Merah

1559 Kata
Begitu Nada turun dari mobil, kegelapan itu langsung seketika terlihat. “Walah, pantesan...!” Aren yang menyusul turun menatapnya penasaran. “K-kenapa, Nad? Ada apa?” Yang ada di hadapan mereka adalah sebuah rumah di perkampungan yang berwujud mungil dan nyaris tanpa pekarangan. Pintu rumah langsung berhadapan dengan gang, hanya menyisakan sedikit ruang di depan untuk menaruh sepeda motor—sore itu mungkin Pak Irfan sudah pulang dari kantor. Gangnya pun sempit. Hanya cukup dilewati satu mobil, makanya lalu dibikin satu arah untuk kendaraan roda empat. Dinding rumah itu dicat hijau muda, dengan kusen pintu dan jendela dicat hijau tua. Dari luar saja sudah terlihat bahwa rumah Aren tak terlalu nyaman ditempati. Atapnya sedikit terlalu rendah, yang bisa terasa bagai neraka saat hawa panas mencapai puncaknya. Dan entah kenapa, Nada langsung tahu bahwa di dalam sana tak ada satu pun peranti pendingin udara selain kipas angin. “Ada apa, sih?” Radit bertanya ingin tahu, setelah memutari mobil dari pintu kanan depan. “Kalian ngomongin apa?” “Kabut pekat warna hitam menyelubungi tempat ini, tepatnya rumah,” kata Nada, agak tak menghiraukan pertanyaan Radit. “Betul-betul pekat. Di alam dunia nyata kabutnya tak terlihat, karena adanya cuman di dimensi sebelah. Ini bener-bener kreasi kelas berat!” Dari arah pintu rumah yang tertutup mendadak muncul seorang perempuan berbusana panjang warna merah. Rambutnya juga panjang, tergerai jatuh dan lebat pula sehingga menutupi hampir sebagian besar wajahnya. Nada bisa melihat sepasang mata di sana yang memendarkan warna bara api, pada detik yang sama ketika alam semesta sekelilingnya tiba-tiba menjelma merah. Merah darah sempurna. Rumah merah, jalanan merah, rerumputan merah, dan juga langit di atas sana. Bahkan matahari pun ikut merah. Nada sesaat memerhatikan sekeliling. Semuanya baru baginya. Bertemu kuntilanak tua dengan baju merah sudah ia alami beberapa kali, namun belum pernah satu kali pun ia ikut terseret terbawa ke alam mereka seperti ini. Meski tak tahu bagaimana cara persisnya melindungi dan membela diri, ia refleks mengalirkan getaran-getaran elektrik dari arah jantung itu ke lengan tangan sehingga menggumpal pepat di kedua tinjunya, siap memukul kapan saja, andai diperlukan. “Kamu siapa?” sosok merah itu bertanya, dengan suara serak berderak yang membuat kuping Nada sakit. “Aku yang seharusnya menanyakan itu,” mati-matian Nada berusaha untuk tetap cool, padahal aslinya tidak. “Kamu siapa? Kenapa mengganggu temanku?” “Bukan urusanmu.” “Kamu dikirim dari arah wetan, bukan? Seseorang ingin menyakiti keluarga ini, dan yang paling rawan terkena adalah temanku. Dia sering sakit, padahal badannya sehat. Itu pasti perbuatanmu.” “Sekali lagi, bukan urusanmu!” “Kamu menganggu temanku, dan itu membuat semua ini jadi urusanku. Kalau masih mau dengar perkataanku baik-baik, pergilah! Kembalilah pada tuanmu dan katakan, yang dia lakukan di sini dengan cara ini sia-sia, karena akan membalik pada dirinya sendiri.” “Kau berani mengancam. Kau merasa punya kelebihan.” “Aku hanya lakukan hal seperlunya untuk melindungi temanku. Pergilah! Lakukan perbuatan jahatmu di tempat lain!” Rambut sosok merah itu membuka seperti kipas, menampakkan wajah yang berwarna hitam legam. Jadi terlihat sangat kontras oleh merah yang makin memendar dari sepasang mata. Dan ketika kemudian ia tertawa, Nada bisa dengan jelas melihat gigi-gigi atas-bawah yang rapi namun semuanya berbentuk runcing. “Kenapa tidak kau saja yang minggat dari sini, Adik Kecil?” Sosok itu melayang bergeser maju sambil berteriak gahar. Mulut membuka luar biasa lebar, hendak melahap seluruh batok kepala Nada bulat-bulat. Namun satu sentimeter sebelum ia mendapatkan sasarannya, seraup angin dahsyat mengibarkan rambut kriwil-kriwil Nada dan melemparkan sosok merah tersebut ke arah rumah menembus dinding dan menghilang dari penglihatan. Gerak tubuh kini sepenuhnya disetir dan dikendalikan getaran-getaran elektrik dari dalam sana, Nada tetap bergeming dengan berani. Ia menunggu, kaki kangkang, hingga bayangan kemerahan itu kembali muncul dan merangsek seperti tadi. Kali ini dengan kecepatan dan auman yang jauh lebih menggetarkan. Namun hasilnya tetap sama. Angin berkesiur, rambut Nada menyibak, dan sosok merah itu kembali terlempar ke arah belakang. Sekian detik senyap, berganti pada suara rintihan yang mirip tangisan. Bayangan warna merah yang tadi sangar kini muncul kembali dari balik dinding rumah Aren, bergeser maju perlahan dalam posisi duduk bersimpuh, pundak jatuh, dan kepala tertunduk menghadap tanah merah. Dia menangis, tersedu, mirip manusia bahkan termasuk bahu yang berguncang-guncang. “Maafkan...! Maafkan...! Hamba tidak ungkulan. Panjenengan benar-benar hebat. Hamba kalah dan akan pergi.” Suaranya lirih, mirip perempuan malang yang baru ditinggal mati suami tercinta atau seorang gadis muda yang baru putus cinta. “Sebelum pergi, katakan padaku, siapa yang mengirimmu ke sini?” sahut Nada tegas, sepenuhnya menyadari itu bukan kata-katanya sendiri. “Panjenengan sudah tahu, dari wetan.” “Aku mau nama!” Tangis sosok merah itu sesaat berhenti, terisak pelan. Ia menggeleng. “Apakah ada hubungannya dengan rumah Amalanda 108?” Dia terisak lagi. “Hamba hanya disuruh…” “Apa tepatnya yang dia suruh untuk kamu lakukan di sini?” “Menghalangi.” “Menghalangi?” “Agar Pak Irfan tidak punya anak. Tiga kali, keguguran...” “Tapi ada Aren.” “Dia anak dari yang lain, bukan Pak Irfan.” Nada mendelik. “WHAT!?” Kali ini, yang meluncur adalah kosa katanya sendiri, karena pakai bahasa Inggris. “Dia anak yang lain. Hanya sebatas sering sakit, tapi tidak akan sampai mati seperti tiga kakaknya almarhum. Maafkan, hamba kesakitan. Hamba pergi. Maafkan... hamba pergi...!” Bayangan berwarna merah itu perlahan memudar, terurai seperti butiran-butiran debu yang melayang tertiup angin dan buyar tanpa bentuk lagi. Pada saat bersamaan, warna alam berubah dari merah darah menjadi pada warna-warni asli seperti seharusnya. Cahaya matahari pukul 15.30 berwarna kuning menyilaukan, gang berwarna aspal abu-abu kehitaman, dinding rumah kembali hijau, dan mata Aren hitam seperti jelaga. “Kelas berat apanya?” Dan Nada perlu waktu agak lama untuk kembali menemukan konektivitas dengan apa yang ditanyakan Aren. O, iya, itu tadi adalah omongannya yang terakhir kali sebelum ia ditemui kuntilanak tua dan sakti warna merah yang sudah lama nongkrong di sini. Sekaligus menyadarkannya kembali bahwa setelah lebih setahun bersahabat dengan Aren, ternyata memang baru kali ini ia datang kemari. Yang lebih sering terjadi adalah sebaliknya, hingga anak itu sudah menganggap rumah Nada sebagai rumah keduanya. “Entitas yang ada di sini,” sahut Nada datar. “Memang untuk bikin kamu sering sakit-sakitan. Tapi sudah aman sekarang. Dia sudah pergi.” “Memang apaan bentuknya?” “Hei! Kalian ngomongin apa, sih?” Radit mengulangi pertanyaannya. “Belum tahu, ya?” tukas Aren. “Nada ini indigo, dan barusan dia lihat dedemit yang selama ini mengganggu keluargaku.” “O, ya?” seketika mata Radit makin menemukan alasan untuk fokus pada wajah Nada. “Emang hantunya kayak apa?” “Kuntilanak, tapi yang bajunya warna merah.” Mata Radit melebar. “Ada gitu, kunti warna merah?” “Itu yang umurnya tua banget, dan sangat kuat. Kalau yang baju putih dan sering kita lihat itu istilahnya kunti junior. Cuman melakukan penampakan dan nakut-nakutin doang. Eh, nanya dong, barusan kalian nggak lihat aku ngapa-ngapain yang enggak biasa, kan?” Saat itu Aren sudah tiba di depan rumah dan membuka pintu. Sembari mempersilakan kedua kawannya masuk, matanya bersirobok dengan milik Radit. “Enggak biasa yang gimana?” tanyanya. “Ya misal aku ngomong sendiri gitu, yang sebenarnya aku lagi berbincang sama tuh kunti jahat.” Aren dan Radit kembali saling pandang. Keduanya menggeleng serempak. “Enggak kok. Tadi kan kamu cuman bilang soal pekerjaan kelas berat itu. Makanya aku juga nanyain yang itu.” Oke, jadi ini satu lagi hal baru. Nada mengalami sesuatu, yang entah bagaimana caranya, tidak terlihat oleh Aren dan Radit. Satu-satunya penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa selama beberapa saat tadi, saat ia bercakap-cakap dengan kuntilanak merah kiriman dari timur itu, ia memang telah diseret masuk ke dimensi lain—alam gaib. Ada baiknya ini nanti dikonsultasikan pada Dayu, sesudah ia tiba kembali di rumah. Ia sendiri tak langsung menyahut karena sibuk melepas sepatu sebelum masuk rumah. Dan begitu tiba di ruang dalam yang pengap dan gerah, Aren berteriak memanggil bapak dan ibunya mengumumkan bahwa mereka kedatangan tamu. Sepasang pria dan wanita paruh baya muncul berbarengan dari ambang pintu ke ruang dalam yang ditutup gorden merah marun. Yang perempuan bertubuh gemuk, sehingga melangkah bergoyang-goyang. Suaminya nampak jauh lebih tua dari umur sebenarnya, namun itu muncul di benak Nada hanya karena wajah yang ada dalam mimpi tempo hari begitu bersih mulus, bebas dari kerutan-kerutan di bawah mata dan yang mengapit kedua sisi mulut. “Oh, ini tho Nada yang sering diceritain Aren,” celetuk Pak Irfan kemudian, setelah kedua tamu saling berjabat tangan dengannya dan istri. “Apa kita pernah ketemu? Sepertinya wajah Nada tidak asing.” Tawa Nada meluncur dengan intonasi tak terlalu natural. “Pastinya karena Aren terlalu sering cerita soal saya, Pak,” sahutnya sopan. “Ya, ya, sepertinya begitu,” Pak Irfan manggut-manggut, lalu menoleh pada anak gadis semata wayangnya. “Kamu kenapa malah bengong aja? Ayo, bikinin minuman buat Nada dan Radit!” Aren mendelik. “Iya, iya, sabar! Ini juga otewe mau ke dapur. Bapak mah, gak sabaran!” “Habisnya kamu lelet!” Semua tertawa. Dan interaksi antara ayah dan anak itu seketika mengingatkan Nada akan kata-kata yang ia dengar tadi soal “anak yang berbeda”. Nada terpaksa menahan napas dengan kuduk terasa dingin. Akan jadi seperti apa jika kelak keduanya tahu? Dan spontan matanya melirik menyelidik ke arah Bu Irfan yang tengah tertawa pula.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN