Nada sudah bisa melihatnya dari kejauhan, sejak mobil itu masuk parkiran rumah sakit dan pengemudinya, yang tak lain adalah Mama, menapak bergegas ke arah sini dengan wajah penuh mendung dan rona muka merah padam.
Dan ia sudah tahu air muka Mama bakal seperti apa sejak Mama meneleponnya setengah jam lalu dan mengatakan perlu menemuinya di mana pun ia berada.
“Kamu nggak buru-buru harus balik ke sekolah, kan?” tanya Mama setelah dekat dengan tempat Nada menunggu tepat di depan pintu utama bangsal rawat inap rumah sakit.
“Nggak. Aku udah izin nggak masuk sehari ini. Ada apa memangnya, Ma? Kayaknya gawat banget…”
“Emang gawat,” Mama menggamit lengan Nada, mengajaknya masuk. “Ada tempat sepi di sekitar sini?”
“Kamar jenazah sepi, kalau mau.”
“Oke. Tunjukin tempatnya!”
Nada memimpin Mama ke tempat itu, yang ia hapal saat dini hari tadi menjelajahi versi Dunia Bawah dari rumah sakit ini. Kamar jenazah berlokasi tepat di balik ajang pertarungannya dengan Arheum, di mana ia nyaris saja tewas andai bukan karena bantuan Dayu.
Beberapa kali membelok selasar sambil mengamati agar jangan sampai mereka terlihat oleh para aparat rumah sakit, keduanya tiba di depan pintu lebar yang di sisinya terdapat papan nama bertuliskan “KAMAR JENAZAH”. Dan sebagaimana yang diprediksi, memang sangat lengang dalam radius 20 meter dari titik itu.
“Oke. Sepi sekali di sini. Ada apa?”
Pertanyaan yang sungguh tidak perlu, tentu saja.
Mama tak langsung menjawab, malah celingukan seperti maling hendak beraksi.
“Sudah dengar berita?” ia bertanya dengan nada rendah. “Gading ditangkap polisi!”
Nada membelalak. “Hah? Om Gading? Dia kenapa memangnya?”
Mama mendesah, berkacak pinggang, lalu mengusap dahinya.
“Aku sendiri juga masih belum mudeng ini. Katanya dia terlibat kasus penculikan. Dan aku denger-denger, yang diculik justru anaknya Mas San yang kakak kelasmu itu.”
“Nathan?”
“Ya. Nathan. Pokoknya dia ditangkap di Pedaringan. Dia ada gudang di sana. Selain Nathan, masih ada satu remaja lagi yang dia culik. Aku belum tahu siapa namanya. Kabarnya masih sedikit simpang siur. Dan katanya Gading terlibat kasus lainnya lagi yang lebih gawat.”
“Mama dengar dari siapa? Berita online apa ada yang ngasih tahu?”
“Dikasih tahu Pak Romli, teman dosen yang juga kenal sama Gading. Katanya, saat ini Gading sedang diperiksa di Polwiltabes, dan sedang mengerahkan lawyer-nya untuk bantu membebaskan pakai jaminan. Piye iki? Kenapa malah jadi begini!? Pas mau rencanain lamaran malah ada urusan aneh-aneh kayak gini…!”
Sekian saat berlalu dalam sunyi, Mama menoleh dengan dahi berkerut pada putri tunggalnya itu.
“Kok tingkahmu jadi aneh? Kamu sudah tahu semua ini, ya? Kayaknya kamu kan emang sudah sejak awal nggak suka sama Gading.”
Nada menarik napas panjang dan menyilangkan tangan di d**a.
“Lucunya, aku tahu justru dari Nathan. Dan semua urusan ini jadi saling silang rumit banget.”
“Tahu soal apa? Urusan yang bikin Gading ditangkap?”
“Yang paling awal, Nathan kasih tahu kalau Om Gading punya banyak cewek. Pacar, bukan cuman temen. Mama bukan the only one. Cuman bedanya Mama adalah karena smart, makanya dari semua, Mama lah yang akan dia ajak nikah. Tapi itu nggak akan bikin dia berhenti pacaran sama yang lain-lainnya.”
“Apa!?”
“Habis itu urusannya belok ke arah lain, terkait temen baruku di sekolah, yang namanya Radit. Radit ini adalah remaja satunya lagi yang diculik Om Gading itu. Tapi bedanya, kalau Radit diculik beneran, Nathan diculik Om Gading karena kecelakaan.”
“Kecelakaan bagaimana?”
Nada mengisahkan semua kerumitan terkait upaya pembelian lahan panti asuhan milik keluarga Radit oleh Om San. Tentang Radit yang diungsikan ke Solo tapi malah dimasukkan ke sekolah yang sama dengan tempat anak Om San sekolah. Dan tanpa menceritakan episode Golden Girl-nya di Cibaduyut, ia tuturkan dengan cara bagaimana ia bisa tahu bahwa pihak calon pembeli lahan itu tak lain adalah Santoso Ernawan, yang berusaha mati-matian memburu proyek itu agar bisa meninggalkan warisan yang cukup bagi keluarganya.
Mama diam membeku mendengarnya.
“Jadi, si Nathan nggak sengaja ikut terciduk preman-preman Gading karena tadi itu dia pas bareng sama Radit dalam rangka ngasih buku-buku?” tanyanya.
“Yap. Cowok-cowok kan udah biasa begadang. Semalam Radit datang ke The Village untuk ambil buku, tapi malah keasikan main PS sama Nathan. Sekitar jam 2 pagi, tahu-tahu kafe diserang orang-orang bertopeng dan Radit dibawa pergi. Karena para preman nggak tahu yang bareng Radit itu siapa, Nathan ikut diangkut juga. Hebat juga ya kerja polisi! Belum ada setengah hari, kasus penculikan sudah bisa dibongkar.”
“Kata Pak Romli, Polsek Jebres ditelepon orang nggak dikenal pagi tadi. Dia ngasih tahu bahwa di salah satu gudang di kompleks Pedaringan, ada komplotan penjahat yang perlu ditangkap. Pas polisi datang, semua udah beres di TKP. Para penjahat sudah kelenger dan dalam posisi siap tangkap. Kedua korban penculikan juga sudah aman, langsung bisa dilarikan ke rumah sakit. Kata Pak Romli, polisi bingung pas sampai di TKP. Kayak ada superhero yang beraksi melumpuhkan Gading cs. sehingga polisi tinggal ambil.”
Nada terbatuk. Baru sekarang ia paham rasanya menjadi Peter Parker, atau Clark Kent.
“Nah, si Radit itu, dia sudah tahu belum bahwa dalang teror ke panti asuhannya ternyata adalah ayah Nathan?”
“Kayaknya belum. Nathan juga belum tahu soal itu. Aku jadi sedih membayangkan kayak apa reaksinya kalau denger berita ini. Dia sudah stres duluan saat tahu Om San kena kanker stadium berat.”
“Kalau gitu, habis ini pasti giliran Mas San yang ditangkap polisi…”
“Pasti. Mungkin saat ini polisi udah nyari-nyari ke rumah Om San. Om Gading pasti nggak mau masuk sidang sendirian. Apalagi memang dalang intelektual aslinya adalah Om San.”
Mama mengusap dan menjambak-jambak rambutnya sendiri. “Ya, Allah… kok jadi gini tu gimanaaa? Ruwet, ruwet! Kacau semuanya! Kacau!”
Nada mencengkeram bahu ibunya.
“Ma, tenang dulu! Tenang, rileks! Yang penting rencana Om Gading soal Mama belum terlalu jauh.”
Mama membuang napas beberapa kali.
“Emang belum sih. Belum ke mana-mana malahan.”
“Berarti dia baru ngomong doang kalau akan ajak Mama nikah?”
Mama mengangguk. Detik itu, posisi ibu-anak di antara mereka seperti terbalik.
“Iya. Katanya, dia mau serius dan pengin ke Surabaya untuk minta ijin menikahi Mama ke kakek-nenekmu.”
“Good. Soalnya Om San bilang, dia dan istrinya ikut mengantar Om Gading waktu hunting cincin sampai Tokyo dan Seoul.”
Mama spontan mendelik. “Hah? Beneran?”
“Katanya sih gitu. Tapi aku juga nggak tahu Om Gading udah dapet cincinnya atau belum.”
“Buset! Mama malah nggak tahu dia udah mulai nyari cincin. Ternyata sudah seserius itu…”
“Yah, untungnya ini terjadi sebelum ada acara lamaran dan nyari hari baik untuk akad nikah.”
“Ya, Tuhan…!” Mama menutupi wajahnya dengan kedua tangan. “Aku nggak bisa ngebayangin bakal kayak gimana kalau ini terjadi pas sudah persiapan hari-H. Aku bisa depresi berkepanjangan. Aku hampir dinikahi penjahat! Apa kata dunia!?”
“Inilah yang namanya diselamatkan…”
Saat itu seorang petugas rumah sakit membelok mendorong tempat tidur kosong menuju pintu ruang jenazah. Mendadak ia berhenti dengan mata mencorong dan wajah pucat. Bibirnya gemetaran, menggumamkan sesuatu.
“Allah-Allahuma… Allahuma… fima… Allahuma… bariklana… fima rozaktana… Allahuma… b-barik…”
Mama mendelik. “HEH! AKU BUKAN DEMIT! DAN ITU DOA MAU MAKAN, DODOL!”
Nada tertawa sampai perut kaku.
Sepuluh menit kemudian, keduanya sudah berada di kamar tempat Aren dirawat. Wajah gadis itu sudah kembali merah merona seperti biasanya, meski jarum infus masih menancap di urat nadi tangannya.
“Kalau siang ini kamu udah boleh pulang, besok udah bisa masuk belum?” tanya Nada sementara Mama berbincang dengan kedua orangtua Aren di sudut sana.
“Belum. Disuruh libur dulu dua hari. Habis itu kontrol ke klinik di sini. Kalau sudah oke, baru hari besoknya bisa masuk lagi.”
“Malah bagus. Jadi istirahatnya bisa total.”
“Eh, semalam aku mimpi, lihat kamu berkelahi lawan setan bersayap.”
Nada melongo. “Hah?”
“Trus kamu berubah jadi Nyai Roro Kidul. Kalau kamu bukan indigo paling ajaib, aku pasti tahu itu cuman mimpi.”
“Apa? Nyai Roro Kidul?”
“Iya. Entah kamu berubah, atau tadi itu ada orang lain yang nemenin kamu melawan si iblis, pokoknya ada cewek warna ijo. Dan entah kenapa, aku langsung menyimpulkan itu Nyai Roro Kidul. Emang beneran itu Nyai Roro Kidul? Tokoh mitologi yang kamu temui sebagai orang indigo sudah sampai level sehebat itu?”
Nada terpaku. “Astaga…!”
Ponselnya berdengung, ada pesan masuk. Dayu mengirim foto, bergambar sebuah kopor besi metalik yang bertengger manis tak jauh dari gulingnya di kasur. Tentu ia tak perlu bertanya dengan cara bagaimana benda itu bisa ada di sana.
“Pantesan dia selalu pakai baju ijo…”
Aren kepo. “Dia siapa?”