Playboy

1688 Kata
“Trus sekarang setelah kamu dan keluarga pindah ke Solo, yang ngurusin panti asuhan di Cibaduyut siapa?” Saat itu mobil yang mereka naiki baru saja melewati masjid besar yang tepat terletak di bagian terdepan kompleks Griya Permata. Orang satu kompleks perumahan, yang dihitung sebagai satu RW, memusatkan kegiatan ibadah agama Islam di sana, mulai salat Jumat, salat rutin berjamaah, hingga salat tarawih, salat Ied, dan pemotongan hewan kurban saat Idul Adha. Meski jendela tertutup rapat, Nada bisa dengan jelas mendengar kumandang azan magrib dari loudspiker masjid. “Omku, adik dari Papa. Tapi Mama masih sering di sana. Kan Mama yang bertindak sebagai kepala panti, sedangkan papaku sebagai ketua yayasan.” “Mama kamu nggak ikut pindah kemari, ke Solo?” Radit mengarahkan perhatian ke jurusan lain, karena saat itu mobil membelok jalan lain ke arah kanan. Mobil harus berhenti dulu sementara untuk memberi kesempatan sebuah minibus yang melaju pada arah lurus dalam kecepatan lumayan tinggi. “Secara resmi emang enggak sih. Papa yang dipindahtugaskan dari Bandung ke Solo, sedang Mama terpaksa stay di rumah lama untuk menangani urusan harian panti. Tapi sesekali Mama bakalan tetep...” Radit mendadak menyumpah satu kata dalam bahasa Inggris. “Aku ternyata susah untuk bohong sama kamu!” Nada lekat memerhatikan Radit. Wajah cowok itu tiba-tiba diselimuti mendung pekat. Hampir sama pekat dengan kabut gelap yang tadi menyelubungi alam gaib rumah Aren. “Bohong soal apa?” “Yang tinggal di Solo adalah omku. Papa sama Mama masih tetap di Bandung. Aku disuruh pindah kemari untuk menghindarkan diri dari teror.” Mata Nada melebar. “Teror? Teror apa?” Radit menarik napas. “Jadi ceritanya, ada orang yang... eh, ini bener jalannya, kan? Barusan aku setengah melamun sejak dari masjid tadi.” “Bener kok. Ntar lurus aja sampai bundaran taman. Dari taman, kamu ambil kanan, langsung masuk gang rumahku. Trus, trus? Ada orang yang ngapain?” “Orang itu mau beli tanah di mana panti asuhan berada, mau dijadiin kondominium mewah. Tapi Papa keukeuh nggak mau melepas karena itu tanah warisan dari keluarga besar Papa, yang kalau mau dijual harus atas persetujuan banyak orang. Selain itu, di sekitarnya ada kampung kuno yang masuk cagar budaya Kota Bandung. Konon sudah ada sejak kali pertama ada kota Bandung ratusan tahun lalu. Kalau tanah keluargaku lepas ke tangan investor dan di sana dibangun superblok apartemen mewah, situasinya pasti mengganggu kampung-kampung di sekelilingnya. Masalah polusi, gesekan sosial, dan macam-macam lagi.” “Dan karena papamu nggak mau menjual tanah itu, keluarga kalian lantas kena teror?” Radit mengangguk. “Awalnya ada staf panti yang motornya dibegal. Dia luka-luka dan harus dirawat rumah sakit dan berhenti kerja karena takut. Trus Mama kerap lihat sendiri dia dikuntit orang-orang bertampang preman. Terakhir kali, dua minggu lalu, Papa menerima surat ancaman di kantornya. Surat kaleng, ditulis pakai darah—bilang kalau deal jual-beli nggak segera terlaksana dalam sebulan ini, akan ada bagian rumah atau bangunan panti yang dibakar!” “Serius?” “Serius. Nulisnya aja pakai darah. Pas dicek salah satu tanteku yang kerja di lab rumah sakit, itu emang darah beneran. Darah manusia! Habis itu aku lantas disuruh ngungsi kemari.” Nada meringis. “Ih, horor! Kenapa nggak lapor polisi? Itu udah kriminal kelas berat!” “Masalahnya, Papa takut orang itu punya koneksi ke kepolisian. Kalau dia tahu kita lapor polisi, dia bisa tambah marah.” “Emang dia siapa, sih? Pengusaha properti kelas kakap?” “Itu rumahmu, ya? Kanan jalan yang bercat putih.” Nada menoleh ke arah jalan. Ternyata mereka sudah tiba. “Iya. Turunin aja aku di depan mobil itu!” “Itu mobil siapa?” Baru kemudian Nada tersadar bahwa memang ada sebuah sedan merah mungil terparkir di depan rumah. Dan letak berhentinya tepat di depan rumah. “Mana aku tahu? Temennya mamaku mungkin.” Radit mengikuti instruksi Nada untuk berhenti setelah melewati mobil merah itu. Saat melewatinya, sesuatu begitu menarik perhatian sehingga membuat kepala Radit menoleh memutar. “Loh, itu punya anak sekolah kita juga!” celetuknya. “Kok tahu?” “Ada stiker SMA 29 di kaca belakang. Pacar lo ‘kali.” “Pacar gue?” dan Nada tak sadar ikut berlogat Jakarta. “Itu, kakak kelas yang gantengnya minta ampun dan gagah sebagai kapten tim basket itu!” Nada melepas sabuk keselamatan untuk memutar badan melihat ke arah mobil merah di belakang. “Nathan? Ngapain dia ke rumahku?” “Ya kan kunjungan rutin. Gimana, sih?” Nada tak terlalu mendengarkan perkataan Radit berhubung perhatian masih sepenuhnya terarah ke mobil itu. Sedikit buru-buru ia mengemasi barang-barangnya, yang tertumpuk bersama buku-buku dari Aren di jok belakang. Radit menolak halus saat ia tawari singgah untuk minum sebentar (dan dengan raut muka sesuram langit pada bulan Desember). Sesudah ia berjanji besok akan membawa buku-buku koleksinya ke sekolah, cowok itu melajukan mobilnya sedikit tergesa. Nada berderap melewati mobil merah menuju pagar rumah. Dan yang tadi tertutup oleh tanaman-tanaman di pekarangan depan, kini terlihat. Sesosok cowok berpostur bagus dengan jaket denim dan celana panjang hitam ada di kursi beranda, sibuk mainan ponsel dengan kedua tangan—mungkin bermain Mobile Legend atau Free Fire. Sepasang mata berbinar saat meninggalkan layar ponsel demi beralih pada gadis berwajah glowing yang mendadak menampakkan diri di teras. “Kenapa nggak berkabar?” celetuk Nada sembari menanggalkan sepatu. “Malah tahu-tahu ada di sini...” Nathan menatap Nada lekat-lekat, hingga pada tali sepatu warna biru dan pink itu. “Tadi aku nongkrong sama temen-temenku, kelupaan mau ngabarin kamu. Untuk menebus kesalahan, aku langsung aja ke sini tanpa mengabari dulu. Kupikir, pas magrib harusnya kamu udah nyampai. Ternyata bener.” “Trus, udah lama di sini?” “Baru 10 menit kira-kira. Itu tadi siapa, yang antar kamu pakai mobil merah?” “Radit. Kan tadi bareng dia ke rumah Aren. Pulangnya dia antar aku.” “Oh, si anak baru dari Bandung yang gantengnya cuman kalah sama Song Joong-ki itu ya?” Sambil menenteng sepatu dan mengeluarkan anak kunci dari tas, Nada tak tahu apakah ia harus tertawa atau mengamuk. Ini para cowok kenapa pada baperan gitu? Baiklah, ia akui ia jadi glowing secara ajaib, tapi masa itu lantas membuat semua kaum Adam bertingkah aneh? Bahkan beberapa guru di sekolah pun tadi melihatnya dengan jenis sorot mata yang membuat seluruh rambut halus di badan berdiri tegak. Ia jadi tak tertarik melayani perkataan Nathan. Anak kunci ia putar sekuat tenaga. “Yuk, masuk!” Nathan bangkit, menapak menguntit Nada dan duduk di sofa putih s**u ruang depan dengan gesture mirip manula dan tingkat kekeruhan wajah yang setara dengan Bengawan Solo kala banjir dan air mengalir sampai jauh akhirnya ke laut. “Mama kamu selalu pulang malam?” tanya cowok itu, saat Nada telah kembali muncul sesudah mengganti kemeja seragam yang lengket dengan T-shirt ketat biru dan mengusung nampan yang mengangkut segelas jus jeruk dengan es batu. “Iya. Malam ini malah selewat jam 9. Ada simposium lagi.” “Keren ya mama kamu. Fisika terapan itu kan mirip-mirip dengan yang ditekuni Einstein atau Hawking.” Nada duduk tepat di seberang Nathan. Tangan menumpukkan bantal sofa pada pangkuan. “Yah, memang cita-cita mamaku pengin jadi kayak mereka. Kurangnya cuman satu, belum menelurkan teori atau konstanta fisika yang kemudian bisa dinamai pakai nama Mama.” “Papa kamu sendiri apa dosen juga?” Dan Nada sudah sangat siaga dengan pertanyaan semacam ini, kini bahkan bisa dengan tak menunjukkan ekspresi atau perubahan sorot mata sedikitpun. “Bukan. Papaku pekerja surga—atau neraka, kalau amalannya dulu dianggap jelek.” Nathan melongo. “Hah?” Nada tertawa oleh leluconnya sendiri. “Papaku udah lama nggak ada,” katanya kemudian. “Almarhum, pas aku masih umur 3 atau 4 tahun. Aku susah mengingat-ingat sosok papaku, cuman ada gambarnya aja di foto-foto. Aku masih terlalu kecil saat itu untuk bisa mengingat bener kayak apa muka papaku.” Kini wajah suram itu sedikit diwarnai cahaya kemanusiaan berupa simpati kesedihan. “Meninggalnya karena apa, kalau boleh tahu?” “Kata Mama, serangan jantung. Pas sarapan, tahu-tahu jatuh. Udah gitu aja. Di rumah sakit udah nggak ada.” “Dan sejak itu mama kamu nggak nikah lagi?” Nada menggeleng. “Kecuali kalau yang pedekate sekarang ini berhasil melaksanakan misinya, yang mana aku sangat nggak sreg sama sekali. So, ada info apa soal Om Gading?” Nathan menyibukkan diri sesaat dengan minuman buatan Nada. “Kamu bener, Om Gading itu pacarnya banyak sekali. Reputasi dia sebagai playboy udah terkenal ke seantero Jateng. Dia kan pengurus asosiasi pengusaha muda tingkat provinsi. Pak Roshad, ini lawyer-nya papaku, sampai tahu nama-nama semua ceweknya. Ada Rosa, ada Sofie, ada Nindi. Tapi katanya, dari semua itu, yang paling spesial bagi Om Gading cuman mama kamu. Yang lain cuman pacar seneng-seneng, sedang mama kamu beneran calon istri.” “Dia itu emang bujang lapuk apa dulu pernah nikah?” “Pernah nikah, ada satu anak, tapi lantas cerai. Anaknya dibawa mantan, sekarang tinggal di Semarang. Sekali seminggu, Om Gading ke sana, ketemuan sama anaknya, yang tahun ini sudah SMP.” “Cerainya dulu karena masalah apa?” “Ya normalnya cowok playboy, apa lagi kalau bukan karena ada cewek lain? Pak Roshad bilang, Om Gading sempat minta ijin nikah lagi. Karena nggak dapat ijin, dia lantas menceraikan istrinya.” “Dan kayak gitu itu mau jadi suaminya mamaku, lantas ntar kalau udah bosan, minta ijin buat poligami!?” Nada ngegas, penuh emosi. “Tapi aku bela-belain ke sini sebenernya ada perlu penting sendiri selain urusan Om Gading, Nad.” Sesuatu dalam nada kata Nathan yang khusus itu membuat punggung Nada tegak di sofa. “Perlu penting apaan?” Dan cowok itu malah sedikit tertunduk sambil sibuk memainkan jari-jemari yang jelas memang tak perlu dimainkan. Nada seketika menahan napas. Buset! Jika yang ini adalah gara-gara dirinya glowing, besok ia akan ke salon khusus untuk minta krim penghitam muka! “Anu... kan kata anak-anak, Benu terutama, kamu ini indigo. Bisa nggak kamu bantuin papaku?” Nada membelalak lebih karena lega, bukan karena kaget. “Papa kamu kenapa emangnya?” “Sakit berat. Kayaknya dia disantet musuh bisnisnya.” Dan mendadak ingatan Nada melayang pada fakta bahwa Aren bukan putri kandung Pak Irfan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN