Kostum

1970 Kata
Nada celingukan. Sebelum ada perawat jaga yang melihatnya, ia bergegas membuka pintu ruang janitor tepat di sebelah pintu toilet umum bangsal Melati. Dan seperti yang ia batinkan, ruang di balik daun pintu adalah kamarnya yang sejuk ber-AC. Matanya seketika melebar karena di hadapan meja belajarnya adalah Dayu, berkaus ketat hijau, rok pendek hijau, bando hijau, dan sibuk cengengesan main ponsel. “Loh, kok...?” Nada menatap bergantian pada gadis itu dan pintu. “Kan... baru saja...? Ini Dayu Bilokasi, ya?” “Bukan, relativitas ruang dan waktu,” Dayu tersenyum, memutar badan menghadap ke arah Nada. “Urusanku dengan Arheum dan Bowo sudah kelar, makanya bisa langsung balik ke sini.” “Tapi kan kamu baru saja ngilang, pake kostum Iron-Man ijo tadi. Kok tahu-tahu udah di sini...?” “Kan aku manusia super.” “Trus, si jin sudah selesai?” “Ya, dan si Bowo juga. Kutampol berkali-kali dia tadi. Baru punya skill klenik segitu aja udah mempermainkan takdir orang lain! Dia kelenger. Besok nggak akan bangun sehingga istri barunya bakal panik dan mengangkut dia ke rumah sakit, lalu dia koma nggak jelas selama sekurangnya dua bulan.” “Berarti dia udah nggak akan mengganggu Aren lagi, kan?” “Nggak. Sudah bener-bener aman sekarang. Ibunya Aren benar. Bowo punya dendam kesumat sama Pak Irfan sejak remaja. Pak Irfan yang miskin kok selalu bisa berprestasi, sementara dia yang kaya raya nggak pernah bisa sesukses Pak Irfan, termasuk dalam hal memacari Dita. Begitu ilmu hitamnya sudah kuat, dia kirim kuntilanak itu untuk stay di mana pun keluarga Pak Irfan berada, untuk bikin dia menderita dengan tak bakalan bisa punya anak.” Nada berkacak pinggang dan menggeleng-geleng. “Benar-benar sampah masyarakat!” “Ya. Untungnya si sampah sekarang sedang cuti selama dua bulan ke depan.” “Cuti?” “Koma. Gara-gara kutampol. Di level medis, dokter akan bilang dia kena stroke berat sampai koma. Nanti baru akan siuman dua bulan lagi. Gimana lukamu tadi? Nggak membekas di level dunia nyata, kan?” Nada teringat lagi pada hal itu dan mengecek badannya. Ia membelalak melihat kedua lengan jaketnya robek parah. “Waduh, jaketku! Ini masih baru. Dibeliin Mama bulan lalu.” Dayu berdiri dan mengecek lengan Nada hingga ke kulit di balik jaket dan kaus di baliknya. “Untung nggak,” gumamnya. “Kamu kuat sekali. Normalnya, luka yang dialami di Dunia Bawah akan membekas sampai ke sini.” Nada buru-buru melepas jaketnya. “So, apa rencana kita sekarang? Apa yang kamu lakukan tadi dalam mimpi Om Gading?” “Semula aku akan memaksa dia mengatakan di mana orang-orangnya menyekap Radit, tapi kemudian aku punya ide yang lebih bagus.” “O, ya? Apa itu?” “Aku Message Planting ke dia, membuat dia berkeputusan untuk meninjau secara langsung lokasi penyekapan Radit pagi ini, begitu dia bangun. Aku mengantisipasi kemungkinan andai dia punya backing orang pintar atau penasihat spiritual, yang mungkin bisa mencium jejak kehadiranku pas infiltrasi jika aku intens menginterogasi dia lewat Kunci Memori. Seperti main catur, kita harus selalu berada dua langkah di depan musuh.” “Trus, apa habis itu?” “Ya kita tinggal buntuti dia kalau berangkat.” “Dan kalau lokasi penyekapan ketemu, kita panggil polisi?” Nada bangkit, mata berkilat-kilat. “Sebagai superhero anyaran, masa kamu melewatkan kesempatan begitu saja untuk bisa menjotosi geng penjahat?” Nada terperangah. “Betul juga! Apalagi pas di Cibaduyut, adegan eksyennya kurang seru.” Dayu mengangguk dan melangkah ke pintu. “Nah, makanya! Sekarang aku mau stand by di dekat rumah Gading. Kalau sudah ada gejala dia akan berangkat, aku panggil kamu.” “Trus sekolahku piye? Bolos aja, kayak Aren?” Dayu menatap Nada seolah anak itu berubah bentuk jadi trenggiling. “So? Kan ada Bilokasi.” Nada tertawa lalu tepok jidat. “Astaga, iya! Lupa terus.” “Nah, ini nih yang harus segera kamu benahi! Use your imagination! Jangan takut ambil risiko dengan improvisasi. Tadi itu kamu sebenernya bisa menahan Arheum agak lama kalau terpikir pakai senjata atau perlengkapan perang apa pun sejauh kamu bisa memikirkannya. Kalau lagi beruntung, mungkin kamu bahkan bisa mengalahkan dia tanpa aku harus turun tangan.” Nada mendesah. “Iya. Aku beneran lupa karena tegang mikirin Aren.” “Pokoknya sepanjang masih ada di immaterial world, kayak pas infiltrasi atau di Dunia Bawah, pikiran kita bisa membentuk realita. Mind creates reality! Nah, bedanya, pas nanti ini kita beraksi di alam nyata, persenjataan dan perlengkapannya ya sebatas yang bisa kita persiapkan saja.” “Nah, kita nanti nyiapin apa sebelum berangkat membuntuti Om Gading?” “Ntar aku cek lagi. Kayaknya masih ada beberapa yang bisa dipakai, termasuk kendaraan. Yuk, cabut dulu! Tunggu telepon dariku!” Nada mengangguk. “Oke.” Dayu membuka pintu dan melintas pergi. Tentu tak perlu dicek apakah ia masih ada di balik pintu sana, di ruang tengah tak jauh dari TV dan meja makan. Nada melihat jam di ponsel. Pukul 3.45. Tak lama lagi masuk waktu shalat subuh, jadi ia mending berkegiatan seperti biasa dulu saja hingga Dayu menelepon.   ***   Nada melintas keluar dari pintu rumah, entah milik siapa. Lalu ia berlarian menghampiri sedan hitam dengan kaca yang juga sangat gelap itu. Larinya terburu-buru. Berada di luaran pada pukul 4 pagi bukan sesuatu yang wajar dilakukan manusia normal. Hawa sangat dingin, dan anginnya sungguh liar. Buku jarinya lalu mengetuk jendela kiri depan. Jendela bergeser, dan menampakkan Dayu di hadapan roda kemudi, nampak elegan dengan kaca mata hitam dan setelan baju lengan panjang serta celana, semuanya ketat ngepas di badan, warna hijau. Ia langsung membuka pintu dan merunduk masuk. Tas sekolah ia taruh di jok belakang. “Apa kabar Nada yang satunya lagi?” tanya Dayu. “Lagi mau subuhan, lalu siap-siap berangkat sekolah. Gile! Dingin banget.” “Nggak aneh. Ini baru beberapa menit lewat jam 4.” Nada menajamkan mata menatap pekarangan depan rumah Om Gading di seberang sana. Mobil orang itu, sebuah Pajero kuning gading, masih terparkir di carport. Situasi sunyi sepi. “Belum ada aktivitas dari sana?” tanya dia kemudian. Dayu menggeleng. “Belum, tapi aku yakin dia akan keluar sebentar lagi.” “Dia memang bangun pagi gara-gara infiltrasimu atau karena sedang mengendalikan pekerjaan penting?” “Yang kedua. Dia kan sering terlibat hal-hal berbau kekerasan. Kalau memang sedang ada perlu gawat, dia kayaknya sering bangun sepagi ini atau nggak tidur semalaman. Makanya tadi timing-ku tepat pas menginfiltrasi dia. Kita manfaatkan celah waktu yang sangat sempit pas dia ketiduran. Eh, itu perlengkapanmu dipakai dulu!” “Perlengkapan?” Nada menukas heran. “Yang di jok belakang. Kopor di sebelah tasmu.” Nada menoleh ke belakang. Tadi ia memang melihat sebentuk kopor berwarna perak teronggok di jok belakang. Ia pikir itu milik Dayu. Perlahan ia ambil kopor itu dan membukanya di pangkuan. Matanya melebar. “Apa ini?” Terlipat di kopor sepertinya adalah setelan baju, dengan bahan mirip yang dikenakan Dayu. Bedanya, yang ini berwarna kombinasi antara hitam dan biru gelap. Nampak sangat elegan dan berkelas. “Seragam tempurmu. Terbuat dari komposit kevlar. Tahan tusukan dan sabetan senjata tajam. Tahan peluru juga, hingga jenis-jenis tertentu. Tapi kalau peluru dari meriam kaliber 60 mm atau roket dari RPG ya jelas enggak.” Nada melongo. “Katanya di alam nyata pikiran nggak bisa mencipta.” Dayu tertawa. “Memang enggak. Ini perlengkapan biasa saja, bukan hasil rekaan pikiran yang mencipta. Hasil teknologi canggih, bukan barang klenik yang ditarik secara magis dari pohon bambu keramat. Ayo, coba pakai!” Nada meraih helaian baju yang sepertinya adalah atasan. “Tapi ini baju ketat. Nggak bisa langsung kupakai begitu saja.” “Ya makanya ganti baju dulu, kayak pas di fitting room toko baju di mal!” Nada mendelik. “You mean, now? In here?” “Ya. Jangan khawatir! Ini kaca mobilku one-way. Yang di luar nggak bisa lihat apa-apa di dalam sini. Dan lagian, di balik baju sama rok seragam, kamu masih pakai underwear, kan?” “Iya. Masih pakai kaus daleman sama celana pendek juga.” “Ya udah. Buruan ganti! Dan aku bukan lesbi, jadi kamu aman.” Nada tertawa. Buru-buru ia melepas jaket pink, baju atas warna putih, rok pendek biru tua, dan sepatu. Baju-baju ia lempar sekenanya ke jok belakang, bertumpukan dengan tas. Habis itu ia jajal baju baru dari Dayu itu. Ngepas di badan memang, tapi tak terasa menggencet d**a dan perut sehingga ia masih tetap bisa bebas bernapas. Ia bahkan merasa kainnya sangat hangat di kulit. Begitu terpakai seluruhnya, baju itu jadi mirip setelan untuk olah raga renang atau baju pesenam. “Di leher ada kerudung merangkap topeng. Pakai sekalian!” Nada meraba tengkuknya, dan memang menemukan bagian tambahan dari baju itu di sana, mirip hoodie pada jaket jumper. Ia tarik kain kerudung melintasi kepala, yang bisa diulur hingga menutupi setengah wajah. Bagian wajah dengan ajaib menyesuaikan diri secara presisi dengan kontur tulang pipi dan hidangnya, sedikit menyisakan ruang untuk mulut. Nada heboh meraba-rabai mukanya sendiri, lalu bercermin menggunakan kamera depan dari ponselnya. “Buset! Ini mah beneran kostum superhero, kayak punya Batman! Nggak full faced seperti topeng Spider-Man, tapi masih menyisakan ruang terbuka di bagian mulut dan dagu.” Dayu tertawa. “Coba amati juga bagian mata!” Nada meraba mata, dan heran. “O, iya. Di kamera, mataku runcing dan kecil, berwarna hitam. Tapi dari dalam sini, penglihatanku biasa aja kayak pakai kaca mata minus.” “Itu lensa goggle khusus berteknologi paling mutakhir. Sangat tipis dan tidak mengganggu mata serta penglihatan. Sekarang coba ketuk titik biru kecil di lengan kirimu! Dan bersiaplah untuk one more jawdropping moment!” Nada mengamati bagian seperti yang disebut Dayu, tepat di ujung lengan baju yang membungkus rapat lengannya hingga tepat di pergelangan. Memang ada noktah biru di sana, pada posisi di mana seharusnya ia memakai arloji. Satu ketukan kecil, dan ia terlonjak. Dayu tertawa. Sebab yang kemudian terjadi memang berada di luar kelaziman logika manusia. Kain baju menjalar maju hingga menutupi seluruh tangan hingga jari-jari. Di bagian bawah, ujung celana merembet ke ujung dan menjadi sepatu. Ia makin kaget manakala menatap pada Dayu dan mendadak sederet tulisan informasi berisi data dan fakta muncul di layar goggle-nya. “Loh... ini, ini...” ia meraba bagian luar goggle topengnya. “Ya, itu augmented reality. Komputer di kostummu ngasih keterangan apa pun secara otomatis pada apa pun yang tengah kamu perhatikan. Sekarang kamu sedang melihat biodataku, karena kamu melihatku. Pindah lihat ke arah lain, info datanya menyesuaikan.” Saat Nada melihat ke arah lain di luar jendela, terutama rumah Om Gading, berbagai info pun muncul. Sejak alamat lengkap, luas tanah dan bangunan, estimasi nilai harga terkini, hingga nama dan data pemilik. Ia bergeser pada objek lain, dan keterangannya pun berganti. “Saat nanti seragam tempur ini kamu ubah ke combat mode, augmented reality di screen goggle-mu berguna untuk mengukur jarak musuh, mengenali mereka ada di mana saja, dan metoda serta senjata apa yang paling tepat untuk melumpuhkan mereka tanpa perlu mengorbankan nyawa. Dan terkait dengan suatu bentuk teknologi yang belum bisa kujelaskan sekarang, semua terkonek dengan otak, jadi pengendaliannya cukup dengan dibatin.” “Hah? Dibatin?” Dayu mengangguk. “Buset! Itu mah jauh lebih aneh daripada klenik gaib!” Perempuan itu tertawa. “Ntar kujelasin, kalau waktunya sudah tiba. Sekarang kita ada kesibukan dikit.” Nada menoleh ke arah yang dituju mata gadis itu. Terlihat di kejauhan sana Om Gading bergegas meninggalkan rumahnya sambil bertelepon, lalu masuk mobil. Begitu kendaraannya bergerak, Dayu menstater mesin mobil dan menekan pedal gas dengan sigap. “Yang jelas, nanti kalau semua ini udah selesai, ada satu yang harus kamu pikirin.” “Apa itu?” “Nickname, code name. Dan Golden Girl jelas nggak masuk, sebab itu udah dipakai serial TV jaman dulu.” Nada tertawa, seraya sibuk mencermati augmented reality di layar kaca matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN