Telepon berdering. Dan tepat seperti yang diperkirakan Nada, datangnya dari Dayu.
“Nad, ada info bagus nih,” kata perempuan itu, tanpa menunggu Nada menyapa “halo!”.
“Soal Bu Dita?”
“Betul. Persis seperti permintaanmu, aku add friend dia di f*******:, lalu ngobrolin soal rumahnya yang akan dia jual itu. Dan berkat keahlianku sepik-sepik, dia bisa kubikin terbuka lalu cerita banyak hal tentang kehidupannya. Sebelum aku cerita, kayaknya ada yang mau kamu ceritain terlebih dulu.”
Nada berpindah dari meja belajar ke tempat tidur. Ia menggapai remote control untuk menaikkan suhu AC 2 derajat Celsius.
“Kebetulan masih ada kaitannya dengan urusan yang itu juga. Tadi aku ke rumah Aren, untuk lihat di sana ada apa. Dan yang kutemukan benar-benar mengagetkan.”
Ia menceritakan pengalaman sore tadi di rumah Aren, saat bertemu knntilanak merah yang dikirim oleh Bu Dita. Juga tentang informasi dari sang lelembut mengenai status sesungguhnya Aren di keluarganya.
“Aren bilang, ibunya memang pernah cerita bahwa ia seharusnya punya tiga kakak, tapi semuanya nggak jadi lahir karena keguguran. Melihat bahwa Bu Dita ngerjain Pak Irfan dengan ilmu hitam sejahat itu menunjukkan bahwa dulunya ada urusan yang sangat menyakitkan di antara mereka.”
“Dia cerita, dia ditinggal pergi oleh pacarnya sejak zaman SMA. Belum ngasih tahu namanya, tapi kuduga itu ayahnya Aren.”
“Ditinggal selingkuh?”
“Iya, dan dengan teman mereka juga.”
“O, ya? Siapa namanya?”
“Ruth. Jadi mereka itu satu geng. Dita, Ruth, dan mantannya itu. Pas Dita lulus SMA dan kuliah di Bandung, otomatis si cowok sendirian aja di Surabaya. Tapi malah dia yang ninggal pergi, selingkuh sama si Ruth.”
Nada mengingat-ingat detail cerita di mimpinya saat menginterogasi Pak Irfan.
“Kalau menurut Pak Irfan, hubungan mereka berakhir saat Bu Dita kuliah di Bandung dan menemukan cowok lain yang lebih pantas, sama-sama dari keluarga kaya dan mapan seperti Bu Dita. Habis itu akses komunikasinya ke Bu Dita putus total—atau emang sengaja diputus dari pihak Bu Dita. Setahun hilang kontak, dia kemudian menurut saat dijodohkan dengan Bu Wanda, yang jadi istrinya sekarang ini.”
“Kata Dita, dia baru jadian dengan tuh cowok setelah Irfan ketahuan selingkuh. Dan dia memang menutup total komunikasi dari pihak mantannya karena dendam.”
“Apa cowok baru itu yang kemudian jadi suaminya?”
“Iya. Namanya Bowo. Memang dia dari keluarga kaya. Bapaknya punya perusahaan pengalengan makanan di Sidoarjo.”
“Di IG Bu Dita nggak ada foto-foto Pak Bowo. Mereka cerai atau Pak Bowo sudah almarhum?”
“Cerai. KDRT. Si Bowo sering memukuli istrinya. Terakhir kali bahkan bikin Dita koma beberapa hari karena kepalanya dilempar pakai mesin konsol game.”
“Widih, sadis!” Nada meringis. “Kapan itu cerainya?”
“Udah lama kok. Mungkin 10 tahun yang lalu, dan habis itu dia belum menikah lagi.”
“Urusan dengan Pak Irfan sudah berlalu begitu lama, mengapa dia masih memendam dendam kesumat sebesar itu sampai mengirim makhluk halus untuk membuat Pak Irfan tak bisa punya anak?”
“Yah, kadang dendam asmara memang bisa separah itu. Meski kalau aku jadi dia, aku akan lebih mendendam pada Bowo daripada Irfan. Tapi yang terpenting, kunti kiriman itu sudah kamu usir pergi, bukan? Aren akan sehat sekarang. Dan jika Bu Wanda masih belum menopause, mereka masih mungkin punya anak lagi—yang asli buatan mereka berdua.”
“Yang aku masih penasaran, siapa kira-kira ayah kandung Aren? Tahu nggak ya Pak Irfan kalau istrinya pernah selingkuh?”
“Ada satu pertanyaan lagi yang lebih penting dari itu.”
“Apa itu?”
“Apakah Aren akan dikasih tahu atau tidak.”
Nada seketika terdiam. “Betul juga. Dia akan syok kalau tahu dirinya adalah anak hasil perselingkuhan.”
“Kita tunggu saja perkembangannya. Dita belum cerita semuanya. Mungkin nanti akan ada lebih banyak detail yang dia ceritain ke aku. Untuk sementara ini, aku juga nggak kepo nanya ini-itu, biar dia nggak curiga. Betewe rumahnya kayaknya bagus. Jika cocok, aku mungkin akan membelinya sungguhan.”
“Oh, ya, tadi pas aku ngobrol sama si kunti, Aren sama Radit merasa aku nggak ngelakuin apa pun yang enggak biasa. Bagi mereka, waktu beberapa menit yang terlewat olehku saat ngobrol dengan kuntilanak itu seperti nggak eksis. Itu apa namanya? Apa karena aku sebenernya pada momen itu terseret ke dunia gaib? Soalnya pas tadi itu, semua berwarna merah, kayak di planet Mars.”
“Relativitas waktu saja sih sebenarnya. Timeframe di alam gaib berbeda dengan ukuran di Bumi. Jadi kalau diukur dengan waktu Bumi, waktumu di alam gaib seperti nggak ada sama sekali karena hanya berukuran sekian triliun mikrodetik. Sekian triliun mikrodetik itulah yang nggak terobservasi oleh manusia biasa, dalam hal ini dua temenmu itu. Dalam aplikasi taraf advanced, itu bisa dikembangkan menjadi sebuah ilmu yang bernama Lampus Loka. ‘Lampus’ berarti mati, ‘loka’ berarti dunia—kematian dunia. Itu bahasa Jawa Kuno. Dengan Lampus Loka, kamu bisa mematikan waktu selama beberapa saat, selagi kamu mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, orang lain tidak akan menyadari sesuatu telah terjadi dan kamu kerjakan.”
Mata Nada melebar. “Maksudnya, waktu kuhentikan agar aku bisa bebas, misalnya, menjinakkan bom waktu yang hitungan countdown-nya tinggal tiga detik, gitu?”
“Agak aneh kenapa kamu ambil contoh bom waktu, tapi yes. Memang begitu konsepnya.”
“Wow! Itu bakalan sangat revolusioner.”
“Dan latihanmu nanti akan sampai ke sana, tapi untuk sementara ini pelan-pelan saja. Yang kemarin bagaimana, terkait kekasih mama kamu itu?”
“Aku minta bantuan Nathan, dan ada banyak info penting yang bisa digali terkait orang itu, terutama soal pacar-pacar dia, yang mamaku pasti belum tahu saking begitu begonya dilanda cinta.”
Tawa keras Dayu mengagetkan Nada.
“Kayak yang paling ahli aja soal percintaan!”
Mau tak mau Nada ikut ketawa.
“Abisnya nyebelin. Kayak logika beneran mampet kalau udah cinta-cintaan. Pokoknya, gara-gara itu, aku sampai bela-belain menjajal Tay Al Arz buat masuk ke rumah Om Gading.”
“Shortcut.”
“Apaan?”
“Shortcut. Itu nama lain Tay Al Arz, menurut Class A.”
“Apa itu Class A?”
“SMA khusus untuk anak indigo sepertimu.”
“Ada yang kayak gitu? Di mana?”
“Jakarta, tapi dunia sebelah.”
Nada termangu. “Dunia paralel, maksudmu?”
“Ya. Kan kita sudah sejak awal ngomongin multiverse. Di alam sebelah, ada tokoh yang mendirikan sekolah khusus buat mendidik anak-anak indigo, di bawah Kemendikbud langsung. Lanjutin! Trus gimana? Sukses ndak Shortcut-nya?”
Nada mengangguk. “Lumayan.”
Dan ia ceritakan peristiwa tadi malam di kediaman Om Gading. Sama seperti Aren, Dayu juga ngakak mendengar cerita Om Gading ketakutan mendengar suara tawa hantu.
“Sekarang kamu tahu cara bikin dia belingsatan kalau membuatmu sebel.”
“Iya. Aku udah merancang banyak skenario untuk ngerjain dia. Kalau perlu sampai kapok sehingga dia jauh-jauh dari mamaku.”
“Masalahnya adalah, kalau mama kamu yang nggak mau jauh-jauh.”
Nada mendesah sedih dengan ekspresi tua sekali.
“Itu dia. Dan aku tahu rasanya, karena aku juga pengen mereka jauh-jauh dulu, at least untuk urusan satu itu.”
“Mereka siapa?”
“Benu, Nathan, Radit. Mereka jadi konyol pas di depanku akhir-akhir ini.”
“Wajar lah. Kamu kan glowing, kayak pakai skin care yang mengandung mutiara Korea.”
“Dan Aren mengira aku baru aja diajak Mama perawatan mahal ke salon. Pemutih kulit, suntik kolagen, sinar laser buat ngilangin jerawat. Aku pun agak kaget lihat mukaku sendiri. Perasaan, seminggu kemarin kulitku masih sawo matang biasa-biasa saja. Masa latihan kekuatan indigo Ingsun bikin kulitku glowing mendadak?”
“Masih masuk logika kok. Itu memperbaiki inner beauty.”
“Tapi masa secepat itu?”
“Ya kan latihan-latihanmu maju pesat. Kayak anak akselerasi. Setahun langsung tamat SMA. Ngomongin soal itu, ada satu latihan penting yang harus segera kamu jajal, yaitu menjadi Pelacak.”
“Melacak siapa?”
“Apa aja. Siapa aja. Salah satu aplikasinya, dikaitkan dengan kemampuan Shifter, yaitu melihat imaji dari masa depan maupun masa lalu, adalah untuk memprediksi akan ada kejadian buruk apa dan di mana saja yang kira-kira kamu bisa nolong.”
Dan mendadak saja, ingatan Nada langsung melesat pada perkataan Radit tadi sore soal teror yang diterima keluarganya terkait upaya mereka mempertahankan tanah warisan.
“Caranya gimana?”
“Meditasi aja, seperti biasa. Jika fokusmu tepat, nanti benakmu akan melihat titik-titik warna merah. Makin besar noktahnya, berarti kasus yang terjadi berbobot makin berat. Nanti tinggal kamu konversikan ke peta, bisa lewat Google Map, dan putusin akan menolong yang mana.”
Mata Nada menerawang menatap plafon kamar, langsung membayangkan noktah-noktah warna merah.
“Tapi tak mungkin membantu semuanya.”
“Tentu saja. Ada yang namanya realita, karena keterbatasan. Dengan Bilokasi, maksimal hanya bisa dua, pada saat yang bersamaan. Itu sebabnya Tuhan menganugerahi kita free will, untuk memilih—dan mempertanggungjawabkan output pilihan itu.”
Mata Nada terpejam. “Berat.”
“Tak ada yang bilang ini bakal mudah. Tapi lakukan saja sekehendakmu, kalau memang sudah siap! Kalau belum, biasanya nggak bakalan ada hasil apa-apa meski udah dijajal.”
“Oke.”
“Good. Ntar kabari hasilnya. Aku cabut dulu, ya. Over and out.”
Begitu ponsel ditutup, iseng Nada memusatkan pikiran pada mata yang masih terpejam. Dan noktah pertama menyala begitu benderang sehingga ia mengeriyip silau.
Tapi ia langsung tahu lokasinya.
Cibaduyut.