Nada membuka mata tepat saat ia merasa mendarat kembali di tanah dari sebuah lompatan yang cukup panjang dan tinggi. Karena tak bersiap, pendaratannya kurang mulus. Ia terhuyung, hampir terjerembap, sehingga harus dipegangi Nararya. “Hati-hati!” Berkat pria itu, Nada kembali bisa berdiri tegak dengan cepat. Angin mengibarkan rambutnya. Ia mengamati sekitar, dan menjumpai diri mereka berada di pekarangan sebuah rumah besar bertingkat dua yang cukup megah. Ini agaknya sebuah villa, karena sekeliling mereka adalah pepohonan lebat dan jalanan beraspal yang sangat sepi. Tak ada rumah lain terlihat di sekeliling bangunan itu. “Kita sudah sampai,” kata Nararya lagi. “Masuk aja! Pintu tidak dikunci. Anggap rumah sendiri.” Nada masih celingukan. Kali ini sampai seluruh badannya berputar. “Ini

