Baru kemudian pikirannya bekerja. Yang menjerit barusan bukan dirinya. Lalu siapa? Dan ia masih bisa menunggu. Berarti setidaknya ia masih belum koma. “Sialan, dia lari!” Suara itu tak asing baginya. Nada membuka mata, Dayu yang berbusana ketat serba hijau mengulurkan sebelah tangan. “Bunglon? Lari?” Nada menyambut uluran Dayu untuk merayap bangkit kepayahan. “Ke mana?” “Minggat dari alam ini tentu saja, kembali ke markasnya. Kamu baik-baik saja?” Nada tak langsung menjawab. Sedikit membungkuk karena lambungnya ngilu bukan main. Dan baru sesaat kemudian ia bisa kembali bernapas lancar. “Not so good, tapi udah mendingan,” gumamnya pelan. “Edan! Makhluk satu itu bener-bener maut. Benu rontok, lalu aku.” “Dia juga penuh tipu muslihat, dan kamu sudah masuk jebakannya.” Nada mendesah. N

