Dari tempatnya duduk di bangku kayu panjang di bawah salah satu pohon rindang penghuni Taman Monjari, Nada sudah bisa mengenali Nathan dari jarak 50 meter. Pemuda itu mencoba menyembunyikan identitasnya dengan mengenakan jaket hitam tebal dan hoodie yang sempurna menutupi seluruh bagian kepala. Ia pun berjalan sambil menunduk, sehingga praktis bagian wajahnya tak terlihat. Meski begitu, Nada tahu itu Nathan. Entah ini akibat dari kemampuan Ingsun-nya atau ia memang pandai mengenali ciri orang.
“Ada yang nyariin aku di sekolah?” tanya Nathan, setelah duduk dalam posisi berjarak sekitar setengah meter dari Nada.
“Pada dasarnya satu sekolahan,” sahut Nada. “Tapi terutama Radit.”
“Apa dia marah dan mendendam sama aku?”
“Nggak. Kan dia tahu kamu sama sekali nggak terlibat dan bahkan nggak tahu-menahu soal ini.”
Nathan terdiam. Pandangannya menyapu keseluruhan sudut Taman Monumen 45 Banjarsari yang sore ini nampak muram. Banyak orang, terutama para keluarga muda dengan anak bayi atau balia, berjalan-jalan melewatkan sore di tempat ini. Namun langit mendung yang menyuguhkan angin basah membuat atmosfer jauh dari istilah cerah.
“Aku barusan dari kantor Poltabes. Mereka juga menanyaiku soal itu.”
“Tapi kamu beneran nggak tahu apa-apa soal semua kasus itu, kan?”
“Tentu saja tidak. Aku nggak pernah tahu pekerjaan apa saja yang sedang atau sudah dilakukan papaku. Selama ini aku cuman dikasih tugas ngecek operasional The Village. Itu pun cuman pura-pura, karena aku masih bocah. Jabatanku aja sebagai owner, tapi urusan sehari-hari tetap di-handle Mas Indra sebagai manajer.”
“Ayahmu bagaimana? Aku dengar di berita, polisi menemukan kasus-kasus lain yang memberatkannya selain urusan dengan panti asuhan Radit. Ada pencucian uang, perdagangan miras ilegal, bahkan trafficking…”
Nathan mendengus. “Papa ternyata memang mafia. Perusahaan properti Semestaloka cuman kedok untuk semua bisnis gelapnya. Dan kayaknya, bisa jadi, yang bikin keluargaku kaya raya selama ini adalah duit dari bisnis-bisnis haram itu, bukannya yang dari perusahaan properti.”
“Papamu masih ditahan di Poltabes?”
“Masih, tapi hari ini kayaknya mau dipindah ke UGD Moewardi. Stres gara-gara tertangkap polisi bikin penyakitnya drop makin parah. Mungkin dia nggak akan bertahan seminggu lagi!”
Nada sungguh bisa melihat kebencian dan kemurkaan di mata Nathan.
“Kamu sendiri ada di mana beberapa hari ini, sejak keluar dari rumah sakit? Radit bingung nyariin kamu. Kalian masuk rumah sakit yang sama, tapi habis itu kamu nggak kelihatan lagi pas dia boleh pulang.”
“Aku diungsikan tanteku, adik Mama, yang rumahnya di Solo Baru. Dia udah lama nggak deket sama Papa karena udah lama mencurigai kekayaan Papa berasal dari sumber-sumber nggak halal.”
“Yang lainnya ke mana? Mama dan kakak-adikmu? Di sana juga?”
Nathan mengangguk. “Iya. Tapi besok atau lusa mau sembunyi di Jakarta. Kita ada apartemen di sana. Aku ikut. Makanya aku sempatin ketemu kamu dulu sebelum berangkat.”
“Dan sepertinya kamu nggak akan ada rencana untuk balik lagi ke SMA 29…”
“Aku udah nggak punya lagi untuk balik ke sekolah. Mending pindah, sejauh mungkin dari sini.”
“Ke mana? Jakarta?”
Nathan menggeleng cepat. “Belum tahu. Mungkin luar Jawa. Mama masih ada dana pribadi untuk beli rumah dan tanah baru. Bisa saja di Paser Utara, yang nanti mau jadi ibukota baru. Sial! Aku nggak nyangka bakal mengalami kejadian kayak begini. Nggak ngira Papa ternyata seperti itu…!”
“Kalau waktunya nggak banyak lagi, kamu harus belajar memaafkan! Masih ingat kan, tempo hari kamu sedih banget waktu tahu Om San punya penyakit parah. Dan bahkan kamu yang minta aku untuk mengecek apakah sakitnya beneran atau diganggu pakai black magic.”
“Sekarang aku justru berharap dia secepatnya mati, biar urusannya nggak bertele-tele! Kalau dia mati kan kasusnya nggak diperpanjang lagi. Biar nanti para pembantu Papa di kantor yang diseret polisi karena pasti terlibat juga dengan semua bisnis jahat Papa!”
“Tapi Semestaloka juga mau bangkrut karena salah urus…”
“Biarin! Aku nggak ada urusan dengan itu. Aku juga udah nggak pernah ke kafe lagi. Pak Roshad bilang, kalau urusannya jadi gawat, The Village palingan disita kejaksaan dan nggak bisa beroperasi lagi. Kabarmu sendiri gimana? Mama kamu nggak terlalu patah hati kan kehilangan Om Gading?”
Nada tertawa pelan. “Sedang berada pada fase jijik pada diri sendiri.”
“Dia diselamatkan takdir. Kalau nggak, awal tahun depan nanti kalian akan tinggal bareng Om Gading, dan menjadi bagian dari semua bisnisnya yang dikerjakan dengan cara kasar.”
“Iya. Aku beneran bersyukur Mama nggak lanjut sama dia. Emang udah sejak awal perasaanku nggak enak sama orang itu. Kalau di depan Mama aja dia bisa muanis dan baik banget. Padahal aslinya serigala haus darah.”
“Dan aku masih dendam kesumat sama kelakuan orang-orangnya. Pas menculik aku dan Radit, salah satunya mukul aku keras banget sampai semaput. Kalau aku ingat orangnya dan bisa ketemu lagi, pasti kuseruduk dia pakei buldozer!”
“Betewe, yang terjadi malam itu sebenernya bagaimana? Radit ke kafe untuk ambil buku-buku?”
“Iya. Dia baru datang jam setengah 10 malam karena aku memang baru nyampai lagi di kafe jam segitu. Aku baru aja kumpul-kumpul sama temen-temen dari komunitas mobil listrik di Jogja. Lalu dia nggak jadi pulang karena main game sama aku. Sekitar jam 2, tiba-tiba aja ada segerombolan orang menyerbu masuk kafe dan menyerang aku sama Radit.”
“Mereka tentunya tahu kamu, kan? Kenapa kamu ikutan dibawa?”
“Cuman biar kelihatan kayak papaku nggak terlibat. Nanti pura-puranya aku dimintakan uang tebusan, yang cuman kongkalingkong antara Om Gading sama Papa. Tapi pas diserang, aku refleks melawan. Aku kan dikit-dikit bisa karate. Gara-gara itu, salah satunya mukul beneran sampai aku pingsan. Aku baru bangun dini hari, terkurung di ruang sempit di gudang, kayak adegan di film eksyen.”
“Trus kalian diapain lagi habis itu?”
“Pas ada azan subuh, kita dikasih makan, burger dua biji. Habis itu aku dan Radit disuntik, ternyata obat tidur. Aku tidur pules dan baru bangun di rumah sakit. Di tengah-tengahnya, aku sempat mimpi ada dua superhero cewek datang menyelamatkan sekaligus menghabisi Om Gading dan orang-orangnya.”
Nada tertawa. “Mimpi yang aneh…”
“Iya. Aku terlalu banyak nonton film superhero. Tapi kata polisi, mereka datang melakukan penggerebekan ke gudang itu karena ditelepon seseorang. Dan pas datang ke TKP, semua penjahat sudah dalam posisi semaput. Tinggal diangkut satu-satu ke kendaraan polisi. Nggak ada perlawanan sama sekali. Kalau di gudang itu ada kamera CCTV, pasti polisi bisa tahu apa yang terjadi sebelum mereka datang.”
Nada menahan napas. Betul juga, kamera CCTV! Ia dan Dayu tak terpikir sampai sana pas mau beraksi.
“Emang di sana beneran nggak ada CCTV-nya?”
“Ada, tapi rusak dan belum diperbaiki. Om Gading ternyata pelit. Nggak ada bujet untuk reparasi kamera. Nanti baru diada-adain kalau dicek oleh pengelola gudang.”
Nada menghembuskan napas lega. Syukurlah! Identitas rahasianya sebagai superhero masih aman.
Sesaat lalu sunyi. Keduanya asyik memandangi suasana taman yang sempat sebentar terlihat cerah ketika matahari mengintip di sesela mendung.
“Kayaknya aku harus bilang goodbye sekarang,” kata Nathan kemudian, menyingkirkan kudung dari kepala dan menoleh menatap Nada. “Sampai ketemu lagi… mungkin agak lama, bisa sampai bertahun-tahun.”
“Nggak. Kamu pasti bisa kuat lagi dan jadi kamu yang seperti dulu. Main bola, main basket, jadi cowok paling populer di sekolah…”
Nathan tertawa getir. “Yah, semoga bisa seperti itu secepat mungkin, tapi aku kok nggak yakin.”
“Pasti bisa. Aku aja yakin. Masa kamu enggak?”
Nathan tertawa lagi. Kali ini dengan intonasi sedikit berbeda. Ia menatap sebentar ke arah lain sebelum kembali melihat pada Nada.
“Kamu tu dulu culun, kuper, dan nggak menonjol, tapi sekarang jadi glowing, cantik banget, dan kata-katamu bagus. Kamu baru aja diikutkan Tante Femna ke sekolah kepribadian, ya?”
Nada tertawa. Ia yakin saat itu wajahnya merona memerah.
“Enggak. Cuman disuruh bedakan lebih tebel, haha…!”
“Dan hidup kadang punya cara yang terlalu aneh untuk bikin kita tetep ada di dalamnya.”
Alis Nada berkerut. “Maksudnya? Omonganmu kayak memorable quotes di novel-novel inspiratif…”
“Semua kekacauan ini bikin hidupku goyah. Beneran oleng. Beberapa kali aku terpikir untuk bunuh diri, dan bahkan udah nyari di internet cara-cara paling nggak menyakitkan untuk bunuh diri. Tapi semua rencana ngeri itu batal karena satu hal…”
“Apa itu?”
“Masih pengin lihat kamu. Besok dan besoknya lagi. Kalau aku mati, kan nggak mungkin bisa melihatmu lagi.”
Kuduk Nada meremang. Itu sepertinya adalah kalimat paling romantis yang pernah ia dengar seumur hidup.
“Arwah masih bisa lihat orang kok,” katanya, menyembunyikan kegrogian dan tangan gemetarnya.
“Tapi kan pasti beda kalau lihatnya dalam keadaan masih sama-sama hidup,” Nathan menutupkan lagi hoodie-nya, lalu bangkit berdiri sambil mengantungi kedua tangan ke saku baju. “Goodbye dulu ya! Ntar aku kontak kamu lagi kalau udah settle sama nomor baru. Salam buat semuanya, terutama Radit dan mama kamu.”
Nada mengangguk. “Nanti aku sampaikan. Hati-hati. Take care!”
“Dan aku masih belum meminta jawaban. Jadi kuanggap itu masih terus ada, mengambang di antara kita sampai aku selesaikan, suatu hari nanti.”
“Jawaban?”
“Untuk pertanyaanku tempo hari, pas aku ngasih cokelat. Jangan dijawab dulu, karena aku memang belum berniat menanyakannya lagi dalam waktu dekat! Mungkin nanti, sekian tahun dari sekarang, kalau kita sudah lulus sarjana dan kerja. Kalau kamu udah nggak bareng Radit lagi.”
Nada merasa pipinya memanas. “Ngomong apa kamu ini? Aku nggak ada apa-apa sama Radit.”
Nathan berlalu sambil mengibaskan tangannya.
“Alaa… semua orang juga tahu kalian saling suka. Dan cuman tinggal nunggu waktu sebelum kalian akhirnya jadian.”
Dua langkah maju, Nathan berhenti dan membalik.
“Apa aku masih ada harapan?”
“Harapan apa?”
“Biar bisa sama kamu. Kalau iya, seenggaknya aku masih ada alasan untuk nggak bunuh diri.”
Nada terdiam sesaat. “Harapan itu kita sendiri yang menciptakan, bukan menunggu dari orang lain.”
Nathan terpaku, menggeleng-geleng dan mengacungkan jempolnya sebelum benar-benar pergi.