“Lihat tuh! Dia antusias banget berangkat ngecek hasil pekerjaannya. Itu sepertinya gagasan dia sendiri, yang tiba-tiba kepikiran, dan ia anggap sebagai ide brilian. Something that needs to be done...”
“Padahal itu aslinya gagasan orang lain?”
Dayu mengangguk. “Maka kamu ngerti betapa masif dan spektakulernya ini, andai bisa dipraktekkan dalam skala besar—menggunakan nanoteknologi misalnya. Diimplan ke otak manusia.”
Kesibukan Nada dengan ponsel seketika terputus. “Bener juga! Orang bisa mengatur skor pemilihan presiden, misalnya. Rakyat rame-rame menyukai satu capres tertentu, padahal itu aslinya pikiran yang ditanamkan.”
“Dan pada scope terkecil, untuk membuat seseorang jadi cinta. Semacam pelet pengasihan, tapi dengan metode berbeda—dan bisa ditempuh lewat cara sains juga, misal lewat nanoteknologi itu tadi.”
Mendadak Nada tertawa. Sambil mengemudi, Dayu menatap sekilas ke arahnya dengan sorot mata galak.
“Don’t you even think about it!”
Tawa Nada mengeras. “Bukan itu. Justru sebaliknya. Cowok-cowok itu pada baper karena mereka lihat aku jadi glowing. Tingkah laku mereka nyusahin banget. Kalau saja aku udah bisa Message Planting, lalu kubilang pada mereka agar nggak usah mikir aneh-aneh soal aku!”
“Pokoknya jangan pakai yang kayak gitu untuk ngurusin hal remeh temeh kayak gitu! Anak kecil kayak kamu pasti tergoda. Makanya justru di situ letak tantangannya, untuk mengendalikan diri. Bayangkan betapa praktis dan enaknya hal itu! Kamu suka sama Jimin, misalnya, dan yang kamu perlu kerjakan cuman memasuki mimpinya. Besok pagi dia bangun dan tahu-tahu mengharapkanmu, entah dengan sebab atau tidak.”
“Iya,” Nada menerawang, membayangkan ia berada di posisi Nathan atau Radit, dan dengan girang gembira melakukan itu pada dirinya.
“Tapi orang seperti kita tidak perlu melakukannya. Tahu kenapa?”
“Kenapa memangnya?”
“Karena kemudian kita berurusan dengan hal-hal lain yang lebih besar—lebih grande. Misal seperti yang sekarang ini. Nanti kalau urusanmu sampai skala global, misal untuk keeping peace atau menjaga keseimbangan konflik militer di suatu negara, apa cowok suka atau enggak sama kamu masih urgen buatmu? We’re gonna be busy doing something else totally different. Yang ada cuman kejaran dari pihak sana. Kamu udah nggak perlu mengejar siapapun karena udah kadung punya standar kualitas tersendiri.”
Nada manggut-manggut. “Makanya terpikir untuk memakai kekuatan aneh-aneh kita untuk hal-hal sepele juga udah nggak terpikir lagi...”
“Nah! Itu dia! Oh, ya, bukunya udah kelar dibaca?”
“Yang buku Romo Zoetmulder? Belum. Aku masih belum mudeng 75% apa yang dibicarakan di sana.”
“Tak apa. Memang belum waktunya. Itu bacaan mahasiswa pascasarjana. Tapi kamu merasakan sesuatu bergerak jauh di dalam otakmu kan setelah baca buku itu?”
“Anehnya memang iya. Aku nggak mudeng kata demi kata, tapi seperti ada sesuatu di dalam sana yang menerima logika-logikanya. Dan kayak nanti-nanti pasti ada saatnya untuk mudeng juga.”
“Exactly. Itulah yang disebut pembelajaran level makna. Kamu berusaha untuk langsung paham makna tanpa perlu membedah logika kata-kata. Sama seperti kita mempelajari kekuatan Ingsun. Langsung ke substansi penyatuannya, dan itu yang justru kemudian mengendalikan kita menjelajahi logika-logika dunia nyata. Kamu ikuti saja kakimu bergerak. Pasrah di situ. Dan baru kemudian kamu mudeng di taraf logika, yaitu bahwa kamu disuruh menemukan charger HP mama kamu, langsung di tempat ia berada. Kalau memakai logika dulu kan kerjamu jadi kayak kerja detektif, harus menyelidiki dulu pelan-pelan kemarin mama kamu dari mana saja dan kemudian mengurutkannya.”
“Berarti bisa saja ntar aku baca lagi untuk kedua dan ketiga kalinya, dan baru mudeng bener maksudnya?”
“Biasanya akan seperti itu, karena buku-buku bagus mengandung makna di atas makna, yang baru kita temukan satu-satu kemudian. Dan hidup pun gitu juga. Kita mengalami masalah yang sama, tapi dengan tingkat pemahaman yang terus meningkat. Yang dulu terasa sulit, jadi gampang, dan heran karena dulu kita pernah nangis jejeritan karenanya.”
Nada tertawa. “Iya. Kayak sekarang gak mudeng kenapa dulu pas kecil bisa ngamuk karena nggak dibeliin es krim.”
“Maka sangat gawat kalau sekarang, hari ini, misalnya, kamu masih ngamuk karena nggak dapet es krim. Banyak yang seperti itu. Dari dekade ke dekade, masalah yang dihadapi masih sama, karena masalah yang dulu susah masih terasa sama susah. Berarti dia nggak ada peningkatan pembelajaran ilmu hidup.”
“Bener juga...”
Dayu kembali memusatkan perhatian ke roda kemudi. Mobil Om Gading sendiri melintas sedikit tergesa meninggalkan downtown Kota Solo, dan nampaknya menuju ke arah jalur menuju Surabaya. Dengan gerak-gerik terlatih, Dayu menjaga mobilnya dalam jarak aman di belakang Om Gading. Kadang sengaja membiarkan satu dua mobil menyela di depan, untuk membuat pihak sana tak tahu sedang dikuntit. Lalu lintas kala subuh tentu masih lengang. Hanya beberapa kendaraan yang sepagi ini sudah menampakkan diri di jalan.
“Gimana? Udah bisa mengakses dirimu yang satunya lagi, yang sekarang ini mungkin sedang mandi?”
Nada mengangguk. “Lumayan. Nada yang itu memang sedang mandi, lalu bentar lagi keluar dan sarapan.”
“Pada satu titik, ketika Bilokasi terjadi dan kita memilih ada di salah satu self kita, self yang satunya lagi bergerak otomatis sesuai aspek-aspek ‘default’ karakteristiknya. Jadi bagi semua orang di sekolah, Nada yang di sana nggak terasa aneh sedikitpun. Tetap bisa diajak berinteraksi, merespon hal-hal, dan berpikir wajar sesuai seharusnya meski ruhmu sedang tidak melakukan kontrol micromanagement ke atasnya. Nanti, pada tingkat yang lebih tinggi, kamu bisa melakukan semacam ‘loop’, yaitu menjalani peristiwa yang dialami self kamu satunya lagi sesudah momen self inti yang sekarang ini selesai berlangsung.”
Nada berkerut dahi. “Maksudnya, sesudah urusan ini kelar dan aku menyelesaikan Bilokasi, aku mengulangi episode kegiatan aku satunya lagi, sejak tadi pas berpisah di kamar saat kamu meneleponku?”
“Yap. Relativitas lagi. Periode self-mu menjalani aktivitas di sini memakan waktu hanya sepersekian miliar mikrodetik pada timeline kisah hidup Nada secara keseluruhan. Jadi pada timeframe orang-orang lain yang mengenalmu, yaitu para observer, seakan tak ada gap waktu yang terlewat sama sekali. Hmm... ini kayaknya mau ke Kota Pedaringan deh. Si Om pasti puya gudang di sana, yang lantas dipakai untuk menyekap anak-anak itu.”
Kota Pedaringan adalah kawasan pergudangan milik Pemkot Surakarta, yang terletak di wilayah Kecamatan Jebres. Dan di film-film eksyen, area pergudangan memang ideal dijadikan tempat melakukan hal-hal ilegal, termasuk menumpuk dan menyimpan barang haram dan juga melakukan hal-hal keji pada musuh. Nada belum pernah ke sana. Tak aneh kuduknya meremang saat mobil Dayu mulai mendekat ke daerah itu.
Dan ia menoleh heran saat Dayu malah mengerem kendaraan di pinggir jalan, pada suatu ruas jalan yang sepi dengan hanya sawah dan kebun-kebun warga di kanan-kiri. Hanya kegelapan di sekeliling. Lampu jalan terdekat berjarak sekitar 50 meter di depan sana.
“Kok malah berhenti?”
“Kita asumsikan Gading sudah lama berkarier di dunia kriminal. Maka dia akan punya kewaspadaan pada hal-hal yang terkait dengan hal itu, seperti kemungkinan dibuntuti atau disadap polisi. Dia bisa curiga kalau mobil ini dari tadi terus-terusan ada di belakangnya. Dia bisa sengaja membuat kita nyasar, lalu menghubungi konco-konconya untuk buru-buru mindahin Radit dan Nathan ke tempat aman lain lagi.”
“Trus, apa rencana kita sekarang?”
Dayu berpikir, lalu menatap Nada. “Kamu udah bisa setir mobil?”
“Lumayan. Udah diajari Mama, buat persiapan tahun depan pas aku 17 dan boleh ambil SIM.”
“Bagus. Ayo, pindah posisi!”
Nada melongo. “Buat apa?”
“Just do it! Aku ada rencana bagus.”
Karena Dayu membuka pintu dan keluar, Nada juga ikut melakukan hal yang sama. Mereka kemudian memutari mobil dan berpindah posisi duduk.
“Jadi gini,” kata Dayu kemudian, sambil memasang sabuk keselamatan jok kiri depan, “Aku akan kuntit Gading pakai ilmu Ngraga Sukma, lepas jiwa dari badan. Sementara itu, kamu bawa mobil ini sampai parkiran Kota Pedaringan. Di sana nanti aku pasti sudah bangun lagi dan ngasih tahu info detailnya, termasuk gudang sebelah mana yang dituju Gading.”
“Kalau misalnya dia tidak menuju Pedaringan, tapi lokasi lain lagi, gimana?”
“Ya terus aja mengemudi! Tinggal mengikuti petunjukku nanti. Ayo, cabut!”
Dayu mengambil posisi rileks di sandaran jok. Mata terpejam, dengan kedua jemari tangan bertautan di perut. Tertegun sesaat, Nada memasukkan persneling ke gigi satu dan menginjak pedal gas. Agak canggung, tapi karena ini bukan momen pertamanya menyetir mobil, semua ia bisa lakukan dengan lancar. Kendala saat ini hanya karena ia masih butuh adaptasi untuk memegang kendaraan orang lain.
Kompleks pergudangan di Pedaringan ternyata tak berjarak jauh lagi dari tempat mereka tukar posisi tadi. Sesudah melewati gerbang tiket parkir, ia menghela mobil Dayu ke bagian parkiran paling ujung sekaligus paling sepi. Mesin tak langsung ia matikan, agar tak kehilangan hawa sejuk dari AC. Matahari saat itu sudah mulai mengintip di ufuk timur. Langit berwarna biru lembayung. Sekeliling sesunyi kuburan, namun dalam waktu tak terlalu lama, para pekerja dan truk-truk pengangkut barang akan mulai berdatangan.
Taktik Dayu memang brilian. Nada tahu bahwa Ngraga Sukma adalah kemampuan untuk meninggalkan jasad. Ruh pun bebas melayang ke mana saja, sehingga Dayu bisa menguntit Om Gading tanpa bisa terdeteksi. Hanya saja ia belum tahu hingga batas jarak sejauh apa ruh bisa pergi dari badan. Itu nanti harus ditanyakan sebelum pelajaran dan latihan-latihannya sampai di titik ini.
Dua menit menunggu sambil cek medsos, baru Dayu membuka mata. Jiwanya sudah balik ke tempat semula.
“Okay, got it! Dia menuju ke gudang B-2 di blok B.”
“Kita langsung ke sana sekarang?”
“Ada update soal menghilangnya Radit dan Nathan?”
“Ada, sebentar ini tadi. Polrestabes Surakarta sudah menduga itu kasus penculikan, untuk meminta tebusan pada pengusaha Santoso Ernawan. Tapi belum ada kabar lagi dari pihak penculik. Yang jelas, rumah Om San saat ini dijaga ketat kepolisian. Dan jelas jadi absurd, karena justru dialah aktor intelektual semua kekacauan ini!”
Dayu melepas safety belt. “Semoga ini bisa kita selesaikan pagi ini juga, biar nanti siang mama kamu sudah bisa langsung tahu siapa Gading Permana sesungguhnya.”
Nada mematikan mesin mobil dan terdiam berpikir. “Astaga! Jadi itu maksudnya Om Gading kamu suruh datang ke sini? Selain agar kita bisa tahu di mana letak dia menyekap Radit dan Nathan, juga biar dia ikutan ada di sini pas polisi datang melakukan penggerebekan nanti?”
Dayu tersenyum simpul. “Itulah yang kumaksud dengan use the imagination. Nah, sekarang, berapa lama kamu bisa tahan napas?”
“Bisa agak lama. Kan aku sering meditasi pakai latihan pernapasan. Kenapa memangnya?”
“Sebab aku akan latih kamu satu lagi kemampuan baru yang luar biasa, yaitu ilmu kuno kanuragan Jawa yang dinamai Aji Panglimunan, atau halimunan. Ilmu ini memungkinkan kita untuk sesaat menghilang dari mata orang lain, sebatas kita bisa menahan napas.”
Nada terpana. “Ada yang seperti itu!?”
“Tentu saja. Jawa ini pusatnya para superhero sejak zaman Rajasanagara dan Gajah Mada dulu. Kemampuan mereka jauh lebih aneh-aneh lagi. Ayo, kenakan topengmu dan aktifkan combat suit-mu! Plus, tahan napas sampai kita tiba di gudang milik Gading!”
Dan Nada dengan polosnya langsung berhenti bernapas.