kan mencurigakan.”
“Bisa saja dia udah cerai dari istri pertamanya.”
“Nggak akan ada asap tanpa api. Bisa cerai itu sendiri kan pasti ada suatu kasus yang enggak biasa, yang belum tentu kesalahan mantan istrinya dia.”
“Maksud kamu, mereka cerai karena Om Gading punya wanita lain?”
“Bisa aja, kan? Itu yang aku mau tahu.”
“Trus hubungannya apa sama Kak Nathan?”
“Lupa ya? Dia kan anaknya Santoso Ernawan. Papanya Nathan adalah rekan bisnis Om Gading. Nathan pasti bisa sedikit banyak menggali info terperinci soal Om Gading. Dan kemarin dia bilang, dia bisa manfaatin lawyer atau para pembantu papanya untuk menyelidiki Om Gading. Sebelum ada info dari Nathan pun, kecurigaanku bahwa Om Gading itu playboy sudah terbukti. Semalam dia nelpon mesra sama cewek lain. Pas aku lihat nomornya, itu bukan nomor mamaku.”
Mata Aren menyipit. “Kamu pasti bisa tahu itu pakai kekuatan supermu.”
Nada mengangguk. “Semalam, habis kita telponan, aku Tay Al Arz ke rumah dia di kompleks Lazuardi.”
Ia mengisahkan pengalaman seru semalam, saat eksperimen pertamanya melakukan perjalanan singkat itu dengan kehendak sendiri berjalan sukses. Aren tertawa ngakak ketika cerita Nada sampai pada bagian ketika Om Gading ketakutan dan lari nabrak-nabrak begitu orang itu sadar ponselnya bisa menelepon sendiri ditambah ada suara hantu tertawa dari arah toilet.
“Keren, keren! Kayak adegan di film komedi!”
Nada ikut tertawa. “Habisnya aku mangkel. Orang kok kayak nggak ada bagus-bagusnya. Dia malah mendiskusikan urusan bisnis yang pakai tindakan kekerasan dan teror, sepertinya karena ada orang yang nggak mau jual sesuatu sama temennya meski sudah dikasih harga bagus.”
“Pebisnis jahat biasanya kan gitu. Pengin beli atau bikin usaha, kalau pihak sana nggak mau nurut, mereka suruh preman-preman untuk meneror atau mengancam. Nanti kalau urusannya sampai pengadilan, dia sogok hakim agar nggak dihukum dan dibebaskan.”
Ia menoleh ketika muncul sesosok bayangan bagus memasuki warung dan bergegas menuju meja mereka. Itu Radit, yang sudah stand by menenteng tas ransel siap untuk meninggalkan sekolah.
“Loh, kok udah selesai?” tanya Nada. “Latihan basket masih lama, kan?”
“Aku cabut duluan,” sahut Radit tanpa mendudukkan diri di bangku kedai. “Anak-anak nggak datang komplet. Coach Edward jadi malas melatih dan nyuruh kita latihan fisik doang. Berangkat sekarang?”
Nada menoleh pada Aren. “Kamu udah selesai kan, Ren?”
Yang ditanya mengangguk, meski kemudian tergesa sekali menenggak es jeruknya sampai habis.
Dengan cepat Nada menyelesaikan urusan pembayaran, lalu mereka bergegas keluar warung menuju tempat mobil X-Trail milik Radit terparkir tepat di tepi jalan besar. Sepanjang jalan, Aren merelakan diri menapak tanah sedikit di belakang Nada dan Radit, yang berjalan tepat bersisian. Dan sepanjang jalan itu juga, meski sama sekali tak jauh, Radit beberapa kali melirik lekat pada Nada. Karena memiliki angle penglihatan yang bagus, semua tak lepas dari pengamatan Aren.
Tiba giliran akan masuk mobil dari sisi kiri, Nada menatap heran karena ia lihat anak itu cengar-cengir sendiri.
“Kamu kenapa?”
Aren makin susah mengerem cengirannya.
“Ada yang glowing.”
Nada meringis, sebagian karena silau terkena sinar matahari siang yang amat terik.
“Hah?”
Aren hanya tertawa sok misterius, lalu buru-buru membuka pintu belakang,