Pagi itu, mentari belum sepenuhnya naik ketika Arkha melangkah masuk ke ruang tengah vila dengan langkah cepat dan ekspresi gelap. Matanya menyapu ke sekeliling ruangan, kosong. Riana tidak ada.
“Di mana dia?” gumamnya pelan, tapi tajam.
Dani yang sedari tadi diam di sisi pintu, langsung menunduk. “Nona Riana keluar pagi-pagi sekali, Tuan... tanpa izin.”
“Cari dia. Sekarang.”
Tak sampai semenit, telepon Arkha berdering. Dani mengangkat alisnya saat melihat layar ponsel. Wajahnya menegang.
Arkha mengambil ponsel itu dengan geram. “Apa lagi sekarang?”
Suara asistennya di ujung sana terdengar panik. “Tuan Arkha… foto Anda keluar dari kamar tamu semalam beredar, dan...”
“Dan?”
“…dan media mulai berspekulasi. Mereka menyebut Anda bermalam dengan gadis muda.”
Arkha membeku. Rahangnya mengeras. Ia baru akan membuka suara, ketika suara berita dari televisi vila menyala otomatis.
“—CEO muda HS Group, Arkhana Hadisaputra, tertangkap kamera keluar dari kamar seorang gadis belia dini hari tadi. Sumber mengatakan gadis itu adalah cucu dari keluarga Pratama, Almira Pratama—”
Cukup.
Tanpa ragu, Arkha melangkah ke beranda depan vila tempat beberapa wartawan telah berkumpul. Dengan jas rapi, rambut sedikit acak, dan sorot mata sedingin salju, ia berdiri tegak di hadapan mereka. Mikrofon dan kamera langsung menyerbunya.
Ia mengangkat tangan, mengisyaratkan semua diam.
“Mulai hari ini,” ucapnya lantang, “saya nyatakan secara resmi, Almira Pratama adalah tunangan saya. Dan kami akan segera menikah.”
Sorak tanya, kilatan kamera, dan desingan telepon langsung menyambar.
Dari balik jendela ruang tamu, Almira nyaris menjatuhkan cangkir tehnya. Matanya membelalak. Bibirnya terbuka lebar, tapi tak ada suara yang keluar.
"A-apa dia barusan bilang... tunangannya?" bisiknya pada dirinya sendiri.
Ia mencondongkan badan ke jendela, memastikan bahwa yang dilihatnya di televisi bukan mimpi siang bolong.
Almira membeku. Lalu, detik berikutnya, ia menutup mulutnya sambil berusaha menahan tawa yang meluap tak tertahankan.
“Ya ampun... dia... dia barusan ngumumin aku tunangannya? Di TV?!” bisiknya lagi, kali ini lebih keras.
Tangannya refleks meraba pipinya yang panas. “Aku bahkan belum sempat ganti daster…”
Saat Arkha masuk ke ruangan dengan langkah tenang seperti habis menyelamatkan dunia, Almira sudah berdiri tegak di hadapannya dengan tangan bersedekap.
“Wow,” ucapnya dramatis. “Pernyataan yang sangat romantis, Pak Arkha. Seharusnya kita buat spanduk sekalian? Atau flashmob di bandara?”
Arkha menghela napas dan menatapnya sekilas. “Aku tidak punya waktu untuk dramamu, Almira.”
“Oh, tentu tidak. Tapi kamu punya waktu untuk mengumumkan tunangan, di depan media nasional, tanpa bilang-bilang ke aku dulu? Minimal kirim chat, gitu?”
Arkha diam.
Almira mendekat, menaikkan alisnya. “Atau… ini akting? Kamu aktor sinetron ternyata? Mau bikin aku deg-degan, ya?”
Senyum geli yang ditekan sejak tadi akhirnya menyelinap ke wajah Almira. Dan saat itu juga, untuk pertama kalinya hanya sedetik saja, Arkha hampir tertawa. Hampir.
Tapi seperti biasa, pria itu hanya menghela napas dan berlalu.
“Besok kita ke kantor keluarga. Pakai baju sopan.”
Setelah pria itu pergi, Almira masih berdiri sambil cengar-cengir sendiri. “Huft... Almira Pratama, kamu ini waras nggak sih? Diumumin tunangan CEO galak, dan yang kamu pikirin malah flashmob?”
Di rumah besar Hadisaputra yang menjulang anggun di jantung Malaca, suasana mendadak berubah panas meski pendingin ruangan menyala maksimal.
Riana berdiri mematung di depan televisi ruang keluarga. Wajahnya kaku, matanya membelalak tak percaya saat melihat potongan berita yang tengah viral di layar kaca. "Arkhana Hadisaputra mengumumkan pertunangannya dengan Almira Pratama."
Cangkir teh di tangannya gemetar. Sedetik kemudian, crash! Porcelen mahal itu pecah menghantam lantai.
“APA?!” teriaknya.
Pelayannya langsung menghampiri dengan wajah panik. Tapi Riana mengabaikannya, berjalan cepat ke arah tangga dengan langkah menghentak.
Di lantai atas, Bu Dewi Larasati baru saja selesai dari panggilan video dengan salah satu kolega sosialitanya ketika pintu kamarnya terbuka keras. Riana masuk tanpa mengetuk.
“Bu Dewi, lihat siaran langsung tadi?!” suara Riana melengking.
Ibu Arkha yang biasanya tenang, kali ini tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Tangannya masih menggenggam cangkir kopi, dan bibirnya tertahan di tengah kalimat.
“Apa maksudnya dia mengumumkan Almira sebagai tunangannya?” gumamnya tak percaya.
“Bukankah selama ini dia sendiri yang menolak perjodohan itu?” Riana menambahkan, wajahnya memerah karena emosi. “Dan dia bahkan menolak saat saya tawarkan solusi supaya Almira—”
“Diam, Riana,” potong Bu Dewi tajam. Wajahnya mengeras. “Aku akan urus ini sendiri. Anak itu sudah keterlaluan.”
Namun, di sisi lain rumah, suasana sebaliknya terjadi.
Eyang Gendis duduk santai di kursi rotan favoritnya, dikelilingi tanaman-tanaman anggrek putih yang sedang mekar. Di tangannya, ia menggenggam remote, memutar ulang tayangan siaran langsung itu berkali-kali dengan senyum bangga.
“Lihatlah cucuku itu akhirnya dia melunak juga,” bisiknya.
Ia menoleh ke arah pelayan setia di belakangnya. “Suruh dapur siapkan makan malam yang layak. Buka botol anggur tua koleksi Pak Hadisaputra. Kita akan menyambut pasangan muda itu malam ini. Harua akhirnya akan damai.”
Pelayan itu mengangguk cepat dan melesat seperti angin. Sementara Eyang Gendis masih menikmati siaran ulang itu seperti menonton film romantis favoritnya.
Sambil mengangguk kecil, ia tersenyum tipis. “Almira Pratama, kamu gadis kuat. Aku tahu kamu akan bisa menaklukkan batu es bernama Arkha.”
Langit Belawan mulai menggelap ketika mobil hitam mewah dengan pelat khusus meluncur pelan dari pelataran ballroom tempat konferensi pers digelar beberapa jam lalu. Di dalamnya, Arkha Hadisaputra duduk sendiri di bangku belakang, memejamkan mata, mencoba meredam ledakan emosi dalam dadanya. Kepalanya pening, bukan karena konferensi, tapi karena gadis keras kepala yang akhir-akhir ini muncul bak virus sistemik dalam hidupnya.
Tepat saat mobil hendak bergerak, terdengar ketukan di kaca jendela. Sang supir, Rio, hendak menurunkan kaca ketika—.
CLAK!
Pintu terbuka dari sisi berlawanan, dan tanpa aba-aba, Almira Pratama melompat masuk, duduk dengan anggun di sebelah Arkha.
“Selamat malam, Tuan Hadisaputra,” ucapnya santai, tersenyum seolah sedang naik taksi online.
Arkha memutar kepala perlahan. Sorot matanya tajam. “Keluar.”
“Dingin sekali. Kamu tahu, cuaca Belawan lembap sekali malam ini,” sahut Almira riang sambil memasang sabuk pengaman.
“Almira,” nada suaranya datar namun penuh ancaman, “keluar dari mobil. Sekarang.”
Almira justru tersenyum manis. Ia menunduk sebentar, lalu membuka kaca jendela, melongokkan kepala ke luar, dan dengan gaya seenaknya menyerahkan kunci mobil ke tangan Dani yang duduk di bangku depan.
“Mas Dani, Belawan malam ini dingin. Aku takut kalau nanti di tengah jalan di culik. Jadi, Mas Dani bawa mobil Eyang, ya."
Dani yang menangkap kunci dengan panik hanya bisa membungkuk cepat dan segera menyingkir keluar dari mobil, jelas tak ingin terlibat.
Arkha menatapnya nyaris tak percaya. “Kamu pikir kamu sedang syuting sinetron sore?”
Almira menoleh, menautkan jemarinya di pangkuan sambil bersiul kecil. “Nggak. Tapi aku pikir, lebih baik satu mobil aja, buat menjaga citra pertunangan kita. Lihat tuh,” matanya melirik ke kaca jendela, di mana beberapa wartawan masih berkerumun dengan kamera menyala.
Arkha mengikuti arah pandangnya. Lampu kilat masih berkedip. Wartawan masih mengangkat ponsel, berharap mendapat momen manis dari pasangan calon pengantin.
Arkha terdiam.
Almira meliriknya sebentar, senyum mengembang di bibirnya. “Jangan khawatir. Aku nggak gigit. Kecuali kamu minta.”
Arkha memejamkan mata sejenak. Tangannya mengepal, seolah menahan seluruh omelan yang tertahan di tenggorokan. Tapi ia tak bisa berbuat banyak. Posisi mereka sedang diamati.
Akhirnya... dengan lirih, tanpa menatap Almira, Arkha berkata, “Supir, jalan.”
Almira menahan tawa, mengangkat alisnya dengan puas. “Aye aye, Kapten Dingin.”
Mobil pun melaju perlahan meninggalkan kerumunan wartawan. Di dalamnya, dua orang dengan karakter bertolak belakang duduk berdampingan yang satu sekeras karang, satunya seceria matahari. Tapi entah mengapa, kehadiran yang satu justru mulai mencairkan yang lainnya.