Almira baru saja merebahkan diri di atas ranjang tamu ketika pintu kamarnya terbuka kasar. Suara hentakan langkah tergesa itu membuatnya sontak bangkit duduk. Nafasnya tercekat saat melihat sosok pria tinggi menjulang di ambang pintu, Arkha.
Wajah pria itu memerah, matanya berkabut, dan kemejanya setengah terbuka, memperlihatkan d**a bidang yang naik-turun tak beraturan.
"Pak... Arkha?" Suara Almira gemetar. Tangannya menggenggam erat selimut di pangkuannya.
Arkha tidak menjawab. Langkahnya goyah, tubuhnya seperti terbakar dari dalam. Wajahnya menegang menahan sesuatu yang mengguncang logikanya.
Satu langkah... dua langkah... hingga ia berdiri hanya sejengkal dari Almira.
“Aku... butuh dingin,” desisnya, serak.
Tiba-tiba tangannya terangkat, menyentuh pipi Almira dengan suhu tubuh yang begitu panas hingga membuat gadis itu merinding. Dan sebelum Almira bisa bereaksi, bibir Arkha menyentuh keningnya dengan cepat, singkat, penuh tekanan seolah mencoba mencari pegangan.
Almira menahan napas. Ketakutan, bingung, dan tak tahu harus melakukan apa. Namun saat Arkha memejamkan mata dan nyaris kehilangan kendali, ia segera mendorong dadanya perlahan.
“Pak Arkha... ini saya, Almira. Tenang... tolong... kendalikan diri Anda... Saya belum jadi istri Anda, Pak.”
Suara itu, meski gemetar, cukup untuk menyalakan kembali logika di kepala Arkha.
Ia menahan napas panjang, masih di atas ranjangnya menatap, lalu memejamkan mata keras-keras. Tangan kirinya mengepal, seolah sedang bertarung melawan sesuatu yang tak kasat mata.
Hening menyelimuti kamar saat hujan mengetuk jendela dengan ritme lembut. Di antara cahaya temaram lampu gantung dan bayang-bayang malam, Arkha menatap gadis itu, Almira, dengan rambut terurai dan mata yang gemetar. Ada sesuatu di sana. Bukan hanya takut, bukan hanya ragu, tapi juga perasaan yang tak terucapkan.
Tangannya terulur, menyentuh pipi Almira yang hangat. Sentuhan itu seharusnya singkat. Namun detiknya memanjang, seperti waktu mendadak malas berputar. Bibirnya hampir menyentuh kening gadis itu, lalu turun sedikit, menyusuri jejak napas yang tertahan.
"Aku…" bisiknya, tapi suaranya hilang ditelan debar jantungnya sendiri.
Almira tidak mundur. Tapi juga tak maju. Ia hanya berusaha meronta di sana, dan tetapannya menatap Arkha dengan tajam, matanya terlalu dekat, terlalu mudah untuk jatuh. Dia tercengang, marah, tapi dia tidak bisa menghindar karena tubuh Arkha menghimpitnya.
Dan ketika akhirnya bibir mereka bersentuhan seperti petir yang membelah langit sunyi Arkha merasa dunia runtuh di bawah kakinya.
Namun, sesaat setelahnya ia terhenti. Tarikannya menjauh, bukan karena tak ingin, tapi karena sedikit sadar.
Sadar bahwa gadis yang ada di hadapannya itu belum menjadi miliknya, dia tidak bisa terlalu kejam, bahwa apa pun yang ia lakukan malam ini akan mengubah segalanya.
Arkha menatap mata Almira ada api, ada badai, dan ada bayangan dirinya sendiri yang mulai retak. Tangannya gemetar ketika ia menarik diri sepenuhnya.
“Siapkan air es... bathtub... sekarang juga.” Suaranya dalam, nyaris serak.
Tanpa menunggu, Almira segera berdiri, berlari keluar kamar dengan langkah terburu-buru. Di lorong, ia memanggil salah satu pekerja villa dan meminta mereka membawa ember penuh es batu ke depan kamar.
Beberapa menit kemudian, Almira kembali ke kamarnya, hanya untuk menemukan Arkha sudah duduk di dalam bathtub, tubuhnya tenggelam separuh, uap panas bercampur hawa dingin es batu membentuk kabut tipis di udara.
Almira berdiri kaku di ambang pintu. Untuk pertama kalinya, ia melihat calon suaminya rapuh. Bukan sebagai CEO yang dingin dan perfeksionis, tapi sebagai seorang pria yang sedang diserang tubuhnya sendiri dan masih berusaha tidak kehilangan kendali.
Tatapan mereka bertemu.
“Maafkan aku,” bisik Arkha lirih, tak menatap langsung. “Aku... tidak bermaksud...”
Almira mengangguk pelan, kemudian membalikkan tubuh. “Saya akan buatkan teh pahit, Pak.”
Ia melangkah pergi, jantungnya masih berdegup tak karuan. Tapi untuk pertama kalinya, ia tahu satu hal di balik ketegasan dan dinginnnya, Arkha Hadisaputra masih manusia.
Dan mungkin... luka mereka lebih mirip dari yang mereka kira.
Almira menggendong ember es batu dengan hati-hati, setiap langkahnya penuh perhatian. Suhu dingin dari es itu menembus udara hangat di ruang mandi mewah yang remang. Dia mendekati Arkha, yang tampak lelah dan tubuhnya memanas, tersandar lemah di bathtub besar.
Dengan lembut, Almira menuangkan es ke dalam air, merasakan kesejukan perlahan meresap ke kulit pria itu. Arkha memejamkan mata, wajahnya yang biasanya kaku kini terhitung rentan. Sesekali ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya, sambil menahan teriak.
Almira mengangkat wajahnya, menatap Arkha yang kini membuka mata, pandangannya berat dan kabur. Dalam keheningan itu, ada getar yang sulit dijelaskan sebuah detik yang membeku di antara mereka.
Tanpa sadar, Arkha mengangkat tangannya, dan jemarinya yang dingin menyentuh pipi Almira dengan lembut, seolah mencari pegangan di tengah badai dalam dirinya. Matanya yang biasanya tajam melembut, menyiratkan rasa terima kasih yang tak terucap.
Arkha mencoba menahan dingin, dia masih belum sepenuhnya bisa mengendalikan dirinya.
Lalu, tanpa peringatan, Arkha menarik tangan Almira dan bibir Arkha menyentuh bibir Almira.
Sebuah ciuman yang singkat, tak terduga, penuh campuran kehangatan dan dingin yang aneh. Almira terkejut, tubuhnya kaku, jantungnya berdegup kencang, dan seolah kehilangan keseimbangan.
Dalam detik yang sama, kakinya terpeleset.
Tubuh Almira jatuh mundur, terdorong ke arah air dingin itu, dan dia terjerembab ke dalam bathtub dengan cipratan air yang membasahi rambut dan bajunya.
"Kau...!" Almira terengah, matanya membelalak, wajah memerah bukan hanya karena dingin tapi juga malu dan bingung.
Arkha, dengan sedikit sadar, segera menjulurkan tangan untuk menahan tubuh Almira agar tidak tenggelam, tapi tidak langsung melepas ciuman itu dari pikirannya yang kacau.
"M-A... maaf," suaranya serak, terputus, tapi matanya penuh penyesalan dan sesuatu yang lain, yang Almira tak bisa baca dengan mudah.
Almira hanya bisa menatapnya, basah kuyup dan terpana, sementara nafas di antara mereka terasa berat, penuh rahasia yang belum siap untuk diungkapkan.
Arkha menghela napas berat, mencoba mengusir kabut pusing yang masih menggelayut di kepalanya. Namun, saat ia membuka matanya dan melihat Almira yang basah kuyup, seketika rasa bersalah yang tadi sempat mengusiknya lenyap entah ke mana. Dalam benaknya, kejadian ciuman itu seolah hanyalah ilusi samar yang tidak pernah terjadi.
Dengan tatapan dingin yang menusuk, Arkha mengalihkan pandangannya ke arah lain, membiarkan air es menyelimuti tubuhnya. Dia berdiri tanpa sepatah kata pun, langkahnya tegap dan sikapnya kaku seperti biasa.
Almira yang berdiri di tepi bathtub, menggigil dan membasuh air dari wajahnya, merasakan dinginnya bukan hanya dari air, tapi juga dari sikap Arkha yang seolah-olah mengabaikannya sama sekali.
“Kalau kau sudah selesai, aku mau tidur,” suara Arkha datar, tanpa menatap Almira.
Almira menelan ludah, hatinya sesak. Ada kehampaan yang menusuk di antara mereka, setelah momen yang penuh getar itu tiba-tiba berubah menjadi dingin dan sunyi. Ia ingin bertanya, ingin menuntut penjelasan, tapi bibirnya terkunci rapat oleh ketakutan dan kebingungan.
Arkha menutup pintu kamar mandi dengan tegas, meninggalkan Almira dalam keheningan yang menusuk. Ia kembali ke ruang kerjanya, menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen dan kerjaannya, menolak mengakui perasaan yang mulai merambat ke dalam hatinya, yang tak ingin ia akui.