Pindah

1762 Kata
Gerobak angkringan milik Bu Diah yang berlokasi di pinggir jalan tepat di sisi jalan layang Jatingaleh di Kota Semarang cukup ramai selepas magrib. Entah kenapa Dayu mengajak Nada melakukan Shortcut ke tempat itu. Yang jelas, tadi ia dikenalkan gadis itu pada teman-temannya, para cewek geng Gemblongers yang heboh dan luar biasa ramah. Salah satunya bernama Ninuk, putri Bu Diah, pemilik kedai angkringan tersebut. Tiga yang lainnya adalah Mara, Diajeng, dan Alin. Mereka sibuk mengobrol di sudut sana sambil ngemil kudapan khas Semarang yang bernama gemblong. Sesekali Ninuk kembali ke balik gerobak untuk membantu ibunya melayani pelanggan. Nada dan Dayu juga ngemil gemblong, sambil menyeruput kopi tubruk kental yang sangat enak. “Seperti dulu pernah kubilang, aku memang bertugas menemukan anak-anak indigo pilihan sepertimu untuk ditempa agar bisa mengendalikan kekuatan kalian,” kata Dayu. “Dengan itu, kamu bisa menggunakannya untuk membantu orang lain. Tak selalu kayak slogan utopis ‘membela kebenaran dan keadilan’, karena ntar kamu akan terbentur realita bahwa belum tentu pihak yang bersih itu adalah yang layak dibela. Ini dunia yang membingungkan. Dan segala sesuatu kadang tak berjalan semulus harapan dan doa dalam koridor nilai-nilai secara normatif. Itulah sebabnya pelajaranku tentang ‘use your imagination!’ bakalan jauh lebih penting daripada cuman sibuk ngapalin mana dosa mana pahala, mana halal mana haram. Yang penting kan tetap bisa membantu sesama.” “Dan aku tinggal memilih misi penugasan dari noktah-noktah tanda bahaya lewat kemampuan Pelacak itu?” “Ya. Tentu saja tak bisa semuanya. Seidealis apa pun kita ingin membantu, tetap saja  tak mungkin kita menolong dan membahagiakan semua orang di seluruh dunia. Jadi prioritaskan yang paling urgen saja. Tapi habis ini aku belum tentu bisa rutin membantumu kayak kemarin. Yang tempo hari ini kan kayak semacam masa orientasi. Aku harus selalu stand by. Besok-besok kamu harus selesaikan sendiri semua masalahmu. Hopefully, cepat atau lambat kamu akan ketemu sesamamu yang bisa diajak kolaborasi. Gunakan Pelacak-mu! Itu juga bisa digunakan untuk memindai keberadaan sesama indigo super sepertimu. Cuma saja, para indigo kan biasanya freak, dan nggak yang lantas ramah, lembut, serta santun kayak ibu-ibu anggota kelompok pengajian. Jadi kadang, bisa saling menemukan malah justru jadi pemicu masalah.” “Trus aku latihannya gimana kalau kamu nggak selalu bisa bantu?” “Latihan sendiri, diawali dengan meditasi rutin seperti biasa. Kamu kulepas karena sudah lulus masa orientasi. Dan kamu salah satu siswa didikanku yang paling berbakat. Nggak akan susah kamu mempelajari otodidak semuanya, sejak Message Planting, Shifting, Mind Domination, hingga Sepi Angin dan Aji Pameling.” “Tapi kamu masih akan ada di sekitar sini atau di tempat lain?” “Aku akan lebih sering ada di dunia sebelah, membantu Nada Aurelia yang di sana.” Mata Nada mendelik nanar. “Apa?” “Mudeng Teori Multiverse, kan? Kita pernah membahasnya sambil lalu pas kita ketemu di A Sweet Treats dulu itu.” “Ya, ya. Yang kayak Earth-1, Earth-2, Earth-666 di komik superhero. Jadi itu beneran ada?” “Tuhan Mahadahsyat. Masa hanya bikin satu dunia linier aja kayak tukang nulis novel? Multiverse dimulai pada titik-titik ketika manusia menggunakan anugerah terbesar yang mereka terima, yaitu free will—kehendak bebas.” Alis Nada berkernyit. “Maksudnya?” “Bisa memilih. Malaikat bisa? Nggak. Iblis bisa? Nggak. Mereka hanya melakukan tugas. Manusia bisa memilih, antara opsi satu atau opsi dua. Apakah akan bersama Radit atau bersama Nathan. Bebas. Ada panduan yang bisa diikuti, tapi kan nggak selalu ikut itu. Sudah jelas yang smart adalah A, eee… tetep keukeuh memilih si B yang b**o hanya karena feeling gelenyar-gelenyar asmara. Malaikat yang nggak punya free will nggak akan seperti itu. Jika sudah jelas panduannya kayak bagaimana, dia akan mengikuti itu. Tak ada pertanyaan dan protes-protes.” “So, tiap kali kehendak bebas muncul, kedua opsi sebenernya tetep ada?” “Ya. Universe membelah, menjadi multiverse. Kedua opsi tetap terjadi. Kamu memilih Radit, sekaligus juga memilih Nathan. Hanya saja, kesadaranmu terbatas. Hanya bisa berada pada satu titik saja, misal pada opsi Radit, atau opsi Nathan.” “Dan aku yang satunya lagi membelah mirip kayak pas Bilokasi?” Dayu mengangguk. “Bedanya, ini pembelahan semesta, universe. Dan bukan cuman self.” “Trus bisa nggak kita berada di lebih dari satu kesadaran-semesta? Aku berada pada diriku yang di semesta ini, bersama Radit misalnya, lalu aku juga bisa merasakan diriku di semesta sebelah, yang bareng Jungkook…?” “Nggak bisa. Kan semestanya udah beda. Yang bisa kita lakukan hanya menemui alter-self kita di alam sebelah. Tapi ini harus dilakukan dengan hati-hati. Pada banyak kasus, kita dan alter-self adalah materi dan antimateri, saling meniadakan. Pas bersirobok, kita musnah sejak dari susunan atom. Itu lebih dari mati, karena jasad kita pun nggak ada. Tapi untuk indigo talenta tinggi sepertimu, itu nggak akan jadi banyak masalah. Paling hanya pusing dan muntah-muntah dikit pas momen pertama kali. Cara lain adalah dengan inkarnasi.” “Inkarnasi?” “Inkarnasi. Kamu meninggalkan kesadaran dirimu di semesta yang ini, untuk berpindah ‘menjalani’ kesadaran alter-self-mu di semesta sebelah. Dan kita akan langsung menjajalnya sekarang ini.” Nada terlonjak spontan. “Apa!?” Dayu tertawa. “Tenang! Nggak sakit juga kok. Bahkan sangat spektakuler. Jarang-jarang ada individu manusia sepanjang sejarah 10 ribu tahun yang berkesempatan melakukan ini.” “J-jadi aku pindah sepenuhnya ke alam sebelah?” “Ya. Talking about hijrah, ya kan? Dan orang-orang itu sudah merasa mewah dan megah berhijrah hanya dengan ganti model baju!” “Trus ntar kalau Mama sama Aren nyari-nyari gimana? Polisi pasti juga bingung. Habis ada kasus teror dan intimidasi yang melibatkan anak SMA 29, lalu ada murid lainnya yang malah hilang menyublim tanpa jejak…!” “Tidak secara fisik tentu saja. Cuman kesadaranmu aja.” “Tapi kalau kesadaranku udah nggak ada di sini, Nada yang di sini bergerak dan berinteraksinya pakai apa?” “Otonom. Dia akan punya kesadaran ‘default’ sendiri. Sama kayak pas awal menjajal Bilokasi dan kamu belum bisa mengakses dirimu yang satunya lagi. Dia kan tetap berinteraksi normal sesuai hal-hal gawan bayi atau bawaan bayi yang sudah dianugerahkan Tuhan padanya.” Mulut Nada membentuk huruf “O” saat mengangguk-angguk. “Jadi secara umum, nggak akan ada keanehan pada diriku yang di sini sesudah kutinggal pergi ke dunia sebelah?” “Nggak ada. Normal seperti biasanya. Aku sebenernya belum akan mencoba ini padamu, tapi melihat bahwa pengendalianmu atas kekuatan-kekuatan Ingsun berlangsung jauh lebih mulus daripada yang kurencanakan, rencana pun berubah. Sudah saatnya kamu hijrah menuju misi penugasan yang lebih berat. Sekaligus ini jadi semacam briefing sebelum ntar kita pindah.” Nada meneguk ludah. “M-memang tugas beratnya akan seperti apa?” “Yah, kalau di sini kamu hanya menghadapi urusan asmara ala teenlit dan komplotan preman yang melakukan teror pakai bom molotov, yang menunggumu di semesta sebelah adalah kelompok-kelompok konspirasi global. Level dunia. Bukan lagi urusan bisnis yang dilatarbelakangi penyakit gawat.” “Astaga…!” “Di sana semuanya masih mirip, tapi beberapa hal agak berbeda. Negaranya masih tetap NKRI. Kota-kotanya masih tetap Jakarta, Semarang, Jogja, Solo, Surabaya. Mata uangnya tetap pakai rupiah. Ada HP, laptop, ojek online, BRT, dan MRT. Tapi presidennya beda, dan beberapa tokoh yang kamu temui di semesta yang ini akan memiliki ciri yang berbeda pula. Selain itu, karena ini inkarnasi dan bukannya menemui alter-self, makan semua ingatan dan pengetahuanmu akan mengikuti ingatan dan pengetahuan dari versi Nada Aurelia di sana. Nada di sana persis baru akan mengetahui dan mempelajari kekuatan-kekuatan Ingsun. Jadi nanti pas masuk, kamu juga nggak akan ingat soal Bilokasi, Mind Domination, Aji Pameling, dan semua yang sudah dipelajari oleh Nada yang di sini.” “Kayak orang amnesia dong.” Dayu mengangguk. “Persis. Tapi nggak permanen. Seiring penemuanmu pada satu demi satu kekuatan Ingsun, nanti memori pengetahuanmu soal itu semua pelan-pelan akan balik. Kamu akan mudeng dengan cepat, kayak ngerasa pernah dengar itu sebelumnya, entah di mana.” “Nanti di sana masih akan ketemu denganmu juga?” “Tentu saja, dan bakal makin sering. Kan tugas yang di sana jauh lebih gede daripada yang di sini.” “Kalau tugas di sana sudah selesai, apa aku masih bisa balik ke dunia yang ini?” “Tentu saja, kalau mau. Tapi berdasar pengalaman dan logika, sesudah diterima kerja di Jakarta dan menyelami alam semesta Ibukota yang jauh lebih gemerlap dan urgen, kita kan juga nggak terpikir untuk kembali lagi menetap permanen di kampung halaman kalau enggak karena terpaksa, ya kan?” “Aku masih pengin hang out sama Aren, Karin, Haris, Mama… Masih pengin tahu siapa ayah kandung Aren.” “Di sana kan mereka juga ada. Basically tetep ketemu orang-orang yang sama dengan yang ada di sini. Paling ada satu-dua yang di sana nggak ada. Atau yang baru kamu temui di sana.” Nada bergidik, lalu melahap potongan terakhir gemblongnya yang ber-topping keju. “Rasanya kok serem. Lebih serem dari urusan perhantuan.”  Dayu tertawa. “Kan ini sesuatu yang baru buatmu. Salah satu dari ungkapan ‘There’s always a first time for everything’ yang terkenal itu. Nah, sudah siap?” Nada mendelik. “Ntar dulu! Maksudnya sekarang? Detik ini juga?” “Ya. Ngapain nunggu-nunggu? Nggak ada bedanya juga. Di sana nanti kamu tetep bisa pulang dan tidur kalau capek.” “Trus apa yang bakalan terjadi pada diriku habis ini? Masih bisa balik Shortcut lagi ke rumah kayak pas berangkat tadi?” “Tentu saja. Kemampuan indigo Ingsun-mu masih tetap utuh, bisa dipakai sebagaimana yang diperlukan. Dan melihat gejalanya, dengan kostum yang sudah kukasih itu, Nada yang di sini selanjutnya akan berkeliaran menjadi vigilante. Diam-diam membantu polisi dalam menekan angka kriminalitas.” “Superhero? Aku bahkan belum nemu nick lain yang lebih bagus menggantikan Golden Girl.” “Ntar kan ketemu juga. Jangan takut! Kamu akan baik-baik saja di semesta mana pun kamu berada.” “Malah makin grogi ini,” Nada tertawa, melihat pada tangannya sendiri. “Nih, lihat! Tanganku gemetaran…!” “Nggak akan gemetar lagi sesudah pindah.” “Emang pindahannya bakal kayak gimana? Aku terbang menembus lorong astral yang panjang gitu?” Dayu mendecak. “Nggak seculun itu. Film-film seringkali memang membuat segalanya jadi hiperbolik. Cukup pejamkan mata aja!” Nada melongo. “Sesimpel itu?” “Ya. Coba aja! Anytime. Sekarang juga bisa.” Dahi Nada berkerut saat memejamkan mata. Tak persis merem juga sih, melainkan proses mata berkedip biasa saja. Namun ia merasakan angin yang bertiup sangat berbeda, dan wajahnya mendadak tertimpa cahaya yang luar biasa terang dan sangat hangat menyenangkan. Saat mata terbuka kembali, ia baru saja turun dari sepeda motor bebek yang ia parkir dekat pohon di depan rumah Benu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN