Sembuh

1436 Kata
Sorak sorai membahana begitu mereka berdua memasuki kelas pada pagi berhujan gerimis itu. Untuk ukuran teman sekelas, tidak masuk empat hari saja sudah terasa seperti sebulan. “Anak yang hilang telah kembali!” seru Haris. “Back from the dead!” tukas Nada, yang melangkah tepat di belakang Aren. Seisi kelas tertawa. Aren, terlihat lebih kurus, dan mengenakan jaket tebal biru muda, tersenyum salah tingkah karena disambut bak pahlawan semacam itu tidak termasuk dalam perkara-perkara yang ia harap bakal terjadi dalam hidupnya. “Terima kasih, terima kasih, tapi aku kan cuman beberapa hari nggak masuk, bukannya sampai sebulan.” “Terasa kayak sebulan, soalnya Bu Siwi gelisah anak emasnya di ekskul debat mendadak hilang,” kata Radit. Aren tertawa dan menatap cowok itu. “Kamu sendiri gimana? Udah sembuh dari trauma drama penculikan?” “Lumayan, tapi pada dasarnya aku kan nggak ingat apa-apa sepanjang peristiwanya berlangsung. Aku cuman ingat kafe diserang pas aku lagi main PS sama Nathan, lalu ada banyak orang menyerbu masuk dan menutupi kepalaku pakai karung. Habis itu aku semaput. Bangun lagi sudah ada di rumah sakit. Badan sakit semua seperti habis naik gunung nggak pulang-pulang.” Sesudah insiden adu jotos yang seru di gudang milik Om Gading itu, Radit dan Nathan memang langsung dilarikan ke RS dr. Moewardi dalam keadaan tak sadarkan diri. Tapi kondisi mereka tak berat sesudah menjalani perawatan. Esok paginya mereka sudah diperbolehkan pulang kembali, namun harus mampir ke markas Polrestabes Surakarta untuk memberi keterangan sebagai saksi dalam tindak kriminal penculikan tersebut. Di sisi lain, Om Gading dan para anakbuahnya mendekam di tahanan Polres dan tinggal menunggu waktu sebelum kasus mereka disidangkan. “Udah ada kabar dari Nathan?” tanya Nada, meletakkan p****t di bangkunya. “Aku dengar dari anak-anak kelas XII, semua orang kehilangan kontak sama dia.” “Akun-akun sosmednya juga ilang. Mungkin dia nggak akan balik lagi ke sini.” Nasib Nathan memang tak jelas sesudah menjalani pemeriksaan oleh polisi. Masuk bareng Radit, tapi ia keluar sembunyi-sembunyi lewat pintu lain dan langsung dilarikan dengan mobil bagus milik keluarganya. Dan justru karena tidak terlibat, perasaan malu dan terpukul yang diderita cowok itu pasti jauh lebih parah. Tak lama setelah berita penangkapan Om Gading tersiar, polisi langsung melakukan penangkapan terhadap Om Santoso di kediamannya. Beberapa hari belakangan ini, kanal-kanal TV berita pun dihebohkan dengan berita kasus teror dan intimidasi terhadap upaya pembelian lahan di Bandung. Dan panti asuhan milik keluarga Radit mendadak dibanjiri simpati orang satu negara. Mereka beramai-ramai mengirim bantuan uang, buku-buku, dan perusahaan properti saingan Semestaloka bahkan memberikan donasi berupa renovasi keseluruhan gedung panti menjadi sebuah bangunan megah secara gratis. “Trus kamu bakalan balik ke Bandung dong,” kata Aren kemudian, dengan wajah cemberut. “Kan sekarang udah nggak ada lagi yang mengancam keselamatanmu.” “Iya memang, tapi itu nanti, pas liburan semester dan aku ajak kalian untuk berlibur ke Bandung dan menengok anak-anak panti! Habis itu ya aku balik lagi ke sini. Aku ternyata betah tinggal di Solo. Lidahku cocok dengan makanan di sini.” “Horeeee! Kita liburan ke Bandung!” Aren langsung berisik seperti anak kelas II SD. Yang lainnya tertawa. Nada menoyor kepala Aren. “Dasar bocah!” Aren menepis tangan Nada dengan galak. “Memangnya kamu bukan bocah!?” “Iya, tapi masih lebih mending dari Radit. Dari kemarin topik obrolannya superheroooo mulu!” “Tapi suer, aku kayak lihat langsung ada dua superhero membebaskan aku sama Nathan!” kata Radit keras. “Samar-samar kayak mimpi, tapi itu kan cocok dengan yang diceritakan si Gading dan anak buahnya pada polisi, bahwa mereka dihajar dua superhero cewek. Dan aku yakin salah satunya adalah si Golden Girl, meski kostumnya beda dengan yang diceritakan para saksi kejadian bom molotov di Cibaduyut.” “Polisi menemukan shabu di TKP,” kata Nada. “Dan kamu sama Nathan teler karena overdosis obat bius. Kesamaan pecandu shabu dan orang yang OD obat adalah penglihatan yang sering menipu.” Radit mengernyitkan dahi dan garuk-garuk kepala. “Tapi aku kayaknya beneran lihat. Bukan cuman halu.” Kerumunan bubar dan Radit berlari pergi begitu cowok-cowok geng bangku belakang menemukan topik obrolan yang lebih hot, yaitu video viral pekan ini. Nada dan Aren pun bisa sejenak bebas dengan ponsel masing-masing dan mempersiapkan buku-buku untuk jam pelajaran pertama beberapa saat lagi. “Itu sebenernya kamu, kan?” tanya Aren kemudian, dengan suara rendah. “Berita-berita di internet menyebut ada superhero yang menuntaskan kasus penculikan itu, sekalipun polisi belum bisa memastikan kebenarannya.” Nada nyengir dan mengangguk samar. “Trus siapa superhero satunya lagi?” “Teman, sekaligus mentorku. Tapi aku belum boleh ngasih tahu dia siapa sebelum ada pemberitahuan lebih lanjut darinya.” Mata Aren membelalak. “Astaga! Pasti cewek ijo yang di mimpi, iya kan? Yang kupikir Nyai Roro Kidul.” Nada mengangkat kedua tangannya. “Sekali lagi, aku belum boleh jawab. Harus minta ijin dia dulu untuk kasih tahu ke orang lain.” “Jadi bener makhluk yang menyerang aku kemarin ini jauh lebih sakti daripada kuntilanak merah yang sebelumnya kamu usir?” Nada mengangguk. “Makanya aku perlu bantuan. Yang kedua itu jin. Jauh lebih kuat daripada kuntilanak.” “Dan sekarang aku udah seratus persen free?” “Ya. Nggak akan ada lagi yang mengganggu.” “So, mestinya aku sekarang udah bisa tahu urusan sebenarnya, kenapa aku sampai dua kali diserang makhluk halus. Salahku apa?” Nada menarik napas, merencanakan kata-kata dan jenis penjelasan yang tepat bagi telinga Aren. Bagaimanapun ia tak boleh tahu fakta sebenarnya. “Seperti yang semalam udah kusinggung dikit pas kita telponan, ini terkait urusan asmara masa lalu ayahmu. Masih ingat dulu pas kita jalan ke mal bareng Nathan dan mamaku, aku ujug-ujug nyebut Alamanda 108? Itu ternyata alamat rumah mantan pacar ayahmu. Namanya Tante Dita.” “Memang ada urusan apa lagi antara bapakku sama mantannya itu?” “Ada orang ketiga. Namanya Bowo. Dia yang bikin hubungan ayahmu dan Tante Dita rusak, tapi dendamnya pada ayahmu nggak habis-habis.” Nada lalu ceritakan semua kerumitan yang terjadi antara Pak Irfan, Bu Dita, dan Pak Bowo pada masa itu. Juga perceraian Bu Dita dan Pak Bowo gara-gara KDRT. Aren menggeleng-geleng mendengarnya. “Ada ya orang kayak gitu…?” gumamnya kemudian. “Mana yang dia incar malah aku, bukannya Bapak atau Ibu…” “Dan sekarang dia sedang menerima hukumannya, koma dua bulan sesudah jinnya dikembalikan.” Persis saat bel berbunyi, Benu melintas masuk. Wajah lesunya berubah enteng. Kali ini karena melihat Aren, bukan Nada. “Wah, kamu udah masuk lagi!” katanya. “Sori kemarin nggak sempat bezuk. Nggak ada yang antar ke rumah sakit.” “Iya, nggak papa,” Aren tersenyum. “Yang penting aku udah sembuh.” “Ben, kamu dapat salam dari Susanti,” kata Nada tiba-tiba. Benu gelagapan menatap Nada. “Eh, apa...?” Nada menyangga pipi dengan tangan kanan, menatap datar tanpa ekspresi ke arah Benu. “Kamu tahu apa yang kumaksudkan.” Benu seketika menggaruk apa saja yang bisa digaruk. “Eh, aku... aduh...” “Ya udah, sono! Balik lagi ke alammu!” Benu mengangguk patuh. “Iya.” Dengan langkah lunglai ia ngeloyor menuju bangkunya. Aren menatap penasaran pada Nada. “Ada apa ini?” tanyanya. “Ada yang belum kamu ceritain ke aku?” “Iya. Sori, kelupaan. Yang suruh Susanti melakukan penembakan ke aku lewat centang yes atau no ternyata Benu. Padahal yang paling awal kucurigai adalah Nathan.” “Dari mana kamu tahu?” “Dari Pak Basri, dalam perjalanan pas kemarin dulu itu aku ikut Pak Bas dan Bu Siwi nengonkin kamu di rumah sakit. Dari obrolan soal mistis, Pak Bas menyinggung Benu yang datang ke kantor guru buat ngumpulin tugas bersamaan dengan Pak Bas memanggil Susanti. Adiknya Pak Bas mau nikah, dan Pak Bas minta nomor WA ibunya Susanti karena mau pesan kebaya pernikahan.” “Dan habis itu lantas Benu nyuruh Santi nganter kertas penembakan ke kamu?” “Iya. Pasti dia melihat kesempatan, karena bisa menggencet adik kelas untuk melakukan apa saja yang dia perintahkan.” “Dasar cowok nggak mutu! Naksir cewek glowing tapi beraninya lempar batu sembunyi tangan…” Nada melihat ponselnya sebelum ia harus matikan menjelang jam pelajaran. Ada pesan masuk dari Nathan. “Dia kayak bermasalah dengan rasa percaya dirinya,” katanya, menatap lekat layar ponsel. “Kayak ditakdirkan untuk nggak akan pernah jadi orang besar. Entah bagaimana cara didikan dia di keluarganya, sampai dia selalu kayak kucing kurus kecemplung got gitu. Padahal tulisan-tulisannya di majalah sekolah bagus…” Ada suara tapak orang dewasa mendekat ke arah pintu kelas. Pak Dharma pengajar mapel Kimia sudah datang. Nada menonaktifkan ponsel dengan kuduk terasa dingin oleh pesan dari Nathan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN