Ini bukan kunjungan pertamanya ke Dunia Bawah, tapi tetap saja semua terasa mengejutkan, terutama hawa panas itu. Nada merasa sekujur badannya mendidih. Tak mencapai suhu yang membuat kulit mengelupas dan daging terbakar, tapi tentu saja manusia biasa susah untuk membiasakan diri hidup dengan temperatur seperti itu. Untung ia bisa beradaptasi dengan cepat. Lagian tak guna malah memikirkan hawa panas selagi nyawa Aren berada dalam bahaya. Nada menatap segala arah. Dayu benar. Pemandangan alam semesta di sini sama persis dengan yang baru saja ia tinggalkan, yaitu rumah sakit. Ada koridor, ada gedung-gedung bangsal, ada taman. Bedanya, di sini semua berwarna kemerahan dan penuh nyala api. Langit malam pun penuh semburat merah, dan menggeliat menari-nari seperti nyala api unggun. Menyeramkan

