“Whoaaa...!” Mata Nada dan Aren seketika melebar sejadinya saat pintu pagar tinggi itu bergeser dan Nathan memajukan mobilnya melewati gardu satpam. “Biasa aja kalee,” sang pengemudi tertawa pelan. “Buatmu, ini biasa. Buat aku sama Nada, ini kayak cuilan surga!” tukas Aren spontan. “Lebay!” tukas Nada. Nathan ngakak. Pasalnya, yang dilihat Nada dan Aren memang bukan pemandangan biasa. Rumah berpilar raksasa dengan dua lantai, pekarangan seluas lapangan bola dan dihias kolam air mancur berbentuk bundar di tengahnya, dan halaman samping yang difungsikan sebagai lapangan tenis, terang bukan sesuatu yang rutin mereka saksikan saban hari. Pemandangan kian dramatis karena jejeran pohon palem di sebelah sana itu, dekat lapangan tenis, menghadirkan bayangan-bayangan panjang dari matahari sor

