Alamanda

1395 Kata
“Apa?” Aren menatap lekat ke arah Nada selagi mereka menuruni eskalator menuju lantai dasar mal. “Ya. Jadi itu misterinya. Kayaknya aku yang nabrak, tapi malah dia yang sibuk minta maaf karena menabrakku. Tapi logikanya, kalau dia yang nabrak, kenapa malah dia yang mencelat sampai menggulingkan tempat sampah dekat koperasi?” “Kalau beneran dia yang tabrak, harusnya kamu sekarang ini ada di rumah sakit. Koma, lalu diinfus dan mukamu penuh selang-selang. Badannya kan kuat banget, secara dia itu atlet.” “Itu juga yang dibilang Benu tadi. Dia saksi matanya. Dan dia juga bilang aku ditabrak Nathan, kayak becak kena sruduk Airbus A300!” “Trus dia sekarang pengin ketemu kamu mau apa?” Nada mengedikkan bahu. “Mana gue tahu? Minta maaf lagi mungkin. Kita akan segera tahu sebentar lagi.” Mereka ada di lantai dasar, dan langsung bergerak menuju Writer’s Coffee yang diomongkan Nathan tadi lewat w******p. Kafe merangkap perpustakaan kecil itu berada di bagian paling tengah lantai itu, tepat di persimpangan tempat para pengunjung dari segala arah saling berpapasan. Saat mereka masuk, Nathan sudah ada di sana, duduk pada kursi tinggi di satu meja berukuran kecil berbentuk bundar. Sore menjelang petang ini cowok itu nampak sangat elegan dengan T-shirt slim fit dan celana jins berlutut robek. Nada bisa melihat jelas Aren meneguk ludah. Namanya juga cowok atletis, tentu ingin memamerkan bodi sehat bugarnya dengan mengenakan baju yang serba ngepas badan. Dan itu jelas sangat berpengaruh bagi cewek-cewek macam Aren. Nada sendiri cuek bebek saja. Memang harus diakui penampakan seperti Nathan ini kurang sedikit saja melewati level kekinclongan selebritas Ibukota. Namun dibutuhkan yang jauh lebih dari itu untuk bisa menggoyahkannya. “Kalian sejak tadi belum pulang ke rumah?” kata Nathan kemudian, berbasa-basi, sesudah mempersilakan Nada dan Aren memesan minum. “Belum. Dari sekolah aku kemari karena diajak ketemuan Aren.” Nathan lekat menatap Aren. “Dan kamu hari ini nggak masuk sekolah karena ikut lomba debat?” Aren mengerjapkan mata. Seolah ditanyai Nathan menjadi suatu pengalaman spiritual yang amat penting. “Iya, di Semarang. Lombanya di Akpol. Trus tadi pas pulang, aku minta diturunin depan situ karena emang mau jalan sama ortu di sini habis ini nanti.” “Wow! Trus menang nggak?” “Cuman juara dua,” Aren mati-matian menyembunyikan cengiran bangganya, sekaligus berakting seolah itu sesuatu yang standar saja. “Tim lawan di final dari SMA 9 Semarang jago banget.” “Juara dua kan udah bagus banget. Apalagi ini debat, dan pakai bahasa Inggris pula. Aku cuman ngomong sama bule aja udah grogi setengah mati,” Nathan tertawa sendiri. “Takut salah grammar.” “Ya kan kamu pebasket. Bidang keahliannya udah beda lagi,” Nada nyeletuk, menyelamatkan Aren yang sepertinya tak bisa menyahut kalimat Nathan. “Eh, iya, kamu gimana? Beneran nggak kenapa-kenapa sesudah kejadian tadi pagi?” Nada menggeleng. “Nggak kok. Lah ini, masih bisa jalan bebas hambatan sampai sini. Barusan muter-muter sampai kenyang sama Aren. Trus ntar pasti muter lagi kalau mamaku dan ortu dia sudah nyampai. Betewe, kamu dapat nomor WA-ku dari mana?” “Dari Haris, ketua kelas kalian. Ternyata kamu kuat banget ya? Tadi malah aku yang jatuh nyungsep.” “Palingan tadi kamu cuman terpeleset. Rumput deket koperasi kan licin kena embun.” Nathan termenung. “Bener juga. Aku jatuh karena terpeleset. Bukan karena tabrakannya.” Nada mengangguk. “Misteri terpecahkan.” Meski tetap belum menjelaskan misteri-misteri lainnya, yang bertebaran sejak kemarin siang. Lalu ketiganya berdiam diri semenjak minuman-minuman diantar oleh pramusaji. Sekian menit sesudahnya, seperti lazimnya warga era milenial, mereka tenggelam dalam ponsel masing-masing. “Mama kamu udah sampai?” tanya Aren kemudian. Nada mengangguk. “Udah. Lagi jalan ke sini dari parkiran basement.” “Mama kamu yang dosen fisika itu, kan?” Nathan menimbrung. “Iya. Kok tahu?” “Tahu lah. Aku berteman sama mamamu di sss. Kayaknya beliau aktif banget ya riset ini-itu, bikin makalah ini-itu di jurnal ilmiah?” “Iya memang. Sibuknya kayak dewa. Berangkat lebih pagi dari aku dan pulang malam-malam. Sehabis jam ngajar pasti ada jam-jam kerja lainnya. Sibuk nulis juga. Ini ajaib banget jam segini udah bisa keluar kantor. Biasanya pasti di atas jam 7 malam.” “Aku kaget pas kapan itu mamamu nge-tag kamu di foto, pas kalian lagi di bandara,” Nathan tertawa sendiri. “Baru tahu kamu ternyata anaknya Bu Femna. Orang yang nggak kenal pasti mengira kalian kakak-adik.” Nada tertawa. “Tampang mamaku emang sering menipu. Di sss dan IG sering digodain anak-anak SMP kurang ajar. Dipikirnya mamaku mbak-mbak kuliahan yang masih lugu.” Nathan dan Aren tertawa, tepat ketika sosok bayangan ramping yang mereka bicarakan tiba di situ. Di mata Nada, Mama nampak cantik memukau sore itu. Warna biru tua cocok sekali untuknya, membuat penampilannya berkesan elit dan pasti bakal terasa mengintimidasi di mata para cowok yang berkarakter dan berdompet biasa-biasa saja. Dan ia seketika berdoa semoga saja mereka tidak bersirobok dengan Om Gading. Anehnya, begitu masuk kafe, tatapan mata Mama malah terfokus ke Nathan. “Eh, kamu anaknya Pak San kan, ya?” Nathan tersenyum sedikit salah tingkah. “Iya, Tante,” dia berdiri dan sedikit membungkuk hormat saat menyalami tangan Mama, namun tanpa menempelkan tangan itu ke jidatnya. “Kalian saling kenal?” Nada melongo, juga Aren. “Pernah ketemu satu kali di The Village, pas Mama makan di sana bareng Om Gading,” jawab Mama sambil duduk dan menerima buklet menu yang disodorkan pramusaji. “Jadi, The Village yang di Sriwedari itu kafe dan resto punya Pak Santoso Ernawan. Waktu itu Pak San juga ada di sana. Lalu si Nathan ini datang pas pulang sekolah, trus dikenalin deh ke kita-kita. Kata Pak San, ya Nathan ini yang nanti akan menggantikan beliau mengelola bisnis Grup Semestaloka,” Nada melongo. “Santoso Ernawan kan ngetop, Ma. Iklan perusahaan perumahannya ada di TV lokal tiap hari.” “Maka dari itu. Kalian beruntung temenan sama putranya. Siapa tahu nanti ketularan sukses jadi pebisnis.” “Allahuma aamiin...!” Aren mengusapkan kedua tangan ke muka. Yang lain tertawa. “Kamu udah sembuh, Ren?” tanya Mama, setelah memesan secangkir long black tanpa gula. “Nad cerita, tempo hari lambungmu sakit parah.” “Udah, Tante. Nyaris opnam, untungnya nggak jadi.” “Kamu ini sering sakit. Mbok ya minta tolong dilihatin Nada. Siapa tahu sakitmu karena hal aneh-aneh,” Mama lalu menoleh putrinya. “Kemarin kamu jadi ngecek temenmu si Benu?” Nada mengangguk. “Trus?” “Dia dijahili cewek-cewek di dekat pohon jambu. Gara-garanya, dia sering muter musik death metal kenceng banget malam-malam kalau pas di rumah sendirian. Begitu dia dengerin pakai headset, gangguan berhenti. Demamnya langsung sembuh.” “Cewek-cewek kok di pohon jambu?” Nathan menukas heran. “Cewek-cewek,” Mama mengucapkannya dengan intonasi khusus sambil membentuk isyarat quotation menggunakan jari telunjuk dan jari tengah pada dua tangan. Nathan langsung melongo. “Maksudnya arwah, Tante?” “Iya. Nad kan indigo. Bisa berurusan dengan smooth creature.” “O, ya? Luar biasa!” Nada tertawa malu. “Biasa aja kalee. Cuman bisa lihat dan dengerin keluh kesah mereka, lalu menyampaikan biar orang-orang tahu.” “Makanya cek tuh si Aren!” sahut Mama. “Kok kayanya dia terlalu sering sakit. Mama yang sudah mau 40-an aja jarang sakit sampai yang berat dan terpuruk gitu. Siapa tahu sakitnya disebabkan hal-hal tak kasat mata!” Aren meringis. “Jangan, ah! Serem.” “Lah, kan cuman dicek. Bukan diajak buka mata batin biar bisa ikutan lihat hal-hal gaib kayak Nada.” Nada terdiam, sibuk mengaduk-aduk es capuccinonya. Dahinya berkerut. “Semua ini berkaitan dengan Alamanda 108,” katanya tiba-tiba. “Apanya?” sahut Aren. Nada tercekat. Seperti baru bangun dari tidur yang lelap berjam-jam. “Astaga! Iya juga ya? Apanya coba? Tiba-tiba aja itu nongol mak bedunduk di kepalaku.” “Pasti semacam paranormal insight...!” Mama berkata dengan suara rendah, dan menggunakan intonasi yang dramatis. Nada mendesah pelan. “Atau pikiran yang kadung ruwet karena lapar.” But, seriously, ia harus mengajak bicara seseorang tentang berbagai fenomena ajaib yang terjadi padanya dalam 24 jam terakhir. Pilihan terdekat hanya Mama. Masalahnya, mendiskusikan hal-hal supranatural bersama seorang pakar fisika adalah seperti mengobrolkan soal teknik menggali kubur dengan dokter jaga UGD—alias saling bertolakbelakang. Tapi kalau tak segera dibicarakan, Nada takut lama-lama ia harus check in ke unit gawat darurat rumah sakit jiwa!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN