Superhero

1515 Kata
Teringat film-film superhero, Nada sudah bersiaga dengan jaket, celana panjang kargo tebal, helm, dan masker saat bersiaga di pintu kamar. Helmnya kiyut, bergambar Shaun the Sheep. Warna maskernya juga sangat girly, yaitu merah muda. Jelas bukan pilihan warna ideal untuk pahlawan super. Masalahnya, memang ia belum punya sesuatu yang cukup mendekati kostum pahlawan super. Jadi untuk sementara ini pun cukup. Yang penting identitas aslinya tersamarkan. Justru ini bisa dijadikan sebagai test case. Kalau misi ini nanti sukses, ia mungkin harus menjahitkan baju khusus ke penjahit langganan Mama. Baju kostum superhero. Ia menarik napas dalam-dalam dan menahannya agak lama di puncak kepala. Noktah tanda bahaya sudah dikonversi ke Google Map, menunjuk pada satu titik koordinat di Jalan Cibaduyut Raya, tak jauh dari pertigaan dengan gang kecil bernama Ma Eja. Ada beberapa bangunan dengan penanda nama jelas di sana, mayoritas kios sepatu handmade dan warung-warung. Lalu, tak jauh dari titik yang ditunjukkan melalui kemampuan Pelacak, terdapat satu bangunan dengan penera nama bertuliskan “PANTI ASUHAN PERMATA BUNDA”, yang ketika dilihat lewat citra Google Street View menampakkan sebuah rumah bertingkat dua dengan dinding dicat krem kemerahan. Halaman parkir cukup luas dengan sebuah papan nama terpasang tepat di tepi jalan. Tadi jantung Nada berdebaran saat melakukan penyelidikan lewat fitur Google yang itu. Dan meski tadi belum sempat diajarkan Dayu, ia langsung mudeng bahwa tingkat iluminasi noktah dari kemampuan Pelacak tersebut berbanding lurus dengan level kepentingannya bagi dirinya. Karena tadi ia telah mendengar urusan teror terkait panti asuhan dari mulut Radit, maka urusan itu ikut menjadi kepentingannya juga. Tak aneh ketika ia mengikuti saran Dayu untuk melatih kemampuan Pelacaknya, apa yang akan terjadi di panti itu mendadak menjadi prioritas utamanya. Dan tepat sesuatu itu memang akan terjadi malam ini. Nada menengok jam di ponsel sebelum mengantungi benda itu ke saku celana. Sekarang tepat pukul 00.17 WIB, memang saat yang wajar bagi para penjahat untuk beraksi. Yang menarik untuk ditunggu adalah, apa bentuk kejahatan yang akan terjadi pada gedung panti asuhan itu nanti, Setelah beberapa detik, ia memancang imaji gedung panti asuhan dari citra Street View tadi ke benaknya. Tangan memutar handel dan menarik daun pintu ke arahnya. Saat membuka mata, yang terlihat malah Mama, sedang melintas dan otomatis mengerem langkah mendadak. Mama sedang memakai earphone dan menenteng ponsel, pasti sedang bertelepon mesra dengan Om Gading. Perkataan Mama terputus saat matanya menatap Nada dari atas ke bawah. Putrinya itu nampak seperti alien, dengan helm, masker, jaket, celana tebal, dan sneakers. Tak ada yang bebas terlihat kecuali sepasang mata. “Nad... kamu apa-apaan?” Nada mendelik. “Eh, oh... ini, latihan PMR, mencegah wabah penyakit...!” Buru-buru ia mundur dan tutup kembali pintu. Napas terengah, antara kaget sekaligus geli. Dan setelah menunggu beberapa menit hingga suara obrolan Mama menjauh, baru ia mencoba lagi. Kali ini dengan fokus terpusat penuh. Tangan menarik pintu lagi. Saat hadir sambaran angin yang sangat dingin, napas terembus lega. Berhasil! Shortcut yang sempurna! Nada membuka mata dan celingukan. Ia baru saja keluar dari pintu masuk sebuah kedai nasi padang yang sudah tutup. Di hadapannya membujur ruas jalan yang berukuran cukup lebar, pasti ini Jalan Cibaduyut Raya di Kota Kembang. Suasana sangat sepi, karena memang sudah melewati tengah malam. Bangunan-bangunan besar berderet di sisi jalan tempat ia berdiri dan juga seberang sana, mayoritas berupa bidang usaha cenderamata yang menjadi kekhasan Kelurahan Cibaduyut, yaitu industri sepatu. Ketika ia menoleh ke kiri, dalam jarak hanya lima meter terdapat gapura yang menjadi pintu masuk ke gang Ma Eja. Dan jika petunjuk Google masih akurat hingga hari ini, dalam jarak dua bangunan dari mulut gang itulah gedung panti asuhan milik keluarga Radit berada. Nada bergegas melangkah ke sana, sambil cemas soal penampilannya sendiri. Kalau sampai ia terlihat, orang pasti bakal curiga. Tampangnya saat ini lebih mendekati maling daripada pahlawan super pembela kebenaran dan keadilan. Lagian, pada periode alam semesta mana kita bisa turun beraksi dan warga maklum, “Wah, ada superhero hendak beraksi! Mari kita bantu!”? Ia singkirkan dulu kekhawatiran itu ketika dari arah kejauhan ujung jalan sebelah sana, muncul dua lampu kendaraan beriringan. Awalnya bersisian, kemudian memisah. Ternyata bukan kendaraan roda empat, melainkan dua sepeda motor. Jantungnya bergedupan ketika tersadar olehnya kedua sepeda motor itu melintas dengan kecepatan tinggi. Dan kemudian muncul dua titik cahaya lain dari masing-masing motor. Napas Nada tertahan. Otaknya dengan cepat menerjemahkan pemandangan aneh itu. Demi Tuhan, ini dia! Cahaya dari arah kedua pembonceng motor itu ternyata api, yang ada di ujung botol. Bom molotov. Pasti akan dilempar ke arah bangunan panti asuhan! “Woi!” Kedua pengendara motor menoleh kaget. Refleks banget, Nada menjejakkan kaki. Ia sempat mempertanyakan posisinya yang seperti Superman atau Supergirl terbang, tapi sepertinya ia memang terbang melayang seenteng bulu—tepat menuju pada kedua sepeda motor teroris itu. Kedua tangan menjangkau jauh ke depan. Sayang salah satunya meleset. Sebiji botol bekas wadah sirup lychee yang isinya diganti minyak bensin dan disumpal kain melayang sebat ke arah pekarangan depan panti. Api berkobar pada bagian sumpalan botol. Tak akan mencapai beranda bangunan, dan memang tak perlu, karena tujuan orang-orang ini kemungkinan memang hanya untuk menciptakan teror mental pada para penghuni di dalam sana. Dibarengi suara ledakan dan jilatan api yang luar biasa besar, tangan kanan Nada berhasil memapaki botol satunya lagi. Entah dengan cara bagaimana ia sendiri tak bisa menjelaskannya, tangan yang sama melakukan dua gerakan rumit dalam saat berurutan yang sangat singkat. Pertama, mematikan api di sumpalan botol; dan kedua, menghantamkan bagian ujung bawah botol ke kepala dua pria berhelm yang terdekat dengannya. Ada bunyi botol dan helm retak, dua kali. Lalu dua pria memekik kaget saat mereka kehilangan keseimbangan dan terjungkal bersama motor mereka. Pelat-pelat metal pada bodi dan mesin sepeda motor menimbulkan cipratan bunga api saat bergesekan dengan aspal jalan. Masih ada satu target lagi, Nada dengan cepat berbelok. Kaki kiri menjejak aspal, dan yang kanan ia lentingputarkan sehingga dua kepala berhelm full faced terhantam telak. Kembali ada jejeritan pria yang terbanting ke aspal di sesela percikan bunga api dari sepeda motor yang terlempar liar bergesekan dengan jalan. Ia tak tahu apakah sempat bersalto di udara. Yang jelas, saat ia menapak empuk di tanah, suasana sudah ribut bukan main. Orang-orang berlarian dari segala arah, terutama dari bangunan panti asuhan. Mereka saling berteriak, memberi peringatan tanda bahaya api dan meneriakkan kata teroris. Mereka dengan cepat menuding-nuding ke arah empat pria yang kini masih terkapar dan belum punya kesempatan untuk bangkit melarikan diri. “Itu mereka! Itu mereka!” “Itu orangnya! Empat orang itu! Tadi mereka yang lempar bom molotov!” “Matikan apinya dulu! Matikan apinya!” “Tangkap! Jangan sampai lepas!” “Bawa ke polsek!” “Jangan! Hajar dulu rame-rame!” Dan ada beberapa yang masih sempat menghampiri Nada. “K-kamu siapa? Jago silat? Pendekar? Superhero?” tanya salah satunya. “Tadi kamu keren banget! Sayang nggak sempat direkam. Pasti viral!” seru yang lain. Nada meneguk ludah. Sial, memperkenalkan diri tidak termasuk dalam rencana aksinya malam ini! Yang langsung terpikir hanyalah menyerakkan suaranya, meniru teknik Oliver Queen di serial Arrow. “Tanyai mereka siapa yang suruh!” ia menuding ke arah empat teroris itu, yang kini jadi bulan-bulanan massa. “T-tapi kamu siapa?” Nada menapak mundur dua langkah. “Sebut saja aku... Golden Girl.” Lalu ia lari secepat yang ia bisa, membelok masuk gang dan asal membuka pintu pertama yang ia temui. Begitu pintu kembali ia tutup, sejuk hawa AC kamar menyambutnya. Ia melepas helm dan masker dengan napas memburu. Perlu waktu cukup lama sebelum seluruh simpul-simpul saraf di otaknya tersambung sempurna kembali. Dan hal pertama yang muncul di benaknya adalah justru nama tadi. Buset! Golden Girl? Nama apaan itu? Kenapa nggak Golden Generation sekalian? Atau Girls’ Generation!? Bunyi ketukan di pintu serta suara panggilan Mama menyadarkannya untuk segera kembali ke daratan. Sambil menyeka rambut yang menutupi dahi, ia membuka pintu. “Ada apa? Kok pintu dibanting?” tanya Mama, masih dengan kuping terjejali earphone. Nada bingung sesaat. “Eh, tadi ada yang lewat waktu aku dari kamar mandi. Kayaknya kecoa terbang...” Dan Mama, seperti beberapa menit sebelumnya, lekat menatap putrinya dari atas hingga bawah. Kali ini untuk alasan berbeda. “Kamu kenapa keringetan gitu? Kayak pendekar kungfu baru aja ngamuk.” Baru sekarang Nada merasakan titik-titik keringat di dahinya. Aneh juga, padahal tadi aksinya menjatuhkan keempat teroris itu tak lama. Hanya beberapa detik. “Senam dikit, biar kuat,” ia nyengir dan menjawab sekenanya. “Enggak! Ini loh, Nada. Malem-malem kok biyayakan nggak jelas,” Mama bicara pada lawan bicaranya di ujung sana, baru kemudian menatap Nada lagi dengan galak. “Tidur! Ini udah malem. Pagi malah.” Nada mengangguk patuh, hanya agar Mama segera pergi. “Iya, iya. Ini tidur.” Pintu ditutup kembali. Nada berganti baju longgar yang enak dipakai tidur. Tak sampai 15 menit kemudian, saat ia menaikkan selimut tebal hingga leher, matanya melebar ketika muncul update konten dari aplikasi koran daring yang sudah terpasang sejak awal sekali ia menggunakan ponsel ini dulu. Satu berita muncul, dan dengan judul yang membuatnya seketika insomnia, “SUPERHERO” MISTERIUS GAGALKAN AKSI TEROR DI BANDUNG Buru-buru ia share tautan berita tersebut ke nomor Dayu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN