Kamanungsan

2089 Kata

“Duduklah!” Pria paruh baya itu, yang mengenakan blangkon, baju lurik cokelat tua, dan kain batik pada bagian bawah tubuhnya, nampak seperti tokoh yang datang dari masa berbeda. Ia memelihara kumis dan cambang yang tertata rapi. Kulitnya legam terbakar matahari, namun sorot matanya sebening permukaan telaga di mana kita bisa bercermin dan melihat wajah kita sendiri dengan jelas. Perempuan di sebelahnya, yang membangunkan Nada tadi, mengenakan baju biasa saja, kaus putih yang dipadu rok panjang biru tua. Ia bertubuh kurus, namun tulang pipi dan rahangnya yang kukuh menyiratkan bahwa ia baik-baik saja dan sangat sehat. “Kalau belum kenal, nama saya Bandang,” kata pria itu. “’Bandang’ berarti banjir. Air bah. Dan ini tentu saja Bu Bandang. Anak kami teman sekelasmu di SMA 29.” Masih belum

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN