Nada melangkah santai dan cenderung lamban. Masih ada waktu 20 menit sebelum pukul 7, jadi tak perlu tergesa-gesa juga. Suasana pun masih lengang. Saat ini hanya ada beberapa gelintir murid yang bersama dengannya saat melintasi pintu gerbang dan sosok Pak Yamto. Lalu dengan cepat ia bisa melihat satu wajah yang duduk menghadapi meja kerja Pak Yamto di dekat gerbang sambil bermain ponsel.
Dan mata di wajah itu bisa dengan seketika terangkat tepat saat Nada melintas.
“Kok nggak naik motor?” itu Benu.
“Iya. Lagi pengin jalan kaki aja. Kamu nunggu siapa di sini?”
“Nggak nunggu siapa-siapa. Belum pengin ke kelas aja.”
Tapi dengan seketika itu pula Benu berdiri, dan otomatis menjajari tapak kaki Nada menuju bagian dalam SMA 29.
Sambil berjalan, Nada menunggu. Benu berdiam diri. Ia juga. Memang sedang tak ada yang perlu ia obrolkan dengan anak itu. Jadi ia menunggu saja sampai Benu yang duluan bertanya. Masalahnya, sama sekali tidak. Mereka jalan bersebelahan saja, seperti robot. Dan tahu-tahu pintu ruang kelas sudah terlihat di ufuk.
Nada mendesah pelan. Ini pasti efek muka glowing gara-gara inner beauty. Kalau nanti Radit dan Nathan juga ikut-ikutan diam karena awkward saat berdekatan berdua dengannya seperti ini, lebih baik mulai besok ia masuk sekolah pakai topeng Spider-Man!
Persis saat ia hendak membelok masuk kelas, sebentuk suara mengguntur memanggilnya. Itu Nathan, yang melambaikan tangan dari ujung koridor tak jauh dari telundakan ke lantai atas. Nada spontan mendekat ke sana. Dan sempat terlihat olehnya raut wajah jutek yang gagal disembunyikan oleh pemiliknya, yaitu Benu.
Setidaknya Nathan tak terkena sindrom kikuk tersebab muka glowing. Roman mukaya datar-datar saja saat Nada tiba di tempatnya berdiri.
“Ada apa?”
“Gimana? Mau?”
Nada langsung parno duluan mendengar kosa kata dan intonasi Nathan saat mengucapkannya.
“Mau apaan?”
“Lihat papa gue, atau rumah deh. Kan bisa juga santet atau ilmu hitam ditaruh di rumah kediaman, dan nggak harus di orangnya langsung.”
“Emangnya udah dikonfirmasi bahwa papa kamu diganggu orang lain pakai klenik?”
“Ya belum. Makanya ini minta tolong kamu, siapa tahu bisa ikut menerawang atau apalah. Yang penting ketahuan pasti emang ada unsur kayak gitu atau enggak.”
“Papa kamu emang sakit apa?”
“Kanker hati, dan sudah masuk stadium berat. Aku tahu nggak sengaja waktu mencuri dengar obrolan Papa di telepon dengan dokter pribadinya, Pak Dokter Putut. Meski sama-sama sedih, tapi aku bakalan lebih sedih kalau itu semua gara-gara kelakuan orang lain yang iri sama Papa. Kalau sampai ada apa-apa, aku nggak bakalan terima. Dunia dan akhirat!”
Nada terdiam sesaat. “Oke deh. Kalau cuman bantu melihat, tentu bisa aja. Kapan?”
“Ini ntar kamu pulang jam berapa?”
“Setengah empat kayaknya. Ada tiga pelajaran tambahan.”
“Oke. Kalau gitu berkabar aja! Ntar kujemput kalau kamu udah selesai.”
Nada mengangguk. Mereka berpisah. Nathan naik telundakan. Nada tiba di kelas dan menjumpai Aren persis baru saja tiba di meja. Wajah anak itu berbinar-binar dengan warna rona merah yang bagus sekali di kedua pipinya. Aren pagi ini juga glowing.
“Kamu bener, Nad!” seru Aren. “Mulai ini tadi, aku tahu-tahu merasa sehat banget. Biasanya jalan dikit ngos-ngosan, hari ini tadi enggak!”
Nada berusaha tersenyum secerah yang ia bisa. “Hantunya takut sama aku. Makanya dia ngacir.”
“Berarti si kunti itu selama ini ada di rumahku, gangguin semua yang ada di sana?”
“Iya. Kayaknya dia terusir dari tempatnya terdahulu, lantas nongkrong di rumahmu. Dan dia agak jahat, makanya ngejahilin kamu dengan dibikin sering sakit.”
Dan baru sebatas itu karangan terbaik yang bisa Nada susun untuk melindungi Aren.
“Bapak juga sering sakit tuh. Darah tinggi, kolesterol, asam urat. Apa yang itu juga hasil kejahatan si kunti?”
“Bisa jadi. Ibu kamu sendiri gimana?”
“Kalau Ibu, anehnya sehat banget. Sangat jarang sakit. Tekanan darahnya normal. Dan kapan itu pas dicek di lab bareng Bapak, semua normal di Ibu, kayak gula darah, kolesterol, trigliserid...”
Normal, kecuali pernah keguguran hingga tiga kali.
Sebentuk badai datang membuat keduanya menoleh. Bukan angin betulan, melainkan Radit yang muncul setengah berlari dan berkaok-kaok memanggil nama Nada.
“Apaan sih ribut banget?” seru Nada sewot.
“Nad, Nad! Masih inget nggak yang kuceritain kemarin di mobil?” dan Radit masih menggunakan volume kencang.
“Yang mana?”
“Soal panti asuhan.”
Nada tahu persis detik ini ia sedang sekaligus berlatih akting. Mungkin suatu saat ia bisa menjadi aktris jempolan, baik untuk pentas teater maupun film.
“Memang panti asuhannya kenapa?”
“Semalam panti kena teror lagi! Ada dua sepeda motor, lempar bom molotov ke bangunan panti, tapi cuman meledak di tempat parkir!”
Hanya Aren yang menunjukkan kekagetan original. “Bom molotov!?”
“Iya,” Radit menatap Aren sekilas. “Kan kemarin aku cerita ka Nada, panti asuhanku diteror orang. Ada yang mau beli lahan dan rumahnya, tapi papaku belum mau melepas. Makanya kita lantas kena teror macam-macam, dan kejadian terbaru persis terjadi tadi malam, sekitar jam 12 atau setengah 1 dini hari!”
“Walah! Trus ada korban nggak tuh?”
“Untungnya nggak ada. Bomnya cuman meledak di parkiran. Ada bom satu lagi, tapi sudah mati sebelum dilempar. Pelakunya ada empat orang, tertangkap semua! Tahu nggak kenapa pelaku teror bom molotov kali ini bisa ketangkap?” Radit menatap dua cewek di hadapannya bergantian. “KARENA ADA SUPERHERO YANG NANGKAP MEREKA!!!”
Dan dalam sekejap, meja Nada dan Aren dirubung orang sekelas, yang mana semua kena trigger gara-gara kata “superhero”. Pada semuanya, Radit pun terpaksa mengisahkan ulang semuanya segamblang mungkin.
“Jadi tuh superhero melumpuhkan empat preman teroris cuman dengan sekali tendang. Cepet banget gerakannya. Para pemuda yang sedang nongkrong di dekat sana cuman lihat si superhero menendang di udara, lalu dua sepeda motor para teroris jatuh nyungsep. Satu bom meledak, satunya lagi dilempar ke arah lain oleh si superhero dalam keadaan udah mati! Gara-gara semua bisa dilumpuhkan, para warga gampang nangkep mereka semuanya lalu dihajar sampai babak belur!”
“Superheronya bentuknya kayak apa?” tanya Nurman, yang seperti umumnya cowok pasti b*******h soal cerita-cerita film Marvel dan DC.
“Pakai jaket, sama celana kargo. Trus pakai helm dan masker untuk nutupi muka dan kepala. Ada tetanggaku yang bilang, si superhero pake helm Shaun the Sheep dan maskernya pink. Jadi kayaknya itu cewek.”
Haris dan para murid cowok melongo dengan wajah mupeng. “Wow! Superhero cewek. Namanya siapa?”
“Dia bilang, namanya Golden Girl. Ada nih di berita online. Aku share ke grup ya. Yang jelas gerakannya cepat banget, kayak The Flash. Duk! Duk! Plok! Langsung selesai, cuman dalam hitungan detik. Makanya nggak ada yang sempat rekam video juga. Misal ada, pasti langsung viral!”
Detik itu, Nada sampai nyaris kentut hanya untuk menahan tawa. Ya Allah, dapat ide nama dari mana dia semalam?
“Helm Shaun the Sheep. Kayak punyamu, Nad,” celetuk Aren. “Kamu punya kan helm kayak gitu?”
Nada sempat kaget karena tak menduga. “Hah? Apa? Eh, iya kayaknya... Aku soalnya kadang pakai helm Mama, yang warnanya item.”
“Ada, Nad. Aku beberapa kali pernah lihat. Ada gambarnya Shaun, dan helmnya warna kuning terang.”
Nada tertawa canggung. “Iya sih. Yang itu. Kebetulan saja si superhero juga punya helm seperti itu. Tapi konyol juga ada superhero pakainya helm sama masker. Anggaran superheronya untuk kostum pasti mepet.”
Anak-anak tertawa. Dan baru kini ia tahu seperti apa rasanya menertawakan diri sendiri.
“Tapi dahsyat kalau emang beneran dia cewek,” Haris menggeleng-geleng. “Aku mau saja jadi pacarnya.”
“Lah, dia yang nggak bakalan mau, Ris!” tukas Karin.
Kelas riuh oleh tawa gaduh semua orang. Dan hampir semuanya menoyor-noyor kepala Haris.
“Trus terorisnya sekarang pada dikemanain?” tanya Nada. “Kantor polisi?”
“Iya. Omku sendiri yang angkut mereka ke polsek. Mereka semua babak belur dan perlu dijahit.”
“Udah ketahuan dalangnya?”
“Belum. Omku masih mengontrol ketat pemeriksaan mereka di kepolisian. Ntar kutanya lagi, sudah ada kabar apa belum.”
“Soalnya kemarin kan aku baru nanya soal orang yang memaksa beli tanah panti kalian itu. Dan kamu belum sempat jawab.”
“Dia pengusaha juga, Nad. Aku nggak tahu nama lengkapnya, tapi Papa dan orang-orang biasa menyebut dia Pak Wawan. Orang Jakarta kayaknya. Ngotot banget pengin beli, padahal sudah sejak awal Papa nggak tertarik jual tanah itu. Tapi memang lokasinya berprospek bagus sih. Pas di pusat bisnis sepatu Cibaduyut.”
“Pasti itu gembong mafia,” celetuk Aren sok tahu.
Dan kehebohan mereda dengan cepat oleh bel tanda mulai jam pelajaran. Anak-anak kabur sembari menonaktifkan ponsel masing-masing.
Saat tapak kaki Bu Siwi yang memegang jam pertama hari ini terdengar mendekati pintu, Aren menatap Nada dengan mata berkilat. Kalimatnya meluncur pelan dengan suara sangat rendah.
“Helm Shaun the Sheep, masker pink, dan kamu bisa pergi ke tempat jauh cuman dalam sedetik? Jangan kamu pikir aku ini b**o, Miss Golden Girl! Dan betewe, nama macam apa itu Golden Girl? Konyol!”
Nada diam mematung, antara ingin tertawa dan memukul batok kepala Aren pakai helm Shaun the Sheep.