Gue takut kenapa-napa kalo gue berkendaraan sendiri naik mobil dalam keadaan kepala banyak sekali pikiran. Jadi, akhirnya gue menerima tawaran Pandu yang kebetulan saja dia menawarkan diri mau mengantarkan gue pergi ke kampus gue. Awalnya sih gue ogah, tapi nggak ada salahnya juga sih menerima itu. Tapi, sepanjang perjalanan, kami banyak diamnya. Pandu pikir, gue lagi marah sama dia. Padahal, sejujurnya saja, gue justru malah merasa bersalah besar karena sudah menamparnya sore itu. Harusnya dia yang marah, dan nggak perlu minta maaf juga. Gue yang salah di sini. Pandu salah paham, tapi gue nggak mau jelasin kalo gue diam karena memikirkan Adit. Dulu mama yang ngomong kalo mama lihat Adit yang lagi berduaan sama cewek lain. Dan gue tentu saja langsung nggak percaya gitu aja, soalnya diw

