A Sweet Treats Cafe & Pattisserie terletak di Solo Baru, pada ruas jalan yang memang dipenuhi tempat makan berbagai jenis dan kelas. Sejak angkringan kaki lima yang sangat proletar hingga kedai kopi yang dikhususkan bagi pencinta kopi kalangan menengah ke atas.
Menghadirkan kue, roti, dan pastry dengan harga yang tak murah, A Sweet Treats jelas berada pada kategori kedua. Saat Nada melintas masuk pada pukul 15.50, aroma roti dipanggang yang sangat menenangkan hati menyesaki indera penciumannya. Kafe relatif sepi sore itu, sehingga ia dengan mudah menemukan Dayu.
“Sendirian aja?” tanya gadis itu saat Nada duduk.
“Mau ajak teman tapi dia ada ekskul debat bahasa Inggris.”
Pramusaji datang menyodorkan buku menu. Dayu mempersilakan Nada memesan apa saja, termasuk makanan. Karena sudah dipersilakan, Nada tak ragu memesan affogato dan sepiring lasagna. Ia memang lapar. Tadi di kantin hanya sempat menyantap semangkuk kecil soto, itu pun terburu-buru oleh bel tanda akhir jam istirahat.
“Kamu kayaknya sudah bisa menduga penjelasanku nantinya bakalan soal apa,” kata Dayu kemudian.
Nada mendesah dan tertawa. “Anehnya, memang iya. Kayaknya soal hidupku yang dua hari belakangan ini jadi... apa ya istilahnya? Unexplainable. Ya. Itu mungkin istilah yang paling mendekati.”
“Then you’re gonna need this.”
Dayu mengeluarkan sebuah buku dari tasnya, meletakkannya di meja tepat di hadapan Nada. Anak itu melongo.
“Apa ini?” ia memungutnya dan melihat sampulnya yang bertuliskan judul Manunggaling Kawula Gusti: Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa, ditulis oleh P.J. Zoetmulder.
“Terlalu berat untuk ukuran usiamu, itu jelas. Ini buku dari bahan disertasi untuk gelar doktoral Romo Zoetmulder. Tapi aku yakin nanti kamu akan gampang nangkap maksudnya.”
“Siapa itu Romo Zoetmulder?”
“Pastor, orang Belanda, tapi mempelajari ilmu kebatinan Kejawen.”
Nada membolak-balik lembaran buku tanpa tujuan, lalu membaca sekilas bagian daftar isi.
“Manunggaling kawula-Gusti? Manusia menyatu dengan Tuhan?”
“Methaporically. Intinya adalah pencarian anasir ketuhanan dalam diri tiap manusia. Kalau udah ketemu, kita bisa mensinkronkan diri dengannya, lalu ‘menyatu’ dengan unsur itu. Darinya lalu lahir kekuatan-kekuatan ajaib tak masuk akal yang membuat kita mau tak mau terpaksa meragukan hukum matematika dan fisika.”
“Dan itu yang terjadi padaku sejak kemarin lusa?”
Dayu tersenyum. “Ceritakan dulu apa yang terjadi! Kulihat kamu sudah tak sabar menceritakannya pada seseorang.”
“Memang!” tukas Nada keras, tepat ketika pramusaji mengantarkan minuman pesanannya. “Aku sumpek, tapi nggak tahu musti cerita ke siapa, apalagi mamaku yang pakar fisika. Pasti nggak nyambung. Mungkin malah dikira aku sudah gila!”
Dayu tertawa. Lalu Nada dengan antusias mengisahkan semuanya, sejak pintu kamar mandi yang dibuka tapi malah keluar di Pasar Dargo Semarang, sepeda motor dan tas yang pulang sendiri secara misterius, hingga obrolan Benu yang langsung bisa ia tanggapi, dan terakhir tadi ketika ia mendadak tahu nama lengkap ayah Aren.
“Mau nggak dibilang gila gimana coba?” katanya kemudian, memungkasi cerita panjang lebarnya. “Itu kan menentang hukum alam semua!”
“Mau tahu istilahnya satu-satu? Dan semua tercakup dalam disiplin ilmu yang ditulis Romo Zoetmulder di buku itu. Bepergian jauh secara seketika seolah hanya sekedipan mata, itu namanya Tay Al Arz. Berada di dua tempat dalam saat yang bersamaan, disebut dengan istilah Bilokasi...”
“Wait! What? Ada di dua tempat pada saat yang sama?”
“Ya. Saat kamu ketemu aku di warung soto Pasar Dargo, kamu yang satunya lagi masih ada di Benu, ngobrolin si murid baru bernama Radit. Makanya kamu langsung nyambung obrolan itu ketika ketemu Benu esok harinya. Dan yang bawa pulang motor sama tas ya kamu juga, tapi kamu yang satunya lagi. Kamu beneran nggak ingat versi yang itu?”
Wajah Nada memucat saat menggeleng. “Aku cuma ingat yang di pasar trus naik ojek ke Sukun Banyumanik dan naik bus patas AC jurusan Solo.”
“Wajar itu, karena baru pertama. Nanti lama-lama pasti bisa juga, apalagi kalau kamu sudah bisa mengendalikan itu semua. Nah, kemudian, yang kamu bisa memasuki mimpi orang lain, itu namanya Infiltrasi Mimpi.”
“Memasuki mimpi?”
“Pas kamu menginterogasi Irfan Syahputra soal kisah cinta masa lalunya dengan cewek penghuni Alamanda 108 di Surabaya. Kita memasuki mimpi orang lain untuk membuka apa pun yang ada di alam batin pikirannya. Entah nyuri ide, mencari data dan keterangan tertentu, membongkar rahasia-rahasia tersembunyi, atau justru menanamkan suatu gagasan. Kamu pegang sesuatu yang mirip kunci emas di mimpi itu, kan? Itu namanya Kunci Memori. Isi. Isinya adalah semua ingatan dan pengetahuan orang yang mimpinya kam masuki, yaitu yang kamu temui di mimpi. Memegang Kunci Memori seseorang dalam mimpi berarti menguasai sepenuhnya ingatan dan pengetahuannya. Yang perlu kita lakukan hanya bertanya, kayak wartawan melakukan wawancara. Nanti semua jawaban pasti akan muncul. Nggak akan ada yang disembunyikan, ditahan, atau dia menolak menjawab pertanyaan dan bilang ‘no comment’. Bisa juga untuk menanamkan gagasan atau menambahkan pengetahuan baru. Caranya ya sesimpel dikasih tahu aja.”
“Buset! Itu kan kayak di film Inception.”
“Bagus kamu udah nonton, jadi udah ngerti dasar berpikirnya.”
“Tapi aku nggak ngerasa sengaja masuk ke mimpi bapaknya Aren. Ketemu orangnya aja jarang banget. Kayaknya cuman pas Pak Irfan ambilin rapor Aren di sekolah.”
“Sekali lagi kata kuncinya adalah kemampuan untuk mengendalikan. Saat ini, semua masih belum terkendali. Jadi munculnya masih secara random, dan tanpa kamu sadari.”
Nada termangu. Teringat sesuatu.
“Apa kemampuan ajaibnya termasuk membuat badan tahu-tahu jadi kuat?” lalu ia ceritakan insiden tabrakan dengan atlet paling populer di sekolah.
“Ya. Bahkan udah ke arah superhuman abilities, kayak superhero di komik. Lalu ada lagi yang lainnya, yaitu kemampuan melihat citra peristiwa, baik dari masa depan maupun masa lalu. Sebelum kamu memasuki mimpi ayah Aren, bukankah kamu udah tahu duluan soal Alamanda 108, entah dengan cara apa?”
Nada melongo. “Bener juga. Dan kemarin itu aku masih bingung, dari mana aku tahu itu, dan apa hubungannya dengan semua ini?”
“Kamu melihat citra dari masa depan, yaitu dari mimpi malam harinya.”
“Bagaimana dengan keindigoanku soal makhluk halus? Apa juga merupakan bagian dari kekuatan itu?”
Dayu mengangguk. “Mengapa disebut indigo? Karena, saat dibaca dengan mesin pembaca aura, anak-anak dengan kelebihan khusus sepertimu akan memiliki aura dengan warna biru jenis tertentu, yaitu biru khusus yang senada dengan warna biru dari tanaman bernama Latin Indigofera tinctoferus. Tanaman ini biasa dipakai orang zaman dulu sebagai bahan pembentuk warna. Kita tahunya anak indigo adalah mereka yang bisa lihat hantu. Padahal ada jenis-jenis kemampuan lain yang tergolong dalam keindigoan itu. Punyamu saat ini sudah keluar semua.”
Nada terhenyak, menaruh pungguh di sandaran kursi. Sejenak lupa pada lasagna yang sudah tiba di depan mata.
“Apa masih ada yang lainnya lagi?” tanya dia kemudian, sambil menyuapkan segumpal lasagna ke mulut.
“Pada dasarnya kamu sudah berkenalan dengan semuanya. Sekarang tinggal berlatih, agar kamu bisa mulai mengendalikannya. Dan aku ada untuk itu.”
Nada menelan ludah. Ia tatap Dayu dan baru sekarang menyadari gadis itu bukan sekadar perempuan cantik biasa. Dia mendadak terlihat seperti makhluk dari planet lain—yang menyamar menjadi Homo sapiens penghuni planet Bumi.
“Kamu sendiri apa sebenarnya, Mbak? Indigo tingkat tinggi, yang bisa melakukan semuanya?”
Dayu menggeleng. “Aku seperti semacam pengamat, dan pembimbing. Tugasku menemukan anak-anak indigo berbakat luar biasa lalu melatih mereka. Jadi kemampuan itu tak disalahgunakan untuk mengacau.”
“Jadi itu semacam bakat ya?”
“Iya. Kayak bakat ngegambar, bakat nulis, bakat main bola. Punyamu kebetulan adalah talenta tentang hal-hal yang berada di luar penalaran.”
“Lalu gimana caraku melatih itu?”
“Yang paling mudah, dengan meditasi. Latihan fokus pikiran. Fokus yang benar-benar tertuju pada satu titik tunggal, yaitu Tuhan. Nggak ada hal lain selain itu. Salat akan jadi alat latihan yang bagus untuk ini. Lalu lama-lama, kamu akan merasakan suatu getaran elektrik misterius keluar dari arah jantung, bisa kamu salurkan ke seluruh penjuru tubuh.”
“Kayak tenaga dalam di pencak silat?”
“Mirip. Hanya saja ini lebih murni. Kalau tenaga dalam dilatih dengan tirakat dan olah pernapasan, tenaga murni ini berasal dari inti jiwa. Hasil dari penyatuan kita dengan anasir Tuhan tadi. Kita menyebutnya Ingsun—versi diri kita yang lebih tinggi.”
Alis Nada berkerut. “Apa itu Ingsun?”
“Dalam tradisi kepemimpinan abad pertengahan, raja-raja selalu dianggap memiliki sifat divinity, ketuhanan. Titisan dewa, anak matahari, dan lain-lain. Kaisar Jepang sampai Hirohito, yang meletuskan Perang Dunia II di wilayah Pasifik itu, masih diyakini sebagai titisan dewa matahari. Raja-raja di Jawa kuno pun demikian. Karena digolongkan sebagai ‘ras’ khusus, maka mereka tak bisa menyebut diri sendiri hanya dengan ‘aku’, ‘gue’, atau ‘saya’. Raja-raja Jawa zaman dulu menyapa diri sendiri dengan ‘Ingsun’, yang berarti ‘aku’ juga, tapi setingkat lebih tinggi. Mengapa lebih tinggi? Karena dianggap titisan dewa itu tadi. Jadi bukan ‘Aku mau makan’, tapi ‘Ingsun ingin makan’. Ingsun di sini adalah manisfestasi self kita, diri sendiri, namun dalam tingkat yang lebih tinggi. Maka jika kita sudah menemukan penyatuan dengan Ingsun kita masing-masing, maka pintu terbuka sehingga kita bisa mendapatkan banyak keluarbiasaan yang berada di luar nalar. Pada tingkatan para wali, itu disebut karamah, atau karomah.”
Nada melongo. Ngowoh.
“Kayaknya terlalu megah dan elit buatku...” gumamnya pelan.
Dayu tertawa. “Tidak setelah kamu bisa melatihnya, lalu menggunakannya untuk menolong orang lain.”
“Kayak superhero komik gitu?”
“Ya. Kalau dirasa perlu, kamu tinggal nyari kostum dan nama alter ego. Kamu bisa bikin atlet sekolahmu mencelat. Kamu pasti bisa juga bikin copet, jambret, atau begal motor nyungsep kelenger.”
Nada tersenyum tipis dan menusuk-nusuk lasagna dengan garpu. “Andai sungguhan bisa, aku akan pakai itu untuk mengurus soal lain terlebih dulu.”
“Ya, why not? Ada satu hal yang sedang mengganggumu, kan?”
Nada terdiam, hanya mengangguk. Betul juga. Satu nama langsung muncul di benaknya.
“Begini saja. Kamu temukan dulu getaran elektrik itu. Latih kepekaan sampai kamu benar-benar bisa merasakan dan memindah-mindahkannya di dalam tubuh. Kalau sudah, hubungi aku lagi untuk langkah selanjutnya. Nanti aku akan memandumu, sekaligus menjawab apa pun pertanyaanmu soal kemampuan-kemampuan ajaib terkait Ingsun.”
“Yah, asal nggak ganggu tugas sekolah aja, haha...!”
“Percayalah! Ini jauh lebih penting dari itu.”
Nada mengernyitkan dahi. “Di mana aku pernah dengar kalimat itu?”
Dayu tersenyum penuh arti. “Saat aku menginfiltrasi mimpimu.”
Mata Nada mendelik. “Astaga! Pantesan aku seperti pernah ketemu denganmu selain yang di warung soto pasar. Antara ingat antara enggak.”
“Nggak aneh kan? Kita sering begitu. Mimpinya jelas, tapi pas bangun, nggak ada satu pun yang bisa diingat.”
“Mimpi yang dengan ayah Aren pun nggak begitu ingat, tapi semua infonya tersimpan jelas. Kayak semua udah masuk flashdisk dan kukopi ke Drive atau Dropbox.”
“Yang jelas tak ada kebetulan di sini. Semua sudah diatur, juga dengan cara-cara yang tak sesuai hukum fisika dan matematika.”
Nada menjentikkan jari. “Itu sebabnya kamu bilang waktu itu agar aku ikuti saja alurnya.”
“Cerdas!”
“Masalahnya adalah, apa tujuan aku dikasih bakat nggak umum kayak gitu itu...?”
“Untuk tahu apakah kamu cocok di dunia yang ini atau yang lainnya.”
Nada meneguk ludah. “M-maksudmu, alam gaib?”
Dayu kembali tersenyum simpul. “Ya, dan yang lainnya lagi. Pernah dengar Teori Multiverse?”
“Dunia paralel?”
“Ya. Kalau dunia yang ini jadi terlalu mudah bagimu, saatnya berpindah ke semesta yang lain.”
Nada terbatuk. Agak lama.