Double

1755 Kata
Nada menoleh saat namanya dipanggil. Ia merapatkan jaket dari hawa pagi Surakarta yang menggigit, lalu membelok dari gerbang sekolah ke koridor panjang tepat di depan gedung sekretariat sekolah. Bu Siwi melambaikan tangan ke arahnya persis di dekat pintu. Perempuan berwajah manis berkacamata tebal itu juga masih mengenakan jaket tebal, menandakan bahwa ia pun baru saja tiba di sekolah. “Ya, Bu?” tanya Nada setelah dekat. “Sudah ada kabar terbaru dari Aren? Subuh tadi saya hubungi Pak Irfan, katanya kondisi Aren membaik.” Nada mengangguk. “Betul, Bu. Saya juga di-WA Pak Irfan tadi. Aren sudah sadar dan bisa segera keluar lagi dari UGD. Tapi saya belum tanya-tanya lagi pagi ini.” “Kita ke sana aja sekarang! Saya sudah minta izin Kepala Sekolah untuk memakai mobil sekolah. Mobilnya siap 10 menit lagi, sedang ke pom untuk isi bensin. Sekalian Pak Kepsek bawain kue-kue untuk Aren.” “Sekarang, Bu? Saya harus izin dulu ke Pak Basri.” “Gak usah! Lha wong Pak Basri juga mau ikut. Kamu tunggu aja di sini, gak perlu ke kelas! Saya taruh barang-barang sebentar, sambil nunggu mobilnya datang.” “Oh, ya, ya, Bu. Baik.” Nada menguntit Bu Siwi masuk gedung. Bagian depannya serupa lobi hotel. Ada meja penerima tamu dan beberapa set tempat duduk. Sementara perempuan itu menghilang ke ruangan dalam menuju mejanya di ruang guru, Nada membelok menempatkan diri di set sofa paling sudut. Tak perlu minta izin tidak ikut pelajaran pada wali kelas, ia ganti itu dengan menelepon Haris. Tak sampai dua kali deringan, yang di sana mengangkat telepon. “Halo, Nad?” seru cowok itu, meningkahi suara gadung sekeliling, yang tak lain adalah anak-anak kelas mereka. “Radit belum kelihatan, kan?” Haris seketika ketawa meledek. “Cie, cieee…! Belum juga nyampai kelas, yang ditanyain langsung Radit Yayank…!” “Radit Yayang dengkulmu! Ini urusan lain sama sekali. Dia nggak masuk. Nggak akan bisa masuk sekolah, seenggaknya untuk hari ini.” “Wah, lha ada apa memangnya?” “Ntar kukasih tahu. Ini aku juga nggak masuk. Izin sampai tiga jam pertama. Aku diajak Bu Siwi jenguk Aren di rumah sakit.” “Loh, kok enak!? Aku juga harus ikut. Sebagai ketua kelas, aku harus memastikan Aren selalu sehat wal afiat tidak kurang suatu apa!” “Memastikan Aren sehat apa memang pengin bolos?” “Bolos pun, apa salahnya?” Nada tertawa, lalu mematikan sambungan tanpa perlu basa-basi perpisahan. Tepat saat itu Bu Siwi muncul kembali sambil membawa beberapa tas berlogo restoran dan toko kue. Nada sigap bergegas mendekat dan mengambil separuh tas-tas itu. “Ini sebagian dari Pak Kepsek,” kata Bu Siwi. “Sebagian lagi dari guru-guru. Yuk! Mobilnya udah siap di depan.” “Pak Basri mana?” “Udah nunggu kita di mobil, sama Pak Pri.” “Pak Pri?” “Sopir sekolah yang baru. Eh, Nad, kamu beneran bisa lihat hantu, ya? Kata anak-anak, kamu pernah mengusir hantu yang mengganggu Aren.” Nada mengangguk, selagi mereka melangkah menuju pintu keluar gedung. “Aren memang ada yang ganggu pakai black magic. Sudah saya usir kemarin dulu itu, tapi ternyata black magic-nya balik lagi, yang bikin dia kolaps semaput kemarin.” Bu Siwi menatap Nada dengan raut wajah tegang. “Trus, trus? Kamu bisa usir lagi?” “Bukan saya, Bu, tapi teman. Saya hanya membantu sebisanya. Kata teman saya itu, black magic yang ini jauh lebih kuat daripada yang dulu bisa saya usir. Makanya dia yang ambil alih penanganan.” Mereka tiba di mobil sekolah yang memang berlogo Kemendikbud disertai tulisan besar-besar “SMA NEGERI 29 SURAKARTA”. Pak Basri sudah stand by di jok depan kiri. Nada dan Bu Siwi masuk ke jok belakang. Pak Pri turun sebentar membantu kedua perempuan itu mengatur letak tas-tas di jok paling belakang. Pria itu bertubuh kurus, kecuali perutnya. “Memang itu bentuknya apa?” tanya Bu Siwi kemudian, saat mobil menapak jalan raya dan lalu lintas dihentikan sementara oleh Pak Yamto. “Yang pertama kuntilanak,” jawab Nada. “Yang kedua berupa jin.” “Itu datang sendiri apa dikirim orang lain?” “Kiriman, Bu. Dari arah timur.” “Siapa?” Nada terlalu lelah untuk menjelaskan panjang lebar. Ia pilih jawaban paling aman yang tak bakalan bisa dikoroborasi kebenarannya. “Belum tahu siapa persisnya, Bu. Teman saya sedang melakukan pelacakan. Bisa saja saya nggak dikasih tahu. Yang dikasih tahu bapaknya Aren.” “Ini ada apa kok mengobrolkan jin sama kuntilanak?” dan tinggal menunggu waktu sebelum para pria itu tertarik pada topik obrolan Bu Siwi dan Nada. “Nada kan indigo,” kata Bu Siwi. “Dia bisa lihat bahwa sakitnya Aren bukan karena sebab medis, tapi diganggu makhluk halus.” “Serius, Nad?” Pak Basri mencopot sabuk keselamatan hanya biar bisa sedikit leluasa melihat Nada yang persis ada di belakangnya. Pak Pri juga kepo, melirik malu-malu ke arah Nada lewat kaca spion tengah. “Ya, Pak,” Nada mengangguk. “Aren kan aslinya sehat. Jadi gampang sakit-sakitan selama ini karena faktor X.” “Trus, itu sudah beres? Aren udah membaik, kan?” “Sudah, Pak. Saya dibantu teman yang lebih mudeng lagi sama hal-hal kayak gitu.” Bu Siwi melihat pada ponselnya. “Pak Irfan barusan WA lagi. Aren sudah balik lagi ke ruangan Melati, jam setengah 7 tadi,” ia lantas mendelik pada Pak Basri. “Pak Baas, itu sabuknya dipakai lagi! Ini mau nyampe lampu bangjo! Ketangkep kamera CCTV, nanti yang repot Pak Pri!” Pak Pri tertawa ditahan. Pak Basri buru-buru menghadap lurus ke depan untuk kembali mengencangkan sabuk tempat duduk. Zaman sekarang pada era teknologi canggih memang tak bisa main-main lagi soal kedisiplinan berlalu lintas. Kita bisa kena denda tanpa harus didatangi petugas polisi lalu lintas. “Berarti kamu misalnya dimintai bantuan mindah buto bisa, Nad?” tanya Pak Basri. Bu Siwi tertawa. “Istilahnya itu lho, mindah buto. Gak keren blas! Apa kek. Exorcism. Di-ruqyah. Mindah buto, haha…!” “Kan sama saja.” Nada ikut tertawa. “Belum pernah, Pak. Tapi mungkin saja bisa. Tergantung lelembutnya sekuat apa.” “Lah, yang sama Benu kemarin itu, kamu mindahin makhluk halus yang gangguin dia, kan? Benu cerita sendiri sama saya, pas kapan hari itu dia ngumpulin tugas di meja saya, trus ada anak kelas X yang ibunya buka usaha jahitan itu.” “Susanti?” Nada menyahut spontan. “Ya, ya, si Susanti. Temennya Upin sama Ipin. Dia pas saya panggil ke kantor, soalnya saya perlu nomor WA ibunya. Adik saya pesen jahitan kebaya akad nikah. Pas Benu juga datang, ngumpulin tugas kolonialisme yang dia agak telat bikinnya. Trus dia cerita soal itu. Kan dia nggak ngerjain tugas karena sakit. Baru sembuh setelah kamu cek rumahnya, dan tahu penyebab sakitnya. Itu kamu pindahin juga setan-setannya, kan?” Nada malah menggeleng-geleng. “Astaga! Pantesan…” Pak Basri dan Bu Siwi kaget mendengar respon Nada yang jauh dari topik. “Hah? Apanya yang pantesan?” celetuk Bu Siwi. Nada mendelik. “Eh, oh… bukan, hahaha…! Ini urusan lain lagi, Kalau soal yang itu, saya nggak mindahin apa-apa. Cuman saya ngasih tahu Benu pesan-pesan dari mereka, yaitu bahwa dia kalau dengerin musik metal yang berisik, mending pakai earphone.” Pak Basri mengangguk-angguk. “Oalah… gitu to?” Tapi satu hal jelas, ada misteri yang terpecahkan! Mobil berhenti sebentar di lampu merah. Saat kemudian Pak Pri kembali menginjak pedal gas, Nada merasa tangannya ditarik Dayu dan dibawa berlari bergegas. “Welcome back.” Nada menoleh perempuan itu. Ia masih menahan napas. Mereka berlarian menuju mobil di parkiran. Baru setelah tiba di dalam dan kaca jendela dinaikkan penuh, ia bisa kembali bernapas. “Buset!” Dayu tertawa. “Kamu baru saja menjalani pengalaman Double Concsiousness, kesadaran ganda pada kedua sisi Bilokasi. Kamu tadi melakoni dirimu sendiri yang satunya lagi, kan? Sejak pisahan, salat subuh, mandi, sarapan, lalu berangkat sekolah, iya kan?” Nada membuang napas. “Edan! Beneran beyond logic! Dan detik sekarang ini, aku satunya lagi sedang ikut Pak Basri, Bu Siwi, dan Pak Pri ke rumah sakit untuk menengok Aren.” “Kupikir kamu akan Loop. Melakoni seluruh peristiwa Nada kedua setelah Bilokasi-mu selesai. Ternyata tidak. Pada kesempatan pertama, kamu bahkan langsung bisa melakukan Double. Fantastis!” “Berarti sekarang ini aku bisa balik lagi ke sana?” “Bisa. Coba aja!” “Caranya?” Semesta berganti. Mobil yang dikemudikan Pak Pri sedikit terjebak kemacetan selepas lampu lalu lintas. Sepertinya ada penyempitan jalan karena penggalian pipa PDAM. Nada mendelik. “Edan!” Pak Basri dan Bu Siwi lagi-lagi kaget. “Kamu ini kenapa?” seru Bu Siwi. “Kesurupan jin penunggu lampu bangjo tadi?” Saat Nada tertawa, ia sudah kembali lagi dalam posisi di mobil Dayu. “Excellent! Caranya begini, aku nggak perlu susah-susah melatihmu,” kata Dayu. “Cukup kukasih tugas aja, kamu pasti langsung bisa eksekusi dengan baik.” “Dan ini efek tugas yang tadi.” Dayu menoleh saat bunyi sirene seakan menyesaki seluruh atmosfer dunia luar. Portal gerbang parkir terangkat tinggi-tinggi saat beberapa sedan dan mobil patroli polisi merangsek masuk dengan kecepatan tinggi. Dua petugas polisi bersenjata lengkap melompat turun untuk berbicara pada petugas parkir dan satpam kompleks pergudangan yang bingung melihat kemunculan mereka. “Cepet banget mereka datangnya,” gumam Dayu. “Nggak sampai 10 menit sejak kamu telepon tadi.” “Dan mereka akan kaget begitu melihat siapa yang ada di sana. Di berita nanti pasti ditulis, ‘Pengusaha berinisial GP menjadi otak intelektual tindakan teror dan penculikan’.” “Lalu ada seorang mama yang patah hati…” Nada tertawa. “Biar saja. Bucin kok sama orang kayak gitu.” “Karena berita akan segera menyebar, mending kamu fokus temenin mama kamu aja! Kamu boleh balik ke tempat semula.” “Beneran? Kutinggal dulu gak papa nih?” “Gak papa. Keadaan di sini udah terkendali kok. Radit dan Nathan juga sudah oke. Kamu lebih dibutuhkan di tempat Aren dan mama kamu.” “Trus kostum ketat ini gimana?” Nada menatap badannya sendiri, yang masih terbungkus kostum superhero nan canggih. “Tinggalin aja! Kamu akhiri sesi Bilokasi seperti sebentar ini tadi pas Double. Kostumnya kan nanti terlipat dengan sendirinya. Ntar kukirim.” Nada mengangguk. “Oke.” Ia berkedip normal dan pemandangan berganti pada wajah Bu Siwi dan Pak Basri yang syok. “Iya. Nama lengkapnya Raditya Mahadeva,” Bu Siwi membaca sesuatu di layar ponselnya. “Itu murid baru Pak Basri yang pindahan dari Bandung itu, kan?” Nada perlu memaksimalkan kemampuan aktingnya saat mendelik. “Apa? Radit diculik!?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN