Gudang

1968 Kata
Ajaib! Memang mereka benar-benar tak terlihat. Tak seorangpun melihat mereka, meski pada dini hari jam segitu memang belum banyak orang berkeliaran di area pergudangan. Beberapa truk yang satu-satu mulai berdatangan pun tak ada yang menyadari kehadiran keduanya. Semuanya cuek bebek dengan aktivitas masing-masing. Sama sekali tak melihat aksi dua cewek ganjil berkostum aneh berlarian luar biasa cepat karena mengejar napas. Dayu menggandeng tangan Nada membelok ke sisi salah satu gudang yang berukuran kecil, lalu merunduk bersembunyi di balik setumpuk peti-peti yang entah berisi apa. Perempuan itu kembali bernapas setelah melepas tangan Nada. Spontan Nada juga ikut bernapas, mengingatkan kembali pada momen di mimpi tempo hari, saat ia keluar dari air laut yang sangat dalam gara-gara iseng menjajal Message Planting sebelum waktunya. “Ini dia gudangnya, tadi kulihat Gading masuk sini,” kata Dayu, terengah. “Radit dan Nathan pasti ada di dalam sana.” Nada menaikkan lehernya sedikit, mencoba mengamati situasi. Sekitar mereka sepi. Tak ada siapapun terlihat dalam radius hingga 100 meter di sekeliling mereka. Kalau mereka bergerak cepat masuk gudang, tak akan seorangpun yang melihat mereka sekalipun mereka bergerak tanpa pakai kemampuan Panglimunan.  “Kita ngilang lagi sekarang, untuk masuk gudang?” tanyanya. Dengan goggle pada topeng yang berwarna biru gelap, Dayu mengawasi jalur antara tempat mereka bersembunyi dengan pintu samping gudang, yang berbentuk kecil ringkas mirip pintu-pintu rumah hunian. “Ada dua kerugian di sini. Satu, kita tak punya tim teknis yang ngasih info denah gudang seperti apa, sehingga kita bisa mengira-ira posisi di mana Radit dan Nathan disekap.” “Ya, kayak Eric di NCIS L.A., atau Penelope di Criminal Minds...” “Dan kerugian kedua adalah, kamu belum bisa ngilang sendiri. Masih harus kupegang biar ngilangnya ikut aku. Itu membuat rencana tactical harus dibalik. Aku ngilang untuk nyari tempat penyekapan Radit dan Nathan, sementara kamu membuat mereka sibuk, syukur-syukur bisa handle semuanya seorang diri.” Nada mengetuk noktah di lengan kiri yang sudah menyala hijau. Warna berganti merah. Dan semua informasi augmented reality di kaca mata topengnya berubah merah pula. “Sepanjang Getaran Ingsun masih bisa diselaraskan dengan teknologi tinggi combat suit-mu yang hebat ini, sepertinya semua akan baik-baik saja.” “Oh, itu bukan punyaku. Itu punyamu, yang customized sesuai karakteristikmu. Bahkan didesain khusus untukmu dengan genetic sequencing dan pengenalan-pengenalan personal yang hanya berciri kamu. Kalau dipakai orang lain, ya bajunya sekadar baju aja, cuman nutup aurat. Nanti kujelasin. Sekarang kita masuk. Ayo!” Begitu Dayu memegang kembali tangannya, Nada otomatis menahan napas. Mereka bergegas mendekati pintu samping itu. Dayu membukanya hati-hati. Meski sedang dalam invisible mode, ia tetap mengawasi situasi penuh kewaspadaan, karena pintu yang membuka sendiri jelas akan menimbulkan kecurigaan. Untung tak ada siapa-siapa di sekitar pintu. Hanya ada peti-peti yang ditumpuk dalam rak-rak metal raksasa, tinggi menjulang hingga hampir menyentuh plafon gudang nun jauh di atas sana. Dayu membimbing Nada bergegas melewati rak demi rak. Mereka baru berhenti dan merunduk di tempat aman setelah mendengar ada suara-suara percakapan orang. Gadis itu melepaskan pegangannya dan kembali bernapas. Telunjuk menempel di bibir. Nada mengangguk. Memang ada orang berbincang-bincang tak jauh dari tempat mereka sembunyi, mungkin berjarak dua rak. Dan kemudian Nada mengenali salah satu suara. “...Aku mau cek aja sih, tadi mendadak aja kepikiran. Habis ini baru balik kantor, lalu menemui Mas Santoso...” Itu suara Om Gading. Tak salah lagi! “Lalu kapan kita ajukan tuntutan ke Pak Hernadi?” Alis Nada berkerut. Pak Hernadi pastilah papa Radit. “Nanti, bentar lagi! Nunggu instruksi dari Mas San. Tadi Nathan sempat lihat muka kalian nggak?” “Nggak. Kan kita semua pakai topeng. Sayangnya memang, dia pas bareng target waktu kita mau ciduk dia. Jadi daripada ambil risiko, kita sekalian ciduk dia juga.” “Memang itu perkembangan yang tak terduga, termasuk bahwa anaknya Pak Her kok malah ya kebetulan pas nginap di kafe milik Mas San.” “Dan kok ya pas dia sekolahnya di tempat Mas Nathan sekolah.” “Pak Her asal masukin anaknya di SMA yang terdekat dengan rumah Pak Bastian, adiknya. Nggak tahunya ternyata anak Mas San juga sekolah di sana.” “Bos sendiri gimana bisa melacak anak Pak Her secepat ini? Ada mata-mata di Bandung?” Om Gading terkekeh. “Ya pasti ada lah. Tinggal dikasih duit, semua info bakal kita dapat. Pak Her nggak tahu aku dan Mas San punya rumah di sini, dan lumayan sering tinggal di sini. Bahkan Mas San kan asli orang Solo. Pak Hernadi mengungsikan anaknya dari teror kita justru ke tempat di mana kita berada, haha...!” “Orang Jawa bilang, itu ula marani gebuk. Alias ular mendatangi pentungan.” Pria-pria itu tertawa. “Mereka masih tidur sejak semalam?” tanya Om Gading kemudian “Masih. Dibius sejak dari kafe, lalu semalam kita suntik obat tidur. Sampai sore, mereka akan pules seperti bayi, hahaha...!” “Aku akan cari di mana mereka menyekap Radit dan Nathan. Kamu bikin sibuk mereka dulu. Menurut pantauanku, hanya ada empat orang di sana, termasuk Gading.” Itu suara lain lagi, jernih seperti suara penyiar radio, dan dengan kualitas audio yang juga bagus. Nada menoleh. Dayu tak menggerakkan mulut sama sekali. “Itu tadi telepati. Kalau dalam istilah ilmu silat Jawa, namanya Aji Pameling—berkirim pesan lewat batin. Itu satu lagi kemampuan linuwih yang menunggu untuk kamu kuasai.” Mulut Nada membundar, membentuk huruf “O”, tanpa suara. “Sekarang aku pergi. Hitung saja sampai 50, baru gerak ke arah mereka! Habis itu, terserah mereka mau kamu apain. Kamu langsung hajar seperti tadi pas tarung lawan Arheum juga boleh.” Dayu berlalu, mengendap merunduk saja seperti tentara Navy SEAL atau Kopassus merangsek ke markas musuh. Belum menggunakan kemampuan invisible-nya, gadis itu menghilang di ujung rak, membelok ke kanan, menuju bagian tengah gudang. Nada menghitung hingga angka 50. Konyolnya, sambil sempat menahan napas. Baru pada angka 20 ia ingat bahwa ia tak sedang mengerahkan Aji Panglimunan. Nada tepok jidat sendiri, lalu bangkit bergegas menuju arah asal obrolan para pria itu. Karena kali ini ketahuan pun tak apa-apa, Nada sengaja tak menyembunyikan suara tapak sepatu ajaibnya saat melangkah cepat. Namun tetap saja kedatangannya tak diketahui mereka semua, hingga ia tiba tepat di depan mereka. Om Gading dan tiga pria bertampang sangar itu tengah ada di sekitar meja panjang yang ada di salah satu area lapang di gudang. Sepertinya itu tempat beristirahat para pekerja gudang—yang merangkap sebagai tukang pukul Om Gading. Meja-meja di sana penuh botol-botol minum, mulai dari air mineral, jus jeruk, hingga bir dan vodka. Ada juga kemasan-kemasan wafer dan kacang panggang berserak di sana-sini. Dan tak ketinggalan adalah rokok. Di dekat meja ada beberapa kursi. Sofa empuk juga ada, namun mereka semua berdiri seperti tengah main pentas teater. Dan Om Gading lah yang kali pertama melihat Nada. Demi melihat sosok luar gadis itu, tak aneh jika mata pria itu mendelik seperti hendak mencuat keluar dari rongganya. “Dewi dewa-dewa di kahyangan! Ini makhluk apa!?” Tiga pria lain menoleh dan sama-sama terpana, sebagian tentu oleh bentuk badan Nada yang tercetak jelas pada kostum ketat. “Wow! Ada peserta cosplay kesasar...!” “Lebih oke sebenernya kalau tanpa ‘cos’-nya, hahaha...!” Mereka semua tertawa, termasuk Om Gading. Nada sungguh ingin nabok orang itu pakai tiang listrik! Untung ia tetap cool dan tidak terpancing. “Ada dua pilihan di sini: kita lakukan dengan cara halus atau kasar,” ia bersidekap, meniru dialog di film eksyen Hollywood. “Cara halusnya, bebaskan dua anak yang semalam kalian culik dari kafe Village.” Om Gading mengerutkan dahi, namun dengan wajah sinis. “Dan cara kasarnya adalah...?” Nada bergaya degan menggeletukkan buku-buku jari kedua tangannya. Om Gading malah ketawa. “Ah, masa cewek kayak kamu ngajak berkelahi?” “Mau tidak mau kalian terpaksa berkelahi, soalnya kedua korban kalian sudah ada di tangan kami.” Memang tepat saat itu Nada melihat Dayu muncul dari arah bagian belakang gudang, dari sesela rak barang dan tumpukan kardus-kardus, sambil membimbing dua remaja bertampang lusuh yang menyeret langkah mati-matian sembari saling papah satu sama lain. Itu Radit dan Nathan, Sudah melek tapi nampaknya masih berada dalam pengaruh obat tidur. Mata mereka berkedip-kedip teler menatap Dayu dan Nada bergantian. “Bus... buset! Superhero...!” gumam Nathan, saat dilepas Dayu agar duduk menggelesot di lantai. Dan Radit tepat menatap Nada. “G-Golden Girl...?” Om Gading dan ketiga premannya seketika ribut. “Apa-apaan ini? Kalian siapa!?” Mereka semua serentak menghunus pistol, diacungkan berganti-ganti pada Nada dan Dayu, yang posisi berdirinya mengapit kedudukan mereka. “Gading Permana, kamu bersalah mendalangi aksi-aksi teror terhadap keluarga Hernadi pemilik Panti Asuhan Permata Bunda di Bandung,” kata Nada datar. “Untuk itu persiapkan dirimu menunggu aparat kepolisian yang sebentar lagi datang!” Om Gading mendekati Nada dan dengan buas mengacung-acungkan pistolnya tepat ke wajah gadis itu. “Kamu siapa!?” ia berteriak dan suaranya digaungkan dinding-dinding gudang. “Buka topengmu! Kamu siapa!?” “Aku orang yang akan menggagalkan semua rencana indahmu.” Fitur augmented reality di goggle Nada menghadirkan beberapa infmrmasi vital soal Om Gading terkait titik-titik lemah yang bisa diincar untuk melumpuhkannya dengan cepat. Pergelangan tangan, ulu hati, lambung, daerah s**********n, dagu, dan juga jakun. Mengikuti instruksi dari otak Nada, komputer menyajikan beberapa tempat rentan serta urut-urutan penindakannya berserta durasi waktu yang diperlukan untuk mengeksekusi semuanya hingga orang itu benar-benar lumpuh. Dan ketika saatnya tiba, Nada menyerahkan semua pada gerakan dari Ingsun. Lalu ia terseret ke depan, seperti bukan oleh gerakannya sendiri. Terlalu cepat untuk mata wajar Om Gading, Nada tiba-tiba sudah ada di depan ujung hidung pria itu. Tangan kanan mencekal pergelangan tangan Om Gading yang memegang pistol, dan tangan kiri memuntir tangan berpistol itu. Om Gading menjerit saat tangannya terpuntir sedemikian rupa sehingga jari-jarinya tak sengaja menarik pelatuk, dengan moncong pistol mengarah ke rak-rak barang. Keributan terjadi saat pistol itu menyalak beberapa kali. Ketiga tukang pukul merangsek maju, yang langsung ditangani Dayu. Suara jerit kesakitan dan bunyi bergedebukan terdengar, berbaur dengan letusan pistol. Nada mendorong Om Gading sekuatnya, hingga punggung pria itu menabrak rak barang berisi peti-peti berukuran sedang. Tepat saat peti berjatuhan, pistol kehabisan peluru. Nada melanjutkan serangannya dengan siku ke arah ulu hati, dua kali. Om Gading terbungkuk sambil mengeluarkan bunyi seperti orang tersedak tulang ayam. Dalam posisi seperti itu, mudah saja bagi Nada untuk kembali menggunakan siku guna menggedor tengkuk pria itu sekuat mungkin. Om Gading nyungsep terjerembab dengan muka membentur lantai gudang keras sekali. Pistolnya terlempar hingga bawah meja. Pria itu terbaring tengkurap, tak bergerak lagi. Setidaknya dia kena gegar otak ringan. Dan tepat saat itu Dayu juga menyelesaikan tugasnya. Salah satu preman terkapar semaput seperti Om Gading. Dua yang lainnya telentang mengaduh-aduh sambil memegangi sendi lutut dan perut, respectively. Dayu tepat ada di depan mereka sembari menodongkan dua pistol, satu untuk masing-masing wajah—entah kapan dan dengan cara bagaimana ia merebut kedua senjata itu dari tangan pemiliknya. “You’re all under arrest!” katanya dingin, datar. Dan tak ada gerak perlawanan apa pun dari para penjahat. Mereka jauh lebih memikirkan lutut yang bergeser dan usus yang bisa saja terpuntir di dalam lambung sana. Nada berdiri terengah-engah. Mata tajam mengawasi empat pria itu. Sepertinya aksi pertamanya sebagai superhero berjalan lancar. “Sekarang bagaimana?” tanyanya, mematikan combat mode di seragam tempurnya. “Cari nomor telepon Polsek Jebres! Itu yang terdekat dari sini. Mereka akan tiba tak sampai 10 menit. Kita tunggu saja di sini sambil mengawasi mereka biar tidak lari. Nanti kalau polisi datang, kita ngilang dan pergi.” “Mereka gimana?” Nada menggoyang dagunya ke arah tak jauh dari Om Gading. Dayu menoleh. Radit dan Nathan menatap takjub namun dengan sorot mata kosong, mirip orang kena sihir. “Paling mereka tidur lagi, dan nggak akan ingat apa-apa dari kejadian ini.” Persis sesudah itu, Radit dan Nathan melorot jatuh dan rebah saling bertindihan. Napas mereka terhela teratur. Bahkan Radit mendengkur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN