Jari tangan gue nampak bergetar sebelum menekan tombol send. Gue memejamkan mata, menguatkan diri untuk mengirim pesan yang sudah gue ketik buat Adit. Gue sempat ragu sejenak, menimang lagi apakah ini adalah sebuah pilihan yang baik. Apakah hubungan gue sama Adit benar-benar sudah berhenti sampai di sini saja? Tentu saja rasa bimbang itu akan segera masuk ke dalam relung hati gue. Rasanya aneh dan nggak bisa dipercaya sampai saat ini jika hubungan gue dan Adit akan segera berakhir. Klik! Pesan terkirim, tapi bukan gue yang memencetnya, lantas gue melotot dan menoleh ke samping kiri, menatap horor kepada Cantika. "Cantika ih!" Gue menggeram kesal, bibir sudah mencebik pelan. Cantikan cuma nyengir kecil, merasa nggak bersalah dia. Sedangkan gue langsung memutar bola dan mengeluarkan

