Everything

1631 Kata
Nada duduk dan menaruh folder berisi berkas dan foto-foto itu ke meja. Di seberang tempatnya duduk, pria bertubuh kurus dengan rambut keriting yang seperti terlalu berat untuk kepalanya itu diam menunggu dengan raut wajah tegang. “Nama?” katanya kemudian, dengan volume menyentak, yang memang dimaksudkan untuk membuat kaget. “Irfan. Irfan Syahputra.” “Usia?” “39 tahun. Genap 40 bulan depan.” “Pekerjaan?” “Wiraswasta.” “Detailnya?” Pak Irfan meneguk ludah. Caranya meremas-remas jemari menandakan ia sudah sangat gelisah sehingga bakal sangat mudah diperas guna mengeluarkan informasi yang dibutuhkan. “S-saya punya toko yang menjual ikan hias.” Nada diam, mengangguk-angguk. Ia merogoh jaketnya, dan mengeluarkan sebentuk anak kunci berwarna keemasan. Ia taruh benda itu di meja, dan Pak Irfan menatapnya dengan sinar mata penasaran sekaligus kepengin. Anak sekarang menyebutnya dengan istilah “mupeng”. “Baik. Kita mulai saja. Bagaimana semuanya berawal?” Pria itu meneguk ludah. Wajah makin resah. “Saya ketemu dia saat kelas III SMP. Saya suka dia karena cantik sekali, dan pintar. Dia juga suka sama saya karena, katanya, waktu itu saya ganteng. Banyak cewek yang tertarik, tapi yang membuat saya jatuh hati hanya dia.” “Siapa namanya?” “Dita. Erdita Auliani. Dia setahun lebih muda dari saya.” “Anda berdua bertetangga?” “Ya. Kami jadi dekat setelah nonton bareng konser KLa Project di Stadion 10 November, bareng anak-anak lain juga, lalu jadi sering teleponan. Dia tingal di RT 1, saya di RT 4. Rumahnya di Jalan Alamanda nomor 108, saya di Anyelir 224. Kompleks kami menggunakan jalan dengan nama-nama kembang.” “Kompleks mana itu tepatnya?” “Villa Aster Permai, di kawasan Ketintang Baru, Surabaya.” “Lalu apa yang terjadi kemudian? Kalian berpacaran?” “Ya. Putus-nyambung beberapa kali. Sampai empat kali, sepanjang masa SMA dan kuliahan. Lagipula kemudian dia kuliah di Bandung. Saya tetap di Surabaya.” “Dan pada periode pacaran terakhir, Anda sungguh merasa Dita adalah soulmate Anda?” Pak Irfan mengangguk. “Karena dia seperti terus dikembalikan pada saya. Ke mana pun saya pergi, ujung-ujungnya tetap ada dia. Kami merasa seperti selalu dipertemukan oleh takdir. Kesimpulannya, kami memang berjodoh satu sama lain.” “Tapi nyatanya Anda berdua tidak bersama. Anda menikah dengan wanita lain.” Pak Irfan menarik napas dengan wajah berat. “Karena kemudian dia bertemu cowok lain, yang serba lebih dari saya. Dan mendadak, setelah pertemuan kami terakhir di Surabaya, dia tak pernah lagi menghubungi saya. Dan saya susah menghubunginya. Nomor telepon yang dia berikan tak bisa lagi dihubungi. Surat-surat dan email juga tak terbalas. Genap setahun, akhirnya saya menyerah dan menerima saja ketika orangtua menjodohkan saya dengan Wanda, yang sekarang jadi istri saya.” “Anda tak pernah berkontak lagi dengan Bu Dita sesudah itu?” Pak Itfan menggeleng. “Dia menutup kontak dari saya. Nampaknya saya memang sengaja disisihkan karena... yah, mungkin karena dirasa saya kurang pantas untuk mendampinginya. Dia dari keluarga kaya, sedang almarhum ayah saya cuman penjual daging di pasar.” “Jadi Anda juga tidak tahu jika barangkali saja pihak Bu Dita memendam pertanyaan atau semacam masalah yang belum terselesaikan pada Anda?” “Saya rasa itu tidak mungkin. Bukankah dia yang meninggalkan saya demi bersama pria lain?” “Kita belum tahu peristiwa pastinya dari angle Bu Dita. Sebab saya menangkap adanya sesuatu, yang berkaitan dengan urusan asmara. Ada kisah cinta lain selain dengan dia?” “Tentu saja ada, beberapa kali, pada masa-masa ketika saya tidak bersamanya. Tapi semua hanya kencan biasa saja. Tidak ada yang serius.” Nada kembali membolak-balik berkas di hadapannya. “Dan memang sumbernya hanya satu, yang dengan Bu Dita ini. Masalahnya, kita belum tahu gambaran besarnya, karena belum mendengar penjelasan dari versi beliau.” Pak Irfan menyeka dahi yang berkeringat dingin. “Saya hanya takut ini akan bertambah parah.” Nada mengangguk. “Tentu saja. Itu yang coba saya bantu selesaikan. Dan memang hanya sebatas ini pula yang Anda ketahui, bukan?” “Ya. Saya benar-benar tak pernah berkontak lagi dengannya, hingga hari ini.” “Tidak tahu juga sekarang dia ada di mana dan sedang sibuk mengerjakan apa? Pada masa kini, orang-orang seusia Anda sibuk mencari nama-nama yang membawa kenangan khusus di Google, atau melalui akun media sosial. Anda tak coba lakukan itu?” Pak Irfan menggeleng. “Sudah. Saya berteman dengannya di f*******: dan i********:, tapi tak pernah berkontak langsung dan saling menanyakan kabar. Apalagi menggali cerita-cerita masa lalu. Selain itu kami juga tak terlalu aktif mainan sosmed. Saya bahkan sudah lupa password f*******: saya...” Nada terdiam dan mengangguk-angguk. “Saya akan bantu semaksimal mungkin,” ia mendorong kunci emas itu kembali pada Pak Irfan. “Harap mengabari jika ada informasi baru yang berguna bagi penyelidikan kasus ini!” Wajah pria itu nampak begitu penuh rasa syukur saat kembali menggenggam kunci emas. “Terima kasih, terima kasih.” Nada membuka mata dan hanya ada kegelapan. Tentu saja gelap, karena ia selalu mematikan lampu saat tidur. Lampu-lampu di luar kamar pun ikut dimatikan, demi penghematan energi atas instruksi Mama. Dan hal pertama yang muncul di benaknya adalah soal Alamanda 108. Ia ingat tadi menyebutkan itu pada Aren di Writer’s Coffee Solo Grand Mall, namun ternyata baru sebentar ini tadi ia mendapat info mengenai alamat itu dari Pak Irfan Syahputra. Lalu siapa yang tadi membisikkan itu padanya di mal? Dan satu hal lagi membuat otaknya bagai diperas dan dipuntir sampai retak berkerak. Siapa pula itu Irfan Syahputra? Nada membuang napas dan kembali memeluk guling yang dingin oleh hawa AC. Sebodo amat Irfan atau apalagi Olga Syahputra. Sama sekali bukan urusannya!   ***   Nada dan Aren masih sibuk dengan ponsel masing-masing sebelum wajib dimatikan pada pukul 7 ketika cowok itu datang mendekat. “Lo siapa?” Aren mendongak. Pertanyaan itu ditujukan padanya. Dan matanya membundar melihat seorang makhluk laki-laki dengan wajah yang susah dilupakan menatapnya tajam. Ekspresi wajah anak itu mengingatkan dia, dan juga Nada, pada zaman es di film Ice Age. “Gu... gue...” saking gugupnya, Aren sampai ikut berdialek anak muda Jabodetabek! “Ini Aren, teman sebangkuku,” tukas Nada datar. “Kemarin dia nggak masuk karena ikut lomba debat bahasa Inggris di Semarang, makanya Pak Basri nyuruh kamu untuk sementara duduk di sini.” Masih dengan wajah tanpa ekspresi, Radit menatap bergantian kepada kedua gadis itu. “Gue nggak mau nyari tempat duduk baru. Gue udah nyaman di sini.” Sudah pasti tekanan darah Nada melejit. “Ya nggak bisa dong! Kamu datang belakangan. Aren udah ada di sini sejak awal tahun ajaran bulan Juli kemarin. Bahkan sudah sejak kelas X, dia duduk bareng aku.” Radit balik melihat pada Nada dengan dahi berkerut. Mulutnya sudah membuka, siap untuk memberikan serangan balik. Di luar dugaan, yang muncul justru hal lain sama sekali. “NGAHAHAHA...! Marah beneran.” Tak hanya kedua cewek itu yang kaget melihat Radit, melainkan semua yang saat itu sudah ada di kelas. Nada saling tatap dengan Aren, sementara Radit masih sibuk tertawa. “Sori, sori. Aku kayak gini cuman akting,” lalu dia menyalami mereka bergantian. “Taruhan sama sepupuku.” “Taruhan?” tukas Nada. “Iya. Dia tuh suka baca, dan penasaran kenapa semua novel teen romance pasti ada tokoh cowok yang dingin dan jutek sama cewek. Trus dia tantang aku, bisa nggak akting kayak gitu pas hari pertama masuk sekolah di Solo. Kalau bisa, dia akan traktir aku selama seminggu nonstop. Dan aku menang!” dia mengangkat tinju ke udara seperti Salah habis mencetak gol. “Padahal aslinya kamu nggak seperti itu?” “Nggak lah. Aku ya biasa-biasa aja kayak orang normal. Ramah pada orangtua, dingin kalau pas salah masuk kulkas, jutek pada pencopet. Hanya saja, aku pernah ikut ekskul teater, jadi tahu gimana caranya berakting. Haha... tadi muka kalian sampai ijo kebiru-biruan karena mangkel!” “Dasar...!” Nada menggeleng-geleng. “Dan aku sudah siap keluar tanduk beneran.” Radit ngakak lagi. Imejnya jadi tampak begitu beda sekarang. Dia ternyata sama saja dengan cowok-cowok deretan bangku belakang: berisik, sering tertawa tanpa sebab, dan selalu merencanakan kapan bisa melakukan desersi sebelum jam sekolah berakhir. Habis itu dia menoleh pada Aren. “Namamu siapa? Aren?” Gadis itu mengangguk, masih belum pulih dari syok. “Iya.” “Tahu nggak apa bedanya kamera depan di HP-mu sama yang di HP-ku?” Aren bengong. “Hah? Kamera HP? Emang beda di mananya?” “Kalau kupakai selfie, kamera depan di HP-ku paling ya merekam mukaku sendiri. Tapi kalau kamu selfie, kamera depan di HP-mu akan merekam wajah bidadari.” Seketika seisi kelas gaduh. Cewek-cewek bahkan menjerit. Haris dan geng berandalan menggebuk-gebuk meja. Pipi Aren memerah. Nada mau tak mau tertawa. “Hahaha... haha... Aren bersemu merah dadu!” Dan dengan santainya Radit meninggalkan Aren untuk bergabung dan tos dengan Haris. Nampaknya dia langsung jadi idola, begitu aktingnya sebagai cowok dingin berakhir. “Apaan sih tu cowok?” Aren ngomel, tapi sembari susah mematikan cengiran tersipunya. “Baru kenal udah ngegombal.” “Tenang. Barangkali itu juga akting,” dan Nada kepayahan menghentikan tawanya. “Jangan baper dulu!” Bel berbunyi. Situasi seketika berubah angker, karena jam pertama sampai ketiga ini nanti adalah matematika, yang diajar oleh Bu Susi yang juga angker. Nada sibuk mengeluarkan buku-buku dan mendadak teringat sesuatu. Dan entah kenapa ia menanyakannya pada anak itu. “Eh, Irfan Syahputra itu siapa?” Aren melongo. “Itu bokap gue. Dari mana kamu tahu nama lengkapnya?” Nada ikut tercekat, balas menatap Aren. Ia batal menyahut karena ada bunyi pesan masuk pada ponsel yang akan segera dinonaktifkan. Ia sempatkan dulu untuk membukanya. Dari Dayu Margantari. Bnnyinya singkat saja, Meet me @ A Sweet Treat. I’ll explain everything. Dahinya berkerut saat keluar dari aplikasi w******p dan kemudian mematikan ponsel. Everything? Entah kenapa, sepertinya itu berkaitpaut dengan berbagai keanehan yang belakangan ini ia alami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN