Arwah

1695 Kata

Nada membelokkan motor bebek tuanya ke halaman lebar rumah besar itu. Ia memarkirnya sambil terpana memandang ke segala arah. Rumah ini tidak mewah, tapi terlihat sangat—ia sampai kebingungan menemukan istilah yang tepat—berharga. Ya, berharga. Mungkin itu sebutan paling tepat untuknya. Di hadapannya terdapat sebuah pendapa, lalu di belakangnya barulah rumah utama terlihat. Bentuk bangunannya sangat kuno. Antik. Dindingnya tersusun dari batu bata yang sengaja tidak dilapis dan dicat mulus. Dengan atap genting tanah berbentuk joglo, sekilas ia merasa seperti tengah tersesat ke masa lalu pada zaman kerajaan-kerajaan kuno di Jawa. Sungguh tak menyangka rumah anak itu ternyata seperti ini. Sambil melepas ritsleting jaket hitam dan membetulkan letak tas di punggungnya, Nada melangkah menuju

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN